
‘’Lihatin apa sih, kok serius banget?’’ Tanya Exel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Jenie memperlihatkan layar ponselnya pada Exel, ternyata wanita itu sedang berkirim chat dengan Alisha.
‘’Alisha? Siapa?’’
‘’Teman baruku, kamu pernah melihatnya waktu itu saat kau mengikutiku ke restoran tempatnya bekerja’’
‘’Kenal dari mana?’’
‘’Kampus, orangnya baik kok.’’ Ucap Jenie yang tau maksud pertanyaan Exel yang sepertinya sedang mengkhawatirkannya.
‘’Jangan terlalu dekat dengan orang baru apalagi yang baru kau kenal, oke.’’
Jenie mengangguk dan meneruskan kembali berkirim chat dengan Alisha.
‘’Kamu ganti pakaian dulu, nanti kedinginan loh.’’
‘’Gantiin bisa nggak?’’
‘’Kamu tuh kenapa jadi mesum gini sih?’’
‘’Mesum sama istri sendiri nggak pa-pa dong.’’ mengerlingkan satu mata dengan tatapan menggodanya membuat Jenie tertawa
‘’Udah ah ganti pakaian sana.’’ Mendorong tubuh Exel, setelahnya ia juga ikut berdiri dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas mandinya.
*****
‘’Sini biar aku bantu.’’ Exel mengambil alih hair dryer dari tangan Jenie, wanita itu sedang mengeringkan rambutnya di depan meja riasnya. Jenie tersenyum melihat pantulan Exel dari cermin yang ada di meja riasnya.
‘’Berhentilah melihatku seperti itu atau aku akan membuatmu mandi kembali.’’
‘’Kenapa pembicaraan mu selalu mengarah kesana sih?’’
‘’Mau bagaimana lagi, aku kan pria normal.’’ Ucapnya dengan tangan yang sibuk mengeringkan setiap helai per helai rambut Jenie.
‘’Jen mulai besok kau akan ke kampus bersamaku, tak ada lagi acara naik mobil masing-masing, aku akan mengatakan kalau kita berpacaran.’’
__ADS_1
Jenie mengangguk, tak ingin membantah lagi
‘’Tumben menurut.’’ Ledek Exel, Jenie tersenyum, mengambil alih hair dryer dari tangan Exel dan mematikannya, memegang kedua tangan Exel dengan pandangannya yang terus melihat wajah Exel ‘’aku tak akan membantah lagi, jika menurutmu itu yang terbaik maka aku akan mengikutinya tanpa protes sedikitpun.’’
Exel tersenyum, meletakan satu tangannya di kepala Jenie setelahnya ia berjongkok, untuk mensejajarkan dirinya dan Jenie ‘’senang banget deh kalau kamu dengar-dengaran gini.’’
‘’Memangnya aku selama ini bagaimana?’’ Protes Jenie dengan memanyunkan bibirnya membuat Exel terkekeh, pria itu menarik bibir Jenie sambil tertawa. ‘’Exel ih.’’ Protes Jenie memukul mukul kecil tangan Exel yang sedang menarik bibirnya.
Tak lama, Exel menangkap dan menahan tangan Jenie, tangannya yang tadi menarik bibir Jenie otomatis terlepas dan digantinya dengan bibirnya yang kini sudah bertemu sapa dengan bibir Jenie.
‘’Kau ini.’’ Jenie memukul dada Exel saat pria itu melepaskan ciuman mereka.
Exel tersenyum ‘’tapi kau menyukainya kan?’’ Mencolek bawah dagu Jenie, Jenie memberikan ekspresi pura-pura kesalnya dan ingin melangkah pergi meninggalkan Exel, tapi Exel sudah lebih dulu menangkapnya dan melingkarkan tangannya di perut Jenie.
‘’Mau kemana?’’ tanyanya yang kini sudah mencium pipi kanan Jenie, setelahnya meletakan kepalanya di pundak Jenie. ‘’Mau tidur memangnya apalagi.’’ jawab Jenie dan mendorong kecil tubuh Exel, naik keranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
‘’Kau tidak bisa bernafas jika seperti itu.’’ Exel ikut naik ke ranjang dan menarik selimut Jenie, Jenie melihat kesal padanya ‘’jangan mengangguk Exel, aku mengantuk.’’ menarik kembali selimut itu, tak mau kalah Exel juga menariknya kembali ‘’tutupnya sampai sini saja, aku tak bisa tidur jika tak melihat wajahmu.’’ Ucapnya dan menyelimuti tubuh Jenie hanya sebatas pundak wanita itu, setelahnya mencium kening Jenie, ikut berbaring di sampingnya dan menarik tubuh Jenie untuk dipeluknya.
Jenie diam saja, wanita itu tak menolak atau protes dan hanya membiarkan Exel melakukan apa yang diinginkannya.
*****
Jenie tertawa kecil, menerima uluran tangan Exel dan masuk ke mobil.
‘’Jen.’’
‘’Hhmm.’’
‘’Kalau kita balik ke apartemen lagi kau setuju nggak?’’ tanya Exel dengan tangan yang fokus menyetir mobilnya.
‘’Kenapa?’’
‘’Aku hanya ingin kita belajar untuk mengurus rumah tangga kita sendiri, kau setuju tidak?’’
Jenie mengangguk, benar kata Exel, mereka harus belajar mandiri agar nantinya bisa menyelesaikan perkara rumah tangga mereka sendiri.
‘’Kalau kau tidak keberatan kita akan kembali ke apartemen 3 hari lagi.’’
__ADS_1
‘’Secepat itu?’’
Exel mengangguk, lebih cepat lebih baik
‘’Baiklah aku setuju.’’
‘’Ayo turun.’’ ajak Exel melihat Jenie yang masih diam padahal sudah hampir 3 menit lalu mereka tiba di parkiran kampus.
‘’Diluar maih sedikit ramai.’’ jawabnya dengan mata yang terus memperhatikan sekitar.
‘’Lalu?’’
Jenie terdiam, melihat Exel yang kini menatapnya ‘’ayo turun sekarang.’’ ajaknya lagi, kali ini Jenie menurut, turun dari mobil Exel, tentu saja hal itu menarik perhatian setiap mata dan hal itu menjadi heboh, menggemparkan seisi kampus, Exel yang dikenal tak pernah berpacaran kini sedang berjalan dengan menggandeng erat tangan Jenie, saking eratnya orang akan berpikir kalau Exel sangat takut jenie akan kabur darinya.
‘’Omg, aku nggak salah lihat? Kak Exel dan Jenie berjalan dengan bergandengan tangan?’’
‘’Kak Exel sam Jenie jadian?’’
‘’Top visual kita jadian sekarang, huhuhu aku senang untuk mereka tapi hatiku sedikit sakit.’’
‘’Sesama idola kampus, cocoklah ya, kita mah apa, cuma butiran momogi, nggak akan pernah pantas bersanding dengan kak Exel.’’
‘’Cocok banget mana sama-sama kaya lagi, kalau gini mana ada wanita yang bisa percaya diri merebut kak Exel?’’
‘’Kira-kira kapan jadiannya ya?’’
‘’Aduh aku nggak ikhlas deh, walau Jenie cantik tapi tetap saja berasa nggak ikhlas gitu kalau dia jadi sama kak Exel.’’
Terdengar bisik-bisik para mahasiswa sambil melihat Jenie dan Exel, Jenie terlihat sedikit tak nyaman, berbeda dengan Exel yang sama sekali tak peduli dengan semua bisikan itu, walau banyak yang memuji tapi beberapa orang juga terdengar mencibir hubungan mereka.
‘’Yaudah aku ke kelas dulu ya?’’ pamit Exel setelah mengantar Jenie ke kelasnya, awalnya Jenie menolak tapi Exel memaksa untuk mengantarnya, bukan didepan kelas, tapi pria itu mengantarnya ke dalam kelas bahkan sampai ke tempat duduknya.
‘’Manja banget sih jadi cewek, ke kelas aja dianterin, biar apa coba? Biar bisa pamer?’’ sindir Sasa, Jenie diam tak menjawab, walau bagaimana pun dulu Sasa adalah sabata baiknya, ia juga cukup menyayangkan apa yang terjadi diantaranya dan Sasa sekarang tapi ya mau bagaimana lagi, Sasa terlihat sangat membencinya bahkan untuk dekat dengannya lagi Sasa sama sekali tak mau.
‘’Dengar-dengar dulu Jenie merebut kak Exel dari Sasa.’’ Bisik seseorang pada teman di sampingnya saat mereka melihat Jenie dan Sasa yang kini saling bermusuhan satu sama lain.
Bersambung.....
__ADS_1