
‘’Kau mau ikut atau tidak?’’ tanya papa Bowo lagi, Exel pun dengan cepat berdiri, mencoba membuang pikiran-pikiran aneh yang kini datang menghampirinya.
Hampir 3 jam, Exel, appa Bowo dan papa Robert bersama beberapa orang kepercayaan mereka tiba di hutan, semuanya memutuskan untuk berpencar.
‘’Jen, Jenie, Jenie, Jenie.’’ kamu dimana?’’ Teriak Exel mencari keberadaan Jenie, kebetulan ia melihat sebuah bangunan lama, dengan cepat berlari kesana berharap Jenie ada di dalam bangunan itu., tapi hasilnya nihil, ia sudah mencari ke seluruh penjuru bangunan tapi sama sekali tak menemukan jejak Jenie.
‘’Kamu dimana?’’ ucapnya lagi, keluar dari bangunan itu dan mencari Jenie kembali, tak jauh dari hutan Exel melihat sebuah air terjun, betapa kagetnya ia melihat sepatu Jenie ada di dekat air terjun itu, bersama dengan sebuah ponsel, Exel menghampiri, mengambil sepatu dan ponsel itu, memeriksa isi ponsel.
‘’Oh s**t makinya lagi saat sadar mereka sedang dikerjai oleh si penculik, si culik memang sangat pintar ia bahkan sudah memikirkan hal untuk mengecoh mereka karena tau pasti ponsel yang digunakannya untuk mengirim video akan dilacak.
‘’Xel, papa mama tolongin Jenie, Jenie takut disini.’’ Jenie menangis berharap suami dan keluarganya akan segera menemukannya, ia sangat yakin sekarang mereka pasti sedang sibuk mencarinya.
Ceklek
Jenie melihat pak Reza masuk dan mendekatinya, duduk di samping ranjang, memberikan satu map padanya.
‘’Tandatangan sekarang juga.’’ suruh pak Reza.
Jenie mengambil dokumen itu, membacanya dengan teliti lalu membuangnya, Jenie menatap pak Reza dengan penuh emosi, bagaimana bisa pria itu menyuruhnya untuk menandatangani surat gugatan cerai, ia bahkan tak pernah lagi berpikir untuk bercerai atau hidup terpisah dari Exel tapi orang didepannya ini dengan semena-mena menyuruhnya untuk menceraikan suaminya.
‘’Aku tidak akan menandatanganinya.’’ membuang wajahnya karena tidak mau melihat pak Reza.
__ADS_1
‘’Kau yakin tidak mau menandatanganinya?’’
Jenie manatap pak Reza lagi dengan wajah tak sukanya. ‘’Aku sama sekali tak akan menandatanganinya, seumur hidupku aku akan menjadi istri dari seorang Exel Richard bahkan sampai nafas terakhirku.’’
‘’Kau yakin?’’ Pak Reza berucap dengan seringai di bibirnya, Jenie yakin pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu.
‘’Sebenarnya apa yang kau mau dariku, uang? Keluargaku pasti akan memberikan yang banyak untukmu.’’
‘’Uang?’’ pak Reza tertawa, menggeser posisinya mendekat pada Jenie, memutar kepala Jenie agar menghadapnya, ingin menyentuh wajah wanita itu tapi langsung ditepis Jenie.
‘’Aku hanya menginginkanmu dan sama sekali tidak peduli dengan banyaknya uang yang dimiliki keluargamu.’’
‘’Cepat tanda tangan.’’ pak Reza memberikan dokumen yang tadi dibuang Jenie, Jenie kembali membuang wajahnya. ‘’Jangan mimpi sampai kapanpun aku tidak akan menandatanganinya.’’
‘’Apa maksudmu?’’ bentak Jenie dengan nada tak sukanya sedang pak Reza hanya tersenyum, ingin membelai wajah Jenie tapi kembali ditepis oleh wanita itu.
‘’Aku tau kau sedang hamil sekarang, jadi cepat tandatangani dokumen perceraian itu atau aku akan membuatmu kehilangan anak yang bahkan belum pernah kau lihat itu.’’ Ancam pak Reza, Jenie geram tapi sama sekali tak bisa berbuat apa-apa, sekarang prioritasnya adalah membiarkan kandungannya tetap aman sambil menunggu Exel dan keluarganya datang menyelamatkannya, akhirnya dengan menutup matanya Jenie setuju untuk menandatangani surat gugatan perceraian itu, ia yakin Exel pasti akan sangat terkejut tapi ia berharap Exel mengerti akan keputusannya, ia melakukan semuanya untuk kebaikan calon buah hati mereka.
‘’Apa yang kau lakukan disini?’’ tanya Exel melihat tidak suka pada seseorang yang kini berdiri di depan pintu apartemennya.
‘’Aku datang karena ingin bertemu Jenie, aku mengkhawatirkannya, dia tidak masuk kuliah bahkan nomor ponselnya sama sekali tidak aktif.’’
__ADS_1
‘’Ck, aku tidak perlu berpura-pura didepanku karena aku sama sekali tak akan tertipu denganmu.’’
Sasa menyeringai, berjalan beberapa langkah lebih mendekat pada Exel. ‘’kau memang sangat mengerti tentangku.’’ Ucapnya sambil tersenyum bangga, ingin memeluk Exel tapi Exel mendorongnya hingga hampir jatuh.
‘’Kenapa kau kasar sekali, aku datang karena aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?’’ Ucapnya sambil memegang satu pergelangan tangan yang tentunya langsung ditepis Exel, kembali mendorong tubuh Sasa dan ingin menutup pintu apartemennya tapi satu kaki Sasa sudah lebih dulu menghalau, wanita itu memasukan satu kakinya hingga Exel sama sekali tak bisa menutup pintunya.
‘’Apa maumu, pergi dari sini atau aku akan membuatmu malu dengan meminta petugas keamanan menyeretmu keluar.’’ ucap Exel yang kini sudah menelpon petugas keamanan apartemen.
‘’Xel jangan usir aku kumohon, aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu bahkan lebih besar dari cinta Jenie padamu, aku bisa membuatmu lebih bahagia dibandingnya, aku bisa memberimu seluruh hidupku yang jenie bahkan mungkin tidak mau memberikannya untukmu, jadi please jangan usir aku, biarkan aku tetap disampingmu.’’ mohon Sasa sambil menangis, ia sama sekali tak peduli lagi akan citranya, tak peduli walau beberapa orang sedang melihatnya memohon pada Exel, disaat yang sama petugas keamanan sampai di depan unit apartemen Exel, dengan cepat Exel meminta mereka untuk membawa Sasa keluar dan meminta petugas keamanan untuk tidak mengizinkannya masuk.
‘’Mba yang kemarin duduk di lobby bersama seorang pria ya?’’ ucap salah satu petugas keamanan membuat Exel kaget, ia menghentikan petugas keamanan itu untuk bertanya.
‘’Apa benar kau melihatnya di lobby kemarin, jam berapa?’’ tanya Exel yang seperti curiga pada Sasa.
‘’Hhmm.’’ petugas keamanan itu terlihat berpikir ‘’mungkin sekitar jam 5 sampai setengah 6 sore.’’ jawabnya.
‘’Jangan mengada ngada deh pak, saya bahkan baru pertama kali datang ke apartemen ini.’’ Jawab Sasa tapi Exel dapat menangkap raut gelisah dari wajah wanita itu.
‘’Apa saya salah lihat ya, tapi sepertinya nggak kok, itu benar-benar mbak.’’
‘’Sudah kubilang itu bukan aku, kenapa ngeyel sih, kau ingin dipecat karena pekerjaanmu yang sangat tak becus seperti ini?’’ Ancam Sasa membuat petugas keamanan itu takut, ia pun meminta maaf dan menyetujui ucapan Sasa, mungkin dia memang salah mengira.
__ADS_1
‘’Memangnya kau siapa sampai mengancam untuk memecatnya, kau saja datang dan mengganggu disini, jadi bahkan jika dia mengusirmu sekalipun dia sama sekali tidak akan dipecat karena dia sudah melakukan tugasnya dengan baik dan satu lagi, ini apartemen keluargaku, hanya aku, istriku dan keluargaku yang berhak memecat mereka, kau mengerti?’’ ucapnya lalu menyuruh petugas keamanan untuk kembali menyingkirkan Sasa dari hadapannya, kali ini bukan untuk mengusirnya tapi ia meminta mereka untuk mengantarkan Sasa ke bawah karena sebentar lagi beberapa orang kepercayaan keluarganya akan datang dan menjemput Sasa, ia yakin Sasa pasti berhubungan dengan kasus penculikan Jenie.
Bersambung.....