
‘’Tapi saya memiliki jadwal 3 jam lagi.’’ ucap penghulu dengan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
‘’Maaf pak, tapi bisa tunggu sebentar saja.’mohon Alisha.
Akhirnya setelah hampir 20 menit menunggu Exel tiba juga di apartemen itu, dengan cepat ia berlari menghampiri penghulu dan Alisha yang terlihat mengobrol di lobby apartemen.
‘’Jadi maksudnya kau adalah suami dari wanita yang akan menukah hari ini?’’ tanya pak penghulu sedikit tak percaya, Exel mengiyakan tapi ada satu yang membuatnya heran, bukankah di negara mereka tidak bisa menikah dengan yang memiliki iman dan kepercayaan yang berbeda, tapi kenapa penghulu itu mau menikahkan keduanya?’’
‘’Brengsek.’’ geram Exel, sepertinya pak Reza sudah memalsukan beberapa data Jenie hingga ia bisa dengan mudah menikahi Jenie.
‘’Kau.’’ geram pak Reza melihat Exel dan Alisha yang kini berdiri di depan pintu apartemennya, tadinya ia mengira yang membunyikan bel adalah pak penghulu makanya dengan cepat ia membukanya.
‘’Dimana istriku?’’ teriak Exel mendorong kuat tubuh pak Reza, masuk ke apartemen itu sambil berteriak memanggil nama Jenie, begitupun dengan Alisha.
‘’Apa yang kalian lakukan, keluar dari apartemenku atau aku akan melaporkan kalian ke petugas keamanan karena sudah membuat rusuh disini.’’
‘’Exel.’’ teriak Jenie melihat Exel, wanita itu ingin berlari menghampiri Exel tapi pak Reza sudah lebih dulu menarik tangannya.
‘’Apa yang kau lakukan sebentar lagi kita akan menikah?’’
‘’Aku tidak mau menikah denganmu sama sekali tidak mau.’’ teriak Jenie, Exel pun mendekat, menarik Exel dan menendang tubuh pak Reza hingga tangannya otomatis melepaskan Jenie.
‘’Sha tolong jaga Jenie.’’ ucap Exel lalu kembali menghampiri dan menghajar pak Reza sampai babak belur, bentuk wajahnya tak beraturan lagi.
‘’Berani sekali kau menculik istriku?’’ Ucap Exel yang masih memukul pak Reza dengan membabi buta, ia sama sekali tak memberi kesempatan pak Reza untuk membalas memukulnya, saat ini ia sudah sangat ingin membunuh pria brengsek itu, kalau saja keluarganya tidak datang dengan cepat dan menghentikannya mungkin saja pria brengsek itu sudah benar-benar keneraka hari ini juga.
__ADS_1
‘’Apa kau baik-baik saja?’’ tanya mama Catrine memeluk Jenie, Jenie mengangguk dengan lesuh tak lama ia pingsan dan tak sadarkan diri.
*****
‘’Bagaimana dengan istriku dok, bagaimana keadaan putriku, bagaimana keadaan menantuku? Ucap mereka bersamaan kecuali Alisha, wanita itu berdiri diam sambil mendengarkan apa yang akan disampaikan dokter.
‘’Bu Jenie mengalami anemia, jadi tolong pola makannya lebih diperhatikan lagi kalau tidak hal ini akan berakibat fatal untuk anak yang sedang dikandungnya.’’ ucap dokter memberi tahu.
‘’Hamil? Maksudnya anak saya sedang hamil dok?’’ tanya mama Catrine yang diangguki dokter, sedang Exel sama sekali tak mengatakan apa-apa, pria itu membeku di tempatnya, anak siapa yang sedang dikandung Jenie, apa anak pak Reza?’’
‘’Kau kenapa, apa kau tidak senang?’’ tanya mama Sita melihat raut wajah datar Exel, bukannya menjawab Exel malah pergi dari sana, tak ada yang mengejar, mereka ingin memberi waktu untuk Exel menenangkan diri, sebenarnya mereka juga memikirkan hal yang sama dengan Exel.
‘’Selamat ya sayang, selamat ya Jen.’’ ucap Alisha dan keluarganya saat masuk ke ruangan rawat Jenie, Jenie mengangguk kecil sambil tersenyum, melihat sekeliling mencari keberadaan Exel yang sama sekali tak berada di ruangan itu.
‘’Kau tenang saja suamimu tidak kemana-kemana dia hanya sedang makan siang.’’ ucpa mama Sita.
‘’Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan sebentar lagi Exel pasti akan datang, kau kan tau suamimu itu sama sekali tak bisa jauh darimu.’’ bisik Alisha ingin menenangkan Jenie, ia sama sekali tak tau apa yang terjadi sampai tiba-tiba Exel pergi begitu saja disaat yang seharusnya membuatnya bahagia, apa Exel belum siap memiliki anak?
‘’Dari mana saja kau, kenapa baru sekarang datang melihatku?’’ protes Jenie saat xel masuk ke ruangannya.
‘’Maaf aku tadi ada mata kuliah.’’ jawab Exel yang membuat Jenie menganga tapi tak lama ia memaklumi semua itu, lagian itu menyangkut masa depan Exel jadi dia tak akan mempermasalahkannya tapi yang membuatnya heran kenapa dari tadi Exel seperti menjaga jarak darinya, pria itu bahkan tak mencium keningnya seperti yang biasa dilakukan, jangankan mencium keningnya melihatnya saja sepertinya Exel malas.
Hampir seminggu berlalu, Jenie sudah diizinkan pulang kerumah, sekarang mereka kembali lagi ke rumah keluarga Exl karena para orang tua yang tak lagi mengizinkan keduanya untuk tinggal sendiri setidaknya sampai Jenie melahirkan atau sampai anak mereka berumur 7 atau 8 tahun.
‘’Apa yang terjadi denganmu, kenapa kau terus menghindar dan menjaga jarak dariku?’’ protes Jenie melihat Exel yang langsung duduk di sofa saat mereka masuk ke kamar bahkan sama sekali tak melihatnya.
__ADS_1
‘’Aku hanya sedang banyak pikiran saja.’’
‘’Tapi ini sudah hampir seminggu dan kau terus saja mendiamiku, kau hanya akan berbicara seperlunya, memangnya apa salahku sampai kau tiba-tiba berubah seperti ini?’’
Tak menjawab, Exel memilih keluar dari ruangan, sama sekali tidak peduli dengan teriakan Jenie yang terus menerus memanggil namanya.
‘’Kamu kenapa? Apa masih memikirkan soal bayi yang dikandung Jenie?’’ tanya mama Sita menghampiri Exel yang kini duduk termenung di gazebo taman belakang.
‘’Aku hanya tidak tau harus bersikap seperti itu, aku bukannya membencinya hanya saja aku takut akan kenyataan kalau anak yang dikandungnya sekarang bukanlah anakku, aku tidak akan sanggup ma menerima dan membesarkan anak pria brengsek itu, bukan karena aku kurang atau tidak terlalu mencintai Jenie tapi lebih kepada aku sangat membenci pria itu.’’
Mama Sita memeluk Exel, mengusap punggungnya, memberikan kekuatan dan penghiburan pada putranya itu. ‘’Tapi kau tidak bisa terus bersikap seperti ini, bagaimana kalau anak yang dikandungnya itu adalah anakmu? Kau pasti akan sangat menyesal karena sudah memperlakukan istrimu seperti sekarang.’’
Tanpa sepengetahuan mereka Jenie sedang mendengarkan apa yang mereka katakan, ia sama sekali tak menyangka dengan apa yang dipikirkan Exel, bagaimana bisa pria itu berpikir anak yang dikandungnya adalah anak pria lain, memangnya dia wanita apaan?
‘’Jadi kau meragukan anak yang sedang ku kandung?’’ Jenie berteriak melempar bantal pada Exel saat pria itu masuk ke kamar.
‘’Lalu apa yang harus kupikirkan, aku bahkan melihat saat pria brengsek itu melakukan hal itu padamu.’’
‘’Jadi kau menuduhku sekarang?’’
‘’Aku tidak menuduhmu tapi bukankah kenyataannya seperti itu? Lalu bagaimana aku bisa yakin kalau anak yang kau kandung itu adalah anakku?’’
Plak
Jenie menampar pipi Exel dengan wajahnya yang sudah dipenuhi air mata, ia sama sekali tak menyangka kalau Exel akan benar-benar mengatakan kata itu padanya, tapi bukankah setidaknya Exel harus percaya padanya? Iya merasa sangat kecewa dengan ucapan Exel.
__ADS_1
Bersambung.....