
‘’Jen aku minta maaf, aku sudah meragukan anak kita, aku tidak mempercayaimu, aku menjauhimu beberapa kali juga aku mengeluarkan ucapan yang menyakitimu, kumohon maafkan aku dan jangan menghukumku dengan cara seperti ini, sungguh aku sama sekali tidak bisa bernafas tanpamu, aku menyayangimu, aku mencintaimu tolong bangunlah.’’’ucapnya dengan tangis yang lumayan keras.
‘’Apa yang kau lakukan, kau mendoakan ku cepat mati ya?’’ tanya papa membuka selimut yang tadi menutup seluruh tubuhnya.
‘’Papa.’’ Exel kaget ‘’pa dimana Jenie?’’
‘’Aku disini, akmu kanapa sih datang-datang udah main nangis aja?’’ bukannya menjawab, Exel berjalan mendekat pada Jenie dan memeluknya dengan sangat erat. ‘’Maafkan aku karena sudah membuat sedih.’’ ucapnya yang kini kembali terisak.
‘’Kau kenapa menangis lagi?’’ tanya Jenie melepas pelukan Exel dan menghapus air mata pria itu.
‘’Sudahlah jangan menangis lagi, aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau datang dan meminta maaf, aku malah senang sekarang kau menyadari kesalahanmu jadi nantinya kau akan lebih menjagaku lagi karena kau pasti akan selalu merasa bersalah padaku.’’ Ucapnya terkekeh, mama Catrine dan papa Robert pun senang melihatnya, semoga setelah ini tak akan ada lagi yang mengganggu hubungan Jenie dan Exel.
‘’Berarti kalian udah baikan nih ya?’’ tanya mama Catrine ingin menggoda keduanya. ‘’Iya berarti nanti udah nggak ada lagi yang nangis malam-malam karena rindu sama suaminya.’’ sambung papa lagi yang ingin menggoda Jenie karena memang wanita itu seringkali menangis tiba-tiba karena merasa rindu pada Exel.
‘’Ih papa jangan dikasih tau, nanti dia geer lagi.’’ protes Jenie pada papanya dengan nada merengeknya.
Exel tertawa kecil, dia pikir hanya dia yang selalu merindukan Jenie tapi ternyata sama, wanita itu juga ternyata sangat merindukannya.
‘’Tapi kamu kok nggak pernah kerumah nyari aku?’’ tanya Jenie dengan ekspresi pura-pura kesalnya lalu membuang wajahnya dengan tangannya disilangkan didepan dadanya.
Exel menggaruk tengkuknya sambil tersenyum tipis, masa sih dia harus jujur kalau tiap hari dia sering diam-diam datang kerumah Jenie hanya untuk melihatnya, bahkan pernah dia bersembunyi dibawah ranjang karena Jenie yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.
‘’Hhmm.’’ mama dan papa hampir tertawa mendengar pertanyaan Jenie, sebenarnya mereka tau kalau tiap malam Exel akan diam-diam masuk ke rumah mereka dengan bantuan satpam dan beberapa ART hanya saja mereka pura-pura tidak tau, keduanya bahkan pernah mengerjai Exel yang waktu itu terpaksa harus bersembunyi di belakang pintu masuk rumah, saat itu papa Jenie sengaja menyandarkan dirinya di pintu dengan sedikit menekan tubuhnya pada pintu yang membuat Exel sedikit kesakitan sedang saat itu mama Catrine dan papa Bowo hanya tertawa tanpa mengeluarkan suara mereka.
__ADS_1
‘’Kata siapa dia tidak pernah datang?’’ ejek papa membuka suara sedang maam langsung terbahak mengingat beberapa tingkah Exel yang selalu masuk ke rumah seperti seorang pencuri.
‘’Kenapa ketawa ma?’’ tanya Jenie kebingungan, Exel pun sama.
‘’Tanya saja pada suamimu.’’ Jawab papa, Jenie melihat Exel yang langsung mengangkat dua pundaknya pada Jenie karena belum mengerti maksud kedua mertuanya.
‘’Maksud papa yang waktu kamu sembunyi di belakang pintu sama dibawah meja makan Xel.’’ Ucap mama yang kembali tertawa, papa pun ikut tertawa sedang Exel hanya memberikan senyum kakunya, kalau tau begitu kenapa dia harus masuk dengan sembunyi-sembunyi? Saat itu dia mengira kedua mertuanya itu juga marah padanya karena sudah membuat Jenie sedih makanya dia masuk ke rumah diam-diam karena takut, dia mengira kalau kedua mertuanya itu tau maka mereka akan melarangnya datang.
‘’Jadi mama papa tau?’’ tanya Exel
‘’Ya jelas taulah, hal yang terjadi di rumahku aku pasti tau, apalagi hanya seorang suami yang ingin bertemu istrinya.’’ ledek papa lagi tapi dengan nada sedikit mencibir.
‘’Itu maksudnya selama ini kamu sering datang kerumah Xel?’’ tanya Jenie, Exel pun mengangguk kecil dengan perasaan yang sedikit malu.
‘’Jahat banget sih, kenapa nggak bilang aku kalau tau gitu aku nggak mungkin nangis tiap malam dan waktu aku menghampirimu di mobil waktu itu kenapa kamu langsung pergi gitu aja, kamu hampir nabrak aku tau nggak sih.’’ kesal Jenie dan kembali memukul Exel.
‘Mana ada kamu hampir tertabrak, jangan ngada-ngada deh.’’
‘’Iya kok emang kamu beneran hampir nabrak aku, kamu tau nggak jarak mobil kamu sama aku tuh hanya segini.’’ Jenie mempraktekan jaraknya menggunakan tangannya yang jaraknya kira-kira hanya sekitar 2 ruas jari tangannya.
‘’Ah kamu lebay banget sih, nggak mungkinlah, kalau jaraknya segitu kamu udah benar-benar tertabrak saat itu.’’
‘’Ha! Jadi kamu doain aku gitu, kamu pengen kamu tertabrak beneran saat itu, iya kan?’’
__ADS_1
‘’Astaga Jen mana ada aku doain kamu kayak gitu, nggak mungkinlah.’’
‘’Hentikan, kalian berdua tuh, baru aja beberapa menit yang lalu baikan dan sekarang sudah berdebat lagi, bisa nggak sih sehari saja kalian itu nggak berdebat? Bikin pusing saja.’’ kesal mama karena jengkel melihat keduanya yang terus saja berdebat tanpa ada yang mau mengalah, keduanya sangat keras kepala. ‘’Semoga saja rumah tangga kalian akan baik-baik aja mengingat sikap kalian ini.’’ ucap mama lagi, Jenie dan Exel langsung saling pandang, dengan cepat Jenie melingkarkan tangannya di pinggang Exel dan begitupun Exel, ia langsung melingkarkan tangannya di pundak Jenie.
‘’Ih mama kok ngomong gitu sih, nggak baik tau ma.’’ protes Jenie yang juga diangguki Exel.
‘’Habisnya mama sebal lihat kalian berdua.’’
‘’Tapi ma kamu juga nggak bisa bilang begitu, itu doa loh, nggak baik.’’ timpal papa yang membuat mama lebih tambah kesal, maksudnya berkata begitu bukan untuk mendoakan yang buruk pada pernikahan anaknya tapi lebih kepada ingin membuat pasangan muda itu sadar dan mengurangi perdebatan mereka.
‘’Kamu sama saja, sukanya bikin aku kesal.’’
‘’Lah kok jadi marah sama aku?’’ tanya papa Jenie yang melihat istrinya sudah berjalan masuk ke kamar mandi yang ada di ruang perawatan itu. ‘’Kalian sih, papa lagi kan yang kena imbasnya.’’ Protes papa pada pasangan itu.
‘’Ih kok jadi salahin Jenie sama Exel sih, kan papa sendiri yang ngomong, mulut kan mulut papa dan lagian Jenia juga nggak nyuruh.’’ jawab Jenie yang memang sengaja ingin meledek papanya.
‘’Dasar kamu ya anak durhaka, udah papa belain eh malah nggak mendukung papa lagi.’’
‘’Keberatan pa, apalagi Jenie sekarang sedang hamil, masa sih papa tega minta Jenie dukung papa.’’ Ucap Jenie masih bercanda pada appanya membuat papanya berdecak kesal.
‘’Maksud papa bukan dukung itu Jenie, yaudah deh lebih baik kalian berdua keluar dari ruangan ini dari pada hanya bikin papa kesal.’’ suru papa dengan gerakan mengusirnya, bukannya keluar Jenie malah berjalan mendekat dan memeluk papanya. ‘’Jenie kan anak yang baik jadi mau jagain papa saja disini.’’ Ucapnya yang membuat papanya tersenyum, mengusap kepalanya dan mencium puncak kepalanya.
Bersambung.....
__ADS_1