
‘’Xel besok sibuk nggak?’’
‘’Tergantung.’’ jawabnya dengan mata yang fokus melihat ke layar ponsel, pria itu sedang bermain game online.
‘’Kok tergantung.’’
‘’Memangnya kamu mau mengajakku kemana?’’
‘’Temani aku ke toko buku ya besok.’’
Exel tak mendengar lagi, pria itu sangat asyik dengan ponselnya, Jenie pun tak mengganggunya lagi, wanita itu memilih untuk mengerjakan tugas mata kuliahnya.
Ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting, ting
Banyaknya chat yang masuk membuat keduanya berhenti dari aktivitasnya, Exel bahkan tak peduli lagi pada gamenya, ia mendekat dan mengambil ponsel Jenie yang terletak diatas ranjang.
‘’Mau apa lagi dia?’’ Geram Exel saat membaca banyaknya chat yang dikirimkan Kevin pada Jenie.
‘’Siapa?’’ tanya Jenie mengambil ponselnya. ‘’Kak Kevin?’’ Ucapnya, wanita itu membaca satu-satu chat yang dikirimkan Kevin padanya dengan Exel yang juga ikut membaca dari samping tubuhnya.
‘’Sepertinya dia benar-benar sudah gila.’’ Geram Exel tak suka dengan setiap isi chat yang dikirimkan, pria itu benar-benar memperlakukan Jenie seperti wanita murahan dan tentu saja Exel sangat marah akan hal itu.
‘’Mau kemana kau?’’ Tanya jenie saat Exel akan keluar dari kamar.
‘’Memberi pelajaran untuknya.’’
‘’Xel kumohon biarkan saja dia, sekali ini saja lepaskan dia.’’ pinta Jenie yang ingin memberi Kevin kesempatan, bukan karena masih menyukainya tapi ia sedikit menghargai keberadaan pria itu selama dua tahun ini.
‘’Kenapa, kau tak mau aku menyakiti pria yang kau cintai itu?’’
‘’Bukan begitu Xel, aku hanya ingin memberinya sedikit kesempatan untuk memperbaiki dirinya, mungkin dia hanya sedang marah padaku.’’
‘’Memberi kesempatan untuk kembali bersama, begitu maksudmu?’’
‘’Kau ini bicara apa sih, aku sama sekali tak memiliki maksud seperti itu.’’
‘’Sudahlah.’’
‘’Kau mau kemana?’’ Cegah Jenie menahan ujung kaos yang sedang digunakan Exel saat pria itu berbalik dan ingin meninggalkannya.
‘’Buang air kecil, kenapa mau ikut juga?’’ Tanyanya dengan nada sinis, Jenie menggeleng dan dengan cepat melepaskan tangannya yang sedang menarik manahan ujung kaos Exel.
*****
__ADS_1
‘’Apa ini?’’ tanya Jenie berteriak senang, pagi-pagi Exel sudah memberinya kejutan, pria itu memberikannya sebuah mobil mewah dengan harga fantastis katanya sih sebagai hadiah ulang tahun Jenie yang beberapa tahun ini dilewati.
‘’Ah terimakasih.’’ Ucapnya bahagia, tak sadar wanita itu melompat ke dalam gendongan Exel bahkan beberapa kali mencium wajahnya.
‘’Dasar anak muda.’’ ucap mama mertua yang membuat Jenie tersadar dari tindakannya, dengan cepat wanita itu turun dari gendongan Exel, tersenyum kaku pada kedua mertuanya.
‘’Nggak perlu malu, papa mama ngerti kok, kami juga pernah muda kali.’’ Ucap papa Bowo tapi dengan senyum menggodanya membuat Jenie semakin malu.
‘’Pa ma istriku jangan digoda terus.’’ Ucap Exel memeluk pundak Jenie, setelahnya pria itu melihat Jenie. ‘’Bagaimana, suka nggak sama mobilnya?’’ Tanyanya, Jenie mengangguk dengan malu-malu, Exel pun tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah Jenie yang seperti itu, pria itu beberapa kali mengelus lembut kepala Jenie, saking gemesnya ia sampai mencubit kedua pipi wanita itu.
‘’Gemes banget deh lihat kamu kalau lagi malu-malu gini.’’ Ucapnya dengan nada gemasnya, Jenie hanya tertawa kecil dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih.
‘’Mau dicoba dulu nggak mobilnya?’’ tanya exel yang diangguki Jenie
*****
Di kampus
Jenie keluar dari kelasnya karena ponselnya tertinggal dalam mobil, sesampainya di parkiran wanita itu melihat haran pada banyaknya orang yang sedang berkumpul mengelilingi mobilnya.
‘’Wah mobil kamu bagus banget Mon.’’ Puji orang-orang melihat mobil mewah dengan harga fantastis itu.
‘’Iya dong, kalian nggak mungkin sanggup membeli mobil semahal ini.’’ Ucapnya dengan sombong dengan tubuhnya yang sedang bersandar di mobil itu.
Mona tersenyum sinis, wanita itu berteriak memanggil Jenie yang sedang melihatnya dari jarak yang tak terlalu jauh.
‘’Hei pe**cur apa yang kau lihat, matamu itu mengotori mobil mewahku.’’
Mendengar itu Jenie tersenyum remeh, berjalan mendekat dan berdiri di dekat Mona.
‘’Ini mobilmu?’’ Tanya Jenie
‘’Ya iyalah memangnya punya siapa lagi? Punyamu? Kan nggak mungkin.’’ ledeknya dengan tertawa sarkas sedang Jenie kembali memperlihatkan senyum remehnya.
‘’Mewah sekali, pasti harganya sangat mahal.’’ Jenie melihat seluruh sisi Mobil
‘’Biasa aja dong lihatnya, aku tau kau menyukainya tapi orang miskin sepertimu nggak mungkin bisa menaiki mobil seperti ini, dalam mimpimu pun sepertinya mustahil. Ucapnya yang membuat semua orang di tempat itu tertawa.
‘’Sayang sekali, padahal aku sangat ingin mencobanya, bisakah kau bermurah hati dan mengizinkanku naik ke mobilmu?’’
‘’Ck kau pikir aku sudi?’’
‘’Kalau begitu kau tak perlu mengajakku, aku hanya ingin melihatmu menaiki mobil itu, aku sangat sangat dan sangat menyukai mobilmu, jadi biarkan aku melihatnya saat kau sedang mengendarainya.’’
__ADS_1
‘’Perlihatkan saja Mon setidaknya kau sudah membantu wanita miskin sepertinya mewujudkan satu keinginannya.’’ ucap satu orang yang ada di tempat itu yang juga disetujui oleh semua yang ada disitu.
‘’Iya tolonglah Mon.’’ Ucap Jenie memelas padahal ingin sekali dia tertawa keras.
‘’Ck aku sama sekali tak sudi membantumu.’’
Tring tring tring tring tring
Terdengar suara dering ponsel dari dalam mobil
‘’Suara ponsel siapa itu?’’ tanya orang-orang.
‘’Asalnya dari dalam mobil jadi pasti milik Mona.’’ Timpal Jenie ‘’ponselmu terus berbunyi Mon, apa kau tidak ingin mengangkatnya, siapa tau itu panggilan penting.’’
‘’Nggak usah biar saja, paling hanya spam.’’ ucapnya sedikit gelagapan, ponsel itu terus saja berbunyi.
‘’Sepertinya bukan telepon spam deh.’’ Ucap Jenie lagi
‘’Iya Mon diangkat saja.’’ Sambung temannya
Mona terlihat gelagapan, wanita itu membuka tasnya, mengacak-ngacak isi tasnya.
‘’Kemana?’’ Ucapnya berpura-pura khawatir mencari kunci mobil.
‘’Kenapa Mon?’’ Tanya temannya lagi
‘’Kunci mobilku hilang.’’ Ucapnya dengan wajah berpura-pura panik.
‘’Hilang, kok bisa?’’ beberapa orang juga terlihat ikut mencari kunci mobil Mona, mereka berpikir siapa tau kunci mobilnya jatuh tak jauh dari tempat mobil itu di parkir.
Jenie tak bisa lagi menahan tawanya, wanita itu tertawa sedikit keras membuat semua pasang mata memandang ke arahnya. ‘’Apa yang sedang kau tertawakan?’’ tanya Mona dengan nada kesalnya, Jenie mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, menggoyang-goyangkan benda itu di udara.
‘’Apa kau sedang mencari ini?’’ tanyanya yang membuat orang-orang bingung
‘’Untuk apa aku mencari kunci mobilmu?’’ sarkas Mona yang kembali membuat Jenie tertawa.
‘’Kau tak mengenali kunci ini?’’ Tanya Jenie
‘’Untuk apa aku harus tau kunci mobilmu, seperti tak ada kerjaan saja.’’
Clik, suara yang berasal dari mobil mewah itu membuat Mona dan dan orang-orang di tempat itu kaget.
Bersambung.....
__ADS_1