Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Unboxing 2


__ADS_3

Exel membuka kedua paha Jenie dan memposisikan dirinya diantara kedua paha itu, beberapa kali menyentuhkan naga kecilnya ke pintu inti surga dunianya.


‘’Kau siap? ini mungkin akan sedikit sakit tapi aku tak bisa menghentikannya karena aku tak bisa lagi menahannya, maaf jika nanti aku menyakitimu.’’ ucapnya lembut, mengecup singkat kening Jenie.


‘’Lakukanlah dan buat aku benar-benar menjadi milikmu.’’ ucap Jenie yang membuat Exel sangat senang.


‘’Aakhh.’’ Teriak Jenie saat sesuatu dibawah sana berhasil menembus daerah intinya, Exel tersenyum saat merasakan sesuatu yang mengalir keluar saat ia berhasil masuk kedalam surga dunianya, pria itu kembali menatap Jenie, menyatukan bibir mereka lagi untuk membuat Jenie rileks setelahnya Exel mulai menaik turunkan pinggulnya dengan Jenie yang terus mengeluarkan dessaahan sexy yang membuat Exel makin semangat.


‘’Terimakasih karena sudah menjaganya untukku’’ Ucapnya mencium kening Jenie sedikit lebih lama saat mereka selesai melakukan pertempuran itu karena Jenie yang sudah sangat lelah dan hampir kehilangan kesadarannya.


*****


Pagi ini terasa lebih indah untuk dua orang yang baru saja melakukan malam pertamanya, walau sedikit terlambat tapi tak mengurangi rasa bahagia yang dirasakan pasangan itu.


‘’Jangan tersenyum seperti itu bisa-bisa aku memakanmu lagi.’’ Ucap Exel yang melihat Jenie tersenyum dengan sangat indah sambil mengelus lembut rahangnya.


‘’Aku hanya senang karena sekarang kita sudah benar-benar menjadi pasangan suami istri seperti pasangan menikah lainnya, kau tau aku tidak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi apalagi menikah dan menjadi istrimu, tapi sepertinya Tuhan punya kehendak lain dan mempersatukan kita lagi.’’


‘’Apa kau senang menjadi istriku?’’


Jenie mengangguk ‘’sangat aku sangat sangat senang, walau awalnya kau sangat menyebalkan.’’ ucapnya sambil cekikikan mengenang awal-awal pernikahan mereka. ‘’Untung saja waktu itu aku tak menolak untuk menikah denganmu.’’


‘’Kalaupun kau menolaknya aku akan berusaha untuk membuatmu setuju.’’


‘’Maksudmu, bukankah waktu itu kau juga terpaksa menerima pernikahan ini, katamu kau hanya ingin menyenangkan orang tuamu.’’


‘’Dan kau percaya itu?’’ tanyanya, Jenie mengangguk


‘’Kau tau, akupun sama sekali tak pernah menyangka kalau orang tua kita akan menjodohkan kita, tapi di malam dimana aku mendengar tentang perjodohan itu aku sangat senang, ingin sekali berteriak saking senangnya, hanya saja saat itu kau menolak dengan keras rencana perjodohan itu makanya aku juga pura-pura menolaknya agar kau tidak kegeeran, aku juga memintamu menerimanya dan sengaja mengajakmu taruhan karena ku tau kau pasti akan terpancing dengan cara itu dan lihatlah sekarang aku berhasil membuatmu menjadi istriku.’’

__ADS_1


‘’Ternyata kau licik sekali ya.’’ Jenie menggelitik pinggang Exel yang dibalas Exel dengan menggelitik pinggang Jenie juga hingga keduanya tertawa, sungguh pagi itu menjadi pagi yang sangat spesial untuk kedua nya.


‘’Apa masih sakit?’’ tanya Exel saat pria itu menurunkan Jenie di bathup, Jenie sangat kesusahan berjalan hingga meminta Exel untuk menggendongnya ke kamar mandi.


‘’Maafkan aku sudah membuatmu sakit.’’


Jenie tertawa kecil, menangkup wajah Exel, menyatukan hidungnya dan Exel ‘’nggak perlu menyesal bukankah seharusnya memang seperti ini? Dan lagian sepertinya semalam kau sangat menikmatinya.’’


Exel ikut tertawa kecil ‘’kan sudah kukatakan bahwa tak akan bisa berhenti.’’


Untung saja sedang weekend hingga mereka bisa bersantai


‘’Yasudah kau keluarlah aku akan mandi.’’ Ucap Jenie, bukannya keluar Exel malah ikut masuk ke dalam bathtub.


‘’Aku ingin membantumu mandi.’’


‘’Exel yang sakit itu bagian bawahku sedang tanganku baik-baik saja, aku bisa mandi sendiri.’’


‘’Hhmm sesuai dugaanku.’’ Ucap Jenie kesal karena tangan Exel tak bisa dikondisikan lagi, pria itu terus meremas area dadanya dengan alasan membantu Jenie untuk membersihkannya.


‘’Exel kalau begini kapan selesai mandinya, yang ada aku akan kedinginan dan sakit.’’ kesal Jenie karena tangan Exel sama sekali tak mau pindah dan terus bermain di atas bukit kembar padahal sudah hampir sejam mereka dikamar mandi, Jenie juga sudah mulai merasakan lapar.


‘’Exel apa kau mau aku kedinginan dan mati kelaparan disini?’’ ucapnya tak lagi bisa menahan kesal, barulah Exel melepaskan genggaman tangannya dari bukit kembar dan padat itu.


*****


‘’Lembur ya Xel, tumben jam segini baru turun.’’ goda papa Bowo lalu tersenyum saat melihat wajah sang menantu yang ditekuk.


‘’Kamu sih mainnya kelamaan, lihat tuh wajah istrimu jadi bete gitu.’’ papa Bowo berbisik pada Exel dengan setengah tertawa, Exel mengangkat wajahnya memperhatikan Jenie yang makan dalam diam, wanita itu hanya mengeluarkan suara saat menyapa kedua orang tuanya.

__ADS_1


‘’Ada apa dengan mereka?’’ tanya mama setengah berbisik pada papa Bowo.


‘’Pasti anak nakalmu itu membuat Jenie begadang semalaman makanya dia bete.’’ Jawab papa Bowo dengan setengah berbisik juga sedang mama mengangguk kecil kemudian kembali memperhatikan Exel dan Jenie tak lama ia tersenyum, lucu sekali dua anak itu kalau sedang diam-diam seperti sekarang.


‘’Kamu si Xel, makanya mainnya jangan kelamaan dong kan kasihan menantu cantik mama.’’ Ucap mama menahan tawanya dan kembali meneruskan makannya sedang Jenie yang mendengarnya lebih menatap Exel dengan tatapan tajamnya.


*****


‘’Maafin aku dong.’’ Exel memeluk pinggang Jenie dari belakang saat wanita itu pamit dari meja makan.


‘’Lepasin Xel kamu apa-apaan sih.’’ Jenie berusaha melepaskan tangan Exel dari pinggangnya, sedikit malu pada mertuanya karena Exel yang tiba-tiba memeluknya.


‘’Maafin dulu baru aku lepasin, hhmm.’’ Ucapnya mencium pipi kanan Jenie dengan tangannya yang masih melingkar erat di perut Jenie, Jenie mendorong kepala Exel yang kini diletakan di pundaknya.


‘’Kamu apa-apaan sih, malu Xel sama papa mama.’’ suaranya sangat kecil tapi kedua mertuanya masih bisa mendengarnya.


‘’Kami tak melihatnya atau mendengarnya kok.’’ Ucap mama Sita, kedua mertuanya itu tertawa tanpa suara.


‘’Xel.’’


‘’Hhmm.’’ Jawabnya dengan sangat lembut


‘’Lepasin dong.’’


‘’Maafin aku dulu tapi.’’


‘’Iya.’’ Ucapnya seperti tak ikhlas, Exel melepaskan tangannya dari pinggang Jenie, membalik tubuh wanita itu hingga menghadapnya. ‘’Maafin aku ya.’’ Ucapnya mengelus lembut wajah Jenie, akhirnya wanita itu mengangguk tanpa paksaan. ‘’Senyumnya mana?’’ Ucap Exel dengan senyum lebarnya meminta Jenie ikut tersenyum, jenie pun tersenyum dengan sangat lebar, Exel mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Jenie. ‘’Jangan marah lagi ya.’’ Ucapnya, Jenie kembali mengangguk.


‘’Kalian berdua tuh benar-benar nggak menganggap kami ada ya?’’ papa pura-pura menyindir, Jenie sedikit malu, berbeda dengan Exel yang tak ada urat malunya, pria itu malah kembali mencium kening Jenie. ‘’Papa mama bisa melakukannya sendiri jika merasa iri.’’ Menarik tangan Jenie dan masuk kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2