
Besoknya, Jenie dan Exel ke kampus bersama dan kembali menggunakan satu mobil.
‘’Udah baikan ternyata, padahal kupikir kita akan punya kesempatan lagi untuk mendekati kak Exel.’’
‘’Aduh kak Exel gantengnya kebangetan sih, salah nggak ya kalau aku sangat menyukainya seperti ini padahal dia udah punya cewek?’’
‘’Kak Exel emang nggak ada obatnya.’’
‘’So sweet banget sih mereka, Jenie juga makin kesini makin cantik aja.’’
‘’Aduh bidadariku sayang tak bisa kumiliki.’’
‘’Si Jenie udah cantik tapi belakangan ini lebih cantik ya.’’
‘’Kak Exel kok udah balikan sih, kami kan jadi patah hati.’’ Teriak seseorang membuat Jenie dan Exel tertawa.
‘’Jen.’’ Alisha berjalan dengan langkah sedikit lebar menghampiri Jenie yang sedang duduk di kelasnya dengan mata yang fokus membaca satu buku yang sama sekali tak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sebenatar lagi akan diikutinya, ya saat ini ia hanya sedang membaca satu novel romatis yang disukainya.
‘’Nih.’’ Alisha memberikan satu kotak kue pada Jenie, semalam Jenie memang menelpon Alisha dan katanya ingin makan kue cake yang dulu pernah dibuat Alisha untuknya.
‘’Kamu beneran buatin buat aku?’’ tanya Jenie kesenangan.
‘’Ya mau bagaimana lagi, aku nggak mau ponakanku ileran, yaudah aku langsung balik ke kelas ya.’’
Jenie terus melihat kue yang diberikan Alisha padanya, ingin sekali makan tapi takut kalau dosen keburu datang, entah kebetulan atau tidak tiba-tiba dosen yang sedang ditunggunya memberikan pengumuman kalau hari ini tidak sempat masuk karena ada urusan mendadak.
__ADS_1
‘’Yes.’’ Jenie bersorak kesenangan dengan tangan yang sudah membuka kotak kue itu, mulai memakannya dengan menutup kedua matanya untuk menikmati, kue buatan Alisha itu memang sangat enak bahkan menurutnya ia sama sekali tak akan bosan memakan kue itu setiap hari, rasanya sangat beda dari yang lain, tiba-tiba ia memiliki ide ingin membuat kue itu untuk keluarga dan suaminya, dengan cepat ia mengetik sesuatu ke layar ponselnya, Jenie mengirim chat pada Alsha yang berisi pertanyaan tentang resep yang digunakan wanita itu.
‘’Kamu sedang apa Jen?’’ tanya mama menghampiri dengan ekspresi herannya, ini pertama kalinya ia melihat Jenie bergulat di dapur seperti ini, entah apa yang akan dilakukan putri kesayangannya itu.
‘’Jenie mau bikin kue buat mama, papa sama Exel.’’ jawabnya yang sama sekali tidak melihat mamanya dan hanya fokus pada apa yang sedang dikerjakannya.
‘’Mimpi apa kamu?’’ tanya mama meledek tapi senang. ‘’Terus ini apa?’’ tanya mama lagi melihat beberapa rempah yang sudah dibersihkan Jenie.
‘’Malam ini Jenie juga mau masak untuk kalian.’’
‘’Beneran, Jen kamu lagi baik-baik aja kan?’’ mama menghampiri dengan nada khawatirnya, memutar tubuh Jenie untuk memastikan keadaan putrinya itu.
‘’Ih mama apaan sih, jenie baik-baik saja kali.’’ Protesnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
‘’Udah ah ma, kalau begini terus masakan jenie nggak jadi-jadi nih.’’
‘’Oke baiklah, kamu perlu bantuan nggak atau ada yang perlu mama bantu gitu?’’
Jenie menggeleng dan mengatakan ia akan melakukan semuanya sendiri, selama ini dia selalu berpikir kalau masak itu adalah suatu kegiatan yang merepotkan dan susah untuk dilakukan tapi setelah ia melihat beberapa resep di youtube ia jai berpikir ternyata memasak tidak sesulit itu, buktinya mereka bisa melakukannya dengan mudah kalau mereka bisa sudah pasti dia juga bisa.
Hampir jam 7 malam, Jenie sudah selesai menata semua makanan yang dibuatnya, sekarang diatas meja sudah tersedia sapi lada hitam, ayam serundeng, sayur kangkung tumis, dan sosis goreng.
‘’Hhmm kayaknya enak nih, hebat benget sih putri papa ini.’’ Puji papa Robert dengan mengusap puncak kepala Jenie, sedang Exel dan amma Catrine juga tersenyum senang melihat hasil masakan Jenie yang terlihat sangat menggugah selerah.
‘’Mau yang mana Xel?’’ tanya Jenie ingin mengambilkan untuk Exel, belum sempat Exel menjawab Jenie sudah memasukan semua jenis masakkannya ke dalam piring Exel, ingin Exel mencoba semua rasa masakannya dan begitupun dengan mama dan papanya.
__ADS_1
‘’Bagaimana rasanya?’’ tanya Jenie dengan sangat eksaited setelah ketiganya mencoba menu pertama yaitu sapi lada hitam, tak langsung menjawab, Exel, papa dan mama saling pandang terlebih dulu dan akhirnya mengangguk kecil kepala mereka.
‘’Yey, coba yang lain.’’ Ucap Jenie senang, dengan ragu-ragu ketiganya beralih ke menu kedua, ketiga dan keempat, Jenie terus bertanya dan mereka juga mengangguk walau sebenarnya rasa masakan Jenie sulit untuk dideskripsikan kadang terasa sangat asin kadang terasa sangat manis dan kadang juga terasa sedikit asam dan pedas.
‘’Kalau enak tambah lagi dong.’’ Jenie kembali menyendokan satu sendok penuh sapi lada hitam kedalam piring Exel.
‘’Lagi?’’ ucap Exel yang sebenarnya ingin sekali berteriak dan menolak makanan itu tapi tak tega pada istrinya, akhirnya Exel kembali memakannya, begitupun dengan kedua orang tuanya.
‘’Kalau begini ceritanya, setiap hari aku akan memasak untuk kalian, ternyata memasak tidak sesulit itu.’’ Ucap Jenie sambil tersenyum lebar, Exel dan kedua orang tua Jenie tersenyum samar, berteriak dalam hati mereka masing-masing.
‘’Setiap hari?’’ tanya Exel sedikit terbata yang langsung diangguki Jenie. ‘’Aku senang kalau kalian menikmati masakanku seperti sekarang, itu membuatku lebih bersemangat lagi.’’ Exel tak menjawab lagi dan hanya beberapa kali mengangguk kepalanya, dalam hati dia ingin sekli muntah.
‘’Jen kamu juga makan dong.’’ Ucap papa agar Jenie menyadari sendiri rasa masakannya.
Jenie menggeleng ‘’’Jenie lagi pengen nasi goreng pa jadi tadi Jenie sengaja meminta bik Imah untuk membuatkan Jenie nasi goreng.’’ Jawab Jenie yang kini sudah memakan nasi gorengnya sedang Exel dan kedua mertuanya kembali berhadapan satu sama lain, memutuskan untuk menyudahi makan malam mereka karena tak sanggup lagi kalau harus terus menelan rasa masakan Jenie.
‘’Kok udahan, tumben banget?’’ tanya Jenie yang melihat seperinya malam ini Exel dan kedua orang tuanya makan sangat sedikit, tak seperti biasanya.
‘’Maaf Jen soalnya tadi sebelum aku pulang, Andre ngajakin makan bakso dulu makanya malam ini makannya agak sedikit.’’ Alasan Exel padahal ia merasa sangat lapar sekarang, begitupun mama dan papa mereka memberi alasan masing-masing agar Jenie tak curiga.
‘’Oh ya tunggu bentar.’’ Jenie berdiri dari duduknya, berjalan menuju kulkas dan kembali lagi dengan membawa beberapa potong cake di tangannya.
‘’Oh Tuhan apalagi ini?’’ ucap Exel dan kedua orang tua Jenie kompak dalam hati masing-masing.
Bersambung....
__ADS_1