
‘’Apa yang sedang kalian rencanakan?’’ tanya papa Robert melihat istri dan besannya begitupun dengan papa Bowo dan Exel yang ikut melihat kedua wanita itu.
‘’Kalian pintar juga ternyata.’’ puji papa Robert sambil tertawa kecil membuat kedua wanita paruh baya itu menatapnya dengan tatapan tajam.
‘’Lalu apa yang kalian rencanakan?’’ tanya mama Catrine yang sangat yakin kalau ketiga pria itu juga memiliki rencana sendiri.
‘’Kau yakin bisa melakukannya?’’ tanya mama Sita sedikit tak yakin.
‘’Dia harus bisa kalau dia ingin bertemu Jenie dengan cepat.’’ Ucap papa Bowo, semuanya mengangguk kecil lalu memutuskan kembali masuk keruangan penyekapan Sasa.
‘’Exel kau kembali lagi.’’ Sasa tersenyum melihat Exel yang menghampirinya.
Exel tak mengatakan apapun, menatap Sasa dengan tatapan tak sukanya.
‘’Anak itu.’’ Ucap papa Bowo pasalnya mereka sudah meminta Exel untuk berpura-pura memperlakukan Sasa dengan baik tapi apa yang dilakukan putranya itu? Ia malah melotot pada Sasa.
‘’Exel.’’ Panggil Sasa.
‘’Jangan memanggil namaku.’’ bentak Exel membuat keempat paruh baya kaget, sepertinya Exel benar-benar tak bisa mengikuti rencana mereka.
‘’Exel kenapa kau menangis?’’ tanya Sasa melihat Exel yang kini sudah menangis, keempat paruh baya itu pun melihat Exel, kenapa tiba-tiba pria itu menangis? Apa ini slah satu taktik Exel?
‘’Jangan banyak bertanya atau aku akan benar-benar membunuhmu.’’ bentak Exel pada Sasa dengan ekspresi yang sangat menakutkan.
‘’Berani sekali kau mengkhianatiku.’’ geram Exel meremas foto Jenie yang ada di tangannya, Sasa yang melihatnya tentu saja sudah tersenyum bahagia, akhirnya ia berhail membuat Exel membenci Jenie.
‘’Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengannya lagi?’’ tanya Sasa.
‘’Aku akan membunuhnya bersama pria selingkuhannya itu.’’ Geram Exel dengan wajah yang terlihat sangat marah, Sasa kembali tersenyum bahagia.
‘’Kau membuat kami kaget tadi.’’ Ucap papa Bowo pada Exel, keempat paruh baya itu memutuskan untuk pulang kerumah mereka sesuai dengan rencana Exel sedang exel akan tinggal untuk menjaga Sasa dan tentu saja untuk menjalankan rencananya juga.
‘’Mama pikir kau tidak akan melakukan rencananya habisnya aku terus saja membentaknya.’’ Ucap mma Catrine.
Exel sengaja melakukan itu ma, akan aneh nantinya kalau Exel tiba-tiba memperlakukannya dengan baik padahal sebelumnya Exel begitu membencinya, Exel takut dia akan curiga.
__ADS_1
Kini Exel sudah kembali bersama Sasa di ruangan penyekapan Sasa.
‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya Sasa melihat Exel yang sedang mencoret-coret sesuatu.
‘’Bukan urusanmu.’’ Bentak Exel lagi, bukannya takut Sasa malah tersenyum senang karena melihat ternyata Exel sedang mencoret-coret foto Jenie.
‘’Aku sangat mencintaimu tapi beraninya kau memperlakukanku seperti ini?’’ geram Exel.
‘’Exel apa kau benar-benar membencinya sekarang?’’ tanya Sasa yang sama sekali tak dijawab Exel, pria itu tetap fokus mencoret wajah Jenie.
‘’Sepertinya kau sudah sangat membencinya.’’ Guman Sasa dalam hati sambil tersenyum senang.
di apartemen pak Reza, Hampir jam 6 pagi dua orang wanita masuk ke kamar Jenie, membangunkan wanita itu.
‘’Apa yang akan kalian lakukan?’’ tanya Jenie pada kedua wanita itu yang ternyata datang untuk meriasnya.
‘’Apa-apaan ini, aku tidak mau dirias rias seperti ini.’’ bentak Jenie pada kedua perias, ingin berlari keluar kamar tapi pak Reza sudah lebih dulu masuk dan menahannya, menyuruh kedua perias itu keluar dan kembali mengunci pintunya.
‘’Kita akan menikah hari ini juga jadi biarlah perias menghias wajahmu, aku ingin kau menjadi pengantin wanita paling cantik di muka bumi ini.’’
‘’Tapi sebentar lagi kalian akan benar-benar bercerai dan kau hanya akan menjadi milikku.’’
‘’Dasar gila, aku tidak sudi menikah denganmu.’’ Jenie memberontak dengan melempar beberapa barang yang ada di kamar itu pada Reza.
‘’Kau tau kan apa yang akan kulakukan padamu dan anak yang dikandunganmu itu kalau kau berani melawan perintahku.’’ ancam Reza yang membuat Jenie ketakutan, ia sama sekali tak mau terjadi apapun dengan kandungannya dan sama sekali tak sudi kalau pak Reza menyentuh tubuhnya, untung saja malam itu pak Reza tidak benar-benar melakukannya kalau tidak mungkin sekarang dia tak ada lagi di dunia ini.
‘’Jadi bagaimana, kau akan menyetujui pernikahan ini atau menolaknya?’’ tanya pak Reza, dengan ragu Jenie mengangguk, pak Reza pun tersenyum ,ingin mencium kening Jenie tapi wanita itu sudah lebih dulu menghindar, pak Reza sama sekali tak keberatan toh sebentar lagi, hanya tinggal hitungan jam, Jenie akan benar-benar menjadi miliknya.
‘’Exel, mama, papa, kalian dimana, tolong aku.’’ Jenie terus menangis sampai 2 perias itu kewalahan tak tau lagi harus melakukan apa karena dari tadi keduanya terus mengulang karena riasan Jenie yang selalu hancur akibat air mata yang selalu menetes di wajahnya.
Sementara di tempat lain, Exel masih berusaha memancing Sasa.
‘’Hei sebenarnya dimana kau menyembunyikan Jenie dan selingkuhannya itu, aku tak bisa menahannya lagi kupikir aku akan benar-benar berhenti bernafas karena menahan amarah untuk kedua orang itu.’’
‘’Apa maksudmu, aku sama sekali tak mengetahui keberadaan Jenie.’’
__ADS_1
‘’Benarkah? Lalu apa yang harus kulakukan, aku benar-benar tak tahan lagi, kau tau aku sangat tak suka penghianatan dan berani-beraninya wanita itu mengkhianatiku.’’
‘’Memangnya apa yang akan kau lakukan pada mereka?’’
Exel tersenyum me nyeringai ‘’aku akan membunuh keduanya dan menguburkannya bersamaan, berani sekali mereka bermain dibelakangku.’’
‘’Tapi kau tidak akan mungkin bisa melawan pak Reza, dia mempunyai banyak rencana.’’
‘’Pak Reza? Maksudmu?’’
‘’Pak Reza dosen kita, dialah pria yang menjadi selingkuhan Jenie dan setahuku pagi ini mereka akan menikah.’’
‘’Brengsek.’’ maki Exel lalu berlari keluar dari ruangan itu dan meminta orang kepercayaannya untuk memperketan penjagaan untuk Sasa dan membawa beberapa untuk mengikutinya, tak lupa ia juga menelpon orang tua dan menantunya untuk memberitahu keberadaan Jenie.
‘’Sha kamu dimana?’’ tanya Exel menelpon Alisha, semoga saja wanita itu sedang berada tak jauh dari apartemennya dan Jenie.
‘’Lagi kerja, kenapa Xel?’’
‘’Dimana, apa jauh dari apartemenku?’’
‘’Tidak begitu jauh, sepertinya hanya 15 menit, kenapa?’’
‘’Sha sekarang juga tolong kau datang ke apartemenku, cegah penghulu yang akan naik ke unit 23Y, oke.’’ tak bertanya Alisha langsung mengiyakan ia yakin pasti ini menyangkut hal penting dan untuk kedua kalinya ia pasti akan kembali kehilangan pekerjaannya.
‘’Ah itu dia penghulunya.’’ Ucap Alisha menghampiri seorang pria yang diyakininya sebagai penghulu, pria itu baru saja turun dari taxi.
‘’Selamat pagi, apa bapak seorang penghulu?’’
Pria itu mengangguk
‘’Apa bapak akan menikahkan pasangan yang tinggal di unit 23Y?’’
Penghulu itu kembali mengangguk
‘’Maaf pak terjadi sedikit perubahan waktu, mereka akan menikah sejam lagi, apa bisa menunggu disini?’’
__ADS_1
Bersambung.....