
Jenie menggeleng ‘’aku merasa kau sedang menghiburku dengan kata-kata itu.’’ balas Jenie yang kini sudah membuka minuman yang tadi diberikan Alisha.
‘’Ini tidak beracunkan?’’ tanyanya bercanda dengan mengangkat minuman itu di depan wajah Alisha.
‘’Aish kau ini, sini kembalikan biar aku saja yang meminumnya, kau sungguh tidak ada rasa terima kasihnya.’’ Alisha berpura-pura ingin merebut kembali minuman itu, ia tahu Jenie sedang bercanda makanya ia juga berpura-pura kesal sedang jenie ia langsung meminum minuman itu saat Alisha hendak merebutnya.
‘’Memberikan sebotol minum saja kau tidak ikhlas.’’ Protes Jenie setelah menghabiskan hampir separuh minuman itu.
‘’Kata siapa aku tidak ikhlas?’’
‘’Buktinya kau ingin mengambilnya kembali kan?’’
‘’Itu karena kau sangat menyebalkan.’’ Ucap Alisha lalu keduanya tertawa, menyudahi bercanda mereka masing-masing.
‘’Jadi apa kau baik-baik saja sekarang?’’ tanya Aliasha memperhatikan wajah Jenie, ia ingin menghibur Jenie karena merasa nasibnya dan Jenie tidak jauh berbeda.
‘’Ya berkatmu, terimakasih ya.’’ Ucap Jenie tulus yang dibalas senyum oleh Alisha.
‘’Mau kemana?’’ tanya Jenie saat melihat Alisha yang hendak berdiri meninggalkannya.
‘’Kerja.’’ jawabnya singkat dan melangkah pergi.
Jenie ikut berdiri, merasa bosan, ia memutuskan untuk mengantar Alisha ke tempat kerjanya, awalnya Alisha menolak tapi karena Jenie terus memaksanya, akhirnya ia pun mengiyakan, ternyata tak hanya mengantar, Jenie juga ikut masuk ke tempat kerja Alisha, katanya ingin membantu wanita itu yang tentu saja langsung ditolak Alisha.
‘’Yasudah kalau begitu aku akan datang sebagai pelanggan jadi kau tidak bisa mengusir.’’ Kekeh nya dan masuk ke restoran dengan Alisha yang mengikuti dari belakang, Alisha sama sekali tak bisa berkata lagi saat melihat Jenie yang sudah duduk santai di salah satu meja, ia memilih masuk dan mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan di restoran itu.
Sedang exel berdiri di seberang jalan, tadi ia mengikuti Alisha dan Jenie, pria itu terlihat galau, kalau masuk Jenie pasti akan tau dia mengikutinya tapi kalau berdiri diluar seperti ini ia tak akan bisa mengawasi Jenie, akhirnya ia memilih masuk dan berpura- pura tak tau ada Jenie di restoran itu.
‘’Exel.’’ Ucap Jenie melihat exel yang sedang pura-pura melahap makanannya tanpa melihat Jenie, kalau biasanya Jenie akan menghindar saat melihat Exel kali ini ia memutuskan untuk menghampiri pria itu, toh mereka sedang tak berada di daerah sekitar kampus, dan untuk Alisha, entahlah ia merasa tak keberatan kalau Alisha mengetahui hubungannya dan Exel.
__ADS_1
‘’Jenie, kamu ngapain disini?’’ Tanya Exel pura-pura kaget.
‘’Akting mu buruk sekali.’’ Jenie menggeleng kepalanya dan duduk di samping Exel
‘’Akting apa?’’ Tanya Exel masih berpura-pura.
‘’Aku tau kau mengikutiku dari tadi.’’ Ucap Jenie dengan tangannya yang sudah mencomot makanan Exel dan memasukkannya ke mulutnya.
‘’Jadi kau tau?’’
Jenie tertawa, suaminya itu sangat pintar tapi kenapa gampang sekali di kelabui. ‘’Jadi kau benar-benar mengikutiku?’’ Tanya Jenie dengan tawanya.
‘’Kau sedang mengelabuiku ya?’’ Ucap Exel saat sadar akan kesalahannya, Jenie tertawa sambil mengangguk. ‘’Dan aku tak menyangka akan semudah itu.’’
‘’Dasar ya.’’ menarik gemas pipi Jenie, ia sangat senang karena wanita itu sudah kembali tersenyum walau Exel yakin tak kan mudah bagi Jenie untuk menerima dan melupakan apa yang tadi dikatakan Sasa, tapi sekarang ia memiliki tugas baru, ia harus menyelidiki wanita yang kini dekat dengan Jenie, apakah wanita itu mendekatinya dengan tulus atau memiliki maksud sendiri, ia hanya tak ingin Jenie jatuh pada lubang yang sama.
‘’Oh iya tumben kau menghampiriku, apa kau tak takut ada yang melihat kita?’’ tanya Exel dengan membelai wajah Jenie, Jenie menggeleng ‘’kita kan sedang jauh dari kampus jadi siapa yang akan melihat kita?’’
Jenie tak menjawab, wanita itu hanya tersenyum, baru beberapa kali bertemu tapi entah kenapa ia merasa percaya pada Alisha.
‘’Mau pulang sekarang nggak?’’ tanya Exel saat baru satu detik Jenie menghabiskan makannya, membuat wanita itu menatapnya dengan wajah pura-pura kesalnya. ‘’Makananku bahkan belum tercerna dengan baik dan kau sudah mengajakku pergi, kalau aku sakit perut bagaimana?’’
‘’Kita tidak akan jalan kaki Jenie, kita naik mobil, kau hanya perlu duduk diam jadi bagaimana perutmu akan sakit.’’
‘’Memangnya mobilmu berada tepat di depan kita, tidak kan? Lalu kau pikir aku harus terbang menghampiri mobilmu, tidak kan, berjalan kan?’’ Ucap Jenie, Exel hanya diam tak ingin menjawab, yang ada mereka malah akan bertengkar, dan kalau sudah bertengkar maka Exellah yang akan menderita karena harus memutar otaknya mencari cara untuk membujuk wanita itu.
‘’Exel sebelum pulang bisakah kita ke pantai terlebih dulu?’’
‘’Kenapa, kau sedang ingin ke pantai?’’
__ADS_1
‘’Kalau aku mengajakmu berarti aku ingin kesana.’’
‘’Bisa nggak jawabnya baik-baik nggak usah sewot gitu?’’
‘’Habisnya kau membuatku kesal.’’
‘’Apa yang perlu di kesalkan dari hal seperti itu?’’
‘’Harusnya kau peka dong.’’
‘’Bukannya kau pernah mengatakan padaku kalau tidak penting untuk menjadi peka, kalau bisa disampaikan kenapa tidak disampaikan, aku ingat kau pernah mengatakannya padaku?’’
‘’Aku memang pernah mengatakannya tapi itu tidak berlaku saat seperti sekarang, saat ini sebagai suami yang baik kau dituntut peka terhadap perasaan istrimu, kau tau wanita itu sangat sensitif.’’
‘’Dasar wanita, maunya selalu benar dan tak mau disalahkan.’’ protesnya tapi hanya bisa dalam hati.
‘’Kenapa diam, kau tidak sedang mengumpat dalam hati kan?’’ Tebak Jenie karena melihat Exel terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
‘’Kenapa pikiranmu buruk sekali?’’ elak Exel dan langsung berdiri dari duduknya.
‘’Bukan pikiranku yang buruk tapi hatimu.’’ Cibir Jenie yang kini sudah berjalan di samping Exel setelahnya ia mempercepat langkahnya dan berjalan mendahului Exel.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, Jenie dan Exel pun tiba di sebuah pantai yang paling dekat dari pusat kota.
‘’Ah indahnya.’’ Teriak Jenie berlari dan membasahi kakinya dengan air laut, Exel menyusulnya, sebelumnya ia memungut dan membawa sepatu Jenie yang tadi dilepasnya begitu saja.
‘’Tersenyumlah, aku akan mengambil fotomu.’’ Pinta Exel, melepaskan sepatu Jenie dari tangannya dan mengambil ponsel untuk mengambil foto wanita itu dengan warna langit yang terlihat sangat indah, Jenie memiringkan kepalanya, tersenyum lebar dengan dua jari tangannya diletakan di antara satu bola matanya.
‘’Cantik banget, ini siapa sih?’’ Pujinya pada diri sendiri saat melihat hasil fotonya yang tadi di ambil Exel, setelahnya ia menarik Exel, menyandarkan kepalanya di pundak Exel dan meminta Exel mengambil foto mereka bersama, karena setelah dipikirkannya ia sama sekali tak memiliki foto berdua dengan Exel, keduanya terus berfoto sampai langit berubah menjadi gelap.
__ADS_1
‘’Kapan terakhir kalinya kau ke pantai?’’
Bersambung.....