
‘’Lalu apa kau mau dia tidak menikah seumur hidupnya?’’ timpal Exel, Eiden terdiam sejenak
‘’tentu saja tidak karena aku sendiri yang akan menikahinya.’’ jawab Eiden pada akhirnya.
‘’Bagaimana bisa kau menikahi sahabatmu sendiri? Kau kan tidak mencintainya?’’ ucap Jenie lagi.
‘’Kata siapa aku tidak mencintainya?’’ Reflek Eiden yang keluar begitu saja dari mulutnya.
‘’Jadi maksudmu kau mencintainya, begitu?’’ tanya Jenie lagi ingin memastikan kembali apa kali ini Eiden benar-benar akan mengakui perasaannya atau kembali membohongi perasaannya.
‘’Hhmm… itu….itu.’’ jawab Eiden bingung dan gelagapan sendiri tak tau harus mengatakan apa.
‘’Kalau kau tidak mencintainya maka biarkan dia bahagia bersama pria lain, mungkin saja pria yang akan menikah dengannya bisa membuatnya bahagia.’’ ucp Jenie sedikit geram dengan sikap Eiden yang amish juga belum mau mengakui perasaannya.
‘’Kata siapa aku tidak mencintainya? Aku bahkan sudah mencintainya sejak kami pertama kali bertemu.’’ jawab Eiden.
‘’Apa!’’ ucap seseorang yang berada di belakang Jenie dan Exel, entah sejak kapan Alisha menguping pembicaraan mereka.
‘’Ed apa benar yang kau katakan tadi?’’ tanya Alisha menghampiri Eiden yang kini berdiam di tempatnya, tadi ia ingin sekali bertemu Alisha tapi setelah wanita itu berdiri di depannya tiba-tiba ia membeku di tempat, Exel dan Jenie juga sudah emninggalkan mereka, ingin membiarkan keduanya menyelesaikan masalah perasaan mereka.
‘’Ed apa benar yang aku dengar tadi?’’ tanya Alisha lagi karena belum juga mendengar jawaban dari Eiden.
Tiba-tiba Alisha tertawa kecil ‘’ck sudah kuduga kau tidak mungkin bersungguh-sungguh dengan ucapan itu, pulanglah aku ingin istirahat.’’ ucapnya dan ingin membalik badannya.
Deg
Alisha membeku, Eiden memeluknya dari belakang dengan sedikit memajukan wajahnya hingga kedua pipi kanan mereka bertempel satu sama lain.
‘’Aku serius dengan apa yang kukatakan tadi, aku mencintaimu sangat mencintaimu hanya saja aku terlalu pengecut aku terlalu takut kehilanganmu, tadinya aku takut kalau memulai hubungan denganmu lalu hubungan itu tidak berhasil dan pada akhirnya aku malah akan kehilanganmu, makanya aku selalu tidak mau peduli tentang perasaanmu dan membohongi diriku sendiri, tapi setelah tadi mendengar kau akan menikah aku sama sekali tak siap, kupikir pada akhirnya, bersama denganmu atau tidak dua-duanya beresiko untuk kehilanganmu, kalau aku tidak mencoba sekarang maka aku benar-benar akan kehilanganmu untuk orang lain.
__ADS_1
‘’Ck hidupmu itu rumit sekali, kenapa kau banyak sekali pertimbangan, bukankah kalau kau menyukai seseorang kau tidak akan memiliki banyak pertimbangan seperti itu dan hanya ingin bersama dengan orang yang kucintai setidaknya itulh yang kurasakan dan sepertinya perasaanmu padaku tidak sebesar itu.’’
‘’Kata siapa perasaanku padamu tidak besar?’’
‘’Tetap saja perasaanku lebih besar dari perasaanmu?’’
‘’Memangnya dari mana kau tau kalau perasaanmu lebih besar dari perasaanku? Aku sangat mencintaimu bahkan di dunia ini hanya kau satu-satunya wanita yang kuinginkan untuk menjadi pendampingku, yang aku cintai lebih dari diriku sendiri.’’
‘’Ah masa sih, aku sama sekali tidak merasakan itu, selama ini aku tidak pernah merasa kau mencintaiku, kau hanya selalu mengerjai ku, memprotes semua yang kulakukan, mengaturku dan sering membentakku, lalu bagaimana aku bisa berpikir kalau kau mencintaiku?’’ ucap Alisha yang sebenarnya hanya ingin mengerjai Eiden, sebenarnya ia memang beberapa kali merasa Eiden memiliki perasaan yang sama dengannya hanya saja pria itu terlalu pintar menutupinya apalagi sejak insiden Exel menolaknya Alisha menjadi tak ingin memikirkan hal itu lagi karena takut merasa geer.
Tanpa aba-aba, Eiden membungkam mulut Alisha dengan mulutnya, ALisha yang kaget hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali dengan tangannya yang sedikit mendorong dada Eiden, Exel pun langsung menutup mata Jenie, pasangan itu ternyata masih memperhatikan Alisha dan Eiden dari jarak yang sedikit jauh.
‘’Kenapa kau menciumku, aku bahkan belum menerima perasaanmu.’’ protes Alisha saat Exel melepaskan ciumannya.
‘’Aku tidak memerlukan persetujuan mu karena aku yakin kau juga pasti masih mencintaiku, iya kan?’’ tanya Eiden menggoda dengan satu jarinya mencolek bawah dagu Alisha sambil mengedipkan salah satu matanya.
‘’Ck PD sekali kau, apa kau lupa sebentar lagi aku akan menikah jadi aku tak bisa menerimamu, aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang membantah orang tuaku, jadi lebih baik kau pulang saja karena ku tidak ingin bersama denganmu.’’
‘’Eiden aku menyerah, tadi aku hanya ingin mengerjaimu.’’
‘’Apa katamu katakan sekali lagi?’’ pinta Exel ‘’katakan juga kalau kau masih mencintaiku, sangat mencintaiku.’’ sambungnya lagi.
Bukannya mengatakan apa yang diperintakan Eiden, Alisha malah memberanikan diri mengecup pipi Eiden lalu berlari masuk kedalam rumah, sedang Eiden tersenyum melihat Alisha yang kini berdiri sedikit jauh darinya dengan satu tangannya memegang pipinya yang tadi dicium Alisha.
‘’Awas ya kau, aku akan membalasnya nanti.’’
‘’Ed pulanglah ini sudah malam.’’ dengan gerakan tangannya yang menyuruh Eiden pulang, Eiden pun mengangguk kecil, memutar tubuhnya dan meninggalkan rumah itu.
‘’Cie ada yang lagi senang nih.’’ Jenie menghampiri Alisha, wanita itu sedang tersenyum senyum sendiri bahkan matanya sama sekali tak melihat layar TV.
__ADS_1
‘’Terimakasih ya Jen.’’ Alisha memluk Jenie
‘’Loh kenapa berterimakasih?’’
‘’Aku tau kalian yang sudah merencanakan semuanya, aku tidak tau apa yang kalian katakan padanya sampai pria itu tiba-tiba mengakui perasaannya.
‘’Besok jam berapa menemui papamu? aku dan Exel akan ikut denganmu’’
‘’Apa tidak akan merepotkan kalian?’’
‘’Ya nggak lah, malam kan ketemunya? daripada dirumah mending kami ikut denganmu.’’
‘’Terimakasih ya Jen.’’
‘’Kau selalu saja berterimakasih untuk hal sepele ini.’’
‘’Itu karena aku bersyukur memilikimu.’’
‘’Kau pikir hanya kau saja, aku juga bersyukur memiliki teman sepertimu, ya sudah kau tidur saja, besok kau akan membutuhkan banyak kekuatan.’’
Paginya, setelah sarapan Exel, Jenie dan Alsha pamit untuk ke kampus, ketiganya berangkat dengan menggunakan mobil Exel, awalnya Alsha menolak karena merasa sedikit tak enak, takut mengganggu keduanya, Jenie terus memaksanya dan Exel pun tidak keberatan dengan itu.
‘’Lihatlah.’’ tunjuk beberapa orang pada Alsha yang ikut turun dari mobil Exel.
‘’Apa-apaan ini, kenapa dia juga turun dari mobil kak Exel?’’
‘’Cin itu si Alsha bukan, kenapa dia bisa dateng bareng kak Exel dan Jenie?’’ tunjuk salah satu teman Cindy pada Alsha yang sudah berjalan sambil berbincang dengan Jenie sedang Exel tadi buru-buru ke kelasnya karena hari ini kelasnya dimulai sedikit lebih cepat.
‘’Dasar parasit.’’ umpat Cindy tak suka melihat Alsha yang dekat dengan Jenie, ia jadi tak bisa leluasa mengerjai Alisha seperti dulu lagi karena wanita itu selalu lengket dengan Jenie.
__ADS_1
‘’Yaudah aku ke kelas ya Jen.’’ pamit Alisha saat Jenie tiba didepan kelasnya.
Bersambung.....