
‘’Mau kemana kau?’’ Tanya Jenie melihat Exel yang akan keluar dari kamarnya.
‘’Kekamarku memangnya kemana lagi’’ Exel membalik tubuhnya melihat Jenie dengan tatapan usilnya.
‘’Atau jangan-jangan kau benar-benar berpikir kita akan tidur sekamar?’’
Ternyata tadi Exel hanya mengerjai Jenie, pasangan pengantin baru itu tetap akan tidur di kamar yang terpisah, bukan tanpa alasan Exel ingin mereka tetap tidur terpisah, setidaknya pria itu akan menunggu sampai Jenie benar-benar siap dan menerima pernikahan mereka.
‘’Idih PD banget sih.’’ Jenie bergidik ngeri memperlihatkan rasa tidak sukanya.
‘’Sudahlah keluar dari kamarku sekarang sebelum aku memakanmu hidup-hidup.’’ Jenie mendorong tubuh Exel keluar dari kamarnya.
‘’Mau dong dimakan.’’ Menggoda Jenie, tidak lama pria itu berteriak kesakitan karena Jenie yang menggigit lengannya dengan keras.
‘’Kenapa kau menggigitku?’’
‘’Bukannya tadi kau yang ingin ku makan?’’ memperlihatkan ekspresi yang begitu menjengkelkan dimata Exel.
Ingin membalas tapi Jenie sudah lebih dulu mendorong dan kembali menutup pintu kamarnya.
‘’Kau lihat saja, aku pasti akan membalasmu, aku akan benar-benar memakanmu nanti.’’ teriak Exel penuh maksud dan melangkahkan kakinya menuju kamar.
Baru juga membaringkan tubuhnya, pintu kamarnya sudah diketuk dari luar yang Exel yakini itu adalah ulah Jenie.
Menutup matanya pura-pura tidur, hampir sepuluh menit akhirnya Exel membuka pintu kamarnya karena Jenie yang sama sekali tidak menyerah dan terus mengetuk pintu kamarnya.
‘’Apa yang kau inginkan?’’
‘’Aku lapar Exel, tolong buatkan makanan untukku.’’
‘’Kalau lapar kau bisa membuat mie instan atau makan apa saja yang bisa kau makan, kenapa harus mengganggu tidurku?’’ Exel melihat penampilan Jenie dari ujung kepala sampai ujung kaki.
matanya berhenti di area dada Jenie, dua bukit indah itu dapat dilihatnya dengan jelas, Exel beberapa kali menelan salivanya, tubuhnya menegang, salah tingkah, pikirannya sudah berkelana jauh sedang wanita di depannya dengan santai terus merengek minta dibuatkan makan.
‘’Apa kau bisa mengganti pakaianmu?’’ Exel sedikit tidak nyaman, bukan tidak nyaman sebenarnya pria itu takut tidak bisa menahan hasratnya.
Jenie, wanita di depannya, isterinya sedang menggunakan pakaian tidur yang lumayan terbuka dan sangat transparan, mata Exel bahkan bisa dengan jelas melihat setiap lekuk tubuh mulus dan indah Jenie yang tadi sempat dikatakan rata olehnya.
‘’Dari pada membahas pakaian tidurku mending kau gunakan waktu itu untuk membuatkan makanan untukku, oke.’’ mendorong paksa tubuh Exel.
__ADS_1
Jenie sama sekali tidak sadar kalau dia tidak menggunakan bra, mungkin karena kebiasaan, Jenie memang tidak terlalu suka menggunakan bra kalau sedang berada dirumah.
‘’Kenapa kau sangat merepotkan, kuperhatikan kau sering sekali lapar di malam hari, kau sedang tidak mengandung kan?’’
‘’Aduh ngomongnya itu loh, dengar ya, aku laper karena memang belum makan malam dan aku nggak mungkin hamil orang nikahnya aja baru tadi bagaimana bisa hamil.’’
‘’Wih ada yang berharap dihamili nih.’’ ucap Exel dengan pura-pura kaget.
‘’Ih apaan sih, nggak nyambung, lagian aku tuh punya seseorang yang kusukai.’’ Jenie tersenyum membayangkan wajah tampan Kevin, yang belakangan ini sepertinya menjadi sedikit lengket padanya, apa Kevin sudah mulai menyukainya?
‘’Siapa, Kevin?’’
‘’Kok kamu tau?’’
Exel tersenyum mengejek, setelah pembahasan itu ia menjadi lebih malas membuatkan makanan untuk Jenie.
‘’Kau mau kemana?’’
‘’Tidur.’’
‘’Buatkan aku makan dulu baru tidur, please.’’ Mohonnya membuat Exel tidak tega.
pria itu berjalan kembali menuju dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan yang dibutuhkan.
Yang lebih lucu lagi wanita itu bahkan sudah menyiapkan dua kaleng soda sebagai pendamping spaghetti.
‘’Enak banget.’’ Puji Jenie setelah memasukan satu sendok spaghetti buatan Exel kedalam mulutnya.
‘’Aku sangat menyukai makanan buatanmu, makanya kau harus lebih sering memasak untukku, siapa lagi yang akan memuji rasa masakanmu kalau bukan aku, iya kan?’’
‘’Aaaa.’’ Jenie menyuruh Exel membuka mulutnya.
‘’Aaaa.’’ Ucapnya lagi setengah memaksa.
‘’Enak nggak?’’ Tanyanya setelah berhasil menyuapi Exel.
‘’Enaklah orang aku yang buat.’’
‘’Oh iya aku lupa.’’ tersenyum lebar dengan memperlihatkan barisan giginya lalu kembali melahap, menurut Jenie makanan buatan Exel bahkan lebih enak dari makanan yang biasanya dijual di cafe.
__ADS_1
‘’Besok pagi buatkan sandwich untukku ya.’’ Pintanya setelah menghabiskan makanannya.
‘’Kalau semuanya harus aku yang mengerjakannya lalu tugasmu apa?’’
Jenie menggelang. ‘’Title ku adalah istrimu dan kurasa itu sudah sangat membebaniku jadi aku tidak bisa lagi dibebankan dengan banyaknya pekerjaan rumah, oke.’’ Jenie berjalan dengan santai memasuki kamarnya bahkan sama sekali tidak membereskan meja makan, piring kotornya saja dibiarkan di meja makan dan mau tidak mau, Exel yang harus membereskannya.
*****
Seperti permintaan sang ratu, pagi ini di meja makan sudah tersaji beberapa potong sandwich tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehadiran Exel di apartemen itu, Jenie pun tidak ambil pusing, ia yakin Exel sudah berangkat ke kampus terlebih dulu.
*****
‘’Ada ada, kenapa ramai sekali?’’ Jenie melihat lapangan basket yang dipenuhi para mahasiswi dengan seseorang yang membawa bunga dan coklat di tangannya.
‘’Sepertinya ada yang mau menyatakan cinta.’’ Jawab Sasa cuek, sama sekali tidak tertarik dengan hal itu.
‘’Apa aku juga harus melakukan hal seperti itu untuk kak Kevin?’’ Ucap Jenie kecil yang masih bisa di dengar Sasa.
Sasa tersenyum. ‘’Lakukanlah jika kau ingin, aku akan selalu mendukungmu.’’
‘’Tapi bukankah itu memalukan?’’
‘’Bukankah kau mencintainya, jadi untuk apa malu?’’
‘’Kalau ditolak bagaimana, nantinya aku bakalan jadi bahan omongan satu kampus.’’
‘’Ya dicoba dulu, siapa tau berhasil, iya kan?’’
‘’Tapi bagaimana mungkin, aku kan sudah menikah.’’ Gumannya, entah ada apa dengan perasaannya tapi yang jelas dia juga merasa senang dengan pernikahannya.
‘’Itu pithecan bukan?’’ Tunjuk Jenie, Sasa pun langsung melihat arah yang ditunjuk Jenie, sudah bisa di tebak, mahasiswi tadi sepertinya akan menyatakan perasaannya pada Exel.
‘’Eh itu suamiku woy, masa mau diambil sih.’’ Teriak Jenie dalam hati, tanpa sadar menarik tangan Sasa mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
‘’Kak Exel, perkenalkan aku Nita mahasiswa dari fakultas ekonomi, aku menyukai kak Exel sejak 1 detik pertama aku melihat kakak, kak Exel mau nggak jadi pacar aku?’’
‘’Nggak bisa.’’ Teriak Mona dan Sasa bersamaan.
‘’Loh kok jadi kalian yang jawab sih, orang yang ditembak aja masih diam gitu.’’ Nita menatap tidak suka pada Mona dan Sasa secara bergantian.
__ADS_1
‘’Iya benar Sa, kenapa kamu keberatan, kan yang ditembak si pithecan.’’ Jenie melihat heran pada Sasa, kenapa sahabatnya itu sangat keberatan bahkan sepertinya lebih keberatan darinya yang notabenenya adalah istri Exel.
bersambung.....