
‘’Bagaimaná keadaanmu Xel?’’ Tanya mama lagi
‘’Dia sudah sangat sehat buktinya dia sudah bisa mengerjaiku lagi.’’ bukan Exel yang menjawab tapi Jenie.
‘’Memangnya apa yang Exel lakukan padamu?’’ Tanya papa
‘’Hhmm itu pa, hhmm.. Udah ah nggak usah dibahas.’’ Jenie salah tingkah dan langsung memeluk erat pinggang papanya
‘’Loh kamu nih lama-lama aneh juga, jadi mirip mamamu.’’
‘’Loh kok jadi bawa-bawa aku sih, memangnya aku aneh dari mananya?’’ Protes mama Cantrine dengan nada tidak sukanya terhadap ucapan sang suami.
‘’Sudah ah mama papa berantem mulu, nggak malu apa sama aku?’’ Tanya Jenie yang ingin menyudahi pertengkaran yang akan terjadi.
‘’Rob, Cat, kalian disini? Xel, Jen kok nggak kasih tau papa mama kalau....’’ Ucap papa Bowo menghampiri dengan mama Sita berjalan disampingnya.
‘’Belum sempat pa, lagi asyik berantem soalnya.’’ Jawab Jenie ingin bercanda tapi dengan gaya menyindir.
‘’Siapa, mama sama papa kamu?’’ Tanya mama Sita yang diangguki Jenie
‘’Mana ada berantem Jen, kamu ini ada-ada saja.’’ Ucap papa Robert lagi.
Belum sampai 1 jam mengobrol Jenie sudah tertidur dengan kepala yang bersandar di pundak kanan Exel, papa Robert berdiri untuk menggendong Jenie ke kamar tapi langsung ditarik oleh mama Catrine.
‘’Mau kemana kamu?’’
‘’Mau memindahkan putriku memangnya apa lagi, kau tidak lihat dia tidur dengan posisi duduk, kalau badannya sakit bagaimana?’’
‘’Putri tersayangmu itu sudah punya suami Robert, kau lihat suaminya sedang duduk di sampingnya jadi kenapa harus kau yang menggendongnya, berilah kesempatan untuk suaminya.’’
Mendengar itu papa Robert kembali duduk, membiarkan Exel yang menggendong Jenie, tak lama setelah memindahkan Jenie ke kamar, Exel kembali keluar, ia menanyakan tentang pelaku penabrakan yang tentu saja membuat mama Catrine dan mama Sita menggebu-gebu, kedua wanita itu tak henti-hentinya mengomel setelah Exel menyebutkan tentang hal itu.
__ADS_1
‘’Loh kemana mereka?’’ Tanya mama Catrine pada mama Sita karena ketiga pria yang tadi bersama mereka tak ada lagi di ruangan itu, mama Sita juga sama bingungnya, tak tau sejak kapan ketiga pria itu meninggalkan mereka, sepertinya keduanya terlalu asyik mengomel.
‘’Jadi bagaimana pa, apa dia tidak mengatakan siapa yang menyuruhnya?’’ Tanya Exel.
Papa Robert dan papa Bowo mengangguk kompak.
‘’Wanita itu sudah pasti akan membayar semuanya karena sudah berani berurusan dengan keluarga kita’’ Ucap papa Bowo dipenuhi amarah, baginya Jenie bukan hanya sekedar menantu tapi dari dulu, dari Jenie kecil dia dan mama Sita sudah menganggap Jenie sebagai putri mereka.
‘’Wanita? Maksud papa?’’ Tanya Exel yang memang belum diberi tahu kalau yang menyuruh si penabrak adalah seorang wanita, papa Robert pun menjelaskan pada Exel.
Pria itu terdiam, tiba-tiba ia teringat akan Sasa, apa wanita itu yang melakukannya, tapi apa sampai harus separah ini, walau bagaimana pun Jenie pernah menjadi sahabatnya, apa sampai harus membahayakan nyawa Jenie seperti sekarang? Pikir Exel masih menduga-duga, dia tak punya tersangka lain selain Sasa.
*****
Besoknya
‘’Mon si Jenie tuh.’’ Tunjuk teman Mona pada Jenie yang sedang berjalan dengan memeluk beberapa buku di tangannya.
‘’Hei pe**cur mau kemana kamu?’’ Mona dan dua temannya menghalangi jalan Jenie.
‘’Kenapa kau masih datang ke kampus juga, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tak datang lagi ke kampus ini, apa perintahku kurang jelas?’’ Mona, wanita itu menyilangkan dua tangannya didepan dada, melihat Jenie dengan tatapan meremehkan.
‘’Memangnya kau siapa, kenapa aku harus mengikuti perintahmu?’’
‘’Kau tak tau siapa aku, bukankah belakangan ini kampus kita sedang heboh karena beritaku?’’
‘’Berita apa ya, aku nggak update soalnya kalau untuk berita yang kurang penting.’’
‘’Kasih pelajaran Mon agar wanita sombong ini tau siapa kamu.’’ Ucap teman Mona lagi dengan nada sombongnya, sama seperti Mona, setelah mengetahui Mona adalah putri dari Robert Dawson kedua teman yang biasanya mengikuti Mona juga menjadi lebih sombong bahkan lebih suka menindas orang-orang yang tak mereka sukai.
‘’Minggir deh, aku sibuk nggak ada waktu untuk orang nggak penting seperti kalian.’’ Jenie menyingkirkan tubuh Mona hingga wanita itu hampir jatuh kalau saja temannya tak langsung menarik satu tangannya.
__ADS_1
‘’Berani sekali kau memperlakukan Mona seperti ini, kalau papanya tau habis kau.’’
‘’Oh ya, masa sih, kok aku nggak yakin ya, aku malah penasaran pengen ketemu sama papanya.’’ Ucap Jenie dengan nada menantangnya
‘’Kau pikir kau siapa, orang rendahan sepertimu tak mungkin bisa bertemu dengan seorang pengusaha ternama seperti papa Mona.’’
‘’Oh ya, sayang sekali kalau begitu.’’ balas Jenie cuek, wanita itu kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan tiga orang tak penting itu.
‘’Awh apa yang kau lakukan, kenapa kau menarik rambutku?’’ teriak Jenie merasa sakit karena Mona yang sudah menarik rambutnya,
‘’Apa yang kau lakukan?’’ Teriak Kevin menghempas kasar tangan Mona, memeriksa kepala Jenie kalau-kalau terjadi apa-apa pada wanita itu.
‘’Kalian.’’ Geramnya menatap tiga wanita itu dengan tatapan menusuk ‘’apa masalah kalian, kenapa selalu mencari perkara?’’
Tak langsung menjawab Mona tertawa kecil melihat Kevin ‘’masalahnya adalah aku sama sekali tidak menyukai kehadirannya, jadi selama dia berada di sekelilingku maka akupun akan selalu mengganggunya.’’ Jawab Mona dengan cuek, wanita itu dengan santai memainkan jari-jari kukunya.
‘’Kalau kau tidak menyukaiku ya kau saja yang keluar dari kampus ini, kenapa harus aku?’’
‘’Kau gila ya bagaimana bisa Mona keluar dari kampus milik keluarganya sendiri?’’ Geram teman Mona dengan nada meremehkan, bagaimana bisa Jenie yang hanya wanita biasa berani mengusir anak dari pemilik kampus?
‘’Oh ya, kau yakin?’’ balas Jenie penuh arti
‘’Apa maksudmu?’’ Tanya Mona dengan perasaan sedikit khawatir, takut Jenie mengetahui sesuatu.
Jenie hanya mengangkat kedua pundaknya, berbisik ‘’bukankah kau sendiri yang lebih tau dibanding aku.’’ Ucapnya lalu memberikan senyum smirknya pada Mona, sedang Mona, wanita itu sedikit gelagapan, apa Jenie tau atau wanita itu hanya sedang menggertaknya?
‘’Mon kau membiarkannya pergi begitu saja?’’ tanya kedua teman Mona kompak melihat punggung Jenie yang sudah mulai menjauh dari mereka dengan kevin yang berjalan di sampingnya.
‘’Biarkan dia bersantai sejenak sebelum aku benar-benar menghancurkannya.’’ Jawab Mona penuh kebencian, dia harus memikirkan banyak cara lagi untuk benar-benar menyingkirkan Jenie, sayang saja waktu itu Exel menolongnya hingga wanita itu bisa terlepas dari maut kalau tidak mungkin sekarang Mona sudah akan menggelar pesta perpisahan untuknya.
Sekarang jenie sedang berada di kantin dengan Kevin yang terus di sampingnya, dari tadi pria itu menemaninya tanpa bersuara sedikit pun.
__ADS_1
‘’Kak Kevin nggak ada kelas?’’ Tanyanya yang sedikit kurang nyaman bersama Kevin, entahlah apa yang terjadi tapi sekarang perasaannya kurang nyaman berada di samping Kevin, padahal dulu, mungkin sebelum negara api menyerang, ia adalah wanita paling bahagia kalau bisa berada di dekat Kevin seperti sekarang.
Bersambung.....