
‘’Xel menurutmu siapa sih yang selalu mengirim paket aneh itu padaku? Kamu tau sendiri kan aku tuh nggak pernah loh cari masalah sama orang lain.’’ Ucapnya sambil berjalan keluar dari walk in closet dengan sudah memakai pakaian tidurnya.
‘’Aku sedang menyelidikinya, secepatnya kita pasti akan mengetahui siapa dalangnya.’’
‘’Iya, aku juga ingin tanya kenapa dia melakukan hal itu padaku.’’
‘’Nggak usah dipikirin, oh iya sekarang kamu ganti pakaianmu, malam ini kita makan malam diluar aja biar sekalian kencan.’’
‘’Kenapa nggak bilang dari tadi, belum ada 5 menit loh sejak aku mengganti pakaianku.’’
‘’Yaudah ganti aja lagi, nggak lama ini.’’
‘’Exel setidaknya aku perlu sedikit waktu untuk merias wajah dan rambutku.’’
‘’Nggak usah pake riasan, lama nunggu nya, keburu mati kelaparan aku.’’
‘’Oh ya udah kalau gitu aku pakai pakaian ini saja.’’
‘’Kamu gila ya, ganti nggak.’’ kesal Exel, bagaimana bisa Jenie kepikiran keluar hanya dengan menggunakan pakaian tidur transparannya yang memperlihatkan bentuk tubuh indahnya, apalagi ditambah dua bukit yang menonjol yang sangat indah dipandang mata.
‘’Yaudah kalau gitu kasih aku waktu satu jam aja.’’ pinta Jenie, Exel membuang nafas berat, lebih baik menunggu sejam daripada wanita itu berbuat nekat dan keluar hanya dengan menggunakan pakaian tidurnya, Exel mengira Jenie akan benar-benar keluar dengan pakaian tidurnya padahal wanita itu hanya menggertaknya.
‘’Dasar wanita, mau keluar nggak lama aja ribet.’’ gerutunya yang tak dipedulikan Jenie.
setengah jam kemudian. ‘’Kamu nggak punya pakaian lain apa, aku perhatiin pakaian santai mu pada kekurangan bahan semua.’’ protes nya karena melihat Jenie yang keluar hanya dengan menggunakan pakaian crop top tanpa lengan hingga memperlihatkan perut ratanya dipadukan dengan celana jeans panjang.
Jenie sama sekali tak peduli dengan ucapan Exel, duduk di meja rias dan mulai merias wajahnya dengan hanya menggunakan blush on, maskara dan eyeliner, tak lupa juga menggunakan lipstik nude untuk menyempurnakan penampilannya.
‘’Ganti pakaiannya atau kita nggak jadi pergi.’’
‘’Kenapa sih Xel, kamu tuh katro apa gimana sih, ini fashion loh.’’
‘’Aku nggak peduli, ganti nggak pakaiannya.’’
‘’Kok gitu sih, nggak seru ah, pakai ini aja ya, lagian kalau diganti nanti dandananku berantakan Xel, emang kamu mau nunggu lebih lama lagi?’’
‘’Yaudah nggak usah diganti, ambil jaket kamu dan pakai.’’
Akhirnya Jenie mengalah daripada nggak jadi makan malam, tak lama ia kembali dengan sudah menggunakan jaket jeans oversize.
__ADS_1
‘’Bagus anak pintar, gitu dong nurut sama suami.’’ Ucapnya tersenyum senang, mengelus kepala Jenie dan menggenggam tangan wanita itu setelahnya keduanya keluar dari apartemen.
Tak sampai 1 jam mereka sudah sampai di salah satu cafe yang saat ini sedang hits dikalangan remaja.
‘’Kenapa kesini?’’ Tanya Jenie, sekarang dia sudah sangat lapar dan Exel membawanya ke cafe yang untuk makan saja kadang harus antri selama 1 jam saking banyaknya pengunjung di cafe itu.
‘’Aku pikir kamu bakalan senang kalau diajak makan di cafe ini.’’
‘’Senang sih senang tapi nggak disaat lapar juga Xel, kalau harus nunggu antrian lagi aku bisa pingsan karena kelaparan.’’
‘’Nggak perlu antri Jen, ayo keluar.’’
‘’Nggak perlu antri gimana, orang antriannya panjang gini.’’ Gerutu Jenie memperhatikan antrian panjang yang kira-kira hampir 10 meter panjangnya.
‘’Kalau begini ceritanya besok pagi aku baru bisa menikmati makan malamku.’’ Ucapnya dengan nada kesal.
‘’Jen ayo.’’ Panggil Exel yang langsung menarik tangan Jenie masuk kedalam cafe,
‘’Kamu nggak sopan banget sih Xel, main nyerobot antrian aja.’’ Omel Jenie yang sama sekali tak dipedulikan pria itu.
‘’Mer, siapkan makanannya dan bawa keruangan ya.’’ Perintah Exel pada seorang pelayan membuat Jenie heran, bagaimana bisa pria itu asal memerintah, memangnya dia siapa?
‘’Kamu kenal sama pemilik cafe ini?’’
‘’Aku pemilik cafenya, udah stop, duduk diam dan jangan banyak tanya.’’ Ucapnya saat Jenie kembali akan membuka mulutnya membuat wanita itu mencibik kesal, tapi dia sama sekali tidak bisa kalau tidak bertanya, dia sangat penasaran, kenapa bisa Exel adalah pemilik cafe itu.
‘’Kenapa bisa kamu pemiliknya?’’
‘’Loh kenapa, memangnya ada yang salah kalau aku pemiliknya?’’
Jenie menggeleng. ‘’Nggak sih cuma aku nggak nyangka aja, tau gitu dari dulu aku nggak usah ngantri pas mau masuk kesini, eh terus kalau namanya kamu kepikiran dari mana, unik soalnya.’’
‘’Mouse & rabbit cafe?’’
Jenie mengangguk
‘’Ada deh rahasia.’’ ucapnya membuat Jenie kesal, wanita itu kembali akan melayangkan protesnya tapi tak jadi karena mendengar ketukan dari luar pintu dan tak lama terlihat 2 orang pelayan yang datang mengantarkan makanan untuk mereka.
‘’Xel nanti kalau kesini lagi aku bisa langsung masuk nggak, maksudnya nggak perlu antri gitu.’’
__ADS_1
‘’Ya masuk aja kan lagian cafe ini juga milikmu.’’
‘’Milikku?’’
‘’Milikku adalah milikmu juga karena kau istriku.’’ Ucapnya yang membuat wajah Jenie memerah, wanita itu bahkan sudah mengipas wajahnya dengan menggunakan tangan dan tentu saja apa yang dilakukannya itu membuat Exel tertawa saking gemasnya.
‘’Kenapa, kok wajahnya merah gitu sih?’’ Ucapnya lagi dengan maksud menggoda Jenie.
‘’Panas soalnya, wajahku itu memang gampang merah kalau sedang merasakan panas.’’
‘’Oh gitu ya, tapi ACnya udah dingin banget loh ini, kenapa kamu malah panas ya?’’
‘’Ih apaan sih, aku tau ya kalau kamu lagi menggodaku.’’
‘’Dan aku tau kamu lagi berbohong, ayo jujur kenapa wajahnya merah gini.’’ godanya lagi dengan satu tangannya yang mengelus pipi kanan Jenie, wanita itu tak menjawab dan malah mencubit perut Exel lalu keduanya tertawa dan mulai makan malam.
*****
‘’Omg ada kak Andre.’’ Bisik Jenie saat mereka akan keluar dari cafe.
‘’Kamu diam disini, keluar setelah 15 menit aku keluar, oke.’’ Ucapnya yang sebenarnya tak disetujui Exel tapi pria itu tetap melakukan apa yang diucapkan Jenie.
‘’Hai Jen kamu disini juga.’’ sapa Andre saat bertepatan dengan wanita itu di pintu masuk.
‘’Eh kak Andre.’’
‘’Sendiri Jen?’’ Tanya Andre pura-pura padahal tadi sebelum Jenie melihatnya, ia sudah lebih dulu melihat Jenie bersama Exel, tapi entahlah kenapa mereka berdua terus berpura-pura tak ada hubungan.
‘’Iya kak, yaudah aku duluan ya kak, buru-buru soalnya.’’
‘’Xel udah mau pulang?’’ Tanya Andre yang kali ini bertemu Exel
‘’Yah nggak asyik banget aku baru nyampe juga.’’ Ucap Andre lagi
‘’Sorry Ndre buru-buru.’’ Exel langsung berlalu pergi.
‘’Sebenarnya mau sampai kapan sih kita merahasiakan pernikahan kita?’’ Tanya Exel saat masuk kedalam mobilnya.
‘’Aku hanya ingin merahasiakannya, lagian kita tidak tau berapa lama pernikahan kita akan bertahan, kita hanya dua orang yang tinggal bersama atas nama pernikahan tapi kau dan aku tau jelas bahwa kita tidak memiliki perasaan terhadap satu sama lain, bukankah begitu? Kau tidak memiliki perasaan padaku kan?’’
__ADS_1