
‘’Xel tadi Sasa datang dan meminta maaf padaku.’’
‘’Terus kau memaafkannya begitu saja?’’
Jenie mengangguk ‘’aku hanya ingin memberinya kesempatan, siapa tau dia benar-benar tulus sekarang.’’
‘’Aku sama sekali tidak yakin wanita sepertinya memiliki rasa penyesalan.’’ Ucap Exel kecil.
‘’Hhmm, apa yang kau katakan tadi?’’
Exel mengangguk ‘’makanlah, ini sudah hampir lewat jam makan siang.’’
Jenie tersenyum kecil sambil mengangguk lalu mulai memakan makananya sedang Exel makan dengan tidak bersemangat, pikirannya terus mengarah pada Sasa, kira-kira apa lagi yang sedang direncanakan wanita licik itu, kenapa dia tiba-tiba ingin memperbaiki hubungannya dengan Jenie?
‘’Jen kau baik-baik saja kan, kenapa kau terlihat pucat?’’ tanya Exel, tadi ia tak terlalu memperhatikan wajah Jenie. ‘’Oh itu, aku nggak pa-pa kok, cuman sedikit pusing.’’ Jawab Jenie.
‘’Habis makan kita ke dokter.’’
Jenie menggeleng. ‘’Aku benar-benar tidak pa-pa Xel dan bukankah setelah ini kau memiliki kelas?’’
‘’Itu tak lebih penting daripada keadaanmu.’’
‘’Aku benar-benar tidak pa-pa, sebentar malam aku pasti sudah baikan lagi, percaya deh.’’
‘’Baiklah tapi kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya.’’
Sore harinya, Jenie tidak pulang bersama Exel karena Exel yang masih memiliki kelas tambahan, tak langsung pulang, Jenie menghampiri apotik dekat apartemen untuk membeli alat tes kehamilan, sebenarnya belakangan ini ia merasa apa yang terjadi padanya sama persis dengan gejala-gejala wanita hamil pada umumnya, dari mana dia tau? Tentu saja dia sudah mensearchingnya di internet terlebih dulu dan berharap semoga apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi.
‘’Aaaa.’’ Teriaknya kesenangan melihat dua garis pada alat tes kehamilan yang tadi dibelinya, takut salah ia melakukan tes sampai beberapa kali dan hasilnya tetap sama.
Saking senangnya, Jenie berlari keluar, mencari dus untuk meletakan semua alat tes itu, rencananya ia akan memberi tahu Exel 2 malam lagi saat ulang tahun pria itu.
‘’Selamat datang di perut mommy sayang.’’ Ucapnya mengelus perut, tersenyum sambil melihat perutnya di cermin.
Sedang asyik mengelus perutnya, Jenie dikagetkan oleh dering telepon ponselnya sendiri.
‘’Sasa?’’ gumannya melihat nama Sasa yang sedang menelponnya.
__ADS_1
‘’Hallo, kenapa Sa?’’
‘’Jen bisa tolongin aku nggak?’’
‘’Tolongin apa, kamu kenapa?’’
‘’Aku sekarang di lobby apartemen kamu, bisa nggak keluar bentar, ada yang ingin aku ceritakan.’’
‘’Lobby apartemen?’’ heran Jenie, perasaan dia sama sekali tak pernah mengatakan tentang alamat apartemen pada Sasa, dari mana wanita itu tau?
‘’Jen, kamu bisa nggak ke lobby sekarang?’’
‘’Oke-oke kamu tunggu sebentar.’’
‘’Beres.’’ Ucap Sasa melihat Reza yang juga tersenyum padanya, tadi Sasa tak sengaja melihat Jenie yang datang ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan, tak ingin terlambat mengambil langkah, ia dan Reza memutuskan untuk menjalankan rencana yang sudah mereka susun hari ini juga, Sasa juga sengaja menelpon Jenie hanya untuk memancing wanita itu keluar.
Hampir jam 7 malam, Exel pulang kerumah, sedikit kaget melihat keadaan rumah yang gelap, setahunya Jenie sangat tak suka dan tak tahan kalau rumah gelap, tidur saja wanita itu harus dengan lampu yang menyala.
‘’Jen, Jen, Jen.’’ panggil Exel mencari Jenie, sudah ke dapur, kamar, ruang tamu, kamar mandi, walk in closet tapi sama sekali tak menemukan Jenie.
‘’Kemana dia?’’ Exel memutuskan menelpon Jenie tapi ponselnya sama sekali tidak aktif, Exel mulai gelisah, tak biasanya Jenie tidak mengaktifkan ponselnya.
‘’Loh bukannya Jenie sama kamu di apartemen?’’
‘’Yaudah ma aku telepon mama Catrine dulu, siapa tau Jenie disana.’’
‘’Hallo ma, Jenie di rumah nggak?’’ tanya Exel yang kini sudah menelpon mertuanya.
‘’Ha! Kok tanya sama mama, kenapa, Jenie nggak ada?’’
‘’Nanti Exel hubungin lagi ya ma.’’
‘’Jen kamu dimana sih?’’ Exel berusaha mencari lagi, mengecek CCTV, melihat Jenie yang tiba-tiba keluar setelah mendapat telepon dari seseorang yang sama sekali dia tak tau itu siapa, dengan wajah khawatirnya ia berlari keluar, menghampiri pos keamanan apartemen untuk bertanya tentang Jenie, juga meminta mereka memeriksa CCTV apartemen.
‘’Maaf pak Exel, sore tadi beberapa CCTV tiba-tiba rusak secara bersamaan, aku juga tidak tau apa penyebabnya.’’
Exel menjadi kalang kabut, kalau begini ceritanya mungkin saja Jenie di culik dan ini merupakan slh satu penculikan berencana, buktinya mereka bahkan sudah lebih dulu merusak CCTV apartemen dan bisa dipastikan penculiknya sudah sangat tau tentang tata letak apartemen, seperti nya dia sering datang ke apartemen ini atau mungkin saja tinggal di apartemen ini.
__ADS_1
‘’Ada apa ini Exel, kenapa Jenie bisa hilang?’’ tanya kedua orang tuanya dan orang mertuanya secara bersamaan, tadi, sejam lalu Exel sudah menelpon dan memberitahu kalau kemungkinan Jenie diculik oleh seseorang, lokasi ponselnya juga sama sekali tak bisa di akses, tak hanya ponsel, alat pelacak yang juga diletakan Exel di kalung Jenie sama sekali tak bisa terlacak.
‘’Lalu dimana putriku sekarang?’’ ucap mama Catrine yang kini sudah menangis, kenapa belakangan ini masalah silih berganti dan selalu menargetkan Jenie?
‘’Xel, apa maksudmu Jenie diculik?’’ Tanya Alisha yang datang bersama Eiden, tadi Exel sempat menelpon Eiden untuk meminta nomor ponsel Alisha, berharap Jenie sedang bersama wanita itu tapi hasilnya nihil.
‘’Xel apa kamu sudah menelpon Sasa? Siapa tau Jenie sedang bersamanya.’’ Tanya mama Catrine.
‘’Untuk apa menelponnya?’’ Ucap papa Robert tak suka
‘’Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, apa kau sudah lapor polisi?’’ tanya Eiden, Exel menggeleng, sejujurnya ia tak ingin polisi terlibat dalam hal ini.
‘’Tidak perlu menghubungi polisi, biarkan orang- orang papa dan Robert yang mencarinya.’’ Ucap papa Bowo, setelahnya mereka berpencar untuk mencari Jenie termasuk Alisha dan Eiden, tadinya Exel tak ingin merepotkan Alisha tapi wanita itu bersikeras ingin membantu mencari Jenie bahkan tak masalah jika dia harus dipecat karena tiba-tiba meninggalkan pekerjaannya, toh pekerjaan masih bisa dicari.
‘’Jen, Jen, Jen, Jen.’’ teriak Alisha, wanita itu mencari jejak Jenie sambil menuruni tangga darurat dengan Exel dan Eiden didepan mereka.
‘’Pak Reza.’’ Alisha menghampiri pak Reza yang baru memarkirkan mobilnya di parkiran khusus penghuni apartemen.
‘’Iya ada apa?’’
‘’Bapak tinggal di apartemen ini juga?’’
Pak Reza mengangguk ‘’kenapa, ada apa, kau terlihat khawatir.’’
‘’Iya pak, kami sedang mencari Jenie, kebetulan dia juga tinggal di apartemen ini.’’
‘’Maksud kamu Jenie hilang?’’ tanya pak Reza pura-pura kaget, Alisha mengangguk ‘’mohon bantuannya ya pak, kalau melihat Jenie bisa tolong langsung hubungi keluarganya atau pos keamanan apartemen.’’
‘’Iya pasti, saya juga akan membantu mencarinya.’’
‘’Terimakasih pak, saya permisi dulu.’’
‘’Siapa?’’ tanya Eiden yang tadi memperhatikan Alisha dan pak Reza.
‘’Pak Reza, dosen di kampus kami, tadi aku minta tolong padanya, siapa tau dia akan bertemu Jenie kan?’’ ucapnya sambil menyengir.
‘’Kau ini ada-ada saja, kalau dia akan bertemu Jenie berarti dia dong yang menculik Jenie.’’
__ADS_1
Bersambung.....