Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Kedatangan papa Robert di kampus


__ADS_3

‘’Jen bangun Jen, makan malam dulu.’’ Exel membangunkan karena terus terngiang ucapan mamanya, sebelumnya dia sama sekali tak terpikir tentang hal itu.


‘’Ngantuk Xel.’’ Ucap Jenie tanpa membuka matanya.


‘’Bangun bentar ya, makan dulu.’’ Pintanya lembut, perlahan Jeni pun mulai membuka matanya, sesungguhnya dia juga lapar hanya saja rasa kantuknya lebih besar dari rasa laparnya.


‘’Biar aku suapin.’’ Ucap Exel saat Jenie berniat mengambil piring dari tangannya, Exel tersenyum saat melihat imutnya wajah Jenie saat wanita itu makan dengan mata yang terpejam rapat, setelah makan, Exel mengambil makeup remover dan membantu Jenie membersihkan sisa makeup nya, setelahnya ia menggendong Jenie ke kamar mandi, mendudukannya di atas closed, membantunya menyikat gigi dan membersihkan wajah, membawa Jenie kembali ke ranjang, membaringkannya, pria itu membantu membersihkan tubuh Jenie dengan kain basah, memakaikan pakaian, menyelimutinya, mencium keningnya, dan ikut berbaring disampingnya, menarik Jenie dalam pelukannya.


‘’I love you.’’ Ucapnya sebelum ikut memejamkan mata.


*****


Pagi ini ditemani dengan rintik hujan, Exel terbangun lebih dulu, tak langsung beranjak pria itu malah asyik memperhatikan wajah sang istri yang masih terlelap di sampingnya.


‘’Morning.’’ tersenyum manis menyambut Jenie yang baru membuka matanya.


‘’Morning’’ balas Jenie, wanita itu berdiri dan melakukan beberapa peregangan kecil, setelahnya duduk kembali, melihat pakaiannya.


‘’Kau yang memakaikannya?’’


Exel mengangguk masih dengan wajah tersenyum. ‘’Berhentilah tersenyum, jantungku benar-benar akan melompat keluar kalau kau terus tersenyum seperti itu.’’


Exel mengangguk masih dengan tersenyum. ‘’Kau menggodaku ya?’’ Jenie menggelitik bawah dagu Exel, pria itu tertawa, melingkarkan tangannya di pinggang Jenie.


‘’Ternyata mendung tidak bisa memudarkan kecantikanmu, wajahmu tetap bersinar dengan sangat cerah.’’


‘’Mmwe.’’ Jenie pura-pura ingin muntah ‘’sejak kapan kau bisa menggombal seperti itu?’’ Jenie mendekatkan wajahnya dan Exel dengan tangannya yang masih menggelitik bawa dagu Exel, wanita itu mengerutkan hidungnya, berbicara dengan gemas.


‘’Loh kok gombal, aku sedang mengatakan yang sesungguhnya Jen.’’


‘’Basi.’’ Jenie terkekeh, mendorong pipi kanan Exel hingga pipinya mengarah ke samping.

__ADS_1


‘’Nggak percaya?’’


‘’Nggak.’’ jawabnya dengan masih terkekeh, melepaskan tangan exel dari pinggangnya dan berjalan masuk ke kamar mandi sedang Exel terus tersenyum memperhatikan punggung Jenie sampai wanita itu hilang di balik pintu.


‘’Loh kok masuk.’’ Ucap Jenie saat Exel juga ikut masuk ke kamar mandi, salah sendiri wanita itu selalu lupa menutup pintu kamar mandi.


‘’Bukankah semalam kau sudah setuju kalau pagi ini kita akan melakukannya di kamar mandi?’’ Exel semakin mendekat pada Jenie, matanya memandang penuh damba pada dua bukit yang bergelantungan di depan matanya seakan memanggilnya untuk kembali bermain disana.


Jenie tak berucap lagi saat tangan Exel sudah mendarat sempurna dan meremas satu puncak bukitnya, sebelum berciuman, pria itu menyalakan shower terlebih dulu, ingin merasakan sensasi yang berbeda, beberapa hari lalu Exel melihat adegan itu di salah satu film yang ditontonnya.


Dengan air yang terus mengalir membasahi tubuh mereka, kedua insan itu asyik dengan kegiatannya yang saling berbelit lidah, saling menyesap, kedua tangan Jenie sudah berlingkar indah di leher Exel.


Mulai turun kebawah, kini mulut  pria itu meraup bukit kembar Jenie seperti orang kehausan dengan tangan Jenie yang menekan kepala Exel. dengan masih berbelit lidah, Exel menghimpit tubuh Jenie pada dinding kaca, mengangkat satu kakinya dan mulai melakukan penyatuan, kegiatan itu tak berlangsung lama karena keduanya yang harus berangkat ke kampus.


Pagi ini Jenie berangkat ke kampus dengan diantar papa Bowo, wanita itu sedang malas menyetir sendiri, tadinya ia ingin meminta sopir yang mengantarnya tapi karena kampusnya searah dengan jalan menuju perusahaan papa Bowo jadilah ia diantar papa mertuanya.


‘’Jenie pamit ya pa.’’ Ucapnya mencium tangan papa Bowo dan turun dari mobil, disaat yang sama mobil Mona memasuki kampus, wanita itu segera menghentikan mobilnya, mengeluarkan ponselnya dan kembali mengambil foto Jenie.


‘’Hallo pa.’’ Jenie berjalan santai sambil mengangkat telepon dari papanya.


‘’Nanti siang papa ada meeting di kampus jadi luangkan waktumu untuk makan siang bersama papa.’’


‘’Siap pak bos.’’


‘’Pasti papa gula yang menelpon.’’ sepanjang jalannya Jenie terus mendapat cibiran, entah kenapa wanita itu sama sekali tak peduli dengan hal itu, padahal namanya sudah sangat buruk untuk sesuatu yang bahkan tak pernah dilakukannya.


Sampai dikelasnya Jenie melihat semua orang sedang heboh memandang ponsel mereka masing-masing setelahnya berbalik memandangnya, ternyata Mona sudah menyebarkan foto yang tadi diambilnya pada seluruh mahasiswa kampus itu tanpa terkecuali Exel.


‘’Dimana?’’ tanya Exel menelpon Jenie


‘’Kelas, kenapa?’’

__ADS_1


‘’Kamu nggak pa-pa?’’


‘’Ya nggak pa-pa, kamu khawatir karena foto itu?’’ tebak Jenie


‘’Nggak kok, aku kangen aja pengen dengar suara kamu.’’


‘’Hhmm mulai lagi deh, udah ah.’’ ingin mengakhiri panggilan telepon tapi tak jadi ‘’oh ya, kamu tenang saja aku nggak bakalan kenapa-kenapa hanya karena gosip murahan seperti itu, jadi kuharap suamiku yang tercinta ini bisa berkonsentrasi dengan baik, oke.’’ Ucapnya setelahnya benar-benar mengakhiri panggilan itu.


Sambil menunggu dosen Jenie membuka instagramnya tanpa terganggu dengan setiap cibiran yang terus berdatangan memenuhi gendang telinganya, sebelumnya ia mengirim chat pada Alisha untuk mengajaknya makan siang bersama, entah kenapa ia sangat ingin berteman dengan wanita itu, ia menyukai kepribadiannya.


Hampir jam makan siang, Jenie dan Alisha sedang berjalan menuju kantin sambil mengobrol santai.


‘’Lihatlah wanita pe**cur itu, sama sekali tak ada urat malunya.’’


‘’Bukankah itu Alisha, kenapa dia bersama Jenie?’’ sama seperti Jenie, Alisha juga dikenal karena kecantikan yang dimilikinya makanya banyak mahasiswa yang sedikit kaget melihat Alisha bersama Jenie.


‘’Kau tau Alisha sudah jatuh miskin, dia diusir dari rumah oleh papanya jadi mungkin saja Jenie sedang menawarkan pekerjaan padanya.’’ Ucap seseorang membuat banyak orang tertawa karena tau apa pekerjaan yang dimaksud.


‘’Apa kau tidak terganggu dengan ucapan-ucapan itu?’’ tanya Alisha


‘’Untuk apa, aku tak merasa melakukan hal itu dan kau tau, lucunya diantara mereka yang sering mencibirku ada yang bekerja sebagai.’’ Ucapnya tak diteruskan, Jenie mengangkat kedua tangannya memberi isyarat tanda kutip pada Alisha yang langsung dimengerti oleh wanita itu.


Tak lama suasana kantin mulai heboh karena kedatangan seorang Robert Dawson yang sangat dikenal oleh para mahasiswa.


‘’Jen.’’ papa Robert menghampiri, mencium kening putri kesayangannya itu dengan Jenie yang sudah memeluknya, pria paruh itu dengan santai duduk di samping Jenie masih dengan tangan Jenie yang melingkar memeluknya.


‘’Oh ya Exel mana?’’ tanya papa Robert


‘’Ih pa jangan tanya Exel disini dong kan nggak ada yang tau kalau aku sama Exel udah nikah.’’ ucapnya setengah berbisik.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2