Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Wajah polos Jenie


__ADS_3

‘’Kapan terakhir kalinya kau ke pantai?’’ tanya Exel, kini keduanya sedang duduk memandang lautan dan ombak dengan bokong beralaskan pasir.


‘’Hhmm sepertinya beberapa tahun lalu, kalau nggak salah sama kamu deh.’’


‘’Oh ya?’’


Jenie mengangguk ‘’kau tidak bertanya padaku?’’ Tanya Exel, Jenie menggeleng ‘’aku yakin tanpa bertanya pun kau akan mengatakannya.’’ Ucapnya tertawa kecil.


‘’’Sepertinya kau sangat memahamiku.’’


‘’Bukan memahami tapi kau memang selalu seperti itu.’’


‘’Sama sepertimu, aku terakhir datang ke pantai bersamamu, saat itu, setelah kau meninggalkanku aku menjadi tak terlalu suka dengan pantai, karena pantai akan mengingatkanku tentangmu, tempat pertama yang kita datangi saat kita resmi pacaran adalah pantai, aku pertama kali menciummu juga di pantai, apa kau ingat?’’


‘’Tentu saja aku ingat, kau bahkan mencuri ciuman pertamaku saat itu.’’


‘’Mencuri? Bagaimana bisa kau bilang itu mencuri sementara kau juga membalas ciumanku, bukankah saat itu kau menikmatinya, setelahnya kau bahkan selalu memintaku untuk menciummu lagi.’’


‘’Mana ada, jangan mengarang cerita deh.’’ Elaknya dengan wajah yang semerah tomat, merasa sedikit malu dengan ucapan Exel.


‘’Kenapa wajahmu menjadi merah, hhmm?’’ mencubit gemas pipi Jenie dengan wajahnya yang sudah mendekati wajah Jenie, ingin menggoda wanita itu, dengan cepat Jenie mendorong Exel, mengipas wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.


‘’Apa kau tak merasa, udaranya sudah mulai panas.’’ beberapa kali membuang nafasnya dengan tangan yang masih mengipas wajahnya.


‘’Panas bagaimana, kau lupa kita sedang berada di pantai, udaranya bahkan sangat dingin, mengaku saja, kau malu kan mendengar ucapanku tadi.’’ Ucapnya yang kini sudah menggelitik bagian bawah dagu Jenie.


‘’Ih apaan sih.’’ Jenie menyingkirkan tangan Exel yang sedang menggelitiknya ‘’lagian siapa yang malu, orang udaranya memang panas kok, kalau kau tidak merasakannya berarti kau mati rasa.’’ Ucapnya masih mengelak, tak menjawab lagi, Exel hanya memberikan senyumnya dan membenarkan ucapan Jenie, tak lama menarik wanita itu dalam pelukannya, dengan rahangnya di letakan diatas kepala Jenie.

__ADS_1


‘’Pemandangannya akan lebih indah kalau kau melihatnya dengan seseorang yang istimewa, benar tidak?’’ tanya Exel dengan pandangan lurus kedepan, Jenie tersenyum, membelai lembut punggung tangan Exel yang sedang melingkar di pinggangnya. ‘’Kau benar, sekarang pemandangannya terlihat lebih indah, keduanya tersenyum dengan mata yang terus melihat lautan ditemani bintang dan bulan yang bersinar terang.


[Aku akan membunuhmu jika kau berani macam-macam pada wanitaku]


Pesan ancaman masuk ke nomor ponsel Sasa, ia tak tau siapa yang mengirimnya, mencoba menelponnya tapi nomor itu sudah tak aktif, apa Kevin atau Exel, pikirnya, selain dua pria itu ia sama sekali tak terpikir orang lain.


Sasa kembali membaca pesan itu sambil tersenyum dengan raut wajah sinisnya ‘’jika aku mati maka akan ku bawa wanita itu mati bersamaku.’’ Ucapnya kali ini dibarengi dengan tawa keras yang bergema di kamarnya, setelahnya ia masuk ke ruangan kecil yang tepat berada di samping kamar, memperhatikan banyak foto Jenie dan Exel  yang terpampang di hampir seluruh dinding. Hanya saja jika foto Exel tertata rapi, berbeda dengan foto Jenie yang dipenuhi dengan berbagai coretan bahkan ada beberapa yang sudah robek, yang ditancap pisau juga ada.


‘’Dasar wanita sialan.’’ ucapnya mengambil satu foto Jenie dan merobeknya setelahnya ia berteriak beberapa kali menyebut nama Jenie.


Tak jauh berbeda dengan Sasa, seorang pria juga sedang memegang foto Jenie, kalau Sasa merobeknya ia malah terlihat sedang mencium foto Jenie. ‘’Bersabarlah sebentar lagi dan aku janji akan membawamu pergi, kita akan hidup bahagia hanya ada kau dan aku.’’


*****


Pagi ini, ditemani deburan suara ombak, Jenie terbangun dalam pelukan Exel, ternyata semalam mereka tidak pulang dan memutuskan tidur di mobil karena terlalu asyik menikmati pemandangan.


Jenie membelai rahang Exel, mengangkat kepalanya dan mencium singkat pipi Exel, sedang asyik mengamati wajah Exel, tiba-tiba Exel menggeliat, dengan cepat Jenie menutup matanya, berpura-pura tidur, sedang Exel tersenyum gemas melihat wajah Jenie, mencubit pipi wanita itu. ‘’Tak perlu berpura-pura aku tau kau sudah bangun dari tadi, kau bahkan mencium pipiku tadi.’’


‘’Tentu saja, kau bahkan terus mengelus wajahku, kenapa, apa wajahku ini membuatmu sangat terpesona?’’ Goda Exel kembali mencubit pipi Jenie.


‘’Aish, kalau sudah bangun kenapa kau harus pura-pura tidur?"


‘’Kalau tidak melakukannya aku tak akan tahu kalau istriku ini ternyata sangat mengagumiku.’’


‘’Ck, PD sekali.’’


Exel tersenyum, menarik wajah Jenie dan beberapa kali mencium pipi kiri dan kanan Jenie secara bergantian membuat Jenie tertawa geli.

__ADS_1


Pagi itu diawali keduanya dengan tawa bahagia, saling bercanda dan menggoda satu sama lain.


‘’Exel aku lapar.’’ Ucap Jenie saat menghentikan tangan Exel yang sekarang sedang menggelitik pinggangnya.


‘’Mau makan apa?’’ tanyanya mengelus dan merapikan rambut Jenie setelahnya langsung menghidupkan mesin mobil. ‘’Bagaimana kalau omelet?’’ saran Jenie.


‘’Apa kau tau, restoran yang menjual omelet di dekat sini?’’


Jenie menggeleng, mengambil ponselnya untuk mencari restoran omelet terdekat, tapi sayangnya mereka tak bisa sarapan dengan menu itu, karena restoran rata-rata buka jam 10 pagi sedang sekarang baru jam setengah 8 dan tidak mungkin mereka menunggu apalagi mereka juga harus ke kampus, akhirnya keduanya memutuskan sarapan dengan bubur ayam yang mereka temui di pinggir jalan.


*****


‘’Ganti pakaianmu dulu.’’ Exel memberikan satu paperbag pada Jenie saat wanita itu akan turun dari mobil Exel.


‘’Kau mau kemana, ganti disini saja.’’ menahan tangan Jenie saat wanita itu kan kembali turun dari mobilnya.


‘’Kau tenang saja aku tak akan mengintipmu, aku akan menutup rapat mataku.’’ ucapnya dengan kedua tangan yang sudah menutupi seluruh wajahnya, Jenie pun tak protes lagi, pindah ke kursi belakang untuk mengganti pakaiannya, tanpa sepengetahuannya, Exel, pria itu sedang tersenyum melihatnya dari kaca spion tapi dia sama sekali tak sadar.


‘’Kau sangat cantik bahkan disaat tidak menggunakan makeup pun.’’ puji Exel melihat wajah polos Jenie, tadi pagi wanita itu hanya mencuci wajahnya menggunakan sabun pencuci wajah yang biasa dibawanya kemanapun ia pergi.


‘’Berhentilah memujiku, bukannya kau sudah biasa melihatnya.’’ Ucap Jenie melihat sekeliling dan turun dari mobil saat tak ada seorang pun di sekeliling mereka.


Kedatangan Jenie dengan wajah polosnya tanpa makeup membuat banyak orang berdecak kagum, merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki Jenie, tapi walaupun terpesona tetap saja mereka masih tak menyukai Jenie yang sudah di cap sebagai pe**cur oleh mereka.


‘’Menurutmu dengan kecantikan seperti itu, berapa tarif yang dipasang jenie?’’ Tanya seorang wanita memperhatikan Jenie yang dengan santainya melewati mereka.


‘’Mungkin seharga satu rumah?’’

__ADS_1


‘’Apa itu tak terlalu mahal.’’


Bersambung.....


__ADS_2