Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Pertengkaran Jenie dan Sasa


__ADS_3

‘’Aaaa.’’ teriak Jenie saat bangun dari tidurnya membuat Exel yang tidur di sampingnya bangun karena kaget.


‘’Apa yang terjadi padamu?’’ tanya Exel khawatir mengikuti Jenie yang berlari ke arah walk ni closet.


‘’Kenapa kau tak membangunkanku?’’ kesal Jenie, sekarang ia sedang menimbang berat badannya, untung saja berat badannya tak bertambah kalau tidak dia akan terus menyalahkan Exel yang tidak membangunkannya.


‘’Ada apa?’’ tanya Exel masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, sedang Jenie, wanita itu tak menjawab dan malah melewati Exel begitu saja, tiba-tiba langkahnya terhenti, mundur satu langkah dan melihat cermin satu badan yang ada di ruangan itu dan….


‘’Aaaa.’’ ia kembali berteriak saat melihat wajahnya yang masih tersisa sedikit riasan.


‘’Apa yang terjadi denganmu?’’ Exel menghampiri dengan nada khawatir, bukannya menjawab Jenie malah memandangnya dengan tatapan melotot


‘’kenapa kau tidak membangunkanku?’’


’’Kau tertidur sangat pulas jadi bagaimana bisa aku membangukanmu?’’


‘’Kau tau bagi seorang wanita lebih baik tidurnya di ganggu daripada ia harus terlelap dengan riasan yang belum dibersihkan seperti ini.’’ Tunjuknya pada wajahnya. ‘’Kalau wajahku berjerawat bagaimana, apa kau mau tanggung jawab?’’


‘’Kau terlalu berlebihan, wajahmu tak mungkin berjerawat hanya karena kau tak membersihkannya sekali.’’


‘’Kau.’’ saking geramnya Jenie tak sadar menendang kaki Exel hingga membuat pria itu sedikit meringis.


‘’Kenapa kau menendangku?’’


‘’Habisnya kau membuatku kesal jadi aku tak sengaja menendangmu, maaf ya.’’ Ucapnya sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


‘’Aku juga minta maaf karena semalam sudah membuatmu tidur dengan menggunakan makeup, aku janji tak akan mengulanginya lagi.’’ walau masih merasa aneh dengan kejadian itu tapi sebagai suami ia merasa harus lebih memperhatikan Jenie, hal ini juga adalah kesalahannya yang tidak terlalu mengerti banyak tentang wanita.


‘’Kau tidak perlu minta maaf, aku yang terlalu berlebihan tadi.’’


‘’Jadi kau tidak lagi marah padaku?’’


Jenie mengangguk, wanita itu memeluk pinggang Exel tak lama dan memutuskan ke kamar mandi karena hari ini ia memiliki kelas pagi sedang exel langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


‘’Oh ya nanti ada yang ingin ku katakan padamu, tapi nanti malam saja.’’ kini keduanya sedang menikmati sarapan nasi goreng.


‘’Apa? kau membuatku penasaran.’’


‘’Nanti saja, bukannya kau sedang buru-buru?’’


*****


‘’Sa.’’ Dengan senyum menghiasi wajah cantiknya, Jenie berjalan menghampiri Sasa, berharap sahabatnya itu tak lagi marah padanya tapi semua tak seperti harapannya, Sasa, wanita itu berdiri dan keluar dari kelas saat melihat Jenie duduk di sampingnya.


‘’Sa.’’ Jenie menahan tangan Sasa yang langsung di tepis oleh wanita itu, Jenie pun tak tinggal diam, dia ikut berdiri dan menyusul Sasa.


‘’Sa kamu masih marah?’’ tanyanya yang kini sudah kembali menahan pergelangan tangan Sasa.


Sasa menghentikan langkahnya, membalik badannya menghadap Jenie, memberikan senyum sinisnya. ‘’Aku tak sudi menjadi sahabatmu lagi, hhhmm.’’ menjeda ucapannya. ‘’bukan sahabat sih lebih tepatnya berhenti berpura-pura menjadi sahabatmu.’’


‘’Bicara apa sih Sa?’’ Ucap Jenie dengan nada kesal tapi hanya di balas tawa oleh Sasa, wanita itu mendekat, berbisik tepat ditelinga Jenie. ‘’Kau pikir selama ini aku benar-benar menganggapmu sahabat? Aku sama sekali tak sudi bersahabat denganmu, kau hanya wanita munafik yang berpura-pura baik dan ku yakin di belakangku kau juga pasti sering menjelekanku, iya kan?’’ Sasa mendorong pundak Jenie hingga wanita itu hampir jatuh.

__ADS_1


‘’Ada apa denganmu, kenapa kau berbicara hal tidak masuk akal seperti ini?’’ tanya Jenie dengan menggenggam pergelangan tangan Sasa tapi wanita itu hanya kembali memberikan senyum sinis padanya.


‘’Kau tau selama ini aku mencintai Exel sangat mencintainya, tapi kau, beraninya kau mengambilnya dariku.’’ Geramnya dengan beberapa kali mendorong kecil pundak Jenie sedang Jenie membeku, belum mengatakan apa-apa, ia cukup kaget dengan pengakuan tiba-tiba dari Sasa, bukankah dulu Sasa yang selalu mendukung bahkan membantunya untuk mendapatkan Exel lalu kenapa sekarang dia protes?


‘’Harusnya kau bilang padaku bukan diam dan menyembunyikannya.’’ Ucap Jenie dengan suara kecil.


‘’Kalau aku mengatakannya apa kau akan merelakannya untukku?’’


‘’Mungkin saat itu akan sulit untuk merelakannya tapi setidaknya aku akan berusaha.’’


‘’Ck berhentilah berlagak sebagai sahabat yang baik, aku tau kau sama sekali tak pernah menganggapku sebagai sahabat, ingat Jenie selama aku hidup aku tak akan membiarkanmu bahagia entah dengan siapapun itu aku akan selalu menghancurkan hidupmu.’’


‘’Tapi kenapa, apa salahku padamu, selama ini aku selalu menyayangimu dengan tulus, aku memperlakukanmu dengan baik bahkan disaat kau tak terlalu peduli padaku, aku selalu memberikan 100% rasa sayangku padamu sebagai sahabat, tapi kenapa kau…..’’


‘’Memangnya apa yang kau lakukan untukku?’’


‘’Aku?’’ tunjuk Jenie pada dirinya ‘’kau lupa aku adalah orang pertama yang berlari menghampirimu saat kau membutuhkan sesuatu, tak peduli aku sedang berada dimana, tak peduli pagi,siang,sore,malam atau tengah malam sekalipun aku akan datang menghampirimu, kemanapun aku pergi apapun yang akan aku makan, aku beli, aku gunakan aku selalu mengingatmu karena sering berpikir mungkin kau juga menginginkannya atau seandainya kita memakan makanan enak itu bersama, berbelanja bersama pasti akan lebih menyenangkan, aku selalu memikirkanmu terlebih dulu dibanding diriku sendiri tapi apakah kau pernah melakukannya untukku? Tidak kan? Kau hanya akan membelaku saat kau berdiri tepat di sampingku tapi apa kau pernah datang saat aku menelponmu? Mendengar curhatku saja kau ogah-ogahan dan selalu mencari alasan untuk pergi meninggalkanku, lebih mementingkan pria dari padaku, tapi apa sekarang? Kau mempertanyakan apa yang sudah kulakukan untukmu? Kau bahkan menjelekanku di muka umum tapi apa aku pernah protes padamu? Kau bahkan mengatakan aku sering menggunakan barang yang sama denganmu padahal kau tau sendiri semua barang itu aku yang membelikannya untukmu karena ku pikir kau selalu suka memiliki barang yang sama, tapi apa aku pernah marah padamu untuk itu, tidak Sa aku bahkan tak pernah mempermasalahkannya karena kupikir mungkin kau memiliki suatu alasan.’’ Ucapnya dengan air mata yang sudah berjatuhan, ia bahkan beberapa kali menutup matanya seakan tak sanggup berbicara karena perasaannya begitu sedih, sahabat yang begitu disayanginya,  dipercayainya ternyata tak pernah tulus memperlakukannya.


Bukannya merasa bersalah, Sasa malah tertawa ‘’kau pikir dengan semua itu kau sudah menjadi sahabat yang baik? Tidak Jen, nyatanya apa yang kau dan keluargamu lakukan padaku lebih buruk dari apa yang kau rasakan sekarang.’’


‘’Apa maksudmu?’’


‘’Kau pikir sendiri hal buruk apa yang sudah kau lakukan padaku sampai aku menjadi sangat membencimu seperti sekarang dan tanyakan juga pada kedua orang tuamu apa yang sudah mereka lakukan pada orang tuaku.’’ Ucapnya dengan nada sedikit besar, Sasa, wanita itu juga terlihat sangat hancur saat mengucapkan kata-kata itu, ia bahkan menangis.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2