
‘’Ada apa ini?’’ Tanya pak Reza melihat Mona dan Sasa sedang saling menjabak rambut, refleks kedua wanita itu langsung menghentikan aksinya.
‘’Keluar kalian.’’ ucap pak Reza dengan nada tegasnya, tak berkata-kata Mona dan dua temannya langsung keluar dari kelas itu, berbeda dengan Sasa yang masih berdiri dalam diam.
‘’Sabrina Larasati, keluar dari kelas saya sekarang.’’ Ucap pak Reza lagi, mau tak mau akhirnya Sasa keluar sedang Jenie hanya meliriknya sekilas dan memilih memfokuskan diri pada mata kuliah pak Reza.
‘’Semua ini salahmu.’’ bentak Sasa pada Mona begitu keluar dari kelas.
‘’Kenapa salahku, salahkan sahabat tercinta mu itu, kalau dia tidak menghindar aku tidak mungkin menamparmu.’’
Mona berlalu pergi sedang Sasa berpikir, benar juga yang dikatakan Mona semua ini salah Jenie kalau wanita itu tidak menghindar dari tamparan Mona tidak mungkin akan terjadi pertengkaran antara dirinya dan Mona dan tidak mungkin juga ia akan dikeluarkan dari kelas seperti ini.
‘’Awas kau Jenie.’’ Geramnya dengan mengepalkan kedua tangannya, mengintip dari kaca pintu kelas, melihat dengan penuh kekesalan pada Jenie yang sedang fokus mengikuti mata kuliah.
Sasa ingin sedikit menghibur diri dengan pergi mengunjungi Kevin yang saat ini sedang berada di apartemennya.
*****
‘’Sa kenapa kesini? Bukannya kau memiliki kelas sekarang?’’ Kevin sedikit kaget karena Sasa yang tiba-tiba berada di apartemennya, setahunya tadi waktu mereka bertukar chat Sasa mengatakan kalau ia masih memiliki satu mata kuliah.
‘’Aku dikeluarkan dari kelas gara-gara Jenie.’’
‘’Ha kok bisa?’’
‘’Tadi aku membela Jenie saat Mona hampir menamparnya eh tak taunya disaat yang bersamaan pak Reza masuk dan berpikir aku sedang bertengkar dengan Mona, padahal aku sama sekali tidak bertengkar dengannya aku hanya ingin menahan tangannya saat dia akan menampar Jenie tapi sekarang malah kena imbasnya." Berbohong dengan ekspresi wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Kevin memeluk Sasa, ingin menghibur wanita itu karena terlihat sangat sedih. ‘’Lagian untuk apa kau membantunya segala, begini kan jadinya, terus apa yang dia lakukan saat kau diperintahkan keluar oleh pak Reza?’’
Sasa menggeleng dengan air mata buayanya yang sudah mengalir.
__ADS_1
‘’Sudahlah jangan bersedih lagi, aku berjanji akan membalas apa yang dilakukannya padamu hari ini.’’ Kevin mengelus belakang kepala Sasa dengan posisi masih memeluknya sedang Sasa menyandarkan wajahnya di dada Kevin sambil tersenyum sinis, gampang sekali ia membodohi Kevin.
‘’Kau janji kan akan membalasnya?’’ Memberikan jari kelingkingnya, Kevin pun tersenyum, pria itu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Sasa, membuat wanita itu tersenyum senang dan mengecup bibir Kevin sekilas.
‘’Terimakasih, hanya kau yang kumiliki, aku mencintaimu.’’ Kembali mencium Kevin, sedang Kevin tersenyum senang dan membalas ciuman Sasa, tak hanya sekedar ciuman kini keduanya sudah berada di atas ranjang tanpa sehelai benangpun.
Mulailah mereka melakukan aktivitas yang saling memuaskan satu sama lain, beberapa kali Sasa mendessaah nikmat karena semua sentuhan Kevin.
Selain gampang di bohongi hal ini jugalah yang disukai Sasa dari kevin, pria itu selalu bisa membuatnya puas di ranjang.
Keduanya saling melluumat bahkan sama sekali tak peduli saat beberapa kali telepon Kevin berdering.
‘’Lebih cepat Vin.’’ Rancau Sasa, Kevin pun lebih mempercepat ritmenya tak lama ia mencapai puncaknya dan roboh diatas tubuh Sasa. ‘’kau wanita terbaik yang pernah kutemui, aku mencintaimu.’’ mencium kening Sasa.
-Di kampus-
‘’Kenapa lagi kau disini?’’ Jenie tak senang melihat Exel.
Tak pulang ke rumahnya, hari ini Exel memilih pulang ke apartemennya yang jaraknya tak terlalu jauh dari kampus.
‘’Kenapa kau berubah menjadi sangat menyebalkan?’’ Tanya Exel pada ponselnya yang sedang menampilkan foto lama Jenie, setelahnya ia mengusap foto itu. ‘’Tapi kau tetaplah Jenie, wanitaku.’’
Berbeda dengan Exel, Jenie mengurung diri di kamarnya, masih terpikir ucapan Sasa yang seolah menjelekkannya, bingung harus marah atau memaklumi hal itu, tapi ia sedikit merasa bersalah karena Sasa berpikir seperti itu, apa dia kurang baik sebagai sahabat?
Akhirnya setelah lama berpikir, Jenie memutuskan untuk membiarkannya, menurutnya mungkin saja ia memang kurang baik hingga Sasa berpikir seperti itu, memutuskan untuk menelpon Sasa, ia hanya ingin mengobrol santai.
Beberapa kali menelpon tapi sama sekali tak di jawab, hingga masuk panggilan ke sepuluh dan tetap tak dijawab, Jenie memilih tak menelpon lagi, berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang dirasa sudah sangat lengket.
Jenie buru-buru keluar dari kamar mandi saat mendengar suara ponselnya yang tak berhenti berdering.
__ADS_1
‘’Kak Kevin?’’ Tersenyum senang, jarang sekali Kevin menelponnya seperti ini, biasanya ia yang selalu berusaha menghubungi Kevin dengan mencari berbagai alasan.
‘’Hallo kak, ada apa?’’ tanyanya dengan nada tenang walau ingin sekali berteriak saking senangnya.
‘’Kamu sibuk nggak? Keluar sama aku mau?’’
‘’Ha, keluar?’’ Berjingkrak kesenangan entah mimpi apa sampai Kevin mengajaknya keluar.
‘’Hallo Jen, mau nggak?’’ Tanya Kevin lagi karena Jenie sama sekali tak menjawab ajakannya.
‘’Mau kak mau mau.’’
‘’Yaudah, lokasihnya aku chat ya Jen, aku tunggu jam 7, dandan yang cantik.’’ Ucap kevin membuat hati Jenie berbunga-bunga.
Ada apa ini, kenapa Kevin memintanya untuk berdandan, apa pria itu akan mengutarakan perasaannya, tapi bukankah selama ini Kevin tak pernah menyukainya, pikirnya sedikit heran dengan sikap tiba-tiba Kevin tapi setelahnya masa bodohlah setidaknya ia bisa keluar berdua bersama Kevin, kapan lagi hal ini akan terjadi?
Buru-buru berlari ke walk in closet, memilih beberapa pakaian yang cocok untuk dipakainya, hampir satu jam memilih, tak ada satupun pakaian yang menurutnya cocok untuk digunakan, padahal pakaian-pakaian itu terlihat sangat cantik apalagi jika Jenie yang memakainya tapi entahlah, ia merasa pakaian-pakaian itu kurang cocok untuk dipakainya.
‘’Jen apa yang terjadi?’’ Mamanya kaget melihat walk in closet Jenie yang sudah berantakan dengan pakaian-pakaiannya yang sudah berserakan dimana-mana.
‘’Apa yang kau lakukan, kenapa berantakan seperti ini?’’ Tanya mama lagi, bukannya menjawab, Jenie malah menarik tangan mamanya dan meminta mamanya untuk memilih pakaian yang akan di pakaianya agar terlihat sempurna di mata Kevin.
‘’Memangnya mau kemana?’’ tanya mama dengan tangannya yang sudah memegang beberapa pakaian Jenie.
‘’Kencan.’’
‘’Ha!.’’ Mama kaget
‘’kencan, memangnya kau sudah punya pacar?’’ tanya mama, Jenie tersenyum lebar sambil menggeleng.
__ADS_1
‘’Terus?’’ tanya mama lagi.
Bersambung.....