Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Membantu Alisha


__ADS_3

Baru juga keluar dari perpustakaan mata Jenie tak sengaja menangkap seseorang yang dikenalnya, ia berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.


‘’Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian menghalangi jalanku?’’


‘’Jalanmu, kau pikir kau siapa?’’


‘Cindy please sekarang aku sedang tak punya waktu untuk meladenimu.’’


‘’Apa yang kalian lakukan?’’ Tanya Jenie menghampiri.


Cindy melihat Jenie dari atas sampai bawah


‘’Itu Jenie, wanita yang sekarang banyak diperbincangkan.’’ Bisik temannya memberitahu.


Cindy tertawa meremehkan. ‘’Kuberi kau kesempatan untuk pergi dan jangan ikut campur urusanku.’’


Jenie balas tertawa ‘’aku akan pergi tapi bersama Alisha.’’ Ucapnya menarik tangan Alisha ingin membawa wanita itu pergi dari tempat itu, tapi Cindy menghalangi dengan berdiri tepat didepan Jenie.


‘’Jangan kau pikir bisa membawanya dariku.’’


Jenie melihat Alisha. ‘’Apa kau melakukan kesalahan pada mereka?’’


‘’Dia salah karena dia miskin dan tak pernah menuruti perintahku.’’


‘’Karena miskin? Memangnya seberapa kaya dirimu?’’


Cindy tertawa remeh, menjentikan jarinya, meminta temannya untuk memperkenalkan siapa dirinya.


‘’Ck hanya perusahaan kecil itu dan membuatmu sombong?’’


‘’Perusahaan kecil, beraninya wanita murahan sepertimu menghinaku?’’ Geramnya karena tak terima dengan penghinaan Jenie.


‘’Jen sudahlah kau bisa terkena imbasnya jika mencari masalah dengan mereka.’’ Alisha mencegah Jenie agar tak lagi membalas ucapan Cindy, cukup dia saja yang terus digangu oleh wanita itu, dia tak ingin Jenie juga terlibat hanya karena menolongnya.


‘’Ada apa ini, apa kalian ingin bertengkar di tempat ini?’’ Tanya pak Reza menghampiri


Cindy memeluk pundak Jenie ‘’kami hanya sedang berkenalan, bukan begitu?’’ Tanya Cindy dengan suaranya yang setengah memaksa.

__ADS_1


‘’Iya pak, kami hanya sedang berkenalan.’’ Jawab Jenie yang juga membalas memegang pundak Cindy dengan sedikit meremasnya.


‘’Bubar sekarang.’’ suruh pak Reza dengan nada tegasnya.


‘’Kau mau kemana biar kuantar.’’ tawar Jenie


‘’Bisakah kau mengantarku ke tempat kemarin?’’


Jenie mengangguk.


‘’Terima kasih ya.’’ Ucap Alisha begitu mereka tiba di salah satu toh kue tempatnya bekerja.


‘’Bisakah aku meminta nomor ponselnya?’’ Jenie memberikan ponselnya pada Alisha, meminta wanita itu untuk menuliskan nomor ponselnya, kali ini Alisha memberinya, mungkin karena ia merasa berterima kasih pada Jenie dan merasa tak enak kalau harus menolaknya lagi.


Jenie melihat Alisha, sebenarnya berapa banyak pekerjaan yang dimiliki Alisha, dulu ia pernah mengikuti dan melihat alisha bekerja di sebuah restoran dan sekarang di tokoh kue.


‘’Astaga.’’ Jenie menepuk keningnya, melajukan kembali mobilnya saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Exel, karena tadi di perpus Jenie menyetel ponselnya ke profil diam dan lupa mengaturnya kembali, jadi wanita itu tak sadar kalau daritadi Exel terus menghubunginya.


******


‘’Sorry sorry kelupaan.’’ Ucapnya menyengir, memeluk pinggang Exel.


‘’Jen daripada bertemu diam-diam seperti ini bukankah sebaiknya kita bertemu secara terbuka?’’


‘’Nggak, aku masih ingin berkuliah dengan tenang.’’


‘’Memangnya apa hubungannya?’’


‘’Pokoknya aku belum siap saja kalau banyak orang yang mengetahui tentang pernikahan kita.’’


Exel tak menjawab lagi, pria itu mengeratkan pelukannya dan beberapa kali mencium puncak kepala Jenie, tak lama ia melepasnya, melihat jam di pergelangan tangannya.


‘’Ayo keluar, aku ada kelas lagi.’’ Ajak Exel.


‘’Kau keluar duluan, aku ingin istirahat sebentar disini.’’


‘’Baiklah.’’ Ucap Exel mencium kening Jenie dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


‘’Sedang apa aku disana, sepertinya kau sering sekali keluar dari ruang kosong itu.’’ Ucap Mona penuh curiga, dengan cepat wanita itu masuk kedalam ruang kosong ingin menangkap basah pria yang bersama Jenie, tapi nihil dia sama sekali tak menemukannya.


‘’Dia benar-benar sendiri ternyata.’’ Guman Mona dan keluar dari ruangan itu.


*****


‘’Hai Xel’’ sapa Mona begitu masuk kedalam kelas, tanpa bertanya wanita itu duduk di samping Exel, terus menatap Exel dengan tatapan kagumnya, matanya menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki, tubuh Exel sangatlah wangi. Wanita itu kembali memperhatikan rambut hitam Exel yang ditata dengan rapi, wajah yang terpahat dengan sempurna, alisnya, matanya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kecil, mata Mona terhenti melihat jakun Exel, ingin sekali ia menyentuhnya.


‘’Kau lihat dari tadi si Mona terus melihatmu, kalau menurutku sikat saja Xel, lumayan tuh, bokongnya aduhai men bikin panas dingin.’’ Andre bercanda tapi Exel melihatnya dengan tatapan tajamnya.


‘’Bercanda Xel nggak usah diambil serius.’’


Exel pun mengeluarkan ponselnya, kelas sudah hampir penuh tapi dosen belum juga datang bahkan sudah terlambat hampir 5 menit, tinggal 5 menit lagi waktunya dan setelahnya kelas akan otomatis bubar, di kampus itu para mahasiswa akan menunggu keterlambatan dosen paling lambat 10 menit.


‘’Wih wallpapernya.’’ Ucap Andre ikut melihat layar ponsel Exel yang sekarang sudah berganti dengan foto Jenie yang sedang tersenyum manis.


‘’Jangan dilihat ini eksklusif milik Exel, mengerti?’’ Ucapnya mematikan layar ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku.


‘’Yaelah pelit baget, bagi dikit dong kecantikan istrimu.’’ Ucapnya yang kembali mendapatkan pelototan mata dari Exel.


‘’Santai bro santai, bercanda doang.’’ Andre tertawa kecil melihat raut wajah tak bersahabat Exel, awalnya Andre mengira Exel tak tertarik dengan seorang wanita, karena dari pertama mengenal Exel tak pernah sekalipun pria itu terlihat tertarik pada wanita, padahal banyak wanita yang berjejer dan mengantri untuk menjadi kekasihnya, tapi sekarang ia mengerti pria itu bukan tidak menyukai wanita hanya saja seleraya sangat tinggi, buktinya ia bisa tergila-gila itu pada seorang Jenie Dawson.


‘’Dasar bucin.’’ Cibir Andre yang tak dihiraukan Exel.


‘’Kantin yuk.’’ Ajan Andre, satu-persatu mahasiswa keluar dari dalam kelas karena dosen belum juga datang bahkan setelah 10 menit mereka menunggu.


‘’Istrimu tuh.’’ Bisik Andre saat melihat Jenie yang juga sedang berada di kantin.


‘’Aku bisa melihatnya tanpa kau memberitahunya.’’ keduanya terus berjalan, Exel berjongkok tepat di samping meja Jenie, pura-pura memperbaiki tali sepatunya, pria itu mengedipkan satu matanya saat Jenie memperhatikannya, ingin sekali Jenie tertawa dengan sikap Exel yang sangat tak biasa itu.


‘’Ayo Xel lama banget sih.’’ Protes Andre melihat Exel yang sangat lama mengikat tali sepatunya, Andre berjongkok dan membatu Exel mengikat tali sepatunya, tertawa keras dalam hatinya saat melihat Exel yang melihatnya dengan tatapan tajam, sebenarnya ia tahu Exel hanya berpura-pura hanya saja terbesit ide ingin menjahilinya, siapa suruh mereka harus bermain petak umpet seperti sekarang.


‘’Kau sengaja ya?’’ geram Exel tanpa mengeluarkan suara, sedang Andre memasang wajah pura-pura begonya.


Exel makan dengan terus memperhatikan punggung Jenie. ‘’Makan Xel, istrimu nggak bakalan hilang.’’


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2