
‘’Sudahlah Sa nggak usah dipeduliin, nggak penting juga.’’ Jenie menarik tangan Sasa untuk keluar dari kelas.
‘’Mau kemana Jen?’’ Kevin menahan tangan Jenie, tadinya ia datang ingin mengobrol dengan Jenie.
‘’Pulang kak, pusing.’’
‘’Mau aku anterin nggak?’’
Jenie menggeleng kemudian kembali menarik tangan Sasa dan melanjutkan langkahnya.
Hampir sampai di parkiran, Sasa menghentikan langkahnya yang otomatis membuat Jenie berhenti juga, wanita itu melihat Sasa dengan penuh tanda tanya.
‘’Ada apa, kenapa Sa?’’
‘’Aku nggak bisa ikut kamu Sa, lagi ada kepentingan soalnya.’’
Jenie menyatukan alisnya. ‘’Kepentingan apa?’’
‘’Jangan diketawain ya tapi.’’ Ucapnya, Jenie mengangguk dengan rasa penasarannya. ‘’Aku lagi ngejar cowok yang aku suka, doain ya biar berhasil.’’ Bisiknya tepat ditelinga Jenie.
‘’Ha! Cowok? Siapa? Anak kampus kita?’’ Tanya Jenie, Sasa mengangguk sambil tersenyum.
‘’Siapa, aku kenal nggak?’’
‘’Ada deh, kepo aja sih, nanti juga aku kenalin tapi nanti kalau udah berhasil, soalnya sekarang masih ada sedikit penghalang.’’
‘’Penghalang apa? Kamu nggak suka sama pacar orang kan Sa?’’
Sasa menggeleng, wanita itu terus meyakinkan Jenie bahwa pria itu juga menyukainya hanya saja ada beberapa orang yang tak setuju dengan hubungan mereka.
‘’Kalau begitu semangat, aku akan selalu mendukungmu, ingat jangan lupa dikenalin kalau udah berhasil, oke.’’ Jenie memberikan dua jempolnya pada Sasa yang dibalas Sasa dengan memberikan dua jempolnya juga, setelahnya mereka berpisah.
Sasa tersenyum sinis begitu membalikan badannya. ‘’Dasar wanita bodoh.’’ ucapnya dengan nada meremehkan.
Sesampainya di parkiran, Jenie menganga melihat keadaan mobilnya yang sudah sangat memprihatinkan.
Mobil mewah yang baru saja diberikan oleh papanya sebagai hadiah pernikahannya terlihat sangat kotor, dipenuhi warna warni pilox, tak hanya itu mobilnya juga sudah dipenuhi banyak goresan dan sepertinya akan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk memperbaikinya.
Jenie mendengus kesal, menatap tajam pada beberapa orang yang sedang melihatnya sambil tertawa.
‘’Nggak usah sedih gitu, mobil dari hasil uang haram emang nggak pantas ada di parkiran kampus ini.’’ Mona tersenyum remeh sambil menghampiri Jenie, wanita itulah dalang yang menyebabkan nasib tragis mobil mewah Jenie.
‘’Kau.’’ Geram Jenie.
__ADS_1
‘’Kenapa, nggak terima? Daripada mencemarkan nama baik kampus, lebih baik kau keluar, aku juga nggak mau kampus keluargaku tercemar karena ulahmu.’’
‘’Kampus keluarga?’’ Ucap Jenie mengulang, setaunya kampus ini merupakan salah satu aset keluarganya tapi kenapa Mona mengatakan seakan kampus itu adalah milik keluarganya?
‘’Iya kenapa, aku sebagai anak dari pemilik kampus ingin kamu keluar dan mengangkat kaki dari kampus ini.’’
‘’Ternyata Mona anak pemilik kampus? Itu berarti dia putri tunggal dari keluarga Dawson dong.’’ Bisik-bisik para mahasiswa yang tak menyangka Mona adalah anak dari pengusaha kaya Robert Dawson.
Beberapa orang terdengar mulai memuji Mona yang selama ini menyembunyikan identitas sebagai seorang pewaris tunggal.
Sementara Jenie hanya tersenyum sinis melihat sikap Mona yang sekarang sedang mengaku sebagai dirinya, Jenie juga tertawa kecil melihat orang-orang di sekelilingnya yang dulu memusuhi dan sering menjelek-jelekan Mona sekarang mengagung-ngagungkan wanita itu hanya karena dia mengaku sebagai putri dari keluarga Dawson.
‘’Tunggu apa lagi, pergi dari sini.’’ Mona mendorong keras tubuh Jenie hingga wanita itu hampir terjatuh, untung saja wanita asing yang kemarin menolongnya di perpustakaan dengan sigap menahan tubuhnya, tapi kakinya sedikit tergelincir membuatnya berteriak kesakitan.
‘’Kamu nggak pa-pa?’’ Tanyanya
‘’Kakiku terkilir.’’
‘’Mau aku anter ke rumah sakit nggak?’’ Tawarnya.
‘’Nggak usah, sekali lagi terimakasih ya karena sudah menolongku.’’
‘’Kenapa kalian jadi ngobrol sih, pergi dari sini sebelum aku panggil satpam untuk mengusir kalian.’’ Bentak Mona dengan gaya sombongnya.
‘’Kalian.’’ Mona menunjuk beberapa orang pria. ‘’Usir kedua wanita itu karena aku tak ingin melihat mereka lagi.’’ Perintahnya.
karena tak ingin mendapat masalah dengan keluarga Dawson, dengan cepat beberapa pria itu mendorong tubuh Jenie dan wanita satunya lagi kedalam mobil Jenie yang sudah mereka rusak tadi.
*****
‘’Oh iya kita belum kenalan loh, nama kamu siapa?’’ Tanya Jenie yang kini sedang fokus menyetir.
‘’Namaku Alisha.’’
‘’Oh Alisha aku Jenie.’’
‘’Udah tau kok, oh ya Jen tolong turunin aku dijalan depan ya.’’ Pintanya, Jenie pun menurunkannya.
Habis mengantar Alisha, Jenie memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen.
*****
‘’Mbak Jen ada titipan paket untuk mbak Jenie.’’ Ucap pak satpam menghampiri Jenie yang baru saja sampai di gedung apartemen.
__ADS_1
Jenie diam, sama sekali tak mau menerima, takut isinya akan sama seperti kemarin atau malah lebih parah dari kemarin lalu menelpon Exel memintanya untuk mengambil paket itu.
*****
‘’Isinya apa?’’ Tanya Jenie pada Exel yang sedang membuka paket, ia berdiri sedikit jauh dari Exel karena tak mau melihat isi paketnya.
‘’Brengsek.’’ geram Exel setelah melihat isi paket.
‘’Kenapa Xel, isinya apa?’’ tanya Jenie, sedikit kepo dengan isinya tapi terlalu takut untuk melihatnya.
‘’Boneka.’’
‘’Boneka, siapa yang kasih?’’ Jenie menghampiri tapi Exel mencegahnya. ‘’Jangan dilihat.’’
‘’Loh kenapa, katanya boneka.’’
‘’Iya tapi ini bukan boneka biasa.’’
Isi paket itu memang sebuah boneka tapi penampakannya sangat mengerikan, boneka teddy bear berwarna putih itu terlihat dipenuhi darah, satu matanya sengaja dihilangkan dan diganti dengan kepala kecoa.
Dibagian perutnya terdapat foto Jenie yang ditancapkan dengan sebuah pisau yang terlihat sangat tajam, dan ada sebuah surat dalam kotak itu yang sengaja disembunyikan Exel dari Jenie.
Exel membawa paket itu ke dalam kamarnya. "Mandilah, aku juga mau mandi.’’ Ucapnya sebelum masuk kamarnya.
Dikamar Exel membuka surat yang ada di paket itu.
[Tinggalkan Exel kalau tidak aku akan membunuhmu]
Itulah isi pesannya, untung saja tadi Exel tak memberitahu Jenie tentang suratnya.
Setelahnya ia menelpon paman Sam (orang kepercayaan papanya) dan memberitahu tentang paket itu lagi, pria itu mengepalkan tangannya, ia pasti akan membuat perhitungan pada orang sudah berani mengancam Jenie.
*****
‘’Jen, mandinya sudah selesai belum?’’ Tanyanya mengetuk pintu kamar Jenie.
‘’Udah, buka aja, pintunya nggak dikunci kok.’’ Teriak Jenie, wanita itu baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk, berjalan menghampiri Exel yang tentunya membuat pikiran pria itu melayang berkelana sampai ke langit ketujuh😀.
‘’Xel mending pakaianmu dipindahin ke kamarku aja, biar nggak repot, kamu mandinya dimana tidurnya dimana, iya kan?’’ Ucapnya dan kembali meninggalkan Exel dan menuju walk in closet.
15 menit kemudian. ‘’Xel menurutmu siapa sih yang selalu mengirim paket aneh itu padaku? Kamu tau sendiri kan aku tuh nggak pernah loh cari masalah sama orang lain.’’ Ucapnya sambil berjalan keluar dari walk in closet dengan sudah memakai pakaian tidurnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Maaf ya upnya agak terlambat dari biasanya🙏