Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Salah sasaran


__ADS_3

‘’Mungkin seharga satu rumah?’’


‘’Apa itu tak terlalu mahal.’’


‘’Menurutku walau mahal pasti para pria akan membayarnya, kau tidak melihat, buktinya ia bahkan beberapa kali mengganti mobil mewahnya dulu dan pakaiannya semua adalah merek terkenal dengan harga fantastis.’’


‘’Enak sekali hidupnya, gampang sekali mencari uang, coba kalau kita, diobral murah juga tidak akan ada yang berminat.’’ Ucap seseorang sambil bercanda membuat beberapa orang tertawa karena merasa apa yang dikatakannya benar.


Sesampainya di kelas, Jenie hanya melirik sekilas pada Sasa yang terlihat sedang memperbaiki riasannya, memutuskan duduk di bangku paling belakang, mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan lucu pada kedua orang tuanya.


Dari cerminnya Sasa memperhatikan Jenie yang sedang tersenyum, sepertinya sedang berbalas pesan dengan seseorang, ia geram karena berpikir Jenie sedang berkirim pesan dengan Exel lalu tersenyum saat mendapatkan ide licik.


Ia mengambil ponselnya mengirimkan dan menyebarkan beberapa foto Jenie sedang memeluk dan mencium pipi papanya, dengan wajah Jenie yang terpampang jelas tapi wajah papanya sama sekali tak terlihat karena foto itu ada yang diambil dari belakang ada juga dari samping, hingga tak ada yang mengenali pria paruh baya itu dan hanya berpikir pria paruh baya itu adalah salah satu pelanggan Jenie.


[Dasar wanita murahan, tak tau malu bangat sih.]


[Ini bapaknya siapa? lain kali tolong di foto bagian wajahnya agar bisa dilaporkan pada istrinya.]


[bergayalah sesuai dengan kemampuanmu jangan memaksakan diri dan akhirnya kau malah memilih jalan pintas]


[dasar pelakor, aku harap kau secepatnya di labrak oleh istri sahnya]


[kita harus bersatu untuk mengusirnya dari kampus ini, aku tak mau satu kampus dengan seorang pe**cur sepertinya]


Beberapa tanggapan mahasiswa kampus terkait foto Jenie yang dikirimkan Sasa, tentu saja tak ada yang tau kalau Sasa yang mengirimnya karena ia menggunakan nomor ponsel baru saat menyebarkan foto itu.


Seketika kelas heboh, beberapa orang terdengar menyindir dan menghina Jenie secara terang terangan tapi wanita itu sama sekali tak menggubrisnya dan hanya asyik berkirim pesan dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


‘’Hei wanita murahan, apa kau tak memiliki rasa malu sama sekali?’’ ejek Mona yang kini berada di kelas Jenie,ia sengaja datang untuk mempermalukan Jenie.


Jenie meletakan ponselnya melihatnya sekilas dengan ekspresi santainya tanpa mengatakan apa-apa yang membuat Mona semakin geram dengan Jenie, menghampiri Jenie, kebetulan saat ini Jenie sedang menggunakan dress berkerah jadi Mona menarik kerah dressnya, menatap remeh padanya. ‘’Kau hanya wanita miskin tapi sikapmu sangat sombong, apa aku harus memberimu pelajaran agar kau sadar akan posisimu?’’


‘’Bukannya kau yang tidak menyadari posisimu, aku tak akan pernah takut pada seseorang yang hanya bisa berpura-pura menjadi orang lain.’’ Bisiknya lalu memberikan senyum lebarnya pada Mona sedang Mona menjadi geram karena berpikir Jenie sedang meremehkan dan menuduhnya.


‘’Sepertinya kau memang harus diberikan pelajaran agar tak berani lagi melawanku.’’ Ucapnya dan langsung menarik keras rambut Jenie, membuat Jenie merintih kesakitan, mencoba melepaskan tangan Mona tapi tarikan wanita itu sangat kuat, Jenie bahkan merasa sebentar lagi rambutnya akan rontok dari akar-akarnya, tak tau harus berbuat apa, Jenie mendorong keras tubuh Mona hingga punggungnya mengalami tabrakan maut dengan dinding kelas itu.


‘’Auh.’’ rintih Mona saking sakitnya, merasa bersalah, Jenie ingin membantu tapi Mona malah membalas mendorongnya, untung saja disaat yang tepat Exel datang dan menangkap tubuhnya yang hampir jatuh membentur lantai.


‘’Apa-apaan kalian?’’ Geram Exel melihat tak suka pada Mona dan beberapa orang yang sedang menikmati pertengkaran Jenie dan Mona.


‘’Kau.’’ Geram Exel ingin menghampiri Mona karena merasa tak terima dengan sikap Mona yang selalu saja mengganggu Jenie, Exel tak habis pikir karena Jenie menahan dan menggeleng padanya, mau tak mau Exel mengurungkan niatnya, menarik Jenie keluar dari kelas.


‘’Apanya yang sakit?’’ tanya Exel, Jenie menggeleng ‘’dia hanya menarik rambutku."


‘’Beraninya, akan kubuat dia kehilangan seluruh rambutnya.’’ Geram Exel yang membuat Jenie tertawa.


‘’Bukankah kau terlalu sadis, bagaimana bisa kau ingin membuatnya kehilangan semua rambutnya, apa kau tau rambut adalah mahkota yang memperindah penampilan seseorang, kalau rambutnya habis lalu bagaimana nasibnya?’’


‘’Apa peduliku dan lagian untuk apa kau peduli tentangnya?’’


Jenie hanya tersenyum, memeluk pinggang Exel, ia tau pria itu sedang mengkhawatirkannya.


*****


‘’Apa kau mau bekerjasama denganku, kita bisa menyingkirkan wanita itu bersama.’’ Tawar Sasa menghampiri Mona yang kini sedang mengamuk dalam toilet, wanita itu marah karena Exel yang membela Jenie padahal dialah yang kesakitan.

__ADS_1


‘’Apa alasannya?’’


‘’Dengan alasan yang sama denganmu, aku sangat membencinya bahkan melebihi rasa bencimu padanya.’’


Mona tersenyum senang, semakin banyak yang membenci Jenie semakin baik, kesempatan untuk menghancurkan wanita itu semakin besar, apalagi dengan adanya Sasa yang terlihat begitu sangat membenci Jenie, ia yakin wanita itu akan melakukan segala cara.


‘’Baiklah mulai sekarang kita akan bekerjasama.’’ Ucap Mona lalu keduanya tersenyum penuh arti.


*****


Seminggu kemudian, Sasa dan Mona sengaja menyewa seseorang untuk menabrak Jenie dan membuatnya seperti kecelakaan yang tak disengaja, Sasa yang cukup tau kalau Jenie sangat suka makan di cafe depan kampus memberikan informasi pada orang suruhan mereka agar dapat melaksanakan tugasnya dengan benar.


Seperti dugaan, hari ini Jenie memilih makan siang di cafe depan kampus, Mona dan Sasa tersenyum melihat Jenie yang akan menyebrang jalan.


‘’Selamat tinggal Jenie.’’ Ucap keduanya bersamaan lalu tertawa puas.


‘’Jenie.’’ Teriak Exel cepat menarik tangan Jenie hingga keduanya jatuh dengan posisi Jenie diatas tubuh Exel.


‘’kamu nggak pa-pa?’’ tanya Exel, Jenie mengangguk tak lama ia berteriak meminta tolong karena Exel sudah tak sadarkan diri, tadi Exel sengaja mengikuti Jenie karena tak seperti biasanya, hari ini ia merasa sangat mencemaskan Jenie, dan feelingnya terbukti benar, hampir saja Jenie ditabrak mobil yang menurut Exel memang sengaja menargetkan Jenie.


Andre yang kebetulan ingin keluar dari kampus langsung menghentikan mobilnya, beberapa mahasiswa mengangkat tubuh Exel dan memasukannya kedalam mobil Andre.


‘’Hiks hiks hiks, Xel bangun dong.’’ wanita itu menangis karena takut terjadi apa-apa pada Exel


‘’Tenang Jen, Exel pasti baik-baik saja.’’ Ucap Andre menenangkan karena Jenie terlihat sangat khawatir.


Sementara Mona dan Sasa yang kini sedang menggunakan mobil Mona mengikuti mobil Andre dari belakang, keduanya sangat khawatir takut terjadi apa-apa pada pria yang mereka cintai itu, mereka tak pernah menyangka kalau Exel akan menyelamatkan wanita itu bahkan dengan hampir mengorbankan nyawanya.

__ADS_1


‘’Mon, bukankah sebaiknya kita mengurus orang suruhan kita terlebih dulu, aku yakin mereka pasti akan mencarinya dan bisa gawat kalau dia menyebutkan nama kita.’’


Bersambung.....


__ADS_2