Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Berkunjung ke rumah Alisha


__ADS_3

‘’Dia gimana, hari ini anteng-anteng saja kan?’’ tanya Exel dengan tangannya yang mengelus perut Jenie yang sepertinya sudah mulai membesar, tubuh Jenie juga sudah terlihat sedikit gemuk.


‘’Iya, besok temani aku ke dokter ya.’’


‘’Udah pasti dong.’’ Exel mendekatkan wajahnya untuk mencium perut Jenie, setelahnya ia kembali mengelusnya dan beberapa kali mengajak calon anaknya berbicara.


‘’Sehat-sehat ya sayang, daddy mommy sayang banget sama kamu.’’ bisiknya.


‘’Daddy mommy? Tapi aku maunya ayah bunda.’’ ucap Jenie


‘’Bagusan daddy mommy Jen, aku suka, daddy mommy aja ya.’’ ucap Exel sedikit merayu, jenie pun mengangguk, mengikuti keinginan Exel.


‘’Besok kita belanja pakaiannya ya jen.’’ ajak Exel dengan Eksaited


‘’Jenis kelaminnya aja belum tau kamu udah mau belanja aja.’’


‘’Kalau begitu kita belanja strolli dan lain-lainnya aja dulu.’’


‘’Kalian sedang membicarakan apa sih, kayaknya serius banget.’’ Ucap Alisha yang membuat keduanya kaget, bagaimana tidak, entah sejak kapan tapi Alisha sudah duduk manis di kursi belakang.


‘’Sejak kapan kau datang?’’ Tanya Jenie sedikit memutar tubuhnya untuk melihat Alisha.


‘’Baru saja, aku masuknya diam-diam mau nguping soalnya.’’ tersenyum lebar dengan mata yang hampir tertutup.


‘’Ini kita langsung ke rumah kamu apa gimana Sha?’’ tanya Exel memotong pembicaraan kedua wanita itu.


‘’Iya.’’ jawab Alisha sambil memberikan alamat rumahnya pada Exel.


*****


‘’Non Alisha.’’ ucap satpam membukakan pintu gerbang untuk mereka.

__ADS_1


‘’Datang juga kamu, kupikir kau akan melarikan diri lagi.’’ ucap mama tiri Alisha menyambut kedatangan mereka, Alisha tak mengatakan apa-apa begitupun dengan Jenie dan Exel yang hanya saling memandang satu sama lain karena terkejut dengan sambutan itu.


‘’Siapa mereka, kenapa kau membawa orang-orang tidak berguna ini kerumah kita.’’ tanya papa berjalan mendekati, melihat tak suka pada Jenie dan Exel.


‘’Mereka adalah temanku.’’


‘’Ck aku tidak peduli siapa mereka, tak ada untungnya untukku.’’ ucap papanya lagi dengan nada yang sangat sombongnya, kalau tidak mengingat mereka datang bersama Alisha sudah pasti Exel tidak akan tinggal diam mendengar ucapan itu.


‘’Kau.’’ tunjuk papa Alisha padanya ‘masuk ke kamarmu, sebentar lagi keluarga calon suamimu akan datang untuk melihatmu.


‘’Calon suami?’’ tanya Alisha terkekeh. ‘’Aku datang karena aku sama sekali tak mau menikah dan menjadi alatmu untuk membayar hutang, kau yang berhutang jadi kau sendiri yang harus bertanggung jawab atau suruh saja putri kesayanganmu itu, lagian hutang itu kan kalian yang menikmatinya sedang aku sama sekali tak merasakannya.’’


‘’Sudah berani melawan ya kau sekarang, dasar tidak tau terimakasih, kau lupa kalau kami yang membesarkanmu?’’ bentak mama tiri Alisha dengan nada yang lumayan besar, Alisha kembali tertawa dengan Jenie dan Exel yang juga ikut tertawa.


‘’Membesarkan? Apa kau pernah mengurusku, tidak kan? Jadi jangan mengungkit masalah terimakasih disini, kalaupun harus berterimakasih bukan aku yang harus berterimakasih tapi kalian, kalian tidak lupa kan kalau kalian bisa hidup senang seperti sekarang karena harta warisanku?’’ Alisha menyeringai, hampir saja papanya akan menamparnya tapi dengan cepat Alisha menangkap tangan papanya.


‘’Aku sudah besar sekarang dan aku tidak akan membiarkanmu memukulku lagi.’’ menepis kasar tangan papanya, melihatnya dengan tatapan melotot yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya.


‘’Papa mama.’’ teriak Cindy yang baru saja masuk ke rumah. ‘’Kak Exel.’’ ucapnya lagi karena senang melihat Exel di rumahnya.


‘’Hei gembel apa yang kau lakukan di rumahku?’’ mendorong tubuh Alisha, Alisha kembali tertawa. ‘’Apa kau tidak salah, rumahmu? Sejak kapan ini menjadi rumahmu?’’


‘’Rumah papaku berarti rumahku juga, kau pikir papaku akan mewariskan rumah ini padamu, jangan mimpi deh.’’


‘’Kau yang seharusnya jangan bermimpi, coba kau tanya pada kedua orang tuamu itu, kira-kira rumah ini milik siapa ya, papamu atau?’’


‘’Papa rumah ini milik papa kan?’’ tanya Cindy yang tidak dijawab, papanya hanya melihat Alisha dengan tatapan geramnya begitupun dengan istrinya.


‘’Sudahlah aku tidak punya banyak waktu untuk kalian.’’ Alisha berbalik begitupun dengan Exel dan Jenie, tapi baru 2 langkah dia berbalik lagi. ‘’Oh ya mungkin kalian harus mencari tempat tinggal baru, aku sudah menjual rumah ini dan seminggu lagi mereka akan menempatinya, jadi kuharap kalian angkat kaki dari rumahku.


‘’Apa kau bilang? berani sekali kau mengusirku, ini adalah rumahku, aku tak akan pernah pergi dari sini.’’ teriak papa Alisha tak terima.

__ADS_1


‘’Sejak kapan rumah ini menjadi rumahmu? Kau lupa kau tidak memiliki apa-apa saat menikah dengan mamaku, aku bahkan membiarkanmu saat kau mengusirku dari rumahku sendiri karena kau terus mengancamku, tapi sekarang aku tak takut lagi, kau tau kenapa? Karena aku juga sudah menjualnya, aku sudah menjual panti itu, oh ya satu lagi mungkin kau juga sudah harus bersiap keluar dari perusahaan mamaku karena sebentar lagi aku akan mengambil dan mengurusnya.’’ ucapnya dan berlalu pergi dari rumah itu, papanya ingin mengejarnya tapi sudah lebih dulu di cegah oleh beberapa orang kepercayaan keluarga Exel, ternyata tanpa sepengetahuan Jenie dan Alisha, Exel mengajak beberapa pengawal.


*****


‘’Apa kau baik-baik saja?’’ tanya Jenie masuk ke kamar Alisha, Alisha tak menjawab, memeluk Jenie sambil menangis sedikit sedih mengingat keluarganya yang harus berakhir seperti ini, tapi dia tak punya pilihan lain selain ini, berharap apa yang dilakukannya adalah yang terbaik untuknya kedepannya.


‘’Kau pasti akan baik baik saja dan kau memiliki keluargaku sebagai keluargamu sekarang.’’


‘’Makasih ya Jen.’’


‘’Tidak perlu berterima kasih.’’


Setelahnya Jenie kembali ke kamar, jiwa jahilnya timbul saat melihat Exel sedang tertidur pulas, dengan cepat Jenie berlari mencari spidol, tersenyum setelah mendapatkannya setelahnya kembali dan naik ke ranjang, melihat wajah Exel dengan senyum jahilnya.


Seperti pelukis handal, Jenie berkarya diwajah Exel, tak sampai 10 menit, Jenie menyudahi aktivitasnya, tersenyum melihat hasil karyanya, mengambil ponsel dan mengabadikan hasil karyanya itu dalam bentuk foto.


Paginya Exel terbangun lebih dulu, tersenyum, menghadap Jenie dengan satu tangannya menyangga kepalanya.


‘’Morning.’’ ucapnya menyambut Jenie yang baru saja membuka mata.


‘’Aakkhh.’’ Teriak Jenie karena kaget melihat wajah Exel.


‘’Kamu kenapa Jen? Mimpi buruk?’’ tanya Exel lebih mendekatkan tubuhnya pada Jenie, tak langsung menjawab Jenie terdiam sejenak, tak lama ia tertawa kecil mengingat perbuatannya semalam yang membuat wajah Exel menjadi sedikit menakutkan.


‘’Nggak, aku cuma kaget aja, habisnya hari ini kamu ganteng banget, aku sampe pangling lihatnya.’’ tertawa kecil dengan tangannya yang sudah menangkup wajah Exel.


‘’Kamu ini ada-ada saja, kupikir ada apa, udah ah aku mau kekamar mandi dulu.’’ Exel ingin bangun dan turun dari ranjang tapi tangannya sudah lebih dulu di cekal Jenie.


‘’Anterin aku ke bawah dulu ya, laper soalnya.’’ Pintanya. ‘’Anak kamu loh ini yang mau bukan aku.’’ sambungnya lagi yang membuat Exel tak bisa menolak keinginannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2