
‘’Kalian sudah lama ya berteman?’’ Tanya seseorang pada Sasa dengn maksud mempertanyakan lamanya persahabatan Sasa dan Jenie.
‘’Hhmm’’ Sasa mengangguk ‘’kami bersahabat sejak kecil.’’
‘’Beruntung sekali kau memiliki sahabat seperti Jenie, aku juga sangat ingin dekat dengannya.’’ Timpal seorang lagi membuat Sasa tertawa kecil.
‘’Sekarang kalian mungkin ingin berteman dengannya hanya karena kalian melihat kelebihannya tapi setelah kalian dekat dengannya kalian akan mengetahui banyak hal darinya yang tak sesuai dengan apa yang diperlihatkannya pada orang-orang, aku saja perlu hati yang kuat untuk terus menjadi sahabatnya, ya mau bagaimana lagi, aku tak mungkin meninggalkannya karena dia sama sekali tak memiliki sahabat atau teman lainnya selain aku.’’
‘’Benarkah, apa sikapnya sangat buruk, dia sombong atau apa?’’
‘’Hhmm.’’ Sasa berpikir tanpa menjawab apa-apa, wanita itu terlihat sangat serius.
‘’Saking banyaknya ya sampai susah untuk disebutkan.’’ Ucap satu orang sambil tertawa, Sasa pun mengangguk dan ikut tertawa bersamanya, sedang Jenie memutuskan menjauh dari tempat itu.
Sedikit sedih, ini pertama kalinya Sasa berbicara buruk tentangnya, itulah yang dipikirkan Jenie, tak tau saja dia kalau Sasa selalu menjelekkannya pada siapapun yang memujinya😀.
‘’Hei ulat bulu, ngapain kamu duduk sendirian disini?’’ Tanya Exel yang kini sudah duduk santai di samping Jenie tanpa peduli beberapa orang yang terus melihat ke arah mereka, tadi Exel juga tak sengaja mendengar perkataan Sasa, makanya ia mengikuti Jenie, bermaksud menghibur wanita itu.
Jenie melihat tak suka pada Exel karena pria itu memanggilnya ulat bulu, memangnya apa yang ada padanya yang mirip ulat bulu?
‘’Kenapa melihatku seperti itu?’’
‘’Bukan urusanmu, ini mataku jadi terserah aku mau melihatmu seperti apa.’’ Ucap Jenie dengan nada kesalnya sedang Exel hanya tersenyum.
Dengan tangan lebarnya, pria itu mengusap kasar seluruh wajah Jenie kemudian tertawa sedang Jenie, wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangannya yang mengepal erat menahan kesal pada Exel yang sedang tertawa seperti mengejeknya.
‘’Aakhh.’’ Teriak Exel sedikit keras karena Jenie menggigit keras lengannya.
Jenie tertawa puas melihat tanda gigitannya yang sepertinya hampir menembus tulang Exel.
__ADS_1
‘’Rasakan, makanya jangan sekali-sekali menggangguku.’’ Tersenyum puas, berdiri dari bangku, baru satu langkah, Exel sudah menahan tangannya, pria itu ikut berdiri.
Exel tak habis pikir kenapa Jenie menjadi sangat menyebalkan seperti sekarang, seingatnya dulu wanita itu adalah wanita yang sangat manis, selalu tersenyum padanya dan selalu memperlakukannya dengan baik, tapi kenapa sekarang perubahannya sangat besar?
‘’Mau kemana kau?’’
‘’Bukan urusanmu, lepas tanganmu atau aku akan menggigitmu lagi.’’ Ancam Jenie yang sama sekali tak membuat Exel takut. Pria itu malah lebih mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Jenie yang membuat wanita itu sedikit meringis.
‘’Lepas, sakit.’’ Rintih Jenie, refleks Exel melepaskan tangannya, melihat pergelangan tangan Jenie yang sedikit memerah karena ulahnya, ingin mengambil kembali tangan Jenie dan melihat bekas kemerahan itu tapi diurungkannya saat Jenie melihatnya dengan tatapan yang sangat tajam mungkin setajam silet😀
‘’Kau.’’ Geram Jenie, Exel sedikit memundurkan langkahnya.
‘’Kali ini aku akan benar-benar membunuhmu.’’ Teriak Jenie, ingin menarik rambut Exel tapi tangannya tak sampai, akhirnya ia melompat ke punggung Exel agar dapat menarik rambut pria itu.
‘’Jen, Jenie sakit, lepasin dong.’’ Ringis Exel, tak bisa mencegah atau menyingkirkan tangan Jenie dari kepalanya karena kedua tangannya sibuk menahan tubuh Jenie, takut wanita itu jatuh dari punggungnya, sedang Jenie tertawa puas, semakin besar ringisan Exel semakin besar pula tawanya.
Setelah puas, Jenie melompat turun dari punggung Exel, tersenyum sangat lebar, melihat kedua telapak tangannya, meniupnya kemudian menepuk kedua tangannya satu sama lain seperti sedang membersihkan telapak tangannya.
‘’Makanya jangan berani menggangguku atau aku akan berbuat hal yang lebih parah dari ini.’’ Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Exel.
Exel berdecak kesal, niatnya hanya ingin menghibur tapi kenapa ia malah berakhir mendapat jambakan?
******
Di kelasnya Jenie kembali kedatangan Mona, wanita itu tak terima dengan apa yang dilakukan Jenie pada Exel, sekarang kampus mereka sedang panas-panasnya membahas tentang Jenie yang menjambak rambut Exel.
BRAK
Mona menggebrak Meja, Jenie yang sedang asyik berbincang bersama Sasa cukup kaget dengan hal itu, memandang Mona dengan tatapan tak suka, kali ini apa lagi, kenapa wanita itu terus datang dan mengganggunya?
__ADS_1
‘’Tadi menginjak kakinya dan sekarang kau bahkan berani menjambak rambutnya?’’ Bentak Mona.
Beberapa orang yang belum tau akan cerita itu sedikit kaget, beberapa dari mereka melihat tak suka pada Jenie karena tak terima idola mereka diperlakukan seperti itu, begitupun dengan Sasa yang kini melihat tajam pada Jenie.
Jenie terlihat cuek, tak peduli dengan setiap mata yang melotot padanya, lagian yang dijambak Exel yang marah siapa, ia sama sekali tak mengerti kenapa mereka bisa menyukai Exel sebesar itu padahal menurutnya Exel saja sama sekali tak peduli pada mereka, mungkin tau mereka hidup juga nggak😀.
Sementara di kelasnya Exel sedang asyik bermain ponsel, tersenyum melihat beberapa foto lama Jenie yang terlihat sangat menggemaskan tak seperti sekarang, wanita itu terkesan galak dan sedikit menakutkan.
‘’Xel, pacarmu ngamuk tuh sama mahasiswi baru yang tadi menjambak rambutmu.’’ Teman sekelas Exel memberitahu.
‘’Pacar? Mahasiswi baru?’’ pikir Exel
‘’Maksudku si Mona lagi melabrak mahasiswi baru yang cantiknya kebangetan itu Xel.’’
Exel hanya mengangguk kecil, cukup yakin Jenie tak mungkin kalah dari orang seperti Mona tapi karena sedikit khawatir ia memutuskan untuk datang dan melihatnya sendiri, bagaimana cara Jenie bisa mengalahkan Mona.
Hampir saja Mona menampar Jenie tapi dengan cepat Jenie menangkap tangan Mona dan membalas menamparnya.
‘’Upz.’’ Menutup mulutnya dengan satu tangan, pura-pura kaget karena sudah menampar Mona.
‘’sorry sorry aku nggak sengaja.’’ Ucapnya dengan bibir yang tersenyum membuat Mona semakin geram, selama ini tak pernah ada yang berani melawannya, tapi Jenie, yang baru beberapa hari masuk dan berkuliah di kampus ini dengan tidak ada takutnya berani melawannya, sementara di samping Jenie Sasa juga sedang menahan geram, ingin sekali ia menjambak rambut Jenie karena sudah berbuat seenaknya pada Exel.
Sedang dari jarak Jauh Exel tersenyum lebar melihat Jenie dengan satu tangannya di letakan di dalam saku celananya.
‘’Berani sekali kau menamparku?’’ Geram Mona ingin membalas tapi Jenie sudah lebih dulu menghindar, jadilah Mona tak sengaja menampar pipi Sasa yang berdiri tepat di samping Jenie.
Merasa tak terima Sasa balik menampar Mona dan jadilah pertengkaran itu di lanjutkan oleh Mona dan Sasa sedang Jenie hanya berdiri dan menyaksikan apa yang terjadi tanpa niat melerai atau membantu Sasa.
Bersambung.....
__ADS_1