
‘’Exel nanti riasanku rusak.’’ protesnya dengan memperlihatkan wajahnya yang sangat menggemaskan untuk Exel.
‘’Habisnya kamu cantik banget tau nggak.’’ ucapnya yang kembali mencium pipi kanan Jenie sedang Jenie tak lagi protes dan malah tersenyum dengan tangannya yang mendorong kecil perut Exel.
‘Gombal aja, keluar deh Xel kalau gini terus yang ada riasan aku akan benar-benar rusak tau.’’
Bukannya keluar, Exel malah menarik tubuh Jenie dan melingkarkan satu tangannya dipinggang Jenie dengan satu tangannya memegang dagu Jenie.
‘’Aku sayang banget sama kamu Jen, terimakasih karena sudah hadir dihidupku, terimakasih karena sudah mau menerimaku menjadi suamimu, tetap seperti ini ya, jangan berubah, jangan berpikir untuk meninggalkanku sampai kita tua nanti pokoknya aku mau hidup sama kamu terus sampai anak-anak kita besar dan sampai mereka memberikan banyak cucu untuk kita, i love you Jen.’’
Jenie tersenyum, menangkup wajah Exel dengan kedua tangannya. ‘’Harusnya aku yang bilang begitu, terimakasih untuk semuanya, terimakasih banyak karena sudah mencintaiku dan memilihku untuk menjadi pendampingmu, dan seperti katamu tadi, awas saja jika kau berubah pikiran dan meninggalkanku.’’ balas Jenie dengan memberikan sedikit ancaman di akhir kalimatnya.
Exel tertawa kecil. ‘’Bagaimana aku bisa meninggalkan wanita secantik ini, dimana lagi coba aku akan mendapatkannya.’’ Exel menggoda dengan mengerlingkan satu matanya sedang Jenie hanya tertawa kecil.
Entah saking senangnya atau apa, Jenie mendekatkan wajahnya pada Exel, ingin mencium pria itu tapi Exel malah menjauhkan wajahnya. ‘’Jangan menciumku nanti riasanmu rusak.’’ Exel tertawa kecil karena berhasil mengerjai Jenie, wanita itu sekarang melihatnya dengan bibir manyun dan hidungnya yang terlihat sudah mengerut.
‘’Rese banget deh, mending kamu keluar aja dari ruangan ini daripada aku berubah pikiran dan membatalkan pesta pernikahan ini.’’
‘’Aduh kalau lagi ngambek gini lebih gemes deh, bisa digigit nggak?’’
‘’Apanya?’’ tanya Jenie dengan nada sewotnya.
‘’Nih.’’ Exel menunjuk pipi Jenie.
‘’Xel keluar deh, sedikit lagi caranya dimulai, aku harus siap-siap.’’ Jenie mendorong tubuh Exel hingga keluar dari ruangan, didepan pintu Exel tak langsung pergi, masih berdiri diam melihat Jenie.
‘’Apalagi Xel?’’ tanya Jenie.
Exel menunjuk pipinya, meminta Jenie menciumnya sebelum dia pergi dari sana.
‘’Nanti wajahmu kena lipstick ku Xel.’’
__ADS_1
‘Biarin aja, cepetan dong Jen atau nggak aku nggak bakalan pergi.’’
‘’Yaudah sini.’’ Jenie meminta Exel untuk lebih mendekatkan pipinya dan dengan cepat ia mencium pipi Exel.
‘’Tuh kan udah aku bilang lipstick nya pasti nempel.’’ Jenie membersihkan lipstik di wajah Exel setelahnya Exel benar-benar pergi dari sana.
‘’Yang mana sih?’’ tanya Alisha mencari ruangan rias Jenie
Bruk
Alisha hampir jatuh karena seseorang yang menabrak tubuhnya, untung saja tangannya cepat menahan dinding kalau tidak dia akan benar-benar jatuh dan membentur lantai sementara pria yang menabraknya hanya menatapnya santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
‘’Makanya lain kali kalau jalan lihat-lihat dong.’’ ucap pria itu yang membuat Alisha sangat kesal.
‘’Hei harusnya kau minta maaf, kau yang manabrakku tadi.’’
‘’Salah sendiri kau ada didepanku.’’ ucapnya dengan santai dan menyingkirkan tubuh Alisha hingga sedikit membentur dinding lalu dengan santainya dia melewati Alisha, saking geramnya Alisha mengambil high heelsnya dan melemparnya sampai mengenai punggung pria sombong itu.
‘’Berani sekali kau.’’ geram pria itu menghampiri Alisha.
Íngin mengejar Alisha tapi asistennya menghentikannya karena mereka masih memiliki urusan penting.
‘’Kau dari mana, kenapa ngos-ngosan gitu?’’ tanya Jenie melihat Alisha yang kini duduk di depannya sambil mengatur nafas.
‘’Tadi aku bertemu dengan pria gila.’’
’’Pria gila?’’
‘’Sudahlah nggak usah dibahas, nggak penting, tapi btw kamu cantik sekali hari ini.’’ puji Alisha melihat Jenie dari ujung kaki sampai ujung kepala.
*****
__ADS_1
‘’Mari kita sambut mempelai wanita kita.’’ Ucap MC pernikahan mereka mempersilahkan Jenie untuk masuk ke ruangan tempat berlangsungnya pesta pernikahan mereka.
Tak lama pintu terbuka, memperlihatkan papa Robert yang sedang menggunakan wedding dress, semua orang tertawa termasuk Exel, tapi mana Jenie, kenapa wanita itu tidak ada, dia tidak kabur kan?’’ Exel bertanya-tanya dalam hati, merasa was-was kalau Jenie tiba-tiba meninggalkannya.
Papa Robert semakin mendekat semakin tak karuan perasaan Exel. ‘’kenapa wajahmu seperti itu?’’ tanya papa Robert melihat wajah gelisah Exel.
‘’Jenie mana pa, dia nggak meninggalkanku kan?’’
‘’Bukannya menjawab papa Robert malah tertawa yang juga diikuti oleh beberapa orang yang berada di ruangan itu, termasuk orang tua Exel dan juga Alisha dan Eiden yang kebetulan bisa hadir pada saat itu.
‘’Jenienya kabur Xel katanya nggak mau nikah sama pria menyebalkan sepertimu.’’ ucap papa Robert dengan ide jahilnya sambil menahan tawa karena melihat wajah Exel yang terlihat semakin gusar.
‘’Mau kemana kamu?’’ cegah papa Robert saat Exel akan melangkah pergi.
‘’Kemana lagi, aku akan mencari Jenie, dia tidak bisa meninggalkanku seperti ini apalagi setelah berjanji padaku.’’
‘’Sudahlah Xel kalau kamu benar-benar mencintainya biarkan dia pergi, biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri.’’ teriak papa Bowo yang juga ingin ikut mengerjai putranya itu.
‘’’Nggak apapun itu Exel tidak akan membiarkannya meninggalkan Exel lagi.’’
‘’Kamu jangan egois gitu dong, putriku juga berhak bahagia, kau tidak boleh menahannya disisimu jika dia tak ingin berada disisimu.’’
‘’Ada apa dengan kalian, kenapa kalian mendukungnya untuk meninggalkanku, aku ini suaminya, suami sahnya, bagaimana bisa dia tiba-tiba meninggalkanku seperti ini.’’ Exel setengah emosi karena keluarganya dan keluarga Jenie seakan mendukung Jenie untuk meninggalkannya.
‘’Kami bukan mendukungnya tapi kau juga harus bisa menghargai keputusan seseorang apalagi itu adalah orang yang kau cintai, memangnya kau ingin membiarkannya tersiksa karena harus hidup disampingmu dengan penuh keterpaksaan?’’ ucap mama Sita dengan raut wajah pura-pura sedih.
Exel tertunduk lemas, kakinya seakan tak mampu untuk menopang berat tubuhnya, tanpa malu Exel menangis, untuk kedua kaliannya Jenie tega meninggalkannya tanpa mengatakan apapun padanya, harapan dan keinginannya untuk hidup bersama Jenie sudah setinggi langit tapi tiba-tiba Jenie mendorongnya, sungguh perasaannya sangat sakit, kejadian terlalu tiba-tiba dan dia sama sekali tidak bisa menerimanya.
‘’Kenapa kau menangis, apa kau menyesal menikah denganku?’’ suara tak asing itu menghentikan tangisan Exel, dengan cepat ia melihat ke arah sumber suara, ia dapat melihat seorang wanita yang berdiri dan tersenyum padanya.
‘’Kenapa kau diam saja?’’ tanya Jenie lagi, tak menjawab, Exel berdiri, berlari menghampiri Jenie dan menabrakkan tubuhnya pada tubuh Jenie dengan masih menangis.
__ADS_1
‘’Exel berhentilah menangis, apa kau tidak malu?’’
Bersambung.....