Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Ancaman


__ADS_3

‘’Nih.’’ Jenie memberikan minuman boba rasa cheese cake pada Exel


‘’Rasa apa ini? Kamu kan tau kalau aku sukanya rasa matcha.


Menyengir ‘’aku belum pernah coba rasa ini, jadi sengaja membelikannya untukmu biar bisa mencobanya juga.’’ ucapnya yang sudah meminum boba dengan rasa cheese cake.


‘’Enak tau, cobain deh.’’ memberikan boba itu pada Exel.


‘’Gimana, enak kan?’’ Tanyanya saat melihat Exel yang sudah berhasil menelan minuman itu.


‘’Lumayan.’’ jawab Exel dan kembali memberikan minuman itu pada Jenie yang kembali diminum oleh wanita itu sedang Exel sudah melajukan mobilnya menuju apartemen.


‘’Mau lagi dong, tapi yang matcha.’’ pinta Exel membuka mulutnya, Jenie pun menyuapi minuman itu ke dalam mulut Exel yang sudah terbuka lebar, tak ada rasa jijik keduanya terus minum dari sedotan yang sama.


*****


‘’Jen kamu nggak pa-pa kan?’’ Tanya Exel yang sudah memeluk Jenie, sekarang keduanya sudah sampai di apartemen.


‘’Memangnya aku kenapa?’’


‘’Gosipnya.’’


‘’Ngapain peduli sama gosip murahan itu, kamu kan tau itu papaku.’’


‘’Aku peduli karena itu menyangkut kamu, aku nggak mau jadi suami yang lalai menjaga istrinya, aku ingin selalu berada disampingmu dan melindungimu.’’


‘’Sejak kapan kamu jadi sweet gini?’’ Mengelus rahang kokoh Exel sambil terkekeh melihat ekspresi lucu yang ditampilkan Exel.


‘’Sejak.’’ Ucapannya terhenti karena ponsel Jenie yang tiba-tiba berdering.


‘’Aku ke bawah dulu ya, ada paket soalnya.’’


‘’Nggak usah kamu disini aja biar aku yang ambil.’’


Jenie mengangguk, masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah sedang Exel turun kembali mengambil paket untuk Jenie.


*****


‘’Nih paketnya.’’ Exel menghampiri dan memberikan paket itu pada Jenie yang sedang duduk di meja makan sambil ngemil beberapa batang coklat.

__ADS_1


‘’Paket apa sih, perasaan aku nggak ada pesan apa-apa deh.’’


‘’Kamu yakin?’’ perasaan Exel sedikit tidak tenang, ingin merebut paket itu dari Jenie tapi terlambat, wanita itu sudah berteriak ketakutan setelah berhasil membuka paket, Exel berdiri melihat isi paket.


Rahangnya mengeras melihat foto pernikahannya dan Jenie dengan foto wajah Jenie yang sudah berubah merah ditambah dengan kepala tikus yang diletakan tepat di samping foto pernikahan mereka.’’


‘’Exel aku takut.’’ Ucap Jenie dengan nada ketakutan, tubuhnya gemetar memeluk pinggang Exel dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, wanita itu terlihat pucat.


‘’Kau tenanglah, aku janji akan mencari pelakunya.’’ menangkup wajah Jenie, menyeka air matanya.


‘’Hei lihat aku.’’ pintanya karena Jenie sama sekali tak melihatnya.


‘’Aku janji akan selalu melindungimu, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, kau percaya kan padaku?’’ Tanyanya yang diangguki Jenie, wanita itu semakin erat melingkarkan tangannya di pinggang Exel, membenamkan wajahnya di perut Exel.


‘’Sudahlah jangan menangis lagi, kau mau makan apa, aku akan membuatkannya untukmu.’’


‘’Tapi Exel, bagaimana kalau pengirim paket itu datang ke apartemen ini, bagaimana kalau dia benar-benar mencelakaiku?’’ Jenie terlihat masih ketakutan, bagaimana ia bisa tenang sedang diluar sana sepertinya ada orang yang sangat tak menyukainya bahkan mengancam nyawanya.


‘’Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu, percaya padaku oke.’’


‘’Tapi Exel.’’


‘’Tapi ini belum jamnya makan malam Exel.’’


‘’Memangnya apa salahnya makan malam sebelum waktunya?’’


‘’Kalau aku lapar lagi bagaimana?’’


‘’Ya tinggal bangunkan aku dan aku akan memasak lagi untukmu.’’


‘’Kau yang menyuruh ya, jangan protes nanti kalau aku membangunkanmu.’’


‘’Iya bawel.’’


‘’Xel sebelum masak ini dibuang dulu dong aku takut.’’ Menggeser kotak paket hingga hampir jatuh dari meja, Exel pun mengambil kotak itu, tak membuangnya, Exel menelpon orang kepercayaan papanya untuk menyelidiki kira-kira siapa yang sudah berani mengirim paket dan mengusik Jenie.


Exel juga meminta orang kepercayaan papanya itu datang mengambil kotak paket agar lebih gampang menyelidiki, tak lupa juga Exel menyuruhnya memasang cctv di pintu masuk apartemen dan di beberapa sudut ruang apartemennya, bahkan dalam kamar pun Exel minta untuk dipasang cctv karena tak ingin kecolongan nantinya, lebih baik berjaga-jaga terlebih dulu.


Dan tentu saja semua itu akan dilakukan tanpa sepengetahuan Jenie, mana mau dia kalau tau kamarnya akan dipasangi cctv.

__ADS_1


‘’Kau mau kemana?’’ Tanya Jenie setelah mereka selesai makan.


‘’Kamar.’’


‘’Ikut, mulai malam ini aku akan tidur denganmu lagian kita kan suami istri jadi untuk apa menggunakan dua kamar, iya kan?’’ ucapnya yang sebenarnya takut untuk tidur sendiri.


Jenie masih terus memikirkan paket yang tadi diterimanya, sejujurnya pikirannya dari tadi tak bisa tenang. Ia memang percaya kalau Exel akan melindunginya tapi bukan berarti dia jadi tidak takut akan hal itu.


‘’Apa kau yakin?’’


Jenie mengangguk, menyusul Exel dan berjalan di samping pria itu.


‘’Yasudah mulai malam ini aku akan tidur di kamarmu, aku mau mandi dulu setelahnya aku akan menyusulmu ke kamarmu.’’ Meneruskan langkahnya sedang Jenie duduk diam di ruang tamu, menyalakan tv agar tak merasa sunyi.


Sementara di tempat lain Sasa sedang tertawa kesenangan karena sudah berhasil mengancam Jenie.


Sasa sangat yakin Jenie pasti sedang ketakutan karena paket yang dikirimnya, entah dari mana ia mengetahui pernikahan Exel dan Jenie, yang jelas ia akan terus menyingkirkan siapapun wanita yang dekat dengan Exel, karena pendamping Exel hanya boleh dirinya dan bukan wanita lain termasuk Jenie.


‘’Aaaa.’’ Teriak Jenie karena kaget dengan dering ponselnya sendiri, bahkan Exel sampai berlari keluar hanya dengan menggunakan handuk karena mengira terjadi sesuatu pada Jenie.


‘’Kamu kenapa?’’ Tanya Exel dengan suara paniknya sedang Jenie langsung meletakkan jari telunjuknya di atas bibir meminta Exel diam.


‘’Iya kak aku nggak pa-pa kok.’’ Ucapnya pada Kevin yang sekarang sedang menelponnya.


‘’Kamu lagi sama siapa Jen, tadi aku dengar ada suara cowok?’’


‘’Oh itu, itu tetanggaku, aku lagi duduk di depan rumah jadi dia nyapa.’’ Memberi alasan, Jenie berpikir Kevin juga tidak tau siapa dirinya.


Padahal tanpa sepengetahuannya Kevin sudah menyewa orang untuk menyelidiki latar belakangnya jadi tentu saja Kevin sangat tau tentang siapa Jenie sebenarnya dan hal itu juga yang membuatnya tambah menyukai Jenie, wanita itu adalah seorang pewaris tunggal seluruh harta kekayaan keluarganya yang jumlahnya tak terhitung lagi.


‘’Kau sedang menelpon siapa sih?’’ tanya Exel lagi lebih mendekat pada Jenie dan duduk di samping wanita itu, tak peduli dengan Jenie yang menyuruhnya diam.


Exel sangat tau siapa yang menelpon makanya dia sama sekali tak menuruti keinginan Jenie, karena Exel yang terus mengganggu akhirnya Jenie mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.


‘’Kenapa terus menggangguku, tadi itu kak Kevin yang menelpon kalau dia curiga bagaimana?’’


Exel hanya mengangkat pundaknya kemudian kembali ke kamar untuk mengganti pakaian, tak lama ia keluar lagi dan tanpa permisi masuk ke kamar Jenie, langsung berbaring di sisi kanan ranjang.


‘’Jangan tidur dulu, temani aku membuat tugas kampus, kau bisa tidur setelah aku tertidur nanti, oke.’’

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2