
‘’Mungkin itu sudah takdirku Jen, aku sama sekali tak bisa menolak keinginan papaku.’’
‘’Apa nama panti asuhan milik mamamu, tanahnya atas nama siapa?’’ tanya Jenie.
‘’Atas namaku tapi tetap saja tak berpengaruh Jen, secara sah aku adalah anak papaku jadi dia bisa saja menghancurkan tempat itu.’’
Tak jadi masuk kuliah, Jenie menarik Alisha dan membawanya ke kantor papanya untuk meminta pertolongan dari papanya.
*****
‘’Apa yang kita lakukan disini?’’ tany Alisha begitu mereka tiba di Dawson Corp yang terlihat sangat mewah, besar dan menjulang tinggi hampir menembus awan.
‘’Tentu saja untuk memecahkan masalahmu, aku tidak mau kalau sampai papamu terus mengancammu seperti itu.’’ Jenie menarik tangan Alisha masuk ke ruangan papanya, sesampainya di ruangan ia menceritakan masalah Alisha pada papanya dan seperti dugaannya papanya pasti akan membantu Alisha, rencananya papa Jenie akan membeli tanah itu dan menjadikannya sebagai milik keluarga Dawson hingga keluarga Alisha tidak bisa melakukan apapun terhadap panti asuhan itu, papa Jenie juga berjanji akan bertanggung jawab dan membiayai segala keperluan panti.
‘’Makasih ya om, Jen.’’ ucap Alisha tak henti-hentinya dia bersyukur karena sudah mengenal keluarga Jenie yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik bahkan melebihi apa yang didapatnya dari keluarganya.
‘’Tidak perlu berterimakasih, kau adalah temanku jadi sudah sewajarnya aku membantumu dan untuk sementara lebih baik kau tinggal di rumahku agar papamu tidak lagi datang dan mengganggumu.’’
Alisha menggeleng dengan cepat, karena tak ingin terus merepotkan Jenie dan keluarganya, menurutnya jika tinggal dirumah itu dia akan sangat merepotkan keluarga itu.
‘’Kenapa, apa kau takut merepotkan kami, tenang saja kami tak akan merasa repot kok bahkan mama dan papaku akan sangat senang jika kau mau tinggal bersama kami, iya kan pa?’’ tanya Jenie yang diangguki papanya yang kini sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen.
*****
‘’Selamat datang di rumah barumu.’’ teriak Jenie dengan begitu heboh, setelah tadi siang berhasil membujuk Alisha disaat yang sama pun Jenie pamit pada papanya, mengantar Alisha ke kostnya, menyuruh wanita itu untuk membereskan barang-barang yang akan dibawanya.
__ADS_1
‘’Selamat datang ya Sha.’’ sambut mama Catrine sedang apap tak menyambut karena belum pulang kerja begitupun dengan Exel yang masih di kampus.
‘’Kamarnya bagus dan besar sekali Jen, ini sangat berlebihan.’’ Ucap Alisha begitu masuk ke kamar yang kata Jenie akan ditempatinya.
‘’Nggak berlebihan kok Sha, ini bahkan hanya setengah dari ukuran kamarku.’’ Ucap Jenie yang kembali menarik tangan Alisha masuk ke kamar itu yang diikuti oleh mama Catrine.
Alisha membereskan barang-barangnya dengan bantuan Jenie dan amam Catrine, setelahnya mama Catrine pamit untuk menyiapkan makan malam, walau memiliki ART tapi amm Catrine lebih suka menyiapkan sendiri makanan untuk keluarganya.
Hampir malam Exel belum juga pulang ke rumah, tadi ia sudah menelpon Jenie untuk memberitahu kalau dia akan bertemu Eiden untuk membahas sesuatu.
‘’Kamu tau nggak kalau Alisha mau nikah minggu depan?’’ tanya Exel pada Eiden sengaja ingin melihat ekspresi Eiden, ia ingin membuktikan sendiri apa yang dikatakan Jenie.
‘’Apa maksudmu, jangan bercanda Xel.’’
‘’Aku nggak bercanda dia sendiri yang mengatakannya pada Jenie, katanya papanya yang memintanya menikah dan dia tak bisa menolaknya.’’
*****
‘’Xel ponsel kamu berdering terus, diangkat dong.’’ teriak Jenie yang merasa terganggu dengan suara ponsel Exel padahal dia dan Alisha sedang asyik menonton drama kesukaan mereka.
Exel masih tak mengangkatnya, bukannya tak mau mengangkat tapi pria itu sedang tak bisa mengangkatnya karena sedang mandi.
‘’Siapa sih?’’ kesal Jenie menghampiri ponsel Exel, ia cukup kaget melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Eiden dan beberapa chat dari pria itu, merasa kepo, ia memutuskan untuk membuka chat dari Eiden yang rata-rata menanyakan keberadaan Alisha.
‘’Kenapa?’’ tanya Exel menghampiri, pria itu baru kelar melakukan ritual mandinya.
__ADS_1
‘’Kak Eiden, kenapa dia terus menanyakan Alisha?’’
Exel tertawa dan menceritakan apa yang terjadi pada Jenie, wanita itu pun ikut tertawa pasti sekarang ponsel Alisha juga dipenuhi oleh panggilan tak terjawab hanya saja pasti Alisha tak menyadarinya karena wanita itu selalu mengatur profil silent pada ponselnya, apalagi setau Jenie Alisha meninggalkan ponselnya dikamar, pasti sekarang Eiden sedang kalang kabut mencari keberadaan Alisha.
Dan seperti dugaan mereka dari tadi Eiden berpindah-pindah tempat untuk mencari Alisha, mulai dari kost, cafe, butik, restoran, dan beberapa tempat yang biasa didatangi Alisha, ia juga ke kampus berpikir mungkin saja Alisha masih berada disana, seperti orang gila yang terus berteriak memanggil nama Alisha.
Apa Alisha sudah pulang kerumahnya, [pikirnya yang ingin menyusul Alisha ke rumahnya, untung saja Exel kembali menelponnya dan memberitahu Alisha sedang berada dirumah keluarga Dawson, dengan cepat ia memutar balik mobilnya, dengan kecepatan tinggi ia mengarahkan mobilnya ke rumah Jenie.
‘’Alisha mana?’’ tanyanya dengan nafas ngos-ngosan, Exel dan Jenie memperhatikan penampilan Exel yang terlihat sedikit kusut, rambutnya terlihat sedikit berantakan.
‘’Alisha sudah tidur, memangnya kau tega membangunkannya?’’ tanya Jenie yang masih ingin mengerjai Eiden padahal jelas ia sangat tahu kalau Alisha sedang asyik menonton drama di ruang nonton keluarga.
‘’Tidur?’’ tanyanya dengan mengusap kasar wajahnya, ia ingin mengatakan sesuatu pada Alisha dan ia tidak mau menundanya lagi takut melewatkan waktu dan dia akan benar-benar kehilangan Alisha.
‘’Jen, bisa dibangunkan aja nggak, ada yang mau aku sampaikan soalnya.’’
‘’Dia baru saja tidur, soalnya besok dia akan bertemu calon suaminya jadi ingin memberikan kesan yang baik pada calon suaminya itu.’’
‘’Jen ku mohon, Xel.’’ pintanya memohon dengan menyatukan kedua tangannya didepan dada, ingin sekali Jenie dan Exel tertawa melihat tingkah Eiden itu, pria di depan mereka itu terlihat sangat kacau dan dipenuhi keringat, entah dimana saja ia mencari Alisha sampai berkeringat seperti itu?
‘’Tolong bangunkan dia atau aku sendiri yang akan masuk dan membangunkannya.’’
‘’Kau kenapa tidak sabaran sekali sih, kan bisa datang lagi besok, kalian masih punya banyak kesempatan untuk ketemu, sahabatmu tidak akan kemana-mana, setelah dia menikah pun kalian tetap akan selalu bertemu.’’ Ucap Jenie.
‘’Tidak aku tidak akan membiarkan menikah dengan siapapun.’’
__ADS_1
‘’Lalu apa kau mau dia tidak menikah seumur hidupnya?’’ timpal Exel, Eiden terdiam sejenak
Bersambung....