Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Kemarahan orang tua Jenie


__ADS_3

‘’Oh ya Exel mana?’’ tanya papa Robert


‘’Ih pa jangan tanya Exel disini dong kan nggak ada yang tau kalau aku sama Exel udah nikah.’’ ucapnya setengah berbisik.


‘’Oh ya pa, kenalin Alsha teman baru Jenie.’’


‘’Papa?’’ Ucap Alsha kaget


‘’Nggak usah kaget gitu Sha.’’ ucapnya sedikit tertawa. Robert pun tersenyum pada Alsha.


‘’Terimakasih loh udah mau berteman sama putri om ini, kalau dia sedikit menyebalkan dimaklumi saja ya.’’ Ucap papa Robert. ‘’Oh ya Sasanya man Jen, tumben nggak berdua sama Sasa?’’ Tanya papa mencari keberadaan Sasa, setahunya dulu kedua wanita itu selalu bersama.


Jenie tak menjawab, memberikan satu mangkok bakso pada papanya sedang Alisha mengamati interaksi ayah dan anak itu, seandainya papanya bisa bersikap hangat seperti itu padanya pasti ia akan sangat senang, tapi sayang papanya tak pernah menganggapnya ada dan hanya menyayangi Cindy yang notabenenya hanya putri tirinya.


‘’Mon bukannya itu papamu ya.’’ ucap beberapa orang pada Mona yang baru saja memasuki kantin.


‘’Iya Mon itu papamu.’’ Ucap seorang lagi


‘’Papamu selingkuh Mon?’’


Disaat yang bersamaan Mona melihat istri pak Robert sedang berjalan memasuki kantin, dengan cepat ia menghampiri wanita paruh baya itu.


‘’Tan sepertinya suami tante sedang berselingkuh dengan salah satu pe**cur di kampus ini.’’ Ucap Mona menghentikan langkah mama Catrine


‘’Apa maksudmu?’’


‘’Tadi saya melihat suami anda sedang berpelukan dengan seorang wanita murahan.’’


Mama Catrine mengerutkan keningnya, suaminya tak mungkin berselingkuh darinya, dengan cepat ia kembali meneruskan langkahnya dengan Mona yang tersenyum dan mengikuti dari belakangnya.


‘’Lihatlah Mona dan mamanya datang, pasti ingin melabrak Jenie.’’


‘’Lihatlah tan apa yang kukatakan, benar kan suami anda sedang berselingkuh, tunggu apalagi labrak aja tan kalau perlu keluarkan wanita murahan itu dari kampus ini.’’ ucap Mona setengah berbisik.


Mama Catrine mengepalkan tangannya, tak hanya Mona tapi beberapa wanita di sekitarnya juga sedang mencibir Jenie, Dengan wajah marahnya, mama Catrine mempercepat langkahnya.


‘’Jenie ucapnya dengan setengah berteriak, Jenie dan papa Robert langsung membalik badannya karena sangat mengenal suara yang tadi memanggil Jenie, Jenie dan papa Robert tersenyum.


orang-orang di sekeliling mereka juga terlihat  tersenyum senang berpikir Jenie sedang dilabrak, apalagi saat melihat raut wajah marah mama Catrine, mereka yakin Jenie akan segera dikeluarkan dari kampus.

__ADS_1


‘’Ditampar aja tan, wanita murahan itu memang pantas mendapatkannya.’’ bisik Mona ingin memanas manasi.


PLAK


Suara tamparan yang cukup keras memenuhi gendang telinga semua orang yang ada disitu, mata mereka melotot saat melihat bukan Jenie yang ditampar melainkan Mona.


‘’Tante kenapa tante tega menampar putri tante sendiri?’’ Bela teman Mona


‘’Putri, siapa putriku?’’


‘’Ya tentu saja Mona, siapa lagi?’’ Ucap temannya lagi.


‘’Dengar ya kamu, apa tadi katamu wanita murahan, wanita pe**cur, berani sekali kau mengucapkan hal kotor itu pada putriku.’’ bentak mama Catrine tak bisa menahan amarahnya.


‘’Sayang, ma.’’ Ucap papa Robert dan Jenie bersamaan dan menghampiri mama Catrine.


‘’Ada apa ma?’’ tanya Jenie membuat orang-orang disekelilingnya kaget.


‘’Mama, kenapa Jenie memanggil istri papa Robert dengan sebutan mama?’’ bisik mereka bertanya-tanya.


‘’Sayang kamu kenapa?’’ tanya papa Robet memegang pundak sang istri, selama pernikahan mereka tak pernah ia melihat istrinya semarah ini.


‘’Apa maksudmu?’’ Tanya papa Robert tak mengerti


‘’Mereka.’’ mama Catrine menunjuk ke arah Mona dan beberapa orang lainnya. ‘’Mereka mengatakan putri kita pe**cur dan wanita murahan.’’ tangis mama semakin besar.


‘’Apa!’’ papa Robert melihat beberapa orang yang ditunjuk tadi dengan tatapan tajamnya.


‘’Berani sekali kalian mengatai putriku.’’ ucapnya marah dan menghampiri mereka sedang mama menangis mengelus wajah Jenie, orang tua mana yang tidak sakit hati saat putri kesayangan mereka, yang selalu mereka manjakan, bahagiakan malah di hina oleh orang lain.


‘’Kalian panggil orang tua kalian kesini sekarang juga.’’ teriak papa Robert.


‘’Pa, Jenie nggak pa-pa kok ma Jenie nggak pa-pa, ucapan itu sama sekali tak mempengaruhi kedua orang tuanya.’’


‘’Kamu mungkin tak terpengaruh, tapi apa kau pikir kami sebagai orang tuamu akan diam saja disaat ada orang yang menghinamu seperti ini?’’ Geram papa tak ingin Jenie membela mereka.


‘’Ma.’’


‘’Tidak Jenie papa dan mama tidak akan melewatkan siapapun yang sudah berani menghinamu.’’

__ADS_1


‘’Siang pak Robert, ada apa ini?’’ ucap rektor menghampiri


‘’Kau.’’ tunjuk papa Robert pada rektor


‘’Panggil semua orang tua mereka tanpa terkecuali, saya mau anda mengeluarkan mereka semua dari kampus ini hari ini juga dan jangan sampai ada satu kampus pun yang akan menerima mereka.’’


‘’Maaf pak Robert maafkan kami, kami tidak mengetahui kalau Jenie adalah putri pak Robert.’’ Ucap Mona meminta maaf.


‘’Kamu tak tau dan kamu berpura-pura menjadi putriku?’’


‘’Maaf pak Robert.’’


‘’Peringatan untuk kalian.’’ papa Robert berucap dengan keras agar seisi kantin bisa mendengar suaranya. ‘’Siapapun yang berani mengganggu putriku maka tak akan kubiarkan dia hidup bahagia dan kalian.’’ tunjuknya pada Mona dan beberapa wanita yang tadi menghina Jenie. ‘’Tunggu dan lihatlah kehancuran keluarga kalian, itu balasannya karena sudah berani menghina putriku.’’ setelahnya papa Robert menelpon asistennya dan memerintahkan sesuatu.


‘’Pak Robert, tolong maafkan kami, kami janji tak akan melakukannya lagi.’’ Ucap seseorang yang sama sekali tak dipedulikan


‘’Pak tolong maafkan saya, orang tua saya pasti akan kecewa jika saya dikeluarkan dari kampus, saya adalah harapan satu-satunya untuk keluarga saya.’’


Bukannya ibah papa Robert malah tertawa sinis ‘’mana bisa orang sepertimu jadi harapan keluarga, kau takut mengecewakan orang tuamu tapi kau tak pernah berpikir bagaimana perasaan kami sebagai orang tua Jenie saat kalian terus menghina dan mengatai putri kami?’’


‘’Maafkan kami pak Robert.’’ ucap beberapa orang dengan kompak.


‘’Pa.’’


‘’Kenapa sayang?’’ papa Robert memeluk Jenie, melihat wajahnya. ‘’Kenapa, mau apa?’’


Jenie menggeleng, akan percuma jika ia meminta papanya melepaskan Mona dan beberapa orang itu, apalagi sangat terlihat jelas wajah marah mama dan papanya.


‘’Ma pa maafin Jenie ya karena sudah bikin kalian sedih.’’ Ucapnya yang kini memeluk mama dan papanya.


‘’Kenapa kamu yang minta maaf, hhmm.’’ mama mengelus wajah Jenie.


‘’Ada apa ini?’’ tanya mama Mona dengan nada sombongnya. ‘’Siapa yang berani memperlakukanmu dengan semena-mena, bilang sama mama.’’


‘’Kalian, siapa dari kalian yang berani melawan anakku?’’


Semuanya menunduk, bukan takut pada mama Mona tapi takut akan tatapan pak Robert yang sedang memandang mama Mona dengan tatapan sinisnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2