
‘’Eh tapi kenapa mereka menyembunyikannya ya? Malahan mereka sering terlihat seperti musuh bebuyutan daripada sepasang suami istri.’’
‘’Katanya sih perjodohan jadi mungkin awalnya nggak saling suka.’’
‘’Ah nggak kok, tadi aku lihat berita terbarunya katanya kak Exel sudah menyukai Jenie sejak beberapa tahun lalu jauh sebelum mereka menikah.’’
‘’Apa mungkin Jenie yang tidak menyukai kak Exel, tapi masa sih? Secara menurutku didunia ini tidak ada satupun wanita yang tidak akan menyukai kak Exel, cowok saja banyak yang menyukainya.’’
‘’Setelah menjadi penggemar selma bertahun-tahun sekarang akhirnya aku harus mengikhlaskan kak Exel.’’
‘’Semoga bahagia apalagi kalo nggak salah katanya sekarang jenie sedang hamil.’’
Itulah respon orang-orang saat mendengar berita pernikahan Exel dan Jenie, mereka sama sekali tak ada yang berpikir negatif tentang pesta pernikahan Exel dan Jenie yang terkesan buru-buru karena tadi malam, lewat instagram storynya Exel mengunggah buku pernikahannya dan Jenie serta memperlihatkan dengan jelas tanggal pernikahan mereka.
Hari itu kampus terasa lebih sepi karena berita pernikahan Jenie dan Exel, banyak penggemar Exel yang menangis karena mau tak mau mereka harus mengakhiri obsesi mereka yang sudah beberapa tahun ini menemani mereka. Walau banyak yang memberi selamat tak sedikit juga yang merasa berita itu seperti pukulan terbesar yang terjadi dalam hidup mereka, mungkin karena mereka terlalu menyukai sosok Exel yang menurut mereka sangat sempurna. Beberapa diantara mereka bahkan berpikir tak mungkin menyukai pria lain selain Exel.
Sedang di rumahnya Jenie sedang kalang kabut, pikirnya semalam keluarga dan suaminya itu hanya bercanda saat mengatakan akan mengadakan pesta pernikahan dan Exel malam ini, tapi tadi pagi dia dikagetkan dengan banyaknya berita terkait pernikahannya.
‘’Xel, Xel bangun dong.’’ Jenie menggoyang keras tubuh Exel untuk membangunkan pria itu yang sepertinya sangat lelap dalam tidurnya.
‘’Exel tolong antar aku ke butik, aku harus mencari wedding dress yang akan kupakai sebentar.’’ regek Jenie, ia sangat khawatir, pasalnya tinggal hitungan jam menuju pesta pernikahan mereka tapi dia sama sekali tak memiliki wedding dress.
‘’Bukalah kotak yang ada di meja.’’ Exel bangun, menunjuk ke arah meja kecil yang ada di kamar mereka.
‘’Apa kau suka?’’ tanya Exel, menghampiri, memeluk jenie dari belakang dan mencium singkat pipi Jenie.
‘’Kapan kau menyiapkannya?’’ tanya Jenie dengan mata berbinarnya, melihat wedding dress yang disiapkan Exel untuknya. ‘’Kau masih mengingatnya?’’ tanya Jenie lagi.
‘’Tentu saja aku mengingatnya, aku mengingat dengan sangat jelas semua yang berkaitan denganmu.’’ jawab Exel.
‘’Aku tidak menyangka kau masih akan mengingatnya.’’ Jenie meletakkan wedding dress itu dan berbalik memeluk Exel. dulu, Jenie sering sekali berbicara tentang wedding dress impiannya pada Exel, saat itu walau masih sangat muda Jenie sudah banyak menghayal tentang pernikahannya bersama Exel, makanya Exel bisa tau dengan jelas.
‘’Terimakasih, aku senang sekali.’’ Jenie mengeluarkan air mata bahagianya saking senangnya dengan apa yang dilakukan Exel.
__ADS_1
‘’Kenapa kau menangis apa kau tidak menyukainya, apa kurang bagus?’’ tanya Exel menghapus air mata Jenie.
Jenie menggeleng. ‘’Aku menangis karena senang memiliki suami sepertimu, i love you Exel Richard.’’ Jenie berbisik saat mengatakan kata I love you.
‘’Kau bilang apa tadi? Aku tidak mendengarnya.’’
Jenie menggeleng. ‘’Aku bilang aku menangis karena senang memiliki suami sepertimu.’’
‘’Bukan itu tapi setelahnya.’’
‘’Setelahnya, apa?’’
‘’Jangan bercanda deh tadi jelas-jelas aku mendengarnya.’’
‘’Memangnya apa yang kau dengar.’’
‘’Tadi kau mengatakan I love you.’’
‘’Kamu kenapa lari, aku hanya ingin memelukmu Jen.’’ teriak Exel.
‘’Boong, kamu pasti mau menggelitik aku kan?’’ tebak Jenie dengan menunjuk Exel.
‘’Nggak Jen, kamu nggak percayaan banget sih, dosa tau kalau nggak percaya sama suami.’’
‘’Kata siapa?’’
‘’Ya kata aku, kan tadi aku yang ngomong, sini deh, aku pengen meluk kamu tau.’’ Exel berjalan mendekat dengan membuka kedua tangannya.
‘’Awas ya kalau boong.’’ Ucap Jenie lagi dengan jari telunjuknya yang mengarah pada Exel.
‘’Nggaklah, aku janji.’’
‘’Yaudah sini.’’ Jenie ikut membuka kedua tangannya, bersiap menerima pelukan dari Exel tapi bukan pelukan yang didapatnya melainkan serangan mendadak di bibirnya, Exel melahap, mengecap, mengabsen setiap sudut dalam mulut Jenie dengan begitu lembut.
__ADS_1
Jenie pun tak menolak, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Exel dengan menutup kedua matanya ia membalas ciuman Exel.
‘’Lihat putramu.’’ ucap papa Bowo pada mama Sita melihat tindakan Exel yang langsung menyosor pada Jenie.
‘’Putramu juga Wo.’’ timpal papa Robert setelahnya mereka menggeleng melihat pasangan muda itu yang masih tak sadar dengan kehadiran mereka.
Setelah ciuman yang terjadi dengan durasi sedikit panjang, dengan malu, menutup setengah wajahnya menggunakan telapak tangannya, Jenie memukul kecil dada Exel.
‘’Kenapa menciumku, katanya hanya akan memelukku.’’
‘’Tadinya aku hanya ingin memelukmu tapi sepertinya memelukmu tak akan menghilangkan rasa kangenku.’’
Jenie kembali memukul dada Exel. ‘’bulsyit banget sih, masa berdekatan kangen sih.’’
‘’Aku nggak bohong loh ini, aku memang selalu kangen sama kamu, makanya kamu nggak bisa pergi jauh dari aku nanti aku bisa mati karena merindukanmu.’’
‘’Gombal banget sih.’’ Jenie menggeletik bawah dagu Exel dengan gemas seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Exel hingga hidung keduanya bersentuhan.
‘’Kalian itu benar-benar tidak melihat kami atau hanya pura-pura tidak melihat kami?’’ tegur papa Robert karena sewot melihat kedua pasangan muda itu.
‘’Kenapa ditegur sih Rob?’’ protes mama Sita yang disetujui oleh mama Catrine dan papa Bowo sementara Alisha hanya menggeleng sejujurnya ia sedikit malu melihat pemandangan Exel dan Jenie tadi, dua pasangan itu memang sedang dilanda asmara makanya sering tak memperhatikan sekitar.
‘’Kenapa jadi aku yang disalahkan, kalian sih, lain kali kalau mau ciuman lihat tempat dong.’’ Protes papa Robert pada Jenie dan Exel.
‘’Ih kenapa sih, masih pagi udah bete aja.’’ Ucap Jenie menggoda papa Robert
Malam harinya sebelum acara pesta pernikahannya dimulai, Exel menghampiri ruangan Jenie, dengan reaksinya yang sedikit lebay, Exel berjingkrak-jingkrak sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya, setelahnya ia meletakan kedua tangannya di pinggang masih dengan mata yang terus menatap Jenie yang kini tengah tersenyum melihat tingkahnya.
‘’Cantik banget sih, aku hampir pingsan tau nggak.’’ Exel mendekat, satu tangannya menangkup wajah Jenie sedang tangan satunya mengelus lembut rambut Jenie.
‘’Istriku memang adalah wanita paling cantik di dunia ini.’’ Ucap Exel lagi masih dengan melihat wajah Jenie dengan mata berbinarnya, setelahnya ia mencium kedua pipi Jenie dan mencium singkat bibir Jenie yang tentu saja langsung mendapat protes dari wanita itu.
Bersambung....
__ADS_1