
‘’Dasar anak durhaka.’’ teriak papa Bowo, setelahnya pria paruh baya itu menggeleng dan tersenyum merasa sangat bahagia.
*****
‘’Xel kerumah papa mamaku yuk, aku kangen banget soalnya.’’ ajak Jenie, Exel pun mengangguk, tanpa mengganti pakaian keduanya kembali turun menghampiri kedua orang tua Exel untuk meminta Izin.
‘’Ma pa aku sama Jenie mau kerumah papa Robert.’’ Ucap Exel memberi tahu.
‘’Tunggu, mama papa ikut.’’ Ucap mama dan dengan cepat berlari ke kamar mengambil tasnya, mereka pergi dengan menggunakan dua mobil karena Exel dan jenie yang berniat menginap di rumah orang tua Jenie.
*****
‘’Papa mama.’’ teriak Jenie memasuki rumah orang tuanya.
‘’Siapa pa?’’ tanya mama
‘’Siapa lagi kalau bukan putriku, memangnya ada yang berani berteriak di rumah kita kalau bukan Jenie?’’ papa Robert Berdiri, berjalan keluar untuk menghampiri putri tersayangnya yang sangat suka menggodanya dan selalu bertengkar kecil dengannya.
‘’Papa Jenie kangen.’’ Jenie memeluk papanya.
‘’Papa juga kangen banget sama kamu.’’ papa beberapa kali mencium puncak kepala Jenie.
‘’Siang pa, siang Rob.’’ Ucap Exel dan kedua orang tuanya saat memasuki rumah.
‘’Wo kalian juga datang?’’ Ucap mama berjalan dari belakang papa Robert.
‘’Ma Jenie kangen’’ Beralih memeluk mamanya, setelahnya semua mengobrol santai.
‘’Pa.’’ Jenie menunjuk satu kue yang tersedia di meja, meminta papanya untuk mengambilkan untuknya, tak sampai disitu ternyata wanita itu meminta sang papa untuk menyuapinya, setelah tidak tinggal bersama, Jenie semakin manja pada papanya.
‘’Aaaa.’’ ucap papa menyuap satu potong kue pada Jenie, kedua orang itu sibuk sendiri.
‘’Biarkanlah mereka nggak usah dipedulikan.’’ Ucap mama Catrine saat melihat Exel dan orang tuanya sedang memandangi suami dan putri tercintanya.
*****
Rapi juga kamar mu.’’ Puji Exel yang baru pertama kalinya masuk ke kamar Jenie, tak lama matanya melotot, menghampiri beberapa bingkai foto yang tertata rapi di atas meja hias samping ranjang Jenie.
‘’Aku belum sempat membuangnya.’’ Jenie mengambil foto itu dari tangan Exel, mengumpulkan semuanya, dan membuangnya ke tempat sampah.
‘’Sepertinya dulu ku sangat menyukainya.’’ berucap dengan nada sinisnya, duduk di ujung ranjang.
‘’Jangan mulai deh, aku kan sudah bilang lupa membuangnya, kau tau kan setelah kita menikah aku sama sekali tak pernah kesini lagi.
__ADS_1
‘’Kau kan bisa menyuruh para ART untuk membuangnya.’’
‘’Aku lupa Exel, nggak kepikiran, sudahlah jangan mencari masalah, yang ada kita akan berdebat dan bertengkar lagi.’’ Jenie berjalan masuk ke kamar mandi.
Sementara Exel memperhatikan foto-foto Kevin yang sekarang sudah berada berada ditempat sampah, menendang tempat sampah itu tapi tidak keras.
‘’Kau kenapa, masih kesal?’’ Tanya Jenie, Exel menggeleng, pria itu sedang selonjoran di atas sofa, membuka kedua tangannya menyuruh Jenie duduk bersamanya, setelahnya ia kembali meneruskan aktivitasnya yang sedang berbalas chat dengan Andre.
‘’Apa nggak pa-pa jika aku mengetahui isi chat kalian?’’ Tanya Jenie
Exel memberikan ponselnya pada Jenie. ‘’Nggak pa-pa, bacalah jika kau ingin membacanya.’’ Jenie tersenyum, bukan ingin membaca chatt Exel dan Andre, wanita itu mengecek semua kontak yang selalu berkirim chat dengan Exel.
‘’Andre, papa, mama, mama mertua, papa mertua, istriku.’’ guman Jenie.
‘’Kau menghapus chatmu ya?’’
‘’Hhmm.’’
Jenie menunjukan layar ponsel Exel dan meng scrollnya dari atas ke bawah, menampilkan nama beberapa orang yang berkirim chat dengan pria itu.
‘’Kenapa hanya ini, kau menghapus yang lainnya kan?’’
Exel tersenyum. ‘’Untuk apa menghapusnya, aku memang tak pernah berkirim chat selain dengan keluarga dan Andre.
‘’Nih buktinya aku.’’ Tunjuknya bangga pada dirinya sendiri, Tiba-tiba Exel terpikir untuk mengecek riwayat chat Jenie juga. ‘’Mana ponselmu.’’ Pintanya dengan membuka satu tangannya.
‘’Untuk?’’ tanya Jenie
‘’Aku ingin memeriksanya.’’
Jenie tersenyum dan memberikan ponselnya, berbeda dengan Exel, riwayat chat Jenie sedikit lebih banyak.
‘’Kevin mana, kenapa chatnya nggak ada?’’
‘’Udah aku hapus, kontaknya aja udah aku hapus.’’
‘’Kamu nggak bohong kan?’’
‘’Lagian untuk apa juga aku membohongimu, sudah ah aku mau tidur, Ucapnya dengan meletakan kepalanya di dada exel, sedang Exel masih sibuk membuka chat Jenie satu persatu bahkan membacanya dengan teliti.
*****
‘’Mon Mon.’’ teman Mona menyenggol lengannya saat melihat Jenie berjalan memasuki kampus.
__ADS_1
‘’Sebanarnya Jenie tuh cantik banget cuman sayang aja kecantikannya nggak dipergunakan dengan baik.’’
‘’Walau aku membencinya tapi aku selalu iri saat melihatnya, mungkin karena dia terlalu cantik.’’
‘’Woy.. Itu bukannya kak Exel.’’ Ucap para kaum hawa yang tiba-tiba heboh karena kedatangan Exel.
‘’Aku ke ke kelas dulu istriku.’’ Bisiknya dan melewati Jenie, Jenie hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
‘’Hei pe**cur kenapa kau melihat calon pacarku seperti itu, ingat Exel tak mungkin menyukai wanita murahan sepertimu.’’ Mona menghampiri Jenie, seperti biasa, Jenie sama sekali tak peduli, wanita itu terus melangkahkan kakinya.
‘’Sepertinya kau harus benar-benar meminta papamu untuk mengeluarkannya dari kampus ini biar dia nggak belagu seperti itu.’’ timpal teman Mona.
‘’Kita harus mengumpulkan banyak bukti tentang semua perbuatan buruknya agar bisa lebih gampang untuk kita menyingkirkannya dari kampus ini, kau tau papaku tak akan mau menurutiku kalau aku tak memiliki bukti.’’
‘’Kau bilang saja kalau dia sering mengganggumu, aku yakin papamu pasti akan langsung mengeluarkannya, bukankah kau putri kesayangannya?’’ Ucap teman Mona lagi.
‘’Aku belum pernah membicarakan hal ini dengan papaku tapi akan kucoba.’’
‘’Oke kami tunggu kabar baiknya, jangan lupa juga bilang pada papamu kalau kehadirannya di kampus ini hanya akan merusak nama baik kampus.’’
‘’Baiklah kalian tunggu saja, kita pasti akan bisa mengeluarkannya.’’
*****
‘’Sendiri Jen?’’ sapa pak Reza duduk di samping Jenie, sekarang keduanya sedang berada di perpustakaan.
‘’Iya pak.’’ Jawab Jenie sopan
Tak sengaja Jenie melihat wallpaper ponsel pak Reza saat pria itu meletakan ponselnya dimeja, tepat di samping laptop, saat itu sepertinya dia sedang mendapat pesan hingga layar ponselnya tiba-tiba menyala.
‘’Siapa ya?’’ Guman Jenie, wanita itu hanya melihat sekilas jadi tak terlalu kentara, tapi sepertinya dia tak asing dengan foto itu, tapi siapa dia sama sekali tak tau.
‘’Lihatlah, sepertinya Jenie sedang berusaha menggoda pak Reza, beberapa kali aku melihat mereka sedang mengobrol seperti itu.’’ Ucap seorang wanita yang kebetulan juga berada di perpustakaan.
‘’Semoga saja pak Reza tak tergoda dengan kecantikannya.’’
‘’Aku nggak mengerti kenapa sampai sekarang wanita seperti itu masih berkeliaran dengan bebas di kampus kita.’’
‘’Iya apa Mona belum meminta papanya untuk mengeluarkan wanita itu?’’
‘’Maaf pak saya duluan.’’ pamit Jenie setelah mendapatkan chat dari Exel yang memintanya segera menemui pria itu.
Bersambung.....
__ADS_1