Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Hampir dilecehkan


__ADS_3

‘’Jangan tidur dulu, temani aku membuat tugas kampus, kau bisa tidur setelah aku tertidur nanti, oke.’’


‘’Hhmm baiklah, mana tugasmu biar kubantu sekalian.’’ ucapnya yang membuat Jenie kegirangan, selain tampan dan kaya, Exel terkenal dengan kecerdasannya dan tentu saja Jenie senang karena pria cerdas itu akan membuat tugas kuliahnya cepat selesai dan nantinya dia bisa tidur sedikit lebih cepat.


Tak sampai satu jam semua tugas mata kuliah Jenie sudah selesai, keduanya langsung berbaring di ranjang, sedikit mengobrol tentang masa lalu.


‘’Jen serius deh, dulu kamu kenapa ninggalin aku gitu aja?’’ Tanyanya karena sangat penasaran.


‘’Tentu saja aku meninggalkanmu, bagaimana bisa kau membuatku sebagai bahan taruhan.’’ Jawab Jenie dengan nada kesal, setiap mengingat hal itu Jenie selalu saja kesal dan ingin memakan Exel hidup-hidup.


‘’Bahan taruhan? Kamu bicara apa sih, sejak kapan aku menjadikanmu bahan taruhan?’’


Jenie bangun, duduk di samping Exel yang diikuti oleh pria itu. ‘’Nggak usah bohong, ngaku aja, orang Sasa yang bilang sama aku kok kalau dia dengar sendiri kamu lagi ngomong tentang taruhan itu.’’


‘’Dan kamu percaya begitu saja, bahkan nggak bertanya sama sekali padaku?’’


‘’Iya, karena Sasa nggak mungkin membohongiku.’’


‘’Kamu itu bego atau gimana sih?’’ Geram Exel, pria itu merasa sangat, sangat dan sangat kesal pada Jenie, bagaimana bisa wanita itu meninggalkannya hanya karena perkataan sahabatnya yang sama sekali tak benar, Exel sangat mencintai Jenie jadi bagaimana mungkin dia menjadikan wanita itu sebagai bahan taruhan.


‘’Aku sama sekali tidak pernah menjadikanmu bahan taruhan Jenie, apa untungnya untukku, dan lagian kenapa kamu percaya begitu saja sih sama ucapan wanita gila itu, kamu bahkan tak bertanya padaku dan pergi meninggalkanku.’’


‘’Exel jaga ucapanmu, jangan keterlaluan, jangan menuduh Sasa seperti itu, dia sahabatku dan aku lebih percaya apa yang diucapkannya.’’ Ucap Jenie, setelahnya langsung berbaring, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, tak ingin lagi berbicara dengan Exel, ia sangat kesal karena Exel menuduh Sasa berbohong.


Sementara Exel mengendus kesal dengan ucapan Jenie yang mengatakan lebih percaya pada Sasa dari pada dirinya.


‘’Kau tunggu saja aku akan memberi bukti tentang semua perbuatan sahabat tercinta mu itu.’’ Gumannya dan ikut membaringkan diri, pria itu menutup matanya, mencari tidur tapi pikirannya sangat terganggu setelah mengetahui fakta tentang alasan Jenie meninggalkannya.


Exel membenci Sasa tapi ia juga merasa marah pada Jenie yang pergi begitu saja hanya karena satu ucapan dari Sasa, ia juga menjadi yakin sepertinya Sasa juga merupakan dalang yang selalu menyuruh satpam mengusir Exel dulu saat pria itu datang menemui Jenie.


‘’Sasa kupastikan kau tak akan hidup tenang setelah ini.’’ Geramnya dengan tangan yang terkepal.

__ADS_1


Sama seperti Exel, Jenie juga tak bisa memejamkan matanya, terus terpikirkan ucapan Exel yang mengatakan Sasa berbohong, walau marah dan mengatakan mempercayai ucapan Sasa, tapi hatinya menjadi sedikit tak tenang, ia bahkan tak teringat lagi pada teror beberapa jam lalu, pikirannya tersita pada Sasa, bahkan belakangan ini dia juga mulai berfirasat buruk pada Sasa.


Sampai tengah malam keduanya belum juga bisa tidur, mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing.


*****


‘’Ada apa denganmu, kau tidak tidur semalaman, galau atau apa?’’ Tanya Sasa menghampiri Jenie yang duduk dengan bertopang dagu di kelas.


Jenie tersenyum sambil menggeleng kepalanya, menatap dalam pada wajah Sasa tanpa mengatakan apa-apa.


‘’Jen kenapa sih, ada masalah?’’ Menggerakan telapak tangannya kekiri dan kekanan tepat didepan wajah Jenie, karena wanita itu terus melamun.


‘’Ada apa?’’ Tanyanya lagi, Jenie menggeleng, tersenyum dan memeluk Sasa. ‘’laper banget, punya cemilan nggak?’’ tanyanya karena tau Sasa selalu membawa cemilan di tasnya.


‘’Nih.’’ Memberikan satu bungkus keripik kentang pada Jenie yang langsung dilahap wanita itu.


‘’Kamu nggak sarapan?’’ tanyanya lagi


Jenie mengangguk setelahnya Sasa langsung menarik tangannya menuju kantin. ‘’Ayo ke kantin sekarang, masih ada 20 menit sebelum mata kuliah dimulai.’’ Ucapnya membuat Jenie tersenyum. Sahabatnya itu sangat menyayanginya jadi tak mungkin tega mengecewakannya atau menyakitinya.


‘’Makan Jen bukan senyum-senyum nggak jelas gitu.’’ Suruhnya dan Jenie pun langsung melahap makanannya, setelahnya mereka berdua kembali ke kelas, sedikit terlambat tapi untung saja pak Reza tetap memperbolehkan mereka mengikuti mata kuliahnya.


Sementara Exel hari ini tidak masuk kuliah, pria itu menemui papanya untuk menceritakan tentang paket yang diterima Jenie, ia sengaja hanya menceritakan pada papanya dan tidak menceritakan pada orang tua Jenie karena tak ingin mereka khawatir.


‘’Aku ke toilet bentar ya.’’ Ucap Jenie pada Sasa setelah mata kuliah selesai.


*****


‘’Kamu siapa?’’ Tanya Jenie saat seorang pria menghalangi jalannya begitu ia keluar dari toilet.


‘’Kamu free nggak, bisa dipake?’’ Tanya pria itu penuh maksud.

__ADS_1


‘’Maksud kamu apa? Jangan macam-macam ya.’’


‘’Ck pe**cur aja sombong, sebut aja harganya berapa?’’ Ucap pria itu dengan tangannya yang seenaknya mengelus wajah Jenie.


Plak


Jenie menampar pria itu dengan keras, ia marah karena merasa sudah dilecehkan.


‘’Nanti aja namparnya kalo udah ditempat tidur.’’ Ucapnya lagi dengan tidak tahu malu, pria itu mendorong tubuh Jenie, tangannya hampir saja memegang area dada Jenie.


‘’Kalian ngapain disini?’’ Tanya pak Reza menghampiri yang otomatis menyelamatkan Jenie dari situasi tak menyenangkan itu, sementara si pria mendengus kesal dan berlalu meninggalkan tempat itu tanpa menjawab pertanyaan pak Reza.


‘’Kamu nggak pa-pa kan?’’ Tanya pak Reza yang mendapat anggukan kepala dari Jenie, wanita itu beberapa kali berterimakasih karena pak Reza sudah menolongnya untuk kedua kalinya.


*****


‘’Lihat tu sih Jenie jalan bareng sama pak Reza, pasti lagi berusaha godain si dogan.’’ Bisik-bisik para mahasiswa melihat Jenie dan pak Reza.


‘’Dasar pe**cur kerjaannya cuma mencari perhatian.’’


‘’Idih buat apa cantik kalau murahan.’’


‘’Aku jadi penasaran kira-kira semalam tarifnya berapa ya?’’


‘’Kalian ngomong apa sih, tolong mulutnya dijaga ya.’’ Ucap Sasa dengan nada marahnya karena dari tadi mendengar orang-orang terus berbicara buruk tentang Jenie tapi hatinya terus berteriak senang.


Sasa bahkan sering menghasut beberapa orang untuk terus berbicara buruk tentang Jenie bahkan dialah yang menambah banyak bumbu agar Jenie semakin di benci oleh orang-orang, ia juga berkata hanya terpaksa berteman dengan Jenie karena kasihan pada wanita itu yang sama sekali tak memiliki teman karena tak ada satupun yang ingin dekat dengannya.


‘’Aduh temannya si pe**cur marah shay.’’ Ucap seseorang tertawa remeh yang diikuti oleh teman-temannya.


Bersambung.....

__ADS_1




__ADS_2