
‘’Katanya ini mobilmu tapi kenapa kau tak mengenali kuncinya, atau.’’ Jenie sedikit menjeda ucapannya. ‘’Apa kau sedang berpura-pura sebagai pemilik dari mobil ini?’’
‘’Apa maksudmu, untuk apa aku berbohong?’’
‘’Lalu kenapa kuncinya ada padaku?’’
Mona terdiam, orang-orang menatap keduanya dengan serius.
‘’Ya tentu saja karena mobil ini adalah milikku jadi sudah jelas kunci mobilnya akan ada padaku.’’ ucap Jenie lagi dan menyingkirkan tubuh Mona, membuka pintu mobil dan mengangkat panggilan telepon yang dari tadi terus masuk ke ponselnya.
‘’Hhmm hallo pa.’’
‘’Kamu kenapa lama sekali mengangkat telepon bikin papa khawatir saja.’’
Jenie tertawa kecil ‘’pa nanti Jenie telpon lagi ya, Jenie masih memiliki sesuatu yang harus diselesaikan, love you.’’ Ucapnya dan mengakhiri panggilan itu.
‘’Jadi itu mobilnya Jenie?’’
‘’Kenapa Mona berbohong, bukankah dia juga sangat mampu membeli mobil mewah itu, secara dia akan anaknya Robert Dawson.’’
‘’Lucu banget sih ini.’’
‘’Tapi bagaimana bisa si Jenie punya mobil semewah ini?’’
‘’Kau lupa dia kan seorang sugar baby, pasti dia memiliki lebih dari satu papa gula, makanya bisa membeli mobil semewah itu.’’
Bisik-bisik orang yang bisa didengar dengan jelas oleh Jenie.
‘’Ck kau pasti berusaha keras dalam menjual tubuhmu makanya kau bisa memiliki mobil ini.’’ Ucap Mona menghina.
‘’Hhmm bagaimana ya.’’ Ucap Jenie dengan ekspresi pura-pura berpikir ‘’setidaknya aku bisa memiliki mobil ini bukan hanya pura-pura mengakuinya.’’ Sindir Jenie, memberikan senyum smirknya dan pergi meninggalkan keramaian itu.
‘’Dasar pe**cur.’’ teriak Mona dengan nada marah yang sama sekali tak dipedulikan, Jenie hanya mengangkat tangannya, melambaikannya pada Mona dengan tubuh yang memunggunginya.
Karena malu Mona juga pergi dan meninggalkan keramaian itu, wanita itu berteriak memaki Jenie beberapa kali saat ia tiba di toilet.
‘’Kau tunggu saja, aku pasti akan membalasmu.’’ Geramnya menatap wajahnya di pantulan cermin kamar mandi.
‘’Hebat banget sih.’’ Puji Exel menarik gemas pipi Jenie saat wanita itu berada di perpustakaan.
‘’Exel kalau ada yang melihatnya bagaimana?’’ Ucap Jenie melotot, melepaskan tangan Exel, melihat ke kanan dan kiri, untung saja mereka tertutupi oleh beberapa rak buku.
__ADS_1
‘’Ih gemes banget deh.’’ Ucapnya lagi, kali ini pria itu menggelitik bagian bawah dagu Jenie.
‘’Exel lepasin ih.’’
‘’Kenapa sih, orang nggak ada yang lihat kok.’’
‘’Udah ah pergi sana, jangan ganggu aku lagi.’’ usirnya pada Exel dengan mendorong tubuh pria itu, tanpa sepengetahuan mereka seseorang melihat adegan itu dengan sangat jelas, siapa lagi kalau bukan seseorang yang selalu membuntuti Jenie diam-diam, seperti biasa ia akan selalu mengambil foto Jenie.
‘’Tunggu sebentar lagi dan aku akan menjemputmu, kita akan hidup bahagia bersama.’’ Ucapnya mencium foto Jenie yang baru saja diambilnya.
‘’Jen aku mau ngomong sama kamu.’’ Ucap Kevin yang tiba-tiba duduk di depan Jenie, wanita itu tak menjawab hanya melirik sekilas dan kembali memfokuskan matanya pada buku yang sedang dibacanya, sedang Exel sudah pergi hampir 10 menit lalu.
‘’Jen kau mendengarku tidak?’’
‘’Mau apa lagi sih kak?’’ tanyanya
‘’Ada yang ingin kubicarakan?’’
‘’Apalagi? Kurasa tak ada yang perlu kita bicarakan, tolong kak Kevin pergi dan jangan ganggu aku lagi.’’
‘’Kau kenapa jadi berubah begini?’’
‘’Kak Kevin yang kenapa menjadi seperti ini?’’
‘’Ayo keluar dari sini atau aku akan membuat keributan disini.’’ Ajak Kevin dengan ancaman, mau tidak mau Jenie mengikutinya karena tk ingin mengganggu orang-orang yang sedang serius dalam belajar.
‘’Mau ngomong apa?’’
‘’Jen aku minta sama kamu untuk berhenti bermain dengan banyak pria, aku bersedia menerimamu asal kau berhenti dari sikap burukmu itu.
‘’Apa maksud kak Kevin?’’
‘’Aku tau kau memiliki banyak pria diluar sana.’’ Tuduhnya membuat Jenie semakin geram, wanita itu berbalik dan ingin meninggalkannya.
‘’Ternyata nggak ada gunanya, kupikir kak Kevin akan meminta maaf tentang apa yang terjadi kemarin, aku sangat menyesal karena sudah bertemu, mengenal dan pernah menyukai pria seperti kak Kevin.’’
‘’Aku tak peduli, aku hanya ingin memilikimu sekarang.’’ Menarik Jenie dalam pelukannya, berusaha menciumnya, wanita itu berontak, memukul dada Kevin dan bruk bruk bruk, wajah Kevin dipukul beberapa kali oleh Exel, saking marahnya dengan sikap pria itu yang sudah sangat melecehkan istrinya.
‘’Dasar brengsek, berani-beraninya kau memperlakukannya seperti itu.’’ Ucapnya masih dengan terus memukul wajah Kevin.
‘’Exel stop kau bisa membunuhnya.’’ Teriak Jenie setengah terisak tapi Exel sama sekali tak menghiraukannya.
__ADS_1
‘’Xel kumohon.’’ ucapnya menahan Exel dengan memeluk pria itu dari arah belakang.
‘’Kumohon berhenti.’’ mendengar tangisan Jenie Exel berhenti, pria itu berbalik, menatap wajah Jenie, menghapus sisa air mata di wajahnya.
‘’Jangan memukulnya lagi.’’
‘’Iya aku tak akan memukulnya lagi.’’ Exel memeluk Jenie, setelahnya keduanya meninggalkan Kevin yang sepertinya sedang sangat kesakitan akibat banyaknya pukulan Exel, Exel mengirim pesan pada orang kepercayaannya untuk membereskan kevin.
‘’Kau tidak pa-pa kan?’’ tanya Exel, sekarang keduanya sedang berada dalam ruangan kosong yang terdapat di samping perpustakaan.
‘’Tunggu sebentar.’’ Jenie berdiri
‘’Mau kemana?’’ Tanya Exel.
Jenie tak menjawab wanita itu hanya menunjuk tangan Exel yang memerah dan terlihat sedikit darah keluar dari sana, mungkin karena Exel yang memukul Kevin terlalu kuat hingga berimbas pada tangannya.
‘’Nggak perlu.’’ menarik Jenie ke dalam pelukannya, Jenie dapat mendengar suara terisak dari bibir Exel, wanita itu mengendurkan pelukannya, melihat wajah Exel.
‘’Kenapa kau menangis?’’
‘’Dia hampir saja melecehkanmu.’’
‘’sepertinya kau harus ekstra dalam menjagaku, kau tau begitu banyak pria yang menginginkanku.’’ wanita itu tertawa kecil, agar Exel tak kepikiran, pria itu sepertinya akan menyalahkan dirinya sendiri kalau Jenie menangis sekarang, makanya dia memilih untuk menghibur atau menggoda Exel sedang exel hanya tersenyum, berharap semoga sama Jenie tak terpukul saat mengingat perbuatan Kevin tadi.
‘’Kenapa melihatku seperti itu?’’ Ucap Jenie tersenyum dan mendorong kecil kening Exel.
‘’Jen.’’ Exel menggenggam kedua tangan Jenie. ‘’Bisakah kau memberiku kesempatan untuk benar-benar menjadi suamimu?’’ ucapnya serius menatap dalam mata Jenie yang sangat indah dan meneduhkan hati.
‘’Kenapa jadi serius begini?’’
‘’Jen, aku benar-benar ingin mempertahankan pernikahan kita, kau bisa kan memberiku kesempatan itu?’’
Jenie tertawa
‘’Kenapa kau tertawa?’’
‘’Kau itu kan memang suamiku jadi untuk apa kau bertanya dan meminta kesempatan untuk benar-benar menjadi suamiku?’’
‘’Kau ini.’’ ucap Exel yang mulai kesal.
‘’Aku tau apa maksud pertanyaanmu dan kau tak perlu meminta izin untuk itu.’’ mengelus lembut rahang Exel, perlahan wanita itu menempelkan hidungnya ke hidung Exel, beberapa kali menggesek hidungnya di hidung Exel kemudian tertawa.
__ADS_1
Bersambung.....