
‘’Berhentilah memakan coklat itu.’’
‘’Kau kenapa sih, aku sangat lapar Exel, kau tidak mau memasak untukku dan sekarang kau juga melarang ku untuk memakan coklatmu, kenapa kau jahat sekali padaku?’’
‘’Jangan banyak ngomong deh.’’ Mulai menyiapkan beberapa bahan untuk membuat nasi goreng, hampir 30 menit akhirnya nasi goreng buatan Exel siap untuk disajikan.
Pria itu hanya membuat satu piring nasi goreng bahkan sama sekali tidak menawarkannya pada Jenie.
‘’Kau hanya membuat satu piring ya?’’ Jenie berjalan menghampiri, duduk didepan Exel, memperhatikan nasi goreng yang sangat menggugah selera.
‘’Astaga.’’ Exel memukul keningnya.
‘’ini untukmu saja, aku tidak berselera lagi, tugas kuliahku sangat banyak, bikin hilang nafsu makan saja.’’ Langsung meninggalkan meja makan, sebenarnya ia hanya berbohong semua tugas kuliahnya sudah selesai dikerjakan.
‘’Exel ini benar untukku, kau tidak akan memakannya lagi kan?’’ Teriak Jenie langsung mengambil piring nasi goreng itu dan mulai melahap nya.
Sementara di kamarnya Exel menghubungi orang tua Jenie untuk memberitahu dan meminta izin karena meminta Jenie untuk tidur di apartemennya, yang tentu saja mendapatkan persetujuan dari orang tua Jenie, keduanya sama sekali tidak keberatan dan sangat percaya pada Exel.
Tok tok tok
‘’Ada apa lagi?’’
‘’Apa aku bisa menggunakan pakaian yang ada di wardrobe?’’
‘’Memangnya ada pakaian disitu?’’
‘’Iya, kau tidak tau?’’
Exel mengangguk. ‘’Ya sudah kau pakai saja jika memang cocok dan pas di tubuhmu.’’
‘’Oh ya, orang tuaku menyuruh kita ke rumah besok pagi.’’ Ucap Exel lagi.
‘’Tapi besok aku harus kuliah pagi, bagaimana kalau sore saja?’’
‘’Baiklah nanti akan kukatakan pada orang tuaku.’’
Setelahnya Jenie kembali ke kamarnya, tidak lupa sebelumnya Jenie membersihkan wajahnya terlebih dulu.
Untung saja di kamar mandi sudah tersedia berbagai keperluan wanita bahkan sudah tersedia sabun pencuci wajah dengan merek yang sama seperti yang biasa digunakan Jenie, tak hanya itu di meja rias juga sudah tersedia beberapa macam skincare yang juga sama dengan merek yang digunakan Jenie.
__ADS_1
Sebenarnya itu semua bukan suatu kebetulan, karena Exel sendiri yang meminta orang kepercayaan papanya menyiapkan semua itu hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Sebelumnya hampir 2 minggu yang lalu ia tak sengaja mendengar papanya sedang berbicara di telepon dengan seseorang, awalnya ia tak peduli tapi tubuhnya tiba-tiba membeku saat mendengar tentang rencana papanya yang akan menjodohkannya, ia pun yakin suatu saat Jenie pasti akan datang ke apartemennya makanya ia menyiapkan semua keperluan Jenie.
*****
‘’Kau membuatkanku sarapan?’’ Tanya Jenie menghampiri meja makan.
‘’Terpaksa, aku tidak ingin orang tuamu menyalahkanku nanti karena lalai menjagamu.’’
‘’Mumpung kau bisa memasak, nanti setelah menikah kau harus selalu memasak untukku, sediakan sarapan dan makan malam untukku.’’
‘’Lalu apa gunanya dirimu?’’
‘’Aku akan menemanimu, aku akan duduk diam disini saat kau memasak, bukankah itu kesepakatan yang bagus?’’ Menyengir dengan mulut yang dipenuhi makanan.
‘’Sepertinya aku akan sangat tersiksa karena memiliki istri sepertimu.’’ Ucap Exel dengan nada cueknya dan ikut memakan sarapannya.
‘’Itu resiko mu, kau sudah sangat beruntung memiliki istri secantik aku jadi mungkin kau harus sedikit menderita dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah.’’ Tertawa kecil sedang Exel hanya bisa menggeleng kepalanya, penderitaan sepertinya akan segera menghampirinya, tapi kenapa ia sama sekali tidak keberatan dan malah menantikannya?
*****
‘’Kau mau kemana?’’ Tanya Exel yang melihat Jenie berjalan keluar dari gedung apartemen.
‘’Kenapa harus mencari taxi, bukankah tujuan kita sama?’’
‘’Aku tidak mau ke kampus bersamamu karena itu akan membuat seisi kampus heboh.’’ Jenie menghentikan satu taxi yang kebetulan sedang kosong.
‘’Oh ya mana dompetmu?’’ Pinta Jenie pada Exel, pria itu pun mengeluarkan dompetnya dan memberikannya pada jenie.
‘’Aku pinjam uangnya ya buat ongkos taxi.’’ mengambil 500rb dari dompet Exel, mengembalikan dompetnya lalu masuk kedalam taxi, ia tak memiliki uang tunai di dompetnya dan hanya memiliki 5 lembar uang 2000 yang dulu pernah diberikan oleh papanya.
Exel tersenyum, melajukan mobilnya dan mengikuti taxi yang ditumpangi Jenie, di dalam mobil Jenie sedang memperhatikan penampilannya dari kaca kecil yang biasa dibawanya kemanapun ia pergi.
tidak sengaja melihat mobil Exel yang terus mengikuti Taxi, melihat kebelakang untuk memastikan dan benar saja itu memang benar-benar Exel, mengambil ponselnya dan ingin menelpon Exel.
‘’Oh ya Tuhan aku bahkan tidak memiliki nomor ponselnya.’’ Ucapnya kesal sendiri, terpaksa ia meminta sopir taxi menepi dan berhenti, setelahnya turun dan menghampiri mobil Exel yang juga ikut berhenti tepat di belakang taxi itu.
Jenie mengetuk kaca mobil Exel.
__ADS_1
‘’Kenapa kau terus mengikutiku?’’ Tanya jenie begitu Exel menurunkan kaca mobilnya.
‘’Kau geer sekali lagian siapa yang mengikutimu?’’
‘’Lalu ini apa, kenapa kau tiba-tiba berhenti disini?’’
‘’Oh itu.’’ Exel memutar bola matanya, melihat sekeliling, tiba-tiba menunjuk satu minimarket yang tepat berada di samping kiri mobilnya.
‘’Aku ingin membeli air mineral.’’ Ucapnya dan langsung turun dari mobilnya, berjalan ke arah minimarket sedang jenie masih memperhatikannya dengan tangannya yang disilang di depan dadanya, wanita itu mengendus kesal kemudian memutuskan kembali ke taxi dan meneruskan perjalanannya.
*****
‘’Kak Exel i love you.’’ teriak beberapa wanita saat Exel keluar dari mobilnya, seperti biasanya pria itu sama sekali tidak menggubris dan hanya berjalan melewati wanita-wanita yang terus melemparkan banyak pujian padanya.
‘’Apa ini?’’ Tanya Exel melihat banyaknya bingkisan di atas meja bahkan tempat duduk yang sudah disiapkan Andre untuknya.
‘’Apalagi, itu dari para penggemarmu.’’
‘’Kau ambil saja atau kau bagikan pada yang lain.’’ Ucap Exel dan memilih duduk di tempat lain.
‘’Hai Xel.’’ Sapa Mona lalu duduk di samping Exel, hampir setahun ini Mona selalu mengejar Exel, wanita itu sedikit beruntung dibandingkan penggemar Exel yang lain karena dapat berinteraksi langsung dengan Exel walau pria itu sangat jarang mau mengobrol dengannya.
seperti sekarang Exel sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya, pria itu malah asyik memainkan ponselnya bahkan sama sekali tidak melirik padanya.
Sementara di kelasnya Jenie sedang duduk termenung bersama Sasa di sampingnya.
‘’Hai.’’ Sapa Kevin menghampiri dan duduk di samping Jenie, wanita itu tak se excited biasanya, hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
‘’Sibuk ya, kenapa semalam tidak mengangkat teleponku?’’
‘’Oh itu, semalam Jenie kecapean kak jadi tidurnya lebih cepat dari biasanya.
‘’Aku ke toilet bentar ya.’’ Pamit Sasa
[Jalankan sesuai rencana]~Love
[baiklah, sesuai permintaanmu sayang]~Kevin
‘’Jen nanti malam ada rencana nggak?’’
__ADS_1
Jenie mengangguk. ‘’malam ini aku ada janji makan malam sama papa mama, memangnya ada apa kak?’’
Bersambung.....