
‘’Apa kau punya rencana?’’
Saya tersenyum, dengan menggerakan jari telunjuknya, meminta pak Reza mendekat padanya, kemudian Sasa berbisik, mengatakan rencananya, pak Reza tersenyum, fokus mendengarkan apa yang disampaikan Sasa.
‘’Saya suka rencanamu, baiklah saya setuju untuk bekerjasama.’’ pak Reza memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sasa sebagai tanda resminya mereka menjadi partner kerjasama dalam memisahkan Jenie dan Exel.
‘’Sebentar lagi kita akan bersama, aku akan membawamu jauh dari sini.’’ Guman pak Reza mengingat wajah cantik Jenie yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pertemuan pertama.
Flasback
Satu tahun lalu
‘’Apa yang kau lakukan, kenapa kau memukulnya?’’ Jenie berteriak, berlari menghampiri seorang pria yang sedang dipukul oleh satu pria yang terlihat gagah, tinggi, putih dan tampan.
‘’Apa lagi ini? Jangan ikut campur urusanku.’’ Ucap pria itu mengusir Jenie, bukannya pergi Jenie malah berdiri, merentangkan kedua tangannya dan membuat tubuhnya menjadi tameng untuk pria yang akan dipukul itu.
‘’Pergi dari sini sebelum aku memukulmu juga.’’
‘’Memukulku? Aku sama sekali tidak takut pada pria sepertimu, pria yang hanya suka bermain tangan dalam menyelesaikan masalah.’’
‘’Gadis kecil, jangan ikut campur jika kau tidak tau permasalahannya, lebih baik kau pergi dari sini, bermain di mall atau dimanapun yang kau inginkan.’’
‘’Aku akan pergi tapi dengannya.’’ Jenie memegang tangan pria yang sekarang sedang menatap wajahnya, pria itu terlihat tampan apalagi saat sedang tersenyum.
‘’Pergilah, aku hanya ingin memberi adikku sedikit, sedikit saja pelajaran agar dia tak terus menerus melakukan kesalahan.’’
‘’Jadi dia adikmu, kejam sekali kau, sebagai seorang kayak, apapun kesalahan yang dilakukan adikmu tidak sepantasnya kau memukulnya seperti itu.’’
__ADS_1
‘’Rupanya kau keras kepala juga.’’ Geram pria itu melihat Jenie dengan seringai menyeramkan, Jenie memundurkan langkahnya, berbisik pada pria satunya lagi. ‘’Aku hitung sampai 3 dan kita lari bersama-sama, oke?’’ Ucapnya, pria itu hanya mengangguk kecil.
‘’1,2,3.’’ hitung Jenie dan keduanya lari dengan sangat kencang, mengeluarkan seluruh kekuatan untuk menjauh sejauh-jauhnya dari pria menyeramkan tadi.
‘’Apa dia mengikuti kita?’’ tanya jenie yang kini sudah hampir kehabisan nafas, wanita itu berhenti, melihat kebelakang dan sama sekali tidak melihat pria menyeramkan itu mengejar mereka.’’
‘’Untung dia tidak mengejar kita.’’ Jenie membuang nafas legah, membungkukan badannya dengan kedua tangannya diletakan diatas lutut, mencoba mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan.
‘’Dia tidak akan mengejar kita karena kakinya sedang cedera.’’
Jenie kaget, meluruskan kembali badannya, melihat pria itu dengan kesal ‘’harusnya kau bilang dari tadi jadi kita tidak perlu lari seperti orang kesetanan, kakiku bahkan hampir copot dari tubuhku.’’ Protes Jenie, pria itu sama sekali tak berucap dan hanya menundukan wajahnya.
‘’Oh ya, nama kakak siapa?’’
‘’Namaku Reza, Reza Arthana.’’
‘’Oh ya kak, aku duluan ya.’’ Pamit jenie dan langsung berlari pergi, tak lama ia kembali membalik badannya, tersenyum dan melambaikan tangan pada Reza, Reza pun membalasnya, mengangkat tangannya dan melambai kecil pada Jenie, tangannya terus melambai bahkan hingga tubuh Jenie tak terlihat lagi.
Sejak saat itu, Reza terus mencari keberadaan Jenie, tapi ternyata menemukan Jenie tak semudah pemikirannya, sampai akhirnya 6 bulan yang lalu, ia tak sengaja melihat Jenie sedang duduk mengobrol di sebuah cafe dengan seorang wanita, sejak saat itu ia terus mengikuti Jenie kemanapun wanita itu pergi, ia bahkan mendaftarkan diri sebagai dosen di universitas milik keluarga Jenie saat tau Jenie akan melanjutkan studinya disana.
Bukan tanpa alasan kenapa Reza begitu terobsesi untuk memiliki Jenie, dari kecil, ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya karena dia hanyalah anak yang dilahirkan dari rahim selingkuhan papanya dan tentu saja kehadirannya sangat tidak diinginkan oleh seluruh keluarga bahkan papanya sendiri juga tak menginginkannya, hidupnya selalu dipenuhi siksaan sampai suatu saat ia bertemu Jenie, gadis satu-satunya yang membelanya dan ingin melindunginya, sejak saat itu juga ia menandai Jenie sebagai wanitanya, Reza bahkan meyakini kalau Jenie adalah wanita yang akan selalu mencintainya dan tidak akan meninggalkannya seperti mamanya yang pergi meninggalkannya.
Flashback end
‘’Setelah ini kita tidak akan berpisah lagi.’’ Gumannya masih dengan membayangkan pertemuannya dan Jenie.
*****
__ADS_1
‘’Jen, Jenie.’’ Panggil Exel dengan menowel nowel pipi Jenie untuk mebangunkan wanita itu, bukannya bangun, Jenie malah membalik tubuhnya dan membelakangi Exel.
‘’Jen bangun.’’ menggosok gosokan wajahnya pada pipi Jenie, karena merasa terganggu akhirnya, dengan perlahan Jenie membuka matanya, meluruskan tubuhnya, menangkup wajah Exel dengan kedua tangannya.
‘’Iseng banget sih, aku kan masih ngantuk.’’ dengan suaranya yang sedikit parau, khas orang baru bangun tidur, Exel tertawa, mencubit pipi Jenie dengan gemas menggunakan satu tangannya. ‘’Masih ngantuk ya?’’ Exel bertanya dengan nada yang dibuat menggemaskan seperti anak kecil, Jenie mengangguk kecil, ingin menutup matanya kembali tapi Exel kembali menarik pipi Jenie yang satunya lagi. ‘’Ih Exel ini pipi loh bukan roti kukus, main tarik tarik aja.’’ Protes Jenie yang kini sudah bangun dari tidurnya, menyandarkan kepalanya di kepala ranjang dengan kedua tangannya mengelus pipi yang tadi dicubit Exel.
‘’Bahkan ini lebih lembut dari roti kukus.’’ Exel kembali mencubit pipi kanan dan kiri Jenie.
‘’Ais kau ini.’’ Jenie memonyongkan bibirnya dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada, membuang wajahnya ke arah kiri.
Bukannya minta maaf, dengan gerakan cepat Exel mencium pipi Jenie, Jenie reflex menghadap padanya, memukul lengan Exel sambil tersenyum dengan tangannya mengelus bekas kecupan Exel.
‘’Kau ini?’’ Jenie ingin memukul Exel lagi tapi tangannya sudah lebih dulu ditangkap Exel.
‘’Kalau kau memukulku lagi maka aku akan menciummu lagi.’’ dengan senyum nakalnya, menaik turunkan kedua alisnya.
‘’Itu sih maumu.’’ Jenie ingin turun dari ranjang tapi Exel sudah lebih dulu menangkapnya, pria itu memeluknya dari belakang dan beberapa kali mencium pipinya.
‘’Ih Exel.’’ Jenie memutar tubuhnya ‘’aku kan tidak memukulmu, kenapa kau menciumku?’’
Masa bodoh, Exel tak menjawab, tersenyum dan turun dari ranjang, berjalan keluar dari kamarnya.
‘’Exel pakai pakaianmu.’’ Teriak Jenie melihat Exel yang akan keluar hanya dengan menggunakan boksernya.
‘’Exel.’’ Teriaknya lagi yang kembali tidak dihiraukan Exel, akhirnya Jenie turun, menarik tangan Exel dan mendudukan pria itu di sofa, Jenie masuk ke walk in closet, mengambil pakaian untuk Jenie, ia juga yang memakaikannya karena Exel yang sama sekali tak mau bergerak dan hanya tersenyum padanya.
‘’Masih pagi dan kau sudah membuatku jengkel.’’ Gerutunya melihat jengkel pada Exel setelah selesai memakaikan pakaian pada pria itu.
__ADS_1
Bersambung.....