
~Jangan lupa like, komen and vote ya~
Zaenab dan Zidan masih berada di dalam mobil menuju rumah keluarga Wijaya
"Kamu anak pertama" tanya Zidan
"Iya" jawab Zaenab singkat
Di dalam mobil Zaenab hanya memandang pemandangan luar dari kaca yang ada di sampingnya mengingat kejadian saat Fiko terbangun dari komanya
Dia jahat, menjadikan aku sebagai pelarian saat tidak ada mantan kekasihnya. Dia hanya bisa mempermainkan perasaan aku batin Zaenab
"Kamu kenapa" tanya Zidan sambil memegang tangan Zaenab
"Aku gak apa" ucap Zaenab menutupi kesedihan di dalam dirinya
Tetapi tak dapat dipungkiri jika Zaenab sangat tersiksa saat melihat kemesraan antara suaminya dan Karin membuat Zaenab kembali meneteskan air matanya
"Jangan ditutupi rasa kesedihan kamu karena akan membuat kamu semakin tersiksa" ucap Zidan dan menepikan mobilnya
"Sekarang kamu cerita sama aku kenapa kamu sampai menangis seperti ini" tanya Zidan dan memegang kedua tangan Zaenab saat mobilnya sudah menepi di tepi jalan
Zaenab menundukkan kepalanya meratapi nasibnya
"Aku merasa sedih aja karena disaat aku mendengar kabar yang bahagia jika aku dikaruniai anak tetapi di saat itu juga aku melihat suamiku bahagia dengan wanita lain hik.. hik.." ucap Zaenab
"Di saat - saat seperti ini aku membutuhkan kasih sayang yang lebih dari suamiku tetapi malah sebaliknya kasih sayang Mas Fiko terbagi bahkan hanya untuk mantan kekasihnya" lanjut Zaenab sembari berderai air mata
"Lalu bagaimana dengan nasib anak ku saat lahir nantinya apakah dia akan terlahir tanpa seorang ayah" ucap Zaenab
__ADS_1
Zidan mendekatkan tubuh Zaenab lalu memeluknya dengan erat untuk menenangkan hati Zaenab yang kini sedang rapuh
"Kamu jangan pikirkan hal itu lebih dulu lebih baik kamu jalani hidup kamu seperti biasanya dan kamu tenang saja anak kamu akan lahir dengan kasih sayang dari banyak orang" ucap Zidan
"Maksud kamu apa" tanya Zaenab
"Keluarga kamu akan mencurahkan kasih sayang mereka kepada anak kamu" jelas Zidan
"Tetapi mereka tidak akan mempunyai sosok seorang papa untuk menjadi pemimpin mereka" ucap Zaenab
"Aku akan menganggap anak anak kamu sebagai anak aku sendiri" ucap Zidan
"Tapi.."
"Jangan terlalu banyak pikiran nanti akan mengganggu perkembangan janin kamu" ucap Zidan memotong kata kata Zaenab
"Terima kasih" ucap Zaenab
Lima belas kemudian mobil sudah masuk ke halaman rumah mewah
Zaenab keluar lebih dulu dan memencet bel yang ada di samping pintu
Dan tidak lama kemudian keluar kepala pelayan membukakan pintu
"Nona Zaenab silahkan masuk" ucap kepala pelayan
"Terima kasih Bik Ani saya mau tunggu teman saya dulu" ucap Zaenab dengan tersenyum tipis
"Kamu tunggu aku" tanya Zidan
__ADS_1
"Iya" jawab Zaenab
Mereka berdua berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah dan di belakangnya ada Bik Ani yang mengekor majikannya
Zaenab mempersilahkan Zidan untuk duduk di sofa ruang tamu
"Kamu tunggu disini biar aku panggil mama sama Rachel" ucap Zaenab
"Biar saya saja non yang panggil nyonya dan nona muda" ucap Bik Ani lalu berlalu pergi memanggil Anisah dan juga Rachel
Zaenab duduk di samping Zidan dan tidak lama kemudian dua pasang kaki sedang melangkah menuruni anak tangga
"Zaenab!!" ucap Anisah
"Mama dimana Rachel" tanya Zaenab
"Ini dibelakang mama"
"Ada apa kak" tanya Rachel
"Lalu siapa dia" tanya Anisah
"Lebih baik kalian duduk dulu ada yang mau Zidan bicarakan" ucap Zaenab
"Dia gak sedang mau melamar kamu kan" goda Anisah
"Gak te" saut Zidan
Anisah dan Rachel duduk di depan Zidan dan Zaenab yang hanya di batasi sebuah meja
__ADS_1
"Ada apa" tanya Anisah