
‘’Sudah ah aku masih harus mengikuti mata kuliah selanjutnya.’’
‘’Pergi begitu saja?’’ Tanya Exel saat Jenie sudah berbalik membelakanginya, wanita itu pun berbalik, tersenyum dan mengecup bibir Exel sekilas setelahnya kembali meneruskan langkahnya, berbalik lagi melihat Exel dan melambaikan tangannya.
‘’Sampai bertemu lagi suamiku.’’ Ucapnya membuat Exel tersenyum senang, pria itu sangat menyukai saat Jenie menyebutnya dengan suamiku, rasanya Exel akan melayang menembus langit ketujuh, pria itu menyentuh dadanya karena debaran jantung yang begitu cepat, yang hanya bisa dirasakannya saat bersama Jenie.
‘’Sedang apa kau disini?’’ Tanya Mona yang kebetulan melihat Jenie keluar dari ruang kosong itu.
‘’Bukan urusanmu.’’ jawabnya tak peduli, bahkan sama sekali tak melirik Mona.
‘’Pasti kau sedang berbuat mesum di tempat itu, kali ini siapa prianya?’’ Tanya Mona yang sama sekali tak dijawab Jenie.
Dengan cepat Mona memanggil beberapa orang untuk menangkap basah pria yang sedang bersama Jenie di ruang kosong itu, entahlah tapi wanita itu sangat yakin Jenie sedang berbuat mesum bersama seorang pria dan dia harus menangkap basah siapa pria itu agar bisa kembali mempermalukan Jenie.
‘’Disini sama sekali tak ada orangnya Mon.’’ Ucap beberapa orang yang tadi mengikuti Mona ke ruang kosong itu, ya tentu saja tak ada orang, Exel sudah keluar 2 menit sebelum Mona dan yang lainnya sampai diruang itu, Exel keluar pada saat Mona sedang memanggil beberapa orang untuk menangkapnya.
‘’Sial pria itu pasti sudah kabur.’’ Geram Mona
‘’Kau yakin melihat Jenie keluar dari ruangan ini?’’
‘’Kau pikir aku berbohong?’’ bentak Mona tak suka dengan pertanyaan itu yang berkata seolah-olah dia sedang mengarang cerita.
*****
‘’Hai kau sedang menunggu angkot? Naiklah biar ku antar pulang.’’
‘’Nggak usah terimakasih.’’
‘’Kau ingin jalan ini menjadi macet atau kau naik dan aku akan mengantarmu.’’ mau tidak mau Alisha masuk ke mobil Jenie karena Jenie sama sekali tak mau melajukan mobilnya bahkan setelah banyak bunyi klakson dari kendaraan di belakang mobilnya.
‘’Oh ya Alisha terimakasih ya karena sudah menolongku waktu itu.’’
‘’Bukankah kau sudah berterimakasih untuk itu?’’
Jenie mengangguk. ‘’Tapi aku ingin berterimakasih lagi.’’
__ADS_1
‘’Turunkan aku di pertigaan depan.’’
‘’Kenapa, setahuku tidak ada rumah di daerah itu dan hanya ada banyak pertokoan.’’
‘’Aku bekerja disalah satu tokoh di daerah itu.’’
‘’Alisha aku bisa nggak minta nomor ponselmu?’’
‘’Untuk apa, kita kan nggak akrab.’’ Ucapnya dan langsung turun dari mobil Jenie saat mobil itu berhenti.
‘’Aku jadi ingin berteman dengannya.’’ Ucap Jenie tersenyum memperhatikan Alisha yang
berjalan semakin jauh dari mobilnya, Alisha, wanita itu sudah beberapa kali menolongnya bahkan pernah menghiburnya juga saat ia merasa sedih karena Sasa.
*****
‘’Sore ma pa.’’ sapa Jenie pada kedua mertuanya yang sedang duduk santai di halaman depan rumah.
‘’Exelnya belum pulang ya ma-pa?’’ tanyanya lagi yang kini sudah ikut duduk bersama kedua mertuanya.
‘’Bawa apa?’’ tanya Jenie
Exel memberikan satu paper bag berisi beberapa buku pada Jenie. ‘’Kau membelinya? Aah terimakasih, aku bahkan lupa kemarin mengajakmu ke toko buku.’’ Ucap Jenie kesenangan karena Exel membelikannya buku yang memang berencana dibelinya.
‘’Kau senang?’’ Tanya Exel, Jenie mengangguk, memeluk pinggang Exel ‘’Aku sangat senang.’’ Ucap Jenie.
‘’Senang karena apa, bukunya atau memelukku?’’ goda Exel, Jenie pun menggembungkan pipinya dengan bibir yang dimanyunkan dan segera melepas lingkaran tangannya dari pinggang Exel.
‘’Tentu saja bukunya.’’
‘’Ah masa sih, kulihat kau tersenyum lebih lebar saat memelukku daripada saat menerima buku itu.’’
‘’Aish kau kenapa suka sekali menggodaku?’’
‘’Karena kau sangat menggemaskan.’’ Jawab Exel gemas menarik pipi kanan Jenie, setelahnya keduanya tersenyum dengan beberapa gerakan kecil yang saling menggoda satu sama lain.
__ADS_1
‘’Kalian ini, lebih baik masuk dan membersihkan diri.’’ Protes mama Sita, keduanya tak menjawab hanya melirik sekilas dan dengan bergandengan tangan pergi dan masuk ke rumah.
Mama Sita dan papa Bowo hanya tersenyum dengan menggeleng kepala. ‘’Mama harap mereka akan selalu bahagia, oh ya bagaimana keadaan wanita yang sudah mencelakai Jenie, apa sudah ditemukan?’’ tanya mama Sita
‘’Kau tenang saja, aku dan Robert sudah menyewa banyak detektif untuk itu dan cepat atau lambat kita akan mengetahuinya, dan saat itu aku tak akan melepaskannya.’’ Jawab papa Bowo dengan pandangan lurus kedepan tapi nadanya terdengar menakutkan hanya saja karena sudah terbiasa, jadi mama Sita menganggap nada bicara suaminya itu biasa saja.
*****
Di kamar, ‘’Mau mandi bareng nggak?’’ ajak Exel
‘’Ih apaan sih, mandi sendiri saja, sudah besar kan?’’ Tolak Jenie, wanita itu melepaskan genggaman tangan Exel dari tangannya dan berjalan cepat sedikit menjauh dari pria itu.
‘’Jen kau mandilah terlebih dulu.’’ Ucap Exel penuh maksud yang sama sekali tak disadari wanita itu, Jenie mengangguk dan masuk ke kekamar mandi, belum sempat menutup pintu Exel sudah ikut masuk bersamanya.
‘’Mau apa Xel, kamu mandi saja duluan, aku keluar dulu.’’ Jenie yang ingin keluar dari kamar mandi, belum sempat tangannya menyentuh pintu, Exel sudah lebih dulu menariknya, menahan tengkuknya dan membenamkan bibirnya di bibir Jenie, mengabsen setiap sudut bibir Jenie dengan sangat lembut, tak lama ia melepas penyatuan bibir itu, menyingkirkan beberapa helai rambut yang mengenai wajah cantik Jenie, mengelus lembut wajah cantik wanita itu.
‘’Apa kau takut?’’ tanyanya, Jenie diam tak menjawab
‘’Apa aku bisa melakukannya?’’ tanyanya lagi, Jenie mengangguk kecil, sebenarnya ia juga sudah sangat siap untuk menjadi milik Exel seutuhnya.
‘’Jadi bisakah kita mulai sekarang?’’ tanyanya lagi yang dibalas senyum malu-malu oleh Jenie, Exel kembali mendekatkan wajahnya, melluumat bibir atas dan bawah Jenie secara bergantian, ciuman itu perlahan turun ke leher Jenie, wanita itu mengeluarkan suara yang terdengar sangat sexy di telinga Exel sedang Jenie terlihat menikmati setiap sentuhan Exel, sentuhan yang membuat tubuhnya bergetar, apalagi saat tangan pria itu mulai menyentuh dan memainkan kedua bukit kembarnya.
‘’Apa yang kau lihat?’’ Ucapnya menutup kedua bukit itu saat Exel memandangnya dengan mata berbinar, ia sedikit malu mendapat tatapan seperti itu adri Exel.
‘’Jangan ditutupi, aku ingin melihatnya lebih jelas.’’
‘’Ih apa-apaan sih Exel, malu tau.’’
‘’Untuk apa malu, aku ini suamimu dan lagian ini adalah milikku.’’ ucapnya meremas salah satu puncak bukit itu.’’
‘’Exel ih.’’
‘’Oke-oke waktu bercandanya habis sekarang kembali ke acara utamanya.’’ Ucap Exel dengan mulut yang langsung menyambar salah satu puncak bukit dengan satu tangannya juga meremas lembut puncak bukit satunya.
‘’Aku tak tahan lagi.’’ mengangkat tubuh Jenie, membawanya ke kamar dan membaringkannya di ranjang, Exel terus menciumi setiap sudut tubuh Jenie, membuat dessaahan dessaahan kecil keluar dari mulut Jenie yang mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Exel.
__ADS_1
Bersambung......