
‘’Sialan, aku pastikan kau akan menjadi milikku.’’ Geram Mona dalam hati.
‘’Jangan galak-galak gitu Xel, dengar-dengar dia anaknya pemilik kampus, lumayan tuh keluarganya tajir melintir bro.’’ Ucap Andre memberitahu.
‘’Anak pemilik kampus?’’ Ucap Exel dengan heran, kenapa Mona bisa jadi anak pemilik kampus, cerita apalagi ini?
‘’Gosipnya sudah menyebar, kemaren dia sendiri yang mengatakannya."
‘’Cih.’’ Ucap Exel dengan nada meremehkan.
‘’Beneran Xel, gosipnya udah menyebar, satu kampus udah tau, mending kau terima aja deh si Mona lumayan kan bisa jadi menantu keluarga Dawson.’’
‘’Hei sepertinya kau lupa siapa aku.’’
’’bukan gitu bro tapi kalo tajir ketemu tajir kan.’’ Andre memberikan jempolnya sedang Exel hanya tertawa sinis. ‘’Aku nggak perlu yang palsu karena sudah punya yang asli.’’ Ucapnya santai yang membuat Andre bingung.
‘’Apa sih, nggak ngerti aku.’’
‘’Nanti juga ngerti, yaudah keperpustakaan yuk.’’ ajak Exel
*****
[Jen nanti jadi ke rumah sakit lagi kan?’’]~kak Kevin
[maaf kak sepertinya Jenie nggak bisa]~Jenie
[kenapa kamu sibuk ya?]~kak Kevin
Jenie hanya membaca dan tak lagi membalas pesan itu.
‘’Hei pe**cur, bisa nggak, nggak usah tebar pesona, sok kecantikan banget sih.’’ Ucap Mona tiba-tiba menghampiri Jenie, pasalnya beberapa menit yang lalu ia mendapat kiriman foto Jenie dan Exel yang sedang masuk ke Mouse & Rabbit Cafe.
Jenie menatapnya santai, menopang kepala bagian kanannya dengan satu tangannya. ‘’Coba kau perhatikan bagian mana dariku yang pantas kau bilang sok kecantikan, bukankah kata itu cocok untukmu?’’
‘’Kau, sombong sekali kau, sadar nggak sih, wanita murahan sepertimu sangat tidak pantas berbicara denganku.’’
‘’Oh ya, tapi bukannya kau yang datang dan mengajakku bicara?’’
‘’Siapa yang mengajakmu bicara, aku kesini untuk memperingatkanmu, tahu dirilah sedikit dan jangan pernah mendekati Exel.’’
__ADS_1
‘’Memangnya kamu siapanya Exel ya?’’
‘’Kau.’’ geram Mona. ‘’lihat saja aku pasti akan membuat Exel menjauh darimu dan juga akan kupastikan kau dikeluarkan dari kampus ini.’’
‘’Jangan hanya mengancam tapi buktikan, Aku menunggu waktu itu dengan senang hati.’’ Ucapnya dan meninggalkan Mona, padahal makanannya baru saja sampai tapi ia sudah kehilangan nafsu makannya karena wanita itu.
[nanti aku anter pulang ya]~kak Kevin
[makasih kak, tapi Jenie pulangnya naik taxi saja]~Jenie
Kevin membanting ponselnya, ada apa dengan Jenie, kenapa belakangan ini terasa menjauh darinya?
‘’Jenie Jenie Jenie kau harus menjadi milikku.’’ Teriak Kevin, belakangan ini ia sadar kalau sepertinya sudah sangat menyukai Jenie dan tak lagi memiliki perasaan pada Sasa
Ceklek
Bunyi pintu terbuka menampilkan seorang wanita yang ternyata adalah Sasa.
‘’Ngapain kamu disini? Pulang deh aku lagi nggak mood.’’
‘’Kamu kenapa sih, marah sama aku?’’
‘’Apa maksudmu, aku mencintaimu Kevin.’’ Sasa mendekat dan memeluk Kevin tapi Kevin mendorongnya. ‘’Dan kau juga mencintai Exel, begitu?’’
‘’Apa maksudmu?’’
‘’Ck aku sudah tau kenapa kamu mendekatiku dan alasanmu ingin mencelakai Jenie, sekarang aku sama sekali tidak menyukaimu lagi apalagi mencintaimu, jadi kau pergi dari sini sebelum aku mengusirmu.’’
‘’Kenapa, kau mengusirku karena kau sudah mencintai wanita itu? Iya Kevin?’’
‘’Bukan urusanmu.’’
‘’Lihat saja aku akan menghancurkan wanita itu tepat didepan matamu dan Exel.’’
‘’Berani kau melakukannya maka aku akan membunuhmu.’’ Mencengkram kuat leher Sasa hingga wajahnya berubah merah.
Bukannya meminta dilepaskan Sasa malah semakin menantang. ‘’Kau pikir aku takut, akan kupastikan kalian melihat kehancurannya.’’ lalu menendang junior Kevin dengan keras hingga pria itu berteriak kesakitan yang otomatis melepaskan cengkraman tangannya dari leher Sasa.
Sasa kabur, ia sangat marah, kenapa Jenie dan selalu Jenie, kenapa wanita itu selalu saja merusak kebahagiaannya? Dengan rasa benci semakin besar Sasa melajukan kembali mobilnya ke kampus.
__ADS_1
*****
‘’Ngapain Sa?’’ tanya Jenie menghampiri Sasa yang kini sudah duduk diam di dalam kelas, Jenie mengambil lipstik Sasa yang terletak diatas meja dan memakainya, wanita itu beberapa kali mengatupkan bibirnya.
‘’Kamu apa-apaan sih Jen, kenapa pakai lipstik ku?’’ Bentak Sasa yang membuat Jenie kaget, ada apa dengan sahabatnya itu, apa sedang memiliki masalah, apa hubungannya dengan pria yang dulu diceritakannya tidak berjalan lancar? tebak Jenie.
‘’Maaf Sa, aku janji akan membelikannya lagi untukmu.’’
Sasa tertawa ‘’kau pikir kau siapa bisa seenaknya mengambil milikku?’’ tak bisa lagi menahan rasa kesalnya, Sasa mendorong tubuh Jenie yang tentu saja membuat Jenie kaget, tak hanya Jenie beberapa orang yang ada di dalam kelas juga kaget.
‘’Kamu apa-apaan sih Sa, oke aku minta maaf karena sudah memakai lipstik mu tapi harusnya kau tak perlu marah seperti ini.’’
‘’Tak perlu marah katamu? Kau selalu merebut apa yang kumiliki dan kau bilang aku tak perlu marah?’’
‘’Bicara apa sih Sa, sejak kapan aku merebut milikmu?’’
‘’Jujur saja kau bahkan tidak pernah benar-benar menganggapku sahabat kan?’’
‘’Kau sedang berbicara apa sih Sa?’’ Jenie ingin menenangkan, tapi sama sekali tak berhasil, omongan Sasa malah semakin ngelantur.
‘’Sa mau kemana?’’ Teriak Jenie saat Sasa berlalu keluar dari kelas.
‘’Sa kamu kenapa sih, ada masalah? Cerita dong sama aku.’’ Jenie menyusul Sasa dan menahan tangannya
Sasa berbalik, menatap tajam pada Jenie, mendekatkan wajahnya. ‘’Akan kupastikan kau tak akan mendapatkan keduanya baik itu Exel ataupun Kevin.’’ Ucapnya dengan seringai liciknya membuat Jenie terdiam, tubuhnya membeku tak mengerti dengan ucapan Sasa, kenapa Sasa tiba-tiba jadi membahas Kevin dan Exel, memangnya apa hubungan kedua pria itu dengan Sasa?
‘’Apa maksudmu, kenapa kau berbicara seperti ini?’’
Sasa tersenyum sinis, mendorong tubuh Jenie, meninggalkan Jenie yang masih membeku di tempatnya, tak tau harus berkata apa, Jenie sangat bingung dengan apa yang sekarang terjadi.
*****
‘’Kamu ngapain, kenapa diam begitu, terpesona ya?’’ bisik Exel menghampiri Jenie yang masih juga belum bergerak dari tempatnya sejak Sasa meninggalkannya hampir 2 menit yang lalu, sebenarnya dari tadi Exel memperhatikan keduanya dan memutuskan menghampiri Jenie setelahnya, menarik Jenie lorong sempit yang sedikit gelap.
‘’Hhmm, kamu kenapa disini?’’ Jenie melirik kanan kiri, bingung sedang berada dimana, wanita itu tidak sadar kalau tadi Kevin menariknya ke lorong.
Bukannya menjawab, Exel malah tersenyum, mengusap kepala Jenie dan PLAK, pria itu tertawa kecil setelah menyentil kening Jenie sedang Jenie langsung memegang keningnya dan mencibik kesal pada Exel.
Bukannya berhenti Exel malah menarik gemas pipi Jenie yang membuat wanita itu semakin melotot kesal. ‘’Kau apa-apaan sih?’’
__ADS_1
Bersambung.....