
‘’Dengar-dengar dulu Jenie merebut kak Exel dari Sasa.’’ Bisik seseorang pada teman di sampingnya saat mereka melihat Jenie dan Sasa yang kini saling bermusuhan satu sama lain.
‘’Ah masa sih, berarti kak Exel sama Jenie sudah lama kenal dong, tapi kenapa waktu itu mereka sering bertengkar dan tidak terlihat akur?’’
‘’Entahlah.’’
‘’Eh tapi aku nggak menyangka sih kalo Jenie tega merebut pacar sahabatnya sendiri, bisa dimengerti kenapa Sasa menjadi marah padanya, akupun akan sama jika berada diposisi Sasa.’’
Entah darimana mereka asal gosip itu yang jelas sekarang sudah ada yang percaya tentang hal itu dan sama sekali tak menyangka kalau Exel dan Jenie ternyata bermain di belakang Sasa, tapi sebagian besar tetap saja tak percaya.
‘’Kamu kenapa kesini lagi?’’ Tanya Jenie kaget melihat Exel yang kini sudah berdiri di samping tempat duduknya, orang-orang di kelasnya pun memandang ke arah mereka.
‘’Ada yang kelupaan.’’ Ucapnya tersenyum dan dengan cepat mencium kening Jenie, berlari pergi sebelum Jenie berteriak padanya.
‘’Exel.’’ Teriak Jenie kesal bercampur malu, bukannya merasa bersalah, pria itu berbalik, tersenyum dan memberikan love sign menggunakan dua tangannya.
‘’Oh Tuhan kak Exel sweet banget.’’
‘’Senang banget sih jadi Jenie, kak Exel terlihat sangat mencintainya.’’
‘’Bagaimana ya caranya menjadi Jenie, aku ingin tutorialnya dong.’’
‘’Kak Exel aku padamu.’’
Ucap beberapa orang dengan nada hebohnya sedang jenie, wanita itu menunduk karena merasa sedikit malu, berbeda dengan Jenie, saat ini Sasa merasa sangat geram, mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, setelah apa yang dilakukannya kenapa Exel dan Jenie terlihat lebih lengket satu sama lain?
‘’Jenie bersenang-senanglah sekarang karena aku tak akan membiarkanmu terus merasa senang setelah membuatku menderita seperti sekarang?’’ Gumannya penuh kebencian
‘’Sha hari ini kamu kerja nggak?’’ Tanya Jenie, sekarang keduanya sedang duduk berbincang di taman belakang kampus sambil menikmati minuman boba yang ternyata menjadi kesukaan keduanya yaitu minuman boba dengan rasa matcha, kini hubungan keduanya juga semakin dekat, Alisha juga tau hubungan Jenie dan Exel yang sebenarnya, niatnya Jenie ingin memberitahunya tapi nyatanya Alisha sudah lebih dulu tau, mungkin kebetulan, Alisha juga bekerja di butik tempat Jenie dan Exel melakukan fitting baju pengantin.
‘’Iya kenapa emang?’’
__ADS_1
‘’Ikut bisa nggak?’’
‘’Jangan ah kalau suami atau keluargamu marah bagaimana?’’
‘’Kau tenang saja mereka tidak akan marah padaku hanya karena masalah seperti itu, jadi gimana aku bisa ikut tidak?’’
Alisha mengangguk ‘’tapi aku nggak tanggung jawab ya kalau mereka memarahimu.’’
Jenie tersenyum dan mengangguk, setelahnya keduanya berbincang banyak hal, seperti wanita pada umumnya keduanya juga tak ketinggalan untuk menggosipkan beberapa hal yang terjadi di kampus atau beberapa orang di sekeliling mereka.
‘’Kalian sedang apa?’’ tanya Exel menghampiri, pria itu sudah tak keberatan lagi dengan kedekatan Jenie dan Alisha, menurutnya Alisha adalah tipe seorang teman yang tulus untuk Jenie, tidak seperti Sasa.
‘’Kami sedang saling meng share knowledge.’’ jawab Jenie dengan santainya, Exel tertawa kecil, duduk di samping Jenie.
‘’Bilang aja gosip.’’ Exel menarik pipi Jenie lalu menyapa Alisha yang kini tersenyum melihat tingkah kedua pengantin muda itu.
‘’Ih apaan sih Xel.’’ protesnya menyingkirkan tangan Exel dari pipinya. ‘’Gosip juga knowledge kali, iya kan Sha?’’ sambungnya lagi, sedang Sasa menjawab pertanyaannya dengan anggukan kecil.
‘’Belum tapi kami nggak mau makan siang bareng sama kamu.’’ Jawab Jenie.
‘’Loh memangnya kenapa, harusnya kamu senang dong kapan lagi bisa makan siang sama pria terpopuler di kampus ini?’’ Ucap Exel bangga sedang Jenie tersenyum kecil dengan ekspresi mengejeknya.
‘’Nggak tuh, nggak butuh, daripada makan siang sama kamu mending makan siang di cafe depan, lumayan buat cuci mata.’’
‘’Ah nggak ada ya acara makan makan di cafe depan, aku nggak ngizinin.’’
‘’Masa mau makan saja pake izin sih?’’
‘’Yaiya dong, ingat aku itu suamimu jadi kamu harus izin padaku untuk apapun itu yang akan kamu lakukan.’’
‘’Ah kamu nggak asyik banget sih, bosan aku kalau hanya lihat kamu terus, sekali-kali cuci mata kan nggak pa-pa.’’
__ADS_1
‘’Apa kamu bilang, bosan? Bisa-bisanya kamu, sama aku dan kamu bilang akan bosan?’’ protes Exel keberatan sedang Alisha yang melihat mereka hanya menggeleng kepala, merasa pusing dengan tingkah keduanya yang selalu saja berdebat tapi lucunya tak butuh waktu lama untuk keduanya akur kembali, bahkan tak akan sampai semenit sejak perdebatan terakhir mereka dan mereka akan terlihat akur kembali.
‘’Kalian, berhentilah berdebat.’’ Ucap Alisha akhirnya membuat keduanya melihat Alisha.
‘’Alisha kamu pilih mana, makan di kantin kampus atau cafe depan?’’ Tanya Jenie
‘’Kenapa tanya padaku?’’
‘’Kalau kau memilih makan di kampus maka aku akan mengalah pada Exel dan kita bertiga akan makan di kantin kampus tapi kalau kau pilih cafe depan maka kau.’’ Jenie menunjuk Exel ‘’kau harus mengalah dan membiarkanku makan di cafe depan, oke?’’ ucapnya memperagakan tanda oke dengan menggunakan tangannya di depan wajah Exel.
‘’Oke.’’ Jawab Exel.
‘’Jadi apa yang kau pilih?’’ Tanya Jenie pada Alisha, kini pasangan muda itu sedang melihat Alisha dan menunggu jawabnnya.
‘’Yang jadi pertanyaannya kenapa aku harus makan siang bersama kalian? Kenapa kalian tidak makan berdua saja, sudah ah aku pergi masih banyak urusan, selesaikan saja perkara tempat makan siang kalian tanpa melibatkanku.’’ Ucapnya berdiri meninggalkan pasangan itu.
‘’Lalu kita akan makan dimana?’’ tanya Exel melihat Jenie.
‘’Makan sendiri-sendiri saja.’’
‘’Nggak ada, yaudah kita akan makan di cafe depan kalau kau memang ingin makan disana, tapi ingat matanya jangan jelalatan.’’ Exel memperingati dengan jari telunjuknya yang menunjuk Jenie, Jenie tersenyum menggenggam jari telunjuk Exel dengan satu tangannya sedang satu tangannya sudah menggelitik bawah dagu Exel. ‘’lagian untuk apa aku melihat pria lain kalau suamiku sudah setampan ini.’’ Pujinya membuat Exel tersenyum. ‘’Itu kamu sadar.’’ jawab Exel membuat Jenie tertawa kecil. ‘’Ck narsis banget sih.’’ lalu menarik tangan Exel pergi dari tempat itu.
‘’Eh itu bukannya kak Exel dan Jenie?’’ bisik beberapa orang saat melihat Exel dan Jenie memasuki cafe dengan saling bergandeng tangan.
‘’Mau makan apa?’’ tanya Exel, keduanya bersikap santai tak peduli dengan puluhan pasang mata yang sedang mengamati mereka.
‘’Nasi sapi lada hitam.’’ Ucap Jenie tanpa melihat menu, itu memang menu kesukaannya saat makan di cafe ini sedang Exel masih terlihat memilih beberapa makanan pencuci mulut untuk mereka.
‘’Aku mau bakpao juga ya.’’ tambah Jenie
‘’Hei bro.’’ sapa Andre menghampiri keduanya, dengan santainya pria itu duduk di samping Exel dan menyuruh wanita yang sedang bersamanya duduk di samping Jenie.
__ADS_1
Bersambung.....