Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
kesalapahaman


__ADS_3

Sementara di luar kamar Exel  berdiri tepat di depan kamar Jenie, ingin sekali dia berkata keberatan tapi mulut bodohnya itu malah mengatakan yang sebaliknya, mungkin karena gengsinya hingga mulutnya tidak bisa sejalan dengan perasaannya.


‘’Mau kemana kamu?’’


‘’Makan malam sama kak Kevin.’’ Bohong Jenie padahal ingin keluar untuk sejenak merilekskan pikirannya.


‘’ada apa dengan pakaianmu? apa kau tidak takut masuk angin?’’ Exel mencegah dengan menahan pergelangan tangan Jenie


Perasaannya sangat berat untuk membiarkan wanita pergi apalagi menemui Kevin, pria yang menurutnya sekarang sudah menjadi kekasih Jenie, apalagi melihat pakaian yang digunakan Jenie membuat pikirannya berkelana jauh.


Takut Kevin tergoda dan berbuat hal yang tidak diinginkan pada Jenie, saat ini wanita itu hanya menggunakan celana pendek yang bisa dikatakan super minim dipadukan dengan baju berlengan satu.


‘’Bukankah bagus, nantinya aku bisa memintanya untuk memelukku.’’ Balas Jenie cuek, menyingkirkan tangan Exel yang sedang menggenggam pergelangan tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya.


‘’Aku yang akan mengantarmu.’’


‘’Aku akan menemui kekasihku jadi untuk apa kau mengantarku?’’


‘’Kalau begitu tidak akan kubiarkan kau keluar dari apartemen ini.’’ langsung mengangkat tubuh Jenie, seperti beras dalam karung, Jenie diletakan di atas pundaknya.


‘’Exel lepaskan aku bisa jatuh.’’ Beberapa kali memukul keras punggung Exel yang sama sekali tidak menyulut niat dan langkah Exel.


Pria itu membawa Jenie ke dalam kamar, melemparnya ke atas ranjang, mengunci pintunya, meletakkan kunci itu di saku celananya dan duduk di ranjang Jenie.


‘’Apa yang kau lakukan? Kembalikan kuncinya.’’ berusaha merampas kembali kunci kamarnya, bahkan tidak segan-segan memasukan tangannya kedalam saku celana Exel sampai tidak sengaja menyentuh sesuatu yang langsung membuatnya salah tingkah.


Dengan cepat Jenie mengeluarkan tangannya dari saku celana Exel, tidak berniat lagi mengambil kunci kamarnya.


wanita itu diam dengan melipat dua tangannya diatas paha, sama halnya dengan Exel, pria itu duduk diam setelah insiden tidak sengaja yang dilakukan Jenie padanya tadi.


Tidak bisa bertahan lebih lama, akhirnya Exel memutuskan keluar dari kamar Jenie dan mengunci wanita itu dari luar.


Pria itu duduk di sofa, beberapa kali mengusap kasar wajahnya, lama-lama bisa runtuh pertahanannya, ternyata susah juga menahan diri untuk tidak menyentuh seseorang yang disukai.


Di tempat lain

__ADS_1


‘’Apa maksudmu, mencium keningnya di depan umum, apa kau sudah benar-benar menyukainya?’’


‘’Bukankah kau yang menyuruhku untuk membuatnya lebih mencintaiku?’’


‘’Iya aku menyuruhmu untuk membuatnya mencintaimu dan setelahnya tinggalkan dia bukan malah kau ikut jatuh cinta padanya.’’


‘’Kau tenang saja, aku melakukannya hanya untuk memuluskan rencana kita bukan karena aku memiliki perasaan padanya.’’ Kevin menarik Sasa yang sedari tadi memarahinya kedalam dekapannya


tangannya tidak tinggal diam, sudah menjalar kemana-mana, mencari beberapa tempat yang menjadi kesenangannya.


‘’Aku menginginkanmu sekarang.’’ langsung mendorong Sasa ke atas ranjang, mengukungnya, dan mulai menyerang di berbagai titik kenikmatannya


Hal seperti ini sudah biasa mereka lakukan, saling memberi kepuasan dengan alasan saling mencintai yang padahal Kevin tau dengan jelas kalau Sasa tidak pernah benar-benar serius dengan hubungan mereka dan dia pun tidak pernah keberatan dengan hal itu.


Selama ini Kevin merasa sangat mencintai Sasa tapi kenapa, setelah Jenie menolaknya tadi ia merasa sangat kecewa dan sakit hati, ia bahkan rela memesan kalung khusus untuk wanita itu, apa dia sudah mulai menyukai Jenie tanpa disadarinya?


*****


‘’Makanlah aku membawakan makan malam untukmu.’’ Exel memasuki kamar Jenie dengan membawa satu mangkuk mie ayam buatannya.


Exel beberapa kali menelan saliva melihat gaya tidur Jenie yang sedikit mengangkang, dengan cepat ia mengambil selimut dan menutupi tubuh Jenie, setelahnya pria itu membangunkan Jenie untuk sekedar menyantap makan malamnya.


‘’Jen bangun Jen, makan dulu.’’


‘’Ngantuk Xel.’’ jawabnya masih dengan mata yang terpejam, dengan tidak sadar menarik Exel kedalam pelukannya.


Entah apes atau beruntung, wajah Exel jatuh tepat di belahan dada Jenie, membuat si pria terdiam kaku.


‘’Ah bodoh lah, dia kan istriku.’’ Exel sudah sangat tergoda dengan dua bukit kembar yang terlihat pas dalam genggamannya, dengan hati-hati, tidak ingin membuat Jenie bangun, ia menarik kain tipis yang menutupi area bukit kembar yang sedari tadi mengalihkan pikirannya.


Seperti squishy, Exel memainkan, menggenggamnya dengan menggunakan dua tangannya, setelahnya, menenggelamkan kepalanya diantara dua bukit itu dan menghirup wangi tubuh Jenie.


setelahnya ia memasukan satu benda kenyal itu kedalam mulutnya, bermain menggunakan lidahnya, menghisap penuh kenikmatan puncak bukit yang berwarna pink sedikit kemerahan itu.


Tidak lupa tangan satunya juga terus bermain memberikan pijatan-pijatan lembutnya, tidak lupa juga pria itu mencium bibir Jenie saking semangatnya Exel bahkan tak sengaja menggigit kecil bibir wanita itu.

__ADS_1


Exel terus menjalankan aksinya sedang Jenie sama sekali tidak terganggu, wanita itu tertidur dengan sangat lelap.


Pagi harinya Jenie terbangun, ia merasa sedikit aneh pada area dada dan bibirnya, setelah selesai mandi, ia menatap dirinya di pantulan cermin kamar mandi, kenapa banyak sekali tanda merah di area dada dan lehernya juga terdapat luka kecil di bibirnya.


Jenie mencoba mengingat tapi sama sekali tidak bisa, ia merupakan tipe wanita yang kalau tidurnya tidur mati jadi tidak mungkin baginya untuk mengetahui apa yang semalam terjadi.


Menghampiri kamar Exel dengan masih menggunakan handuk yang melingkar di tubuh indahnya, kebetulan pintu kamar Exel tidak terkunci hingga ia bisa masuk tanpa perlu berteriak-teriak memanggil pria itu.


‘’Exel coba kau lihat.’’ Mendekati Exel sambil memperlihatkan tanda-tanda merah diatas dada dan lehernya.


‘’Kau lihat, kenapa dada dan leherku tiba-tiba memerah seperti ini?’’ tanyanya dengan ekspresi bingung.


Exel yang sedang asyik memasukan beberapa buku ke dalam tasnya menoleh seketika.


‘’Ada apa?’’ Tanyanya


‘’Ini loh, merah semua.’’ ucap Jenie lagi


‘’Mana biar kulihat.’’ menyentuh lembut dada Jenie.


‘’Bagus aku suka warnanya.’’ Tersenyum dan tanpa malu mengecup singkat area atas dada Jenie.


Sedang wanita itu diam membeku, seperti terkena aliran listrik, tubuhnya meremang seketika dan jantungnya berdetak tidak karuan.


Kenapa juga Exel harus melakukan itu? ia merutuki dirinya yang datang ke kamar Exel dengan hanya menggunakan handuk.


‘’Kenapa tegang begitu?’’ Tanya Exel yang kali ini tanpa pamit kembali menyerang bibir Jenie, sementara Jenie diam dengan serangan tiba-tiba itu, tidak menolak ataupun membalas ciuman Exel.


‘’Bernafas Jen.’’ Ucap Exel di sela-sela ciuman itu.


‘’Ah, apa kau bilang?'’ Ucap Jenie setengah sadar, otaknya membeku, masih bingung dengan apa yang terjadi.


Bersambung


Kira-kira seperti ini cantiknya Jenie saat mengatakan akan bertemu Kevin👇 bagaimana Exel nggak ketar ketir coba😀🤭

__ADS_1



__ADS_2