
‘’Kau tenang saja dia tak akan pernah menyebutkan nama kita karena dia sama sekali tak tau nama apalagi wajah kita.’’
‘’Maksudmu?’’
‘’Kau ini bodoh sekali, apa kau lupa kita berkomunikasi dengannya menggunakan nomor ponsel baru dan setelahnya kita langsung mematahkan nomor itu dan membuangnya, untuk bayarannya kita hanya meletakkannya di dus dan menyuruhnya datang mengambilnya tanpa kita yang bertemu langsung dengannya, jadi kau tenang saja.’’
‘’Pintar juga kau.’’ Puji Sasa
‘’Jelas dong, Mona gituloh.’’ Ucapnya dengan bangga sedang Sasa melirik sinis padanya, untung saja dia membutuhkan Mona kalau tidak mana mau dia bekerja sama dengan wanita seperti Mona.
*****
‘’Jenie bagaimana keadaan Exel?’’
Jenie menggeleng, memeluk mama dan papa Exel dengan Andre yang terus memperhatikan interaksi itu.
Tak lama dokter keluar, mengatakan Exel baik-baik saja dan mengizinkan keluarga untuk melihatnya, mereka menunggu hampir 2 jam tapi Exel belum juga sadarkan diri, menjadi khawatir, dokter sudah mengatakan Exel baik-baik saja tapi kenapa pria itu belum sadar juga?
‘’Jen Jen Jenie.’’ Panggil Exel begitu membuka matanya.
‘’Aku disini, kenapa, apa ada yang sakit?’’ tanya Jenie dengan nada khawatirnya, wanita itu menggenggam erat satu tangan Exel.
‘’Kamu baik-baik saja kan?’’ ucapnya membelai wajah Jenie, Jenie mengangguk sambil menangis. ‘’Jangan menangis dong, jelek tau.’’
‘’Kamu baik-baik saja kan Xel, bilang mama mana yang sakit.’’ Ucap mama Sita dengan nada khawatir melihat seluruh tubuh Exel dari kaki sampai kepala.
‘’Xel coba ceritakan bagaimana hal ini bisa terjadi.’’ Tanya papa yang langsung mendapat peloton dari sang istri.
‘’Kamu tuh, anaknya baru sadar harusnya tanya keadaannya dulu.’’
‘’Tapi ini juga penting sayang, biar kita bisa segera melacak pelakunya.’’
‘’Bukannya kamu sudah menyuruh orang untuk mengambil rekaman CCTV, sudahlah jangan membuat putraku berpikir, kepalanya sedang sakit.’’
Tak lama terdengar bunyi pintu terbuka
‘’Bagaimana keadaanya, apa pelakunya sudah tertangkap?’’ tanya papa Robert saat masuk ke kamar Exel.
‘’Kamu baik-baik saja kan Xel, apa yang sakit?
‘’Nggak ma, Exel nggak pa-pa kok.’’
__ADS_1
‘’Kalian berdua.’’ Tunjuk mama Catrine pada papa Robert dan papa Bowo. ‘’awas saja kalau kalian tak bisa menemukan pelaku yang hampir menabrak menantuku.’’
‘’Bukan Exel pa, ma tapi targetnya Jenie.’’ Ucap Exel membuat keempat paruh baya itu terkejut.
‘’What!! Apa maksudmu?’’ tanya keempat orang itu dengan nada terkejutnya, Exel pun menjelaskan apa yang terjadi.
‘’Brengsek.’’ Ucap papa Robert Geram, pria itu mendekat dan memeluk erat Jenie. ‘’Akan kupastikan dia mendapatkan pelajaran yang lebih karena sudah berniat mencelakai putriku, kamu nggak pa-pa kan sayang?’’ papa mengelus wajah Jenie, penampilannya terlihat sedikit kusut, mama Catrine juga mendekat dan memeluk Jenie begitu juga dengan mama dan papa mertuanya.
‘’Hhmm berani sekali dia ingin mencelakai menantuku.’’ Ucap papa Bowo dengan wajah menakutkannya, pria paruh baya itu terkenal sangat kejam bahkan kekejamannya jauh diatas kekejaman papa Robert, papa Bowo bahkan tak segan-segan membunuh siapa saja yang sudah mengganggu ketentraman keluarganya.
Keluarga itu sama sekali melupakan keberadaan Andre, sementara Andre dari tadi terus memperhatikan, ia tak menyangka Jenie adalah putri tunggal Robert Dawson dan apa tadi menantu? Ada apa ini, dia sama sekali tak mengerti.
‘’Oh iya pa tadi kak Andre yang menolong kami.’’ Ucap Jenie saat teringat akan keberadaan Andre, serempak semuanya melihat dan berterimakasih pada Andre.
‘’Xel tolong jelaskan, aku kurang mengerti situasinya.’’ Pinta Andre saat Jenie, kedua orang tuanya dan orang tua Exel pergi menemui dokter, walau tak apa-apa tetap saja mereka ingin tau kondisi Exel secara detail.
‘’What! Jenie istrimu? Sejak kapan?’’
‘’Hampir dua bulan lalu.’’
‘’Tega banget, nikah nggak ngundang-ngundang.’’
‘’Sorry sorry habisnya mendadak terus Jenie juga nggak mau ada orang kampus yang tau hubungan kami.’’
Exel mengangkat dua tangannya karena dia juga tak tau apa alasan Jenie masih ingin menyembunyikan pernikahan mereka.
‘’Tapi benar Jenie anaknya Robert dawson? Terus si Mona gimana?’’
‘’Ya pikir aja sendiri.’’
‘’Astaga kalau anak-anak kampus tau bakalan heboh banget nih.’’
‘’Jangan sampai ada yang tau dulu.’’
‘’Oke tenang saja.’’
‘’Kak Andre sekali lagi terimakasih ya.’’ Ucap Jenie saat masuk ke ruang rawat Exel yang di belakangnya menyusul para orang tuanya.
Hampir setengah jam berbincang, Andre pamit pulang, Jenie dan Exel juga meminta para orang tua pulang, keempatnya pulang tapi menempatkan hampir 10 bodyguard di depan kamar Exel.
Dirumah masing-masing, papa Robert dan papa bowo sedang melakukan panggilan telepon, mereka sudah mengetahui siapa dalang penabrakan itu, tapi yang mereka bingung kenapa pria itu ingin menabrak Jenie padahal ia sama sekali tak pernah berhubungan dengan Jenie sebelumnya, pasti ada dalang di balik kejadian ini, mereka akan memastikannya besok.
__ADS_1
‘’Aku tak mengerti kenapa ada orang yang ingin mencelakai putriku, dia bahkan tak pernah mengganggu orang lain.’’
‘’Kau tenang saja Rob, sekarang dia sudah berada di tanganku, kita akan mengetahui dalangnya besok.’’
‘’Cepat juga kau bergerak, baiklah aku akan kesana sekarang.’’
‘’Jangan malam ini, besok pagi saja, biarkan dia menikmati ketenangannya yang akan berakhir dalam hitungan jam ini.’’
*****
Besoknya, pagi-pagi sekali papa Robert dan papa Bowo sudah menghampiri si penabrak yang kini terkurung dan dibawah pengawasan orang-orang kepercayaan papa Bowo.
‘’Kalian siapa?’’ Bentak si penabrak itu pada beberapa orang yang diyakini sebagai orang yang menculiknya.
‘’Kalian mau apa, kenapa menculikku?’’
‘’Hei aku sedang bertanya pada kalian.’’
‘’Tolong lepaskan aku, aku sama sekali tak pernah mengganggu kalian.’’
‘’Tapi kau sudah mengganggu seseorang yang tidak seharusnya kau ganggu, jadi bersiaplah membayarnya dengan nyawamu.’’ Ucap salah satu penculik dengan tawanya.
‘’Apa maksud kalian?’’
‘’Hei jangan tinggalkan aku disini.’’
‘’Tolong lepaskan aku.’’ Teriaknya saat para pencuri meninggalkannya dan menguncinya di sebuah ruangan yang bisa dibilang menakutkan, dindingnya begitu kokoh tak ada cela untuknya bisa kabur, pintunya pun terbuat dari besi yang sangat tebal dan sangat mustahil untuk mendobraknya.
*****
‘’Bangunkan.’’ Perintah papa Robert, tak lama seseorang menyiramkan air pada si penabrak hingga membuatnya bangun.
‘’Kalian siapa, apa kalian yang menyuruh mereka menculikku?’’ bentaknya pada papa Robert dan papa Bowo yang hanya tersenyum sinis di depannya.
‘’Kenapa? Kau pikir kami tak bisa menemukanmu?’’ Ucap papa Robert dengan wajah horornya yang sepertinya siap untuk menjadi predator.
‘’Kalian siapa, aku tak memiliki urusan apapun dengan kalian.’’
‘’Kau hampir menabrak putriku, bagaimana bisa kau berkata kita tak memiliki urusan apapun.’’
‘’Putrimu?’’ Ucapnya berpikir, teringat kemarin dia memang hampir menabrak seorang wanita atas perintah seseorang yang sama sekali tak dikenalnya.
__ADS_1
Bersambung.....