
Bukannya berhenti Exel malah menarik gemas pipi Jenie yang membuat wanita itu semakin melotot kesal. ‘’Kau apa-apaan sih?’’
‘’Makanya jangan melamun, pulang yuk.’’ ajaknya dan menarik tangan Jenie yang langsung dilepaskan oleh wanita itu. ‘’Kau gila ya, kalau ada yang melihatnya bagaimana?’’
‘’Ya nggak pa-pa, kamu kan istriku.’’
‘’Xel.’’
‘’Hhmm.’’ jawab Exel santai dengan suara lembutnya
‘’Xel jangan main-main dong.’’ Ucapnya setengah merengek, Exel tersenyum, mencium singkat pipi Jenie dan pergi meninggalkan tempat itu karena merasa Jenie sudah sedikit lebih baik, tadinya ia menjahili Jenie karena ingin mengalihkan pikiran wanita itu agar sedikit lupa dengan apa yang baru saja terjadi dengannya dan Sasa.
*****
‘’Exel.’’ Sasa tersenyum senang melihat Exel berjalan menghampirinya, tadi, hampir sejam yang lalu Exel menghubunginya dan mengajaknya bertemu, tentu saja ia sangat senang dan buru-buru datang ke tempat yang dikatakan Exel.
‘’Xel.’’ Ucapnya bangkit dan ingin memeluk Exel, tapi pria itu menyingkir dan mendorong tubuhnya hingga hampir jatuh.
‘’Kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu, apa kau sudah menyadari perasaanmu, apa kau datang untuk mengatakan kalau kau mencintaiku?’’ Tanyanya dengan begitu bersemangat membuat Exel bergidik ngeri, wanita di depannya ini sepertinya sudah gila dan tak tertolong lagi.
‘’Sepertinya kau tak tertolong lagi, aku datang karena ingin memperingatimu agar tak lagi mengganggu istriku.’’
‘’Ck istri? Cepat atau lambat kalian akan kembali berpisah, tak ada yang cocok mendampingimu selain aku, dan tak ada juga wanita yang akan memberikanmu cinta sebesar yang kuberikan untukmu, jadi bukalah matamu baik baik, Jenie si wanita murahan itu sama sekali tak pantas untuk menjadi pendampingmu.’’
‘’Apa kau bilang, wanita murahan?’’ Exel berdiri, mencengkram kuat rahang Sasa karena merasa sangat geram dengan ucapan wanita itu, seenaknya saja ia mengatai Jenie sebagai wanita murahan dan didepannya pula.
‘’Sebutan itu harusnya cocok untukmu bukan istriku, kau dengar ya sekali lagi kau berani mengganggunya maka aku benar-benar akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya, kau paham?’’ menghempas kasar wajah Sasa dan berjalan keluar dari cafe, pria itu tak peduli bahkan saat mendengar beberapa orang berbicara tentang perlakuan kasarnya pada Sasa.
__ADS_1
‘’Kau lihat saja Exel, sebelum kau menghancurkanku, aku duluan yang akan menghancurkan wanita murahan dan tak tau diri itu.’’ tersenyum dengan wajah yang menyeramkan, sekarang tak ada alasan lagi untuk berpura-pura baik di depan Jenie, lagian dia sudah muak untuk itu.
Di kampus Jenie sedang menunggu Exel menjemputnya, hari ini mereka akan pergi ke Mouse & Rabbit cafe karena Exel harus meninjau restoran dan beberapa hal lainnya, tadinya Jenie tak ingin ikut tapi Exel terus memaksanya jadi mau tak mau ia pun ikut dari pada sendirian di apartemen, pikirnya.
Exel beberapa kali membunyikan klakson tapi Jenie sama sekali tak peduli, bukan tak peduli tapi Jenie sama sekali tak tau kalau itu adalah Exel, pasalnya pria itu datang dengan menggunakan mobil baru yang sebelumnya tal pernah dilihat Jenie.
‘’Hallo kau dimana?’’ tanya Jenie begitu mengangkat panggilan telepon dari Exel.
‘’Apa kau tuli, dari tadi aku membunyikan klakson dan kau sama sekali tak mendengarnya?" Jawab Exel dan kembali membunyikan klakson mobilnya.
‘’Kenapa kau kesal padaku, salahmu karena tidak memberitahunya terlebih dulu.’’ Ucap Jenie melihat wajah datar Exel begitu ia memasuki mobil.
’’Harusnya kau peka dong tanpa aku mengatakannya sekalipun.’’
‘’Kenapa harus peka, kau tinggal mengatakannya padaku, apa susahnya?’’ Ucap Jenie yang kini sudah menjadi kesal juga.
‘’Sudahlah kita hanya akan bertengkar jika terus seperti ini.’’ Exel menghidupkan mobilnya.
Sesampainya di cafe, Jenie turun tanpa mengatakan apapun, bahkan Exel sampai kaget karena Jenie yang membanting keras pintu mobil.
Tanpa berbalik atau menunggu Exel, Jenie melangkah masuk ke dalam cafe, masuk ke ruangan di mana dulu Exel pernah membawanya dan duduk diam di ruangan itu tanpa mau membuka mulutnya, Exel yang sudah beberapa kali minta maaf pun tak di hiraukannya.
‘’Jen aku minta maaf karena tadi sudah kesal padamu, Jen please maafin aku ya, ya, ya.’’ Ucapnya dengan memegang kedua tangan Jenie, Jenie diam menahan tawanya karena sudah berhasil mengerjai Exel.
‘’Aku akan memaafkanmu tapi.’’ menggantung ucapannya
‘’Tapi apa?’’
__ADS_1
‘’Sehabis dari sini kita ke toko ice cream ya, aku ingin makan ice sekarang.’’ Exel tersenyum, meletakan satu tangannya di atas kepala Jenie dan sedikit menekannya setelahnya mencubit gemas pipi Jenie ‘’ternyata ada maunya.’’ Ucapnya sedang Jenie hanya cengengesan.
‘’Exel lebih baik sekarang kau kerja agar aku bisa makan ice cream secepatnya.’’ Jenie mendorong kecil tubuh Exel karena pria itu masih menempel padanya dan seolah lupa tentang tujuannya.
‘’Ada yang bisa dibantu nggak?’’ tanya Jenie melihat Exel yang kini serius dengan kerjaannya, Exel mengangguk, membuka kedua tangannya yang membuat Jenie mengernyit heran.
‘’Kenapa kau diam saja, katanya ingin membantuku.’’
Jenie mengangguk ‘’apa yang bisa kubantu?’’
Exel melihat kedua tangannya yang terbuka lebar dengan tatapan penuh arti, Jenie pun tersenyum karena mengerti apa yang diinginkan pria itu, bukannya memberi pelukan Jenie malah berjalan menjauh dari Exel, menjulurkan lidahnya dan kembali duduk sambil memainkan ponsel, Exel hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tok tok tok tok
‘’Masuk.’’ suruh Exel, tak lama masuklah 2 pelayan dengan membawa beberapa rasa ice cream di tangan mereka dan meletakan semuanya di meja depan tempat Jenie duduk.
‘’Silahkan mbak.’’ Ucap keduanya pada Jenie sebelum keluar dari ruangan itu.
‘’makanlah , katanya kau sangat ingin memakan ice cream itu.’’ Exel tersenyum, tadi setelah Jenie mengatakan keinginan untuk memakan ice cream dari toko ice cream kesukaannya, Exel keluar dan menyuruh pelayannya untuk membelikan ice cream itu dengan berbagai rasa yang menurutnya disukai Jenie.
‘’Terima kasih.’’ dengan senang Jenie berlari menghampiri Exel, mencium kedua pipi pria itu kemudian kembali berlari, duduk dan mulai memakan ice creamnya.
‘’Kau ingin mencobanya?’’ tanya Jenie, Exel menggeleng, saat ini ia ingin fokus pada apa yang dikerjakan agar bisa cepat selesai dan mereka bisa pulang secepatnya.
‘’Ya sudah kalau tidak mau.’’ kembali meneruskan makannya, efek kekenyangan setelah makan Jenie membaringkan tubuhnya di sofa.
Tak perlu waktu lama wanita itu sudah terbang ke nirwana, tertidur pulas, padahal ia sangat menghindari tidur setelah makan karena kata orang hal itu akan membuatnya gendut makanya ia sangat menghindarinya, tapi sekarang ia malah tertidur pulas, kalau begini sudah sangat pasti dia akan berteriak karena stress saat bangun nantinya dan Exel sama sekali tak tau hal itu, membiarkan Jenie tidur bahkan sama sekali tak membangunkannya saat mereka tiba di apartemen.
__ADS_1
Tak hanya tidur setelah makan, tapi kali ini ia juga tidur sebelum membersihkan wajahnya.
Bersambung.....