Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Bunga mawar


__ADS_3

‘’Terima kasih istriku sayang.’’ mencium singkat bibir Jenie dan berlari keluar dari dalam kamar, Jenie yang melihat tingkah suaminya itu hanya bisa tersenyum dan menggeleng setelahnya ia memutuskan masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


‘’Ma ini semuanya mama yang tanam?’’ Tanya Jenie yang kini sedang membantu mama Sita menyiram bunga mawar yang tumbuh subur di taman belakang rumah.


Menggeleng ‘’mama hanya merawatnya sesekali seperti sekarang.’’


‘’Lalu siapa yang menanamnya, seingat Jenie mama papa nggak ada yang suka bunga mawar apalagi Exel.’’


‘’Tanyakan pada suamimu.’’ mama melihat Jenie dengan senyum yang mengembang diwajahnya setelahnya ia kembali menyiram bunga-bunga itu.


‘’Exel? Maksud mama Exel yang menanamnya, tapi kenapa, bukannya Exel tidak terlalu menyukai bunga ya?’’


‘’Tapi kamu suka kan?’’


Jenie mengangguk, ia memang sangat suka dengan bunga mawar ‘’maksud mama Exel menanam ini untuk Jenie?’’ tebak Jenie yang 100% benar, sejak kepergian Jenie beberapa tahun lalu, Exel menanam banyak bunga mawar karena dengan itu ia bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada Jenie, sebelumnya setiap hari Exel akan menghabiskan banyak waktunya di taman itu, kadang juga mama dan papa melihat Exel sedang mengobrol dengan bunga-bunga itu, Exel juga membuat sebuah gazebo di tengah taman.


‘’Memangnya siapa lagi yang begitu menyukai bunga mawar selain kamu?’’


Jenie tersenyum senang, mendapati lagi satu kenyataan yang membuktikan kalau Exel sangatlah mencintainya. ‘’Jen mama mohon apapun yang terjadi pada kalian kedepannya, jangan pernah meninggalkannya lagi seperti dulu.’’ Jenie mengangguk kecil, ia juga sangat menyesal karena meninggalkan Exel hanya karena satu ucapan Sasa yang ternyata hanya omong kosong belaka apalagi kalau mengingat ia menghabiskan beberapa tahun terakhir dengan terus membenci dan banyak menyumpah Exel dengan kata-kata kotor.


‘’Xel Jen nanti malam kita kerumah tante Rosa ya, Eiden sudah balik dari Singapura soalnya.’’ kini keempatnya sedang duduk menikmati makan siang mereka.


‘’Kak Eiden?’’ Tany jenie yang sudah sedikit melupakan pria itu, pasalnya ia sudah sangat lama tidak bertemu dengan Eiden, dulu ia lumayan sering bertemu Eiden karena sering mengikuti Exel saat pria itu berkunjung ke rumah Eidein.


‘’Eiden itu sepupunya Exel Jen, kalau nggak salah dulu kamu juga lumayan dekat dengannya.’’ Mama Sita memberitahu, Jenie mengangguk kecil.


‘’Jenie ingat namanya ma tapi lupa wajahnya.’’


Exel menghentikan makan siangnya, memutar tubuhnya sedikit mengarah pada Jenie. ‘’Itu karena pikiranmu hanya dipenuhi olehku, iya kan?’’ mencubit gemas pipi Jenie.


‘’Aish kau ini, kenapa suka sekali mencubit pipiku.’’Protes Jenie memukul kecil tangan Exel yang sedang mencubit pipinya.


‘’Yasudah kalau tidak ingin aku mencubitnya maka aku akan menciumnya saja.’’ Exel memegang pinggang Jenie, mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Jenie, dengan refleks Jenie menghindar, menahan mulut Exel menggunakan telapak tangannya, sedang Exel masih menggodanya, pria itu masih berusaha untuk mencium pipi Jenie.


‘’Exel ih, mama papa tolongin Jenie dong.’’

__ADS_1


Bukannya menolong mama dan papa mertuanya malah asyik menikmati makan siang mereka bahkan sama sekali tak menghiraukan Exel dan Jenie yang membuat kegaduhan dimeja makan.


‘’Exel lepas.’’


‘’Cium dulu baru aku akan melepaskanmu.’’


‘’Kau kenapa jadi pemaksa seperti ini?’’


‘’Karena kau menolaknya jadi aku memaksamu, satu ciuman saja dan aku benar-benar akan melepasmu, aku janji.’’


‘’Benar ya, awas saja jika kau membohongiku.’’ Jenie melepas tangannya yang sedang menutup mulut Exel, memberikan pipinya untuk dicium Exel, tapi bukan mencium pipinya, Exel malah mencium bibirnya dengan singkat, hampir saja Jenie memukulnya lagi tapi Exel sudah lebih dulu menahan tangannya.


‘’Aku tidak bilang kan kalau aku ingin mencium pipimu, kau sendiri yang berprasangka, jadi bukan salahku dong.’’ Ucapnya dan dengan cepat mencium kembali bibir Jenie.


‘’Bonus.’’ Ucapnya tersenyum menggoda sedang jenie hanya bisa memutar malas bola matanya dan kembali meneruskan makannya.


‘’Mau apa lagi?’’ Tanya Jenie, menunjuk Exel menggunakan sendoknya saat pria itu ingin menyentuhnya.


‘’Kau kanapa sih, aku hanya ingin melakukan ini.’’ Exel mengelus belakang kepala Jenie sambil tersenyum, Jenie tidak marah dan kembali meneruskan makannya lagi.


‘’Alisha.’’ Ucap Jenie melihat Alisha.


‘’Jenie, Exel.’’ Ucap Alisha yang juga tak kalah kaget melihat Jenie dan Exel.


‘’Kalian saling kenal?’’ tanya Eiden melihat ketiganya.


‘’Kami satu kampus.’’ jawab Alisha


‘’Oh begitu, Exel itu sepupuku yang dulu sering aku ceritakan padamu.’’ Ucap Eiden, Alisha mengangguk setelahnya kembali menatap pasangan muda yang kini menjadi temannya.


‘’Jadi ini calonmu?’’ tanya papa Bowo dengan menepuk punggung Eiden, pria itu tersenyum lebar dengan Alisha yang sedikit salah tingkah.


‘’No uncle dia Alisha sahabat Eiden.’’


‘’Uncle pikir calonmu, habisnya tidak biasanya kau membawa wanita ke pertemuan keluarga.’’

__ADS_1


‘’Sita, Bowo, kalian sudah datang?’’ Tanya mama Rosa menghampiri.


Sedang Jenie berjalan mendekat pada Alisha, menggenggam tangannya dan mengelusnya lembut, tadi ia tak sengaja memperhatikan wajah Alisha yang tiba-tiba menjadi senduh karena ucapan Eiden yang mengatakannya hanya sebatas sahabat.


Jenie terus memperhatikan Eiden dan Alsha, keduanya sangat dekat seperti orang yang tengah berpacaran, Alisha juga terlihat sangat nyaman didekat Eiden dan begitupun Eiden.


‘’Kupikir mereka benar-benar hanya berteman.’’ Bisik Exel karena tau apa yang sedang dipikirkan Jenie.


‘Masa sih, tapi kupikir ada yang spesial diantara mereka.’’


‘’Kau ini ada-ada saja, kupikir mereka dekat karena mereka sudah saling mengenal untuk waktu yang lumayan lama.’’


‘’Tapi perasaanku mengatakan…’’


‘’Perasaanmu hanya boleh untukku bukan untuk memikirkan hal lain, oke?’’ Ucap Exel menggoda Jenie dengan senyum nakalnya jangan dilupakan juga alisnya yang kini sudah naik turun.


‘’Kalian sedang bisik-bisik apa sih?’’ tanya mama Rosa yang dari tadi memang memperhatikan Exel dan jenie.


‘’Itu loh, istriku yang cantik ini tadi mengatakan kalau dia sangat sangat sangat dan sangat mencintaiku.’’ Jawab Exel, refleks Je nie memukul lengan pria itu karena merasa sangat malu.


‘’Mana ada aku ngomong gitu, ngarang aja kamu.’’


‘’Lah tadi bukannya kamu bilang gitu ke aku?’’


‘’Mana ada, aku nggak pernah ya bilang gitu ke kamu.’’


‘’Terus kalau gitu kapan dong kamu mau bilang kalau kamu mencintaiku?’’


‘’Exel apa-apaan sih, banyak orang tau nggak, bikin malu aja.’’


‘’Loh kenapa harus malu, aku hanya ingin mendengar istriku mengatakan cinta padaku, memangnya salah?’’


‘’Exel diamlah atau aku tidak akan berbicara denganmu lagi.’’


‘’Begini nih, kamu tuh selalu saja mengancam tapi anehnya aku nggak keberatan.’’ Ucapnya mencium singkat pipi Jenie, membuat wanita itu melotot kesal padanya dan reflek kembali memukul lengan Exel.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2