
Plak
Jenie menampar pipi Exel dengan wajahnya yang sudah dipenuhi air mata, ia sama sekali tak menyangka kalau Exel akan benar-benar mengatakan kata itu padanya, tapi bukankah setidaknya Exel harus percaya padanya? Iya merasa sangat kecewa dengan ucapan Exel.
‘’Kau seharusnya bertanya padaku sebelum menyimpulkan sendiri.’’ Jenie mengambil nafas, mencoba sedikit meredam rasa marahnya. ‘’Berpikirlah terus seperti itu sampai anak ini lahir dan kuperingatkan jangan pernah kau menyesal karena sudah pernah meragukannya.’’
Jenie naik ke ranjang, tidur dengan terlentang, lagipula Exel pasti akan tidur di sofa, Jenie sama sekali tak bisa berhenti menangis, mengusap perutnya dan meyakinkan dirinya untuk tidak bersedih karena hal itu pasti akan berdampak pada kandungannya.
Pagi harinya Exel bangun, melihat Jenie yang sedang sibuk mengemas beberapa pakaiannya.
‘’Mau kemana kau?’’ tanya Exel
‘’Rumah papa mama.’’ jawabnya cuek masih dengan tangan yang sibuk memasukan pakaiannya ke keper kecil yang akan dibawanya.
‘’Aku tak akan mengizinkanmu pergi, kau harus disini.’’
Jenie menghentikan kegiatannya, membalik badannya dan melihat Exel. ‘’untuk apa? Tinggal denganmu hanya akan membuatku tertekan dan sedih yang nantinya akan sangat mempengaruhi anakku jadi lebih baik kita berpisah sebentar karena aku sama sekali tak ingin terjadi sesuatu pada anakku.’’
‘’Tidak aku tidak akan membiarkanmu pergi.’’ Exel mengeluarkan semua pakaian Jenie dari koper kecil itu.
‘’Exel apa yang kau lakukan?’’
‘’Sudah kukatakan kau tidak boleh pergi ya tidak boleh pergi.’’
‘’Xel tolong jangan egois, kau sama sekali tidak menginginkannya kan jadi kuharap kau bisa membiarkanku pergi setidaknya sampai aku melahirkannya, aku tidak ingin terus bertengkar denganmu karena itu sangat tidak baik untuk kandunganku, kumohon kau sedikit mengerti dengan keputusanku.’’ Jenie kembali memasukan pakaiannya Exel tak lagi melarang, pria itu memilih keluar dan membanting pintu kamar dengan sangat keras.
‘’Jen apa yang terjadi?’’ tanya mama Sita dan papa Bowo kaget melihat Jenie yang keluar dengan membawa koper.’’
Jenie menjelaskan apa yang dipikirkannya pada kedua mertuanya, keduanya pun setuju, sepertinya ini adalah keputusan terbaik, sejujurnya terlepas dari anak siapa yang dikandung Jenie keduanya tetap akan menganggap anak itu sebagai cucu pertama mereka, walau bagaimanapun anak itu akan lahir dari rahim Jenie dan itu sama sekali tak akan mengurangi rasa sayang mereka pada calon cucu mereka itu.
‘’Baiklah jaga dirimu baik-baik, mama dan papa akan mengunjungimu setiap hari, nanti katakan saja apa yang kau inginkan mama pasti akan membuatkannya untuk menantu dan calon cucu mama ini.’’ Ucap mama Sita dengan mengelus lembut perut Jenie yang masih terlihat rata, kedua paruh baya itu memutuskan untuk mengantar Jenie.
*****
‘’Jen udah masuk aja.’’ Alisha menghampiri Jenie yang baru saja turun dari mobilnya.
__ADS_1
‘’Nggak enak Sha dirumah sendirian.’’
‘’Kan sama suami Jen.’’ Alisha berucap dengan nada menggodanya, bukannya bahagia ia malah menangkap ekspresi sedih diwajah Jenie.
‘’Kenapa, apa yang terjadi, kalian baik-baik saja kan?’’
‘Sepertinya sebentar lagi kami akan berpisah, sekarang aku sudah tinggal bersama orang tuaku dan dia sama sekali tidak datang untuk melihatku, mungkin dia sudah benar-benar tidak mencintaiku dan hanya menjadikan kehamilanku sebagai alasan.’’
‘’Apa maksudmu? Selama ini aku bisa melihatnya dan kuyakin Exel sangat mencintaimu.’’
‘’kau lihat sendiri kan bagaimana sikapnya saat dirumah sakit, dia sama sekali tak menatapku dan belakangan ini dia sangat cuek dan tak memperhatikanku seperti dulu, apa menurutmu aku benar-benar harus berpisah dengannya?’’
‘’Jangan asal mengambil kesimpulan, kupikir dia pasti memiliki alasan sendiri, kau harus bertanya padanya, menyelesaikan semuanya dengan baik dan tanpa emosi, oke?’’
Jenie beberapa kali menggeleng kecil
*****
‘’Ada apa ini, apa mereka sudah putus?’’ Bisik-bisik para mahasiswa melihat sikap Exel dan Jenie yang sama sekali tak menyapa satu sama lain, keduanya bahkan makan di meja yang terpisah.
‘’Kenapa, apa kalian sedang bertengkar?’’ tanya Andre sedikit melirik Jenie yang duduk tak teralu jauh dari mereka.
‘’Kau sama sekali tak bisa diajak bercanda.’’ ucap Andre lagi yang sama sekali tak dipedulikan Exel, pria itu berdiri, tak lagi melanjutkan makan siangnya dan memilih meninggalkan kantin, melirik sedikit pada Jenie sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
‘’Kau lihat kan dia sama sekali tak peduli lagi padaku.’’ Ucap Jenie dengan wajah sedihnya.’’
‘’Kupikir dia tidak akan terlalu lama mendiamimu, dia mencintaimu dan hal itu yang akan membuatnya kembali padamu, jadi kau tenang saja dan percaya pada ucapanku.’’
‘’Kau seperti peramal saja.’’ Jenie terkekeh, Alisha pun ikut terkekeh untuk menghiburnya.
‘’Oh ya Sha, nanti sepulang kampus ke rumahku ya.’’
‘’Memangnya ada apa?’’
Jenie menggeleng. ‘’Orang tuaku ingin bertemu denganmu.’’
__ADS_1
‘’Ha!!’’ ucap Alisha kaget, tiba-tiba wanita itu merasa sedikit takut
‘’Nggak usah kaget kali, orang tuaku ingin bertemu denganmu karena sekarang kau adalah temanku, mereka hanya ingin mengenalmu.’’
‘’Membuatku takut saja, kupikir aku melakukan kesalahan.’’ menyengir memperlihatkan barisan giginya, Jenie juga ikut tersenyum, entah kenapa walau baru mengenal Alisha tapi sejauh ini di sangat nyaman dengan wanita itu.
‘’Sha, bagaimana kalau kau tinggal denganku, hitung-hitung agar aku tak kesepian.’’
Alisha menggeleng, tak mau merepotkan keluarga itu dengan semua masalahnya, ia sudah cukup senang memiliki teman seperti Jenie yang sama sekali tak memandangnya rendah seperti orang-orang lainnya.
‘’Baiklah tapi kalau kau berubah pikiran kau bisa menghubungiku kapan saja.’’
‘’Terimakasih ya, aku tau kau ingin membantuku tapi sungguh aku masih bisa mengatasinya sendiri.’’
*****
‘’Sore mama papa.’’ teriak Jenie memeluk mama dan ppanya begitu ia masuk kedalam rumah.
‘’Oh iya mah, teman aku Alisha.’’
‘’Sudah Jen kan waktu itu kamu sudah pernah memperkenalkannya.’’ jawab papa, Jenie menggaruk kepalanya dengan wajah bingungnya, lupa kapan dia memperkenalkan papanya dan Alisha.
‘’Dasar pelupa.’’ papa mengetok pelan kepala Jenie.
‘’Ih papa kalau Jenie amnesia bagaimana?’’
‘’Tinggal berusaha mengingat lagi, nggak susah kan?’’ jawab papa bercanda membuat Jenie berdecak kesal dengan kedua tangannya yang sudah melingkar dipinggang papanya dan wajahnya bersandar di dada papanya.
‘’Dimaklumi saja, keduanya memang selalu seperti itu.’’ Ucap mama Catrine pada Alsha yang sedang tersenyum melihat betapa harmonisnya keluarga itu, sangat berbeda dengan keluarganya yang hanya akan ada pertengkaran setiap harinya.
‘’Terimakasih ya Sha sudah mau berteman sama Jenie dan maklumi saja setiap sikap anehnya nanti.’’ ucap mama membuat Alsa dan papa tertawa sedang Jenie mencibik kesal, sekarang mereka sedang duduk untuk menikmati makan malam.
‘’Ih mma, kalau ada yang mendengarnya mereka akan benar-benar berpikir kalau Jenie aneh.’’
‘’Lah bukannya memang seperti itu?’’
__ADS_1
‘’Mana ada, yang ada Jenie tuh terkenal karena.’’ menjeda ucapannya, menghadapkan wajahnya pada sang mama, menopang dagunya dengan satu tangan lalu mengedip ngedipkan matanya. ‘’Lihatlah ma, bukankah wajah Jenie sangat sempurna.’’ ucapnya dengan percaya diri.
Bersambung.....