Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Alisha dan Eiden


__ADS_3

‘’Oh Tuhan apalagi ini?’’ ucap Exel dan kedua orang tua Jenie kompak dalam hati masing-masing.


‘’Nih tadi Jenie juga bikin kue buat kalian, cobain deh, seharusnya sih enak.’’ Jenie memberikan masing-masing satu potong pada mereka.


‘’Kamu nggak makan juga?’’ tanya Exel, Jenie menggeleng ‘’aku tadi udah makan banyak soalnya tadi pagi Alisha membuatkannya untukku.’’


Ketiganya kembali mengangguk kecil, menutup mata dan memasukkan satu sendok kue itu ke dalam mulut masing-masing.’’


‘’Oh s**t.’’ Exel memaki dalam hati, bagaimana bisa itu disebut kue sedang rasanya sangat-sangat buruk, menurut Exel kue buatan Jenie itu adalah kue terburuk yang pernah dicobanya, tak hanya Exel mama dan papa Jenie juga merasakan hal yang sama, tak ingin kembali memakannya ketiganya berdiri dari meja makan dan berpura-pura ingin melakukan sesuatu dan berpura-pura tak dengar saat Jenie kembali memanggil mereka.


‘’Astaga ma, tolong lain kali jangan biarkan lagi Jenie memasak.’’ ucap papa bergidik ngeri mengingat rasa masakan Jenie yang luar biasa buruknya.


‘’Kau seperti tidak tau putrimu saja, memangnya kau pikir dia akan berhenti hanya karena aku menyuruhnya?’’ ucap mama.


‘’Atau mama bisa mengajarkannya.’’ sambung Exel yang disetujui papa Robert, mama pun mempertimbangkan.


‘’Kupikir tadi aku hampir mati karena memakan makanan itu.’’ Ucap Exel yang disetujui oleh kedua mertuanya.


‘’Apalagi kuenya, astaga ma putrimu itu loh.’’ papa Robert menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan kue buatan Jenie. ‘’Itu kue atau air kobokan, rasanya aneh banget.’’ sambung papa lagi.


‘’Kalau begini kau pasti membawa namaku coba kalau bagus-bagusnya kau pasti akan membawa namamu.’’ protes mama, suaminya itu selalu begitu kalau ada seseorang yang memuji Jenie dia akan mengatakan yang jelaslah dia kan putriku tapi giliran jelek-jeleknya pasti papanya akan mengatakan lihatlah putrimu, ajari putrimu dan lain sebagainya.


Ketiganya terus berdebat tanpa sadar Jenie mendengar apa yang mereka katakan, tadinya ia ingin menghampiri Exel dan meminta Exel untuk mengantarkannya ke minimarket terdekat karena ia ingin membeli sesuatu, dan disaat yang tepat ketiganya sedang memprotes rasa masakannya.


‘’Oh begitu ya, jadi masakannya nggak enak, kuenya juga nggak enak gitu, lalu kenapa nggak makan, kenapa nggak ngomong aja sama Jenie?’’ ucap Jenie keluar dari persembunyiannya, sedang ketiga orang yang dari tadi membicarakannya terdiam seketika.

__ADS_1


‘’Kalian tuh ya kalau nggak suka bilang nggak suka, bikin sebal aja sih.’’ gerutu Jenie karena kesal. ‘’Mama, papa, kamu juga, nyebelin banget sih.’’ Jenie menunjuk ketiganya secara bergantian lalu berlalu meninggalkan tempat itu.


‘’Pa, ma gimana?’’ tanya Exel pada kedua mertuanya.


‘’Ya mau bagaimana lagi, kita harus membujuknya, kamu kan tau bagaimana Jenie.’’ jawab mama, setelahnya ketiga berdiri dan menyusul Jenie yang sudah mengurung diri dikamar.


‘’Jen kami masuk ya.’’ Ucap Exel mengetuk pintu kamar, tak ada jawaban, mereka memutuskan untuk masuk, terlihat Jenie sedang berbaring di ranjang, lebih tepatnya bukan berbaring tapi wanita itu sudah tertidur dengan sangat nyamannya.


‘’Udah tidur aja.’’ ucap Exel menggeleng kepalanya, belum juga 5 menit Jenie meninggalkan mereka dan sekarang wanita itu sudah terlelap, setelahnya kedua mertua pun langsung keluar dari kamar karena sebenarnya keduanya juga sudah mengantuk.


Pagi harinya Exel kembali terbangun karena merasa mual, dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


‘’Kamu nggak pa-pa, maaf ya.’’ Jenie mengusap punggung Exel, merasa kasihan karena pria itu yang mengalami muntah dan mual.


Memeluk Exel, baru saja Exel akan membalas pelukan Jenie rasa mual sudah kembali menghampirinya.


‘’Kita kedokter aja Xel.’’ ajak Jenie, Exel menggeleng ‘’sebentar lagi juga hilang, maafin aku ya untuk yang semalam, kami hanya tak tega, habisnya kau terlihat sangat bahagia karena sudah berhasil membuat makanan makanan itu.’’


‘’Sudahlah jangan membahas hal itu lagi, mulai sekarang aku tak mau lagi memasak apapun alasannya.’’


‘’Loh Jen kalau nggak tau ya seharusnya kamu belajar bukannya malah menyerah.’’


‘’Siapa yang menyerah orang aku emang nggak suka memasak kok dan lagian ada kamu dan mama kan, jadi harusnya aku nggak perlu repot-repot.’’ Exel kembali diam, kalau dia berucap lagi mereka akan berdebat lagi.


Karena sedang weekend, siangnya Jenie memutuskan untuk bertemu Alisha di cafe tempat wanita itu bekerja.

__ADS_1


‘’Al.’’ sapa Jenie menghampiri Alisha yang sedang melayani beberapa tamu, disaat yang sama Eiden juga masuk kedalam cafe itu dengan seorang wanita bersamanya.


‘’Jen kamu nggak pa-pa kan kalau duduknya bareng Eiden, biar nggak kesepian, 30 menit lagi jam kerjaku selesai.’’ tanya Alisha, Jenie pun mengangguk, beberapa kali memperhatikan wanita yang duduk di samping Eiden, wanita itu terlihat sangat modis, semua yang digunakannya adalah barang bermerek dengan harga fantastis, sangat berbeda dengan Alisha yang terlihat sangat sederhana.


‘’Pacar kakak ya?’’ tanya Jenie menunjuk wanita di samping Eiden yang terlihat sedikit keganjenan menurut Jenie, entahlah kalau menurut Eiden, mungkin saja ia menyukai tipe wanita yang seperti itu.


‘’Teman kuliah.’’ jawab Eiden, Jenie memperhatikan wanita di samping Eiden, yang wajahnya berubah menjadi sedikit jengkel saat mendengar jawaban Eiden.


‘’Sama kayak Alisha dong ya.’’ tanya Jenie memancing, Eiden tak menjawab, pria itu hanya tersenyum sedang wanita disamping Eiden melihatnya dengan tatapan penuh selidik.


‘’Kak Andre.’’ panggil Jenie melihat Andre masuk ke kafe yang sama. ‘’Jen kamu disini juga?’’ tanya Andre senang, tadinya ia berpikir akan makan sendiri karena pacarnya tiba-tiba membatalkan janji mereka.


‘’Ayo ngaku kak Andre pasti datang buat nyari Alisha kan?’’ ucap Jenie dengan nada menggoda tapi dengan mata dan mulutnya yang memberi kode pada Andre, Andre tersenyum mengerti dengan apa yang diinginkan Jenie lalu duduk di samping wanita itu, melihat Alisha yang tak jauh dari mereka sedang melayani pelanggan.


‘’Nggak usah dilihatin kali, nanti juga ketemu, udah kangen banget ya?’’ goda Jenie lagi, Andre tak menjawab, pria itu sedang memainkan perannya.


‘’Kalau boleh tau kamu siapanya Alisha ya?’’ tanya Eiden membuka suara.


‘’Andre calon pacarnya Alisha.’’ Andre memperkenalkan diri dengan sangat percaya diri sedang Eiden, pria itu terus memperhatikan Andre.


‘’Kak Andre.’’ ucap Alisha kaget melihat Andre yang sudah bergabung di meja yang sama dengan Eiden dan Jenie, Alisha dan Andre juga bisa dikatakan dekat karena beberapa kali nongkrong bareng, maklum Andre satu-satunya sahabat baik Exel.


‘’Udah kerjanya?’’ tanya Andre, Alsha mengangguk dan tanpa sadar duduk di kursi samping Andre, sebenarnya lebih ke tidak ada pilihan lain karena nyatanya hanya kursi di samping Andrelah yang kosong.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2