
‘’Kenapa wajahmu bete gitu?’’ tanya papa saat Jenie sudah memeluk pinggangnya dengan sedikit merengek.
‘’Mama nyebelin dari tadi terus mengolok Jenie.’’ Jenie mengadu pada papanya.
‘’Memangnya kenapa?’’
‘’Udah ah Jenie nggak mau cerita nanti papa ikut-ikutan lagi.’’
‘’Pasti masalah masakan kamu ya?’’ tebak papa yang 100% benar.
‘’Maaf tuan didepan ada tamu, katanya temannya den Exel sama non Jenie, namanya Eiden.’’ ucap Art memberi tahu.
‘’Teman kalian?’’ tanya papa Robert yang diangguki Jenie dan Exel, tak lama muncullah Eiden.
Para pria-pria itu kembali mengobrol santai dengan personil tambahan yaitu Edien sedang Jenie 5 menit yang lalu pamit untuk ke dapur lagi, katanya ingin memantau pekerjaan mama dan Alisha.
‘’Didepan ada Eiden.’’ ucapnya dan mendudukan dirinya di kursi samping mamanya.
‘’Eiden siapa?’’ tanya mama kepo.
‘’Ada deh, kepo banget sih ma.’’ Jenie menggoda mamanya.
‘’Kamu tuh kualat tau nggak, suka benget godain orang tua.’’
‘’Cie-cie ada yang udah tua nih.’’ Jenie kembali menggoda mamanya sedang Alisha hanya menggeleng kepalanya tapi merasa sangat terhibur dengan keduanya, inilah yang membuat Alisha senang dengan keluarga Dawson.
‘’Kuenya udah masak ma.’’ Jenie mengalihkan perhatian saat mamanya kembali akan membuka mulutnya, kuenya masak disaat yang tepat, gumannya.
‘’Oh ini yang namanya Eiden ya?’’ tanya mama Catrine yang kini sedang meletak kue di meja yang ada di taman itu. ‘’Tunggu dulu.’’ mama memperhatikan wajah Eiden dengan saksama, ia merasa tak asing dengan wajah pria itu.
‘’Kamu anaknya Rosa bukan sih?’’
Eiden mengangguk kecil
‘’Oh ya Tuhan pa.’’ mama berucap pada pap Robert dengan tangannya yang menunjuk Eiden.
‘’Pantas saja dari tadi aku merasa familiar dengan wajahnya.’’ jawab papa Robert.
__ADS_1
‘’Sudah lama nggak ketemu, bagaimana kabar mamamu?’’
‘’Puji Tuhan mama baik tan.’’ jawab Eiden lagi lalu semuanya kembali mengobrol sambil menikmati kue enak buatan mama dan Alisha.
‘’Nggak pa-pa om, Alisha biar pulang sama Eiden.’’ ucap Eiden saat mereka pamit pulang, tadinya orang tua Jenie ingin meminta supir untuk mengantar Alisha.
‘’Kamu ada hubungan apa sama Andre?’’ tanya Eiden dalam perjalan pulang, tak menjawab, Alisha hanya asyik dengan ponselnya.
‘’Sha kamu ngapain sih?’’
‘’Hhmm? Kamu bilang apa tadi?’’
‘’Aku tanya kamu punya hubungan apa sama si Andre itu?’’
‘’Nggak ada kok, aku dan kak Andre hanya berteman seperti aku dan Exel.’’
‘’Kenapa kau memanggilnya kak dan hanya memanggil nama padaku dan Exel, bukankah kami berdua juga lebih tua darimu?’’
‘’Rasanya akan aneh jika aku memanggilmu kak karena dari awal aku sudah memanggilmu dengan namamu dan begitu juga dengan Exel.’’
‘’Alasan saja kau ini, bilang saja kalau kau menyukainya.’’ Ucap Eiden dengan nada sewotnya.
‘’Kata siapa, jelas-jelas dia playboy, aku bisa melihatnya kok, dia beberapa kali melirik wanita-wanita cantik.’’
‘’Berarti kau juga sama dong, buktinya kau mengetahuinya.’’
‘’Apaan sih, jangan bercanda deh, aku lagi ngomong serius nih.’’
‘’Ya aku juga serius kali, menurutku nggak pa-pa asal dia mau berubah dan siapa tau dia bisa berubah karena aku, iya kan?’’
‘’Jangan ngayal deh, jangan berharap seseorang berubah hanya karenamu, lebih baik cari pria lain, aku juga tidak setuju jika kau bersamanya.’’
‘’Kau kan memang begitu, selalu tidak setuju dengan siapapun yang dekat denganku.’’
‘’Itu karena mereka memang tidak baik untukmu, aku sebagai sahabat hanya ingin yang terbaik untukmu.’’
‘’Lalu kapan? jika kau terus bersikap seperti ini kapan aku akan memiliki kekasih?’’
__ADS_1
Dari dulu Eiden memang akan selalu ikut campur dengan setiap pria yang dekat dengan Alisha dan dari dulu tak pernah ada pria yang disetujuinya bersama dengan Alisha, selalu saja ada alasannya kurang baiklah, brengsek lah, playboylah, tidak bertanggung jawablah, tidak bisa dipercaya dan lain sebagainya, sampai-sampai Alisha tidak pernah berpacaran karena ulahnya itu, dulu Alisha tidak pernah keberatan karena dalam diamnya dia menyukai Eiden dan berpikir Eiden melakukan itu juga karena menyukainya tapi tebakannya salah, saat ia mencoba mengutarakan perasaannya Eiden malah mendorongnya untuk menjauh, sampai-sampai pria itu memilih meneruskan pendidikannya di Singapura.
Sebenarnya sampai sekarang perasaan Alisha masih sama, ia masih sangat menyukai Eiden, bukan sebagai seorang sahabat melainkan sebagai seorang pria tapi dia harus menggunakan akal sehatnya, tak ingin kehilangan persahabatan mereka karena perasaannya yang bertepuk sebelah tangan itu, makanya sekarang ia memilih memendamnya dan berharap suatu saat nanti bisa melupakan Eiden dan belajar mencintai pria baru.
‘’Aku turun, hati-hati dijalan.’’ Ucap Alisha begitu sampai di depan kosannya lalu melambaikan tangannya pada Eiden.
Sementara disebuah pulau terpencil yang tanpa sinyal dan hanya dengan menggunakan pencahayaan secukupnya, Sasa, pak Reza dan Kevin sedang terkurung di sebuah rumah yang tak terlalu besar, kaki dan tangan mereka terpasung, dengan hampir 20 orang yang menjaga mereka agar tidak bisa melarikan diri, walau mustahil melarikan diri mengingat keadaan mereka yang sudah sangat memprihatinkan, papa Bowo yang menyarankannya agar ketiganya merasa sangat menderita dan bahkan akan lebih memilih mengakhiri nyawa mereka sendiri, daripada langsung membunuh mereka, papa Bowo lebih ingin menyiksa mereka secara perlahan.
Di kamar Jenie dan Exel, keduanya berbaring dengan saling berpelukan satu sama lain.
‘’Xel menurutmu kak Eiden suka nggak sih sama Alsha?’’
‘’Kata Eiden mereka hanya bersahabat Jen.’’
‘’Ya aku tau mereka bersahabat tapi entah kenapa menurutku kak Eiden juga menyukai Alsha hanya saja sepertinya dia enggan untuk berpacaran karena memiliki alasan tertentu yang aku sama sekali tidak tau.’’
‘’Juga? Maksudmu Alisha suka sama Eiden?’’
Jenie mengangguk, Alisha memang pernah curhat tentang perasaannya pada Eiden yang katanya bertepuk sebelah tangan.
‘’Yaudah ah jangan terlalu memikirkan hubungan orang lain, kalau mereka memang saling menyukai mereka pasti akan bersama.’’
*****
‘’Sha kenapa kamu resah gitu?’’ tanya Jenie memperhatikan wajah Alisha yang terlihat sangat resah, wanita itu pasti sedang memiliki masalah.
‘’Nggak ada kok Jen.’’
‘’Aku nggak percaya, kalau kamu nganggep aku teman kamu cerita dong sama aku.’’
‘’Aku akan menikah.’’
‘’Ha! Dengan siapa?’’
Alisah menggeleng karena memang dia sama sekali tak mengenal siapa sosok yang akan dinikahkan dengannya, kemarin malam, setelah Eiden mengantarnya pulang tak lama papanya mendatangi kostnya dan memaksanya menikah untuk melunasi hutang keluarga mereka pada seorang pengusaha, awalnya Alisha menolak tapi papanya mengancam akan menjual dan menghancurkan panti asuhan yang dibangun mamanya sewaktu mamanya masih hidup.
‘’Kau gila ya, kenapa mau saja menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak kau kenal, kalau sudah tua bagaimana, kalau tukang pukul bagaimana, kalau tukang selingkuh dan tidak menghargaimu bagaimana?’’
__ADS_1
‘’Mungkin itu sudah takdirku Jen, aku sama sekali tak bisa menolak keinginan papaku.’’
Bersambung.....