
‘’Tanganmu mana?’’ Pinta Exel mengambil tangan Jenie untuk di genggamnya, sepanjang jalan, pria itu terus saja bersenandung kecil, beberapa kali juga mengusap kepala Jenie saat mobilnya harus berhenti di lampu merah sedang Jenie, wanita itu ternyata sudah terlelap, menikmati mimpi indahnya.
‘’Tidur ya?’’ Tanya mama Sita melihat Exel yang menggendong Jenie masuk ke rumah, Exel menjawabnya dengan anggukan kepala dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
Dua jam kemudian, Jenie membuka matanya, tersenyum sambil memperhatikan Exel yang sedang serius mengerjakan tugas kampusnya.
‘’Matamu bisa keluar dari tempatnya kalau terus memandangku seperti itu.’’ Ucap Exel tanpa melihat Jenie, tangannya masih sibuk memegang pulpen dan melabuhkan tintanya diatas kertas putih kosong.
‘’Kau tau kalau aku melihatmu?’’ Jenie menghampiri, duduk di pangkuan Exel dengan tangannya yang sudah melingkar di leher pria itu, Exel melepaskan pulpennya, melingkarkan satu tangannya di pinggang Jenie dengan tangan satunya menarik gemas pipi Jenie. ‘’Tentu saja aku tau karena aku bisa merasakannya.’’
‘’Mwe’’ Jenie berpura-pura ingin muntah mendengar gombalan Exel.
‘’Kamu kenapa? Jangan-jangan.’’ Exel menyentuh perut Jenie ‘’apa anakku sudah ada disini?’’ tanyanya.
‘’Apa-apaan sih Xel.’’ Jenie menyingkirkan tangan Exel dari perutnya.
‘’Kan bisa saja Jen, tadi buktinya kamu mau muntah kan?
‘’Aku mau muntah karena dengar kata anehmu tadi, sudah ah aku mau mandi.’’ Jenie berdiri dari pangkuan Exel.
‘’Loh memangnya mau kemana?’’
‘’Memangnya kalau mandi harus keluar ya, kalau di rumah nggak bisa mandi gitu?’’
‘’Biasa aja kali jawabnya nggak usah gondok gitu.’’
Jenie tak menjawab lagi, melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi, tak sampai 40 menit, ia sudah kembali menghampiri Exel dengan sudah menggunakan pakaian tidurnya.
‘’Sedang apa?’’ tanyanya, padahal ia sudah melihat kalau Exel sedang memeriksa semua fotonya yang ada di media sosial, bahkan ada beberapa foto yang di simpan Exel ke galeri ponselnya.
‘’Aku melihat foto wanita cantik di galeri ponselmu.’’ Jenie duduk pura-pura manyun di depan Exel.
‘’Wanita cantik apanya, nggak ada.’’
‘’Masa sih, aku lihat ada kok.’’
‘’Kamu jangan mengada-ngada deh, aku nggak ada ya nyimpan foto wanita cantik di ponselku.’’
‘’Yakin nggak ada?’’
‘’Yakinlah, lagian untuk apa juga aku berbohong.’’
Jenie merampas ponsel Exel, membuka galerinya dan memperlihatkan fotonya pada Exel. ‘’maksudmu aku nggak cantik, begitu?’’ Protesnya, Exel tersenyum lebar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tadinya dia berpikir kalau Jenie sedang menuduhnya menyimpan foto wanita lain makanya ia bersikeras mengatakan tidak, tapi ternyata wanita itu sedang memberikan pertanyaan jebakan.
__ADS_1
‘’Kalau aku tidak cantik, menurutmu siapa yang cantik?’’
‘’Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi yang lebih cantik darimu di dunia ini?’’ Exel memeluk pinggang Jenie, ingin menciumnya tapi Jenie sudah lebih dulu menghindar, sebenarnya ia hanya sedang berpura-pura marah, lagian mana ada orang yang akan marah hanya untuk masalah sepele seperti itu.
‘’Kamu marah ya?’’
‘’Menurutmu?’’
‘’Yaudah aku minta maaf ya, pokoknya seluruh penjuru bumi ini, baik di kota, di desa di lembah, di gunung, di lautan, bagiku tetap saja kau adalah wanita paling cantik.
‘’Kenapa sampai ke lembah, gunung dan lautan segala?’’
‘’Bisa saja kan ada wanita yang tinggal disana.’’
‘’Maksudmu setan gitu?’’
‘’Astaga pikiranmu kok sampai kesana sih, aku nggak bilang loh ya.’’
‘’Kamu memang nggak bilang tapi maksudnya itu kan?’’
‘’Ya nggak mungkinlah, mana berani aku mengatai kamu seperti itu, daripada berdebat mending kita turun makan malam.’’ ajak Exel, walau masih menggerutu tapi Jenie tetap mengikuti Exel.
‘’Xel habis makan ikut ke ruang kerja papa ya.’’ Ucap papa Bowo, sekarang keluarga kecil itu sedang berkumpul menikmati makan malam mereka.
‘’Exel stop deh, aku bisa makan sendiri.’’ Protes Jenie karena Exel terus saja menyuapinya dan tidak membiarkan makan sendiri, padahal tangan kanannya baik-baik saja karena yang terbentur tadi adalah tangan kirinya.
‘’Exel, suamiku tercinta yang sakit itu tangan kiri, tangan kananku nggak pa-pa kali, nggak usah lebay deh.’’
‘’Memangnya tangan kamu kenapa Jen?’’ tanya mama Sita
‘’Tadi tangan Jenie terbentur dinding kamar mandi ma.’’
‘’Astaga sayang, kok bisa teledor gitu sih, mana tangannya?’’ mama Sita meminta tangan Jenie untuk melihat tangannya.
‘’Nih.’’ papa Bowo memberikan foto seorang wanita pada Exel, kini mereka sudah berada di ruang kerja papa Bowo.
‘’Ini kan Mona’’ Exel mengambil dan melihat foto yang diberikan papa Bowo. ‘’ada apa dengannya pa?’’
‘’Dia biang yang terlibat dalam kasus penabrakan Jenie.’’
‘’Jadi biangnya Mona?’’ Exel sedikit tak percaya, selama ini dia mengira Sasa lah yang menjadi biang dari kasus itu.
‘’Apa yang dikatakan papa?’’ tanya Jenie saat Exel masuk ke kamar.’’
__ADS_1
Tak menjawab, Exel memberikan foto tadi pada Jenie.
‘’Ini apa, kenapa kamu punya foto Mona?’’
‘’Dari papa, ternyata Mona yang sudah menyuruh orang untuk menabrakmu.’’
Jenie membuang nafas legah, bukannya marah wanita itu malah bersyukur.
‘’Syukurlah.’’ Ucapnya merasa legah.
‘’Kenapa kau malah bersyukur?’’
‘’hhmm , sebenarnya aku sangat khawatir kalau biangnya adalah Sasa tapi sekarang aku bisa bernafas legah karena bukan dia pelakunya, kupikir jika mengingat persahabatan kami dulu, aku akan merasa sangat sedih kalau pelakunya adalah Sasa.’’
Walau merasa ada yang mengganjal tapi Exel juga ikut senang melihat Jenie yang merasa legah, tapi entah kenapa perasaannya tetap mengatakan kalau Sasa juga terlihat dalam insiden penabrakan itu.
‘’Kenapa? Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu?’’ Tanya Jenie melihat wajah Exel
‘’Ah.’’ Exel kaget karena Jenie sedikit menggoyang lengannya
‘’Áda apa?’’ tanya Jenie, Exel menggeleng ‘’aku ngantuk, tidur yuk.’’ Ajak Exel
Di tempat lain, di sebuah cafe.
‘’Saya tau bapak menyukai Jenie.’’
‘’Apa maksudmu?’’
‘’Nggak perlu disembunyikan lagi.’’’Sasa memberikan satu foto Jenie yang pernah diambil pak Reza. ‘’apa bapak masih mau mengelak?’’
‘’Kamu dapat foto ini darimana?’’
‘’Nggak penting saya dapat fotonya darimana, tapi saya datang karena ingin menawarkan kerjasama, bapak bisa memiliki dan membawa Jenie kemanapun bapak mau dan saya akan memiliki Exel.’’
‘’Saya bisa melakukannya tanpa bantuanmu sekalipun.’’ pak Reza berniat ingin meninggalkan Jenie.
‘’Apa bapak tau kalau mereka adalah sepasang kekaih di masa lalu?’’ Ucap Sasa yang membuat pak Reza duduk kembali.
‘’Apa maksudmu?’’
‘’Maksudnya Exel adalah cinta pertama Jenie, apa bapak pikir mudah untuk memisahkan keduanya, ditambah keduanya bukan berasal dari keluarga biasa, saya sangat mengenal mereka, apa bapak yakin tidak membutuhkan bantuan saya?’’
Pak Reza terlihat berpikir.
__ADS_1
‘’Saya bisa membawa Jenie ke tempat bapak dengan mudah dan setelahnya aku yakin kita bisa memisahkan keduanya.’’
Bersambung.....