
‘’Hei bro.’’ sapa Andre menghampiri keduanya, dengan santainya pria itu duduk di samping Exel dan menyuruh wanita yang sedang bersamanya duduk di samping Jenie.
‘’Udah open book ya.’’ Andre bercanda dengan ucapan yang sedikit menyeleneh, Jenie dan wanita di sampingnya mengerutkan kening mendengar ucapan Andre yang sama sekali tak mereka mengerti.
‘’Kau pikir ujian.’’ protes Exel membuat Andre tertawa kecil.
‘’Memangnya kalian ada ujian setelah ini?’’ tanya Jenie membuka suara
‘’Bukan begitu cantik, maksudku kalian sudah terbuka saja di depan banyak orang.’’ Andre merasakan aura panas dari sampingnya, melihat Exel yang kini menatapnya dengan tatapan melotot.
‘’Kamu kenapa?’’ tanya Andre pura-pura tidak tau dengan apa yang dikatakannya tadi, Exel tak menjawab, pria itu hanya berdecak kesal sedang Jenie dan wanita di sampingnya hanya tersenyum melihat keduanya.
‘’Oh ya kita belum kenalan, namamu siapa?’’ Tanya Jenie pada wanita di sampingnya.
‘’Nadia kak.’’ jawabnya sopan, Jenie tersenyum wanita itu baru sadar wanita yang bernama Arisha yang dari tadi duduk di sampingnya itu ternyata masih menggunakan seragam SMA.
‘’Aakkh.’’ teriak Jenie merasakan sakit di area kepalanya. ‘’Sa apa yang kau lakukan, lepaskan tanganmu, ini sangat sakit.’’ Ringisnya melihat pantulan Sasa dari cermin yang ada di toilet, dua menit yang lalu Jenie pamit ke toilet ingin memperbaiki riasannya, tanpa diketahuinya Sasa mengikutinya dari belakang, menutup toilet agar tak seorang pun yang bisa masuk.
‘’Kulihat kau sangat bahagia diatas penderitaanku, nikmatilah, pegang erat-erat apa yang kau miliki sekarang karena aku akan segera merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, hanya aku satu-satunya wanita yang bisa membahagiakan Exel dan kau harusnya sadar diri, kau sama sekali tak pantas berdiri di sampingnya.’’
Tak tahan lagi dengan rasa sakitnya, Jenie refleks mendorong tubuh Sasa, mungkin karena dorongannya sedikit kuat, Jenie melihat Sasa sudah duduk di lantai sambil meringis kesakitan, ia segera berjongkok ingin membantu Sasa tapi apa, Sasa langsung mendorongnya hingga tangganya membentur dinding dengan begitu keras, Jenie berteriak saking sakitnya, wanita itu meringis sambil memegang tangannya. Makanya Jenie jadi orang jangan terlalu baik, sudah tau wanita itu jahat pake ditolong lagi, kena imbasnya kan, wkwkwk.
‘’Sa kenapa kau jadi seperti ini?’’
‘’Seperti ini, maksudmu apa dengan kata-kata itu?’’
Tak sempat Jenie menjawab sudah terdengar ketukan pintu dari luar yang ternyata Exel sedang emmanggil manggil nama Jenie, dengan cepat Sasa bangun dan berlari ke satu bilik toilet dan mengunci diri disana, sedang jenie juga berdiri, membuka pintunya.
__ADS_1
‘’Kau tidak apa-apa kan, kenapa lama sekali?’’ tanya Exel, tak sengaja matanya mengangkap satu tangan Jenie sedang memegang pergelangan tangan satunya lagi.
‘’Ini kenapa?’’ tanyanya mengambil tangan Jenie, tanpa sadar Jenie meringis.
‘’Ini kenapa?’’
‘’Tadi aku hampir jatuh, tangannya tidak sengaja membentur dinding.’’
‘’Apa sakit?’’ tanya Exel dengan nada khawatir, Jenie mengangguk, memonyongkan bibirnya dengan ekspresi seolah akan menangis.
‘’Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang.’’ tanpa aba-aba Exel mengangkat dan menggendong tubuh Jenie, membuat wanita itu berteriak kaget. ‘’Xel turunkan aku.’’ Protesnya menggerakan badannya kecil, merasa malu karena orang-orang terus melihatnya dan Exel, walau terus melakukan protes, Exel sama sekali tak bergeming, akhirnya Jenie memutuskan untuk membenamkan wajahnya di dada Exel bermaksud bersembunyi dari setiap mata yang sedang memandang mereka.
‘’Mau kemana Xel?’’ tanya Andre yang sama sekali tak dipedulikan Exel
‘’Pak cepat ke rumah sakit terdekat ya.’’ pinta Exel pada sopir taxi, ya kini keduanya sudah berada di dalam taxi.
‘’Nggak usah berlebihan deh Xel, tanganku cuma terbentur dinding nggak akan bahaya.’’
‘’Udah ah jangan banyak ngomong.’’ suruh Exel, Jenie terdiam, mana ada dia banyak ngomong, dari tadi dia terus menutup mulutnya, lagian menurutnya sikap Exel terlalu lebay, toh pergelangan tangannya hanya terbentur dinding dan tak mungkin dia akan mati karena hal itu.
‘’Dok dok tolong istri saya.’’ Ucap Exel dengan paniknya begitu mereka memasuki rumah sakit, Jenie hanya bisa menutup wajahnya karena malu dengan tingkah laku berlebihan pria itu.
‘’Istri saya nggak pa-pa, kamu yakin, bisa bertanggung jawab untuk ucapanmu itu?’’ Ucap Exel saat dokter selesai memeriksa pergelangan tangan Jenie.
‘’Exel apa-apaan sih.’’ Jenie menarik tangan Exel keluar dari ruangan pemeriksaan.
‘’Tunggu Jen, aku harus memastikan kalau kau benar-benar baik saja.’’
__ADS_1
‘’Exel diam.’’ bentak Jenie saking geramnya.
‘’Kenapa ada yang sakit?’’ Tanya Exel melihat wajah Jenie dengan perasaan khawatirnya.
‘’Ya, kepalaku sangat sakit mendengar kau yang dari tadi tak bisa berhenti berbicara, bisakah kau diam dan antar aku pulang sekarang?’’ Jenie menyingkirkan kedua tangan Exel yang sedang memegang pundaknya dan berjalan terlebih dulu meninggalkan Exel.
Exel mengikuti Jenie dari belakang karena tak ingin membuat wanita itu lebih marah padanya sedang jenie, wanita itu menatap tak suka pada beberapa wanita yang memandang Exel dengan tatapan berbinar, mulut mereka bahkan beberapa kali memuji ketampanan Exel, Jenie membalik badannya, melihat Exel.
‘’Kenapa kau diam disitu?’’ Tanya Jenie melihat Exel yang sudah berdiri diam, pria itu menghentikan langkahnya saat Jenie membalik badan menghadapnya.
‘’Apa kau tidak ingin membantuku berjalan, tanganku sangat sakit.’’ Ucapnya memberi satu tangannya yang tidak sakit untuk dipegang Exel, Exel pun tersenyum melangkah menghampiri Jenie dan menggenggam pergelangan tangannya. Jenie Jenie kalau cemburu bilang aja nggak usah pake cari alasan, lagian yang sakit kan pergelangan tanganmu jadi kenapa kau memerlukan bantuan hanya untuk berjalan? Wkwkwwk
‘’Kenapa balik ke kampus lagi?’’ tanya Jenie saat turun dari taxi yang ditumpanginya dan Exel.
‘’Kau lupa mobilku masih ada di parkiran kampus? Ya sudah kau tunggu disini aku ambil mobil sebentar.’’ lalu Exel berlari ke arah parkiran sedang Jenie berdiri diam menunggu Exel.
‘’Awh ada apa dengan pergelangan tanganmu?’’ Tanya Sasa meledek, melihat pergelangan tangan Jenie yang diperban. ‘’Itu baru hukuman kecil untukmu, kedepannya kau akan merasakan hal yang lebih parah dari ini, jadi bersiaplah.’’ Bisiknya lalu melambaikan tangan meninggalkan Jenie.
‘’Mau apa lagi dia?’’ tanya Exel pada Jenie saat wanita itu masuk ke mobilnya, tadi ia sempat melihat Sasa yang menghampiri Jenie.
‘’Aku juga kurang tau, tapi sepertinya Sasa menyukaimu, soalnya beberapa kali ia memintaku untuk meninggalkanmu, sebenarnya apa yang kau lakukan padanya, kenapa dia bisa tergila-gila padamu?’’
Exel memutar tubuhnya menghadap Jenie ‘’dengan fisik ini apa lagi yang perlu kau tanyakan?’’
Jenie yang mendengarnya hanya memutar malas bola matanya setelahnya memilih untuk memejamkan matanya daripada harus meladeni sikap narsis Exel.
Bersambung.....
__ADS_1