
Hari pertama masuk tidak ada pelajaran hanya perkenalan, jadi kami pulang lebih awal, saat pulang aku sekalian mampir ke rumah Dewi, untuk pertama kalinya aku main ke rumah teman sekelasku, karena biasanya setiap pulang sekolah aku tidak pernah mampir kemana-mana dan langsung pulang ke rumah.
Aku dan Dewi pulang dengan berjalan kaki jarak rumah Dewi dengan sekolah tidak terlalu jauh sekitar 15 menit, di sepanjang jalan Dewi bercerita tentang ibunya yang sama seperti aku, beliau juga bisa meramal orang dengan media kartu tarot, bahkan beliau juga bisa mengobati orang yang sakit karena hal gaib, aku jadi sangat penasaran dibuatnya ingin bertemu ibunya Dewi.
Akhirnya kami sampai di rumah Dewi, dia mulai mengetuk pintu rumahnya.
"Tokk..tokkk..tokk Assalamualaikum ma.."
Ucap Dewi sambil mengetuk pintu dan memanggil ibunya.
Terlihat seorang wanita paruh baya dengan mengenakan daster membuka pintu.
"Waalaikumsalam, sudah pulang kamu Dewi, Ini sama siapa Wi?" tanya ibunya.
"Ini Wulan mah teman sebangku " ucap Dewi.
"Ayo masuk nak, tapi maaf ya rumahnya lagi berantakan"
"Iya bu nggak apa-apa kok" ucapku.
"Lan aku ke dapur dulu yaa, kamu duduk aja dulu sambil santai" ucap Dewi kepadaku.
"Iya Wi" sahutku.
Ibunya mempersilahkan aku duduk, sambil menunggu Dewi aku pun mengobrol dengan ibunya.
"Duduk sini nak, jangan malu-malu, anggap aja rumah sediri"
"heheheh iya bu, rumahnya rame ya bu"
"Iya disini rame, anak ibu banyak ini..!! masih pada belum pulang sebagian ada yang bekerja kalo malam lebih rame lagi soalnya semuanya berkumpul kalo malam"
"Emang anak ibu ada berapa?"
"Ada 12 orang, 2 orang sudah berkeluarga tapi tinggalnya masih dekat sini"
"Wah banyak juga ya bu, rame yaa kalo sudah berkumpul"
"Ya begitu lah nak, kalau kamu di rumah sama siapa aja?
"Cuma bertiga bu, saya, ibu sama-sama mbah saya, kakak-kakak saya semua ada di Jakarta"
"Ya,,,,, kalo kamu, gak ada temennya sering-sering aja main kesini"
"Iya bu" sahutku.
Tak lama Dewi datang dari dapur sambil membawakan ku minuman.
"Di minum Lan, maaf ya adanya cuma teh"
"Gak apa-apa Wi, gak usah repot-repot Wi, kaya aku ini tamu jauh aja" ucapku.
"Nggak apa-apa Lan, kamu kan baru pertama kali ke rumahku, lagian kita tadi kan habis jalan kaki trus panas juga, jadi aku bikinin minum buat ngebasahin tenggorokan hehehe" ucap Dewi sambil menyodorkan minuman itu kepadaku.
Tiba-tiba Dewi bertanya kepada ibunya tentang aku dan Dion
__ADS_1
"Mah, coba lihat temanku dia punya teman gaib ya?"
"Iya dia punya, sekarang ada di sampingnya sosoknya memakai baju seperti gamis berwarna putih dan bersorban, wajahnya juga sangat tampan, kadang-kadang dia ada di dalam tubuhnya Wulan, dia selalu ikut kemana Wulan pergi tidak mau jauh dari Wulan."
Aku kaget dan hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ibunya, karena semua yang beliau ucapkan benar.
"Energi nya bagus ya??? Lan kamu bisa lho dapat uang dari teman mu ini" ucap ibu Dewi.
"Uang? maksudnya aku minta sama dia gitu bu?" tanya ku dengan heran kepada ibu Dewi.
"Ia Ulan uang gaib" ucap Ibunya Dewi kepadaku.
Aku hanya terdiam dan masih tidak percaya dengan apa yang di ucapannya, tetapi karena rasa penasaran aku mencoba untuk bertanya kepada ibunya.
"Apa tidak apa-apa bu aku mencari uang gaib dengannya?" tanya ku kepada ibunya Dewi.
"Bisa, tapi kita harus ritual dulu agar uang gaibnya bisa jadi nyata."
"Kalau boleh tahu gimana caranya bu?" tanyaku kepada ibunya Dewi.
"Kamu bisa malam ini ke sini" ucap Ibunya.
"Ya bu Wulan usahakan, tapi enggak bisa malam-malam" jawabku.
"Kalau begitu kamu bisa malam ini ke rumah sekitar jam 08.00 malam?"
"Iya bu" jawabku.
setelah cukup lama berbincang- bincang aku memutuskan untuk pulang karna takut mbah mencariku nanti.
Lalu aku berpamitan pulang kepada Ibunya Dewi. sepanjang jalan aku memikirkan apa yang dibicarakan oleh ibunya Dewi terkadang bertanya kepada Dion.
"Bisa Lan tapi aku tidak tau caranya" sahut Dion kepadaku.
Tidak terasa aku sudah sampai di rumah.
"Assalamualaikum mbah....mbah...mbah" ucapku sambil berteriak-teriak memangil mbah.
"Waalaikumsalam kamu sudah pulang Lan" tanya mbak kepadaku.
"Ya mbah sudah, soalnya tadi enggak belajar jadi pulangnya lebih awal"
"Mbah Wulan minta izin boleh?" tanyaku kepada mbah
"Izin apa mau ke mana Lam??? apa mau berkemah lagi?" ucap mbah Kepadaku.
"Bukan itu mbah, Lan mau izin malam ini jam 20.00 mau ke rumah teman mbah.
"Ya sudah sana tapi ingat pulang jangan malam-malam!"
"Iya mbah" sahut ku kepada mbah.
Malam telah tiba, aku langsung menuju tempat Dewi dengan mengendarai sepeda. Sebenarnya aku baru saja di belikan sepedah oleh Ibu, itu hadiah prestasiku yang sudah aku capai. Tapi karna rumah dan sekolah cukup dekat jadi aku tidak pernah memakai sepedah itu.Tidak terasa akhirnya aku sampai di rumah Dewi.
"Tok,,,tok,,,tok,,,Dewi,,,,,Dewi,,," ucapku sambil mengetok pintu dan memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
"Ya Lan sebentar" sahut Dewi.
"Ayo masuk Lan mamahku sudah menunggu mu" ucapnya kepadaku sambil membuka kan pintunya untukku.
Aku masuk ke rumah Dewi, menuju kamar tempat ritual kusus ibunya. Sesampainya di kamar aku kaget melihatnya.
Banyak lilin yang digunakan untuk penerangan, dan membentuk simbol bintang.
Dan ibunya duduk di tengah-tengah simbol itu dengan sesajennya. Aku di suruh masuk dan duduk di situ. Di sini hanya aku dan ibunya saja, karna Dewi tidak di perbolehkan untuk masuk ke kamarnya.
"Kamu sudah siap Lan?" tanya ibunya kepadaku.
"Ya bu sudah" sahutku yang sedikit ragu.
"Ya sudah kita mulai" ucap ibunya kepadaku.
Akhirnya ibunya Dewi memulai ritual itu dengan membaca mantera yang aku tidak mengerti, dan sesekali dia pun menaburkan menyan di atas tungku yang di dalamnya terdapat bara api. Lalu dia mengambil kain yang berwarna putih secara perlahan-lahan dia membuka kain itu, aku melihat ada lambang bintang yang sama dengan membentuk simbol lilin ini, dan simbol-simbol yang tidak ku mengerti.
"Lan berikan tangan kiri mu" ucap ibunya kepadaku.
Aku menuruti perintah ibunya.
"Ya bu" sahutku sedikit ragu sambil memberikan tangan kiriku kepadanya.
Dan tiba-tiba jari tanganku di tusuk dengan jarum yang ada di sesajen itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karna tanganku dipegangi oleh ibunya Dewi, darahku pun ke luar lalu di oleskan nya ke kain tadi membentuk gambar bintang, ibunya mulai kembali mengasapi kain tadi.
Hatiku mulai merasa takut dan ragu aku memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya Dewi.
"Ini tidak apa-apa kan bu? trus ini kain apa?" tanya ku kepada ibunya.
"Tidak apa-apa Lan..!!! Kain ini adalah kain kafan sisa orang yang sudah meningal dan di situ juga tertulis mantra dan simbol-simbol yang mungkin kamu tidak paham kalau ibu jelaskan" ucap ibunya Dewi kepada ku.
"Apakah tidak apa-apa bu memakai kain kafan?" tanya ku kepada ibunya.
"Tidak apa-apa Lan ini hanya kain kafan sisa saja yang ibu pakai, bukan ibu mengambilnya di kuburan" sahutnya kepadaku.
Hatiku mulai sedikit tenang mendengar ucapan ibunya
"Sudahlah Lan kamu baca mantra ini" ucapnya kepadaku sambil memberikan kain itu kepadaku.
Aku pun mengambil kain itu sambil mengamati kain itu ternyata tertulis sebuah mantra dengan tulisan yang tidak aku mengerti tetapi ibunya Dewi sudah menulis di bawah kain itu tulisan dengan bahasa indonesia sehingga mempermudahkan ku untuk membacanya. Aku pun mulai membacanya.
"Wahai penghuni alam gaib di muka bumi, aku memanggil mu dengan darahku, satukanlah alam mu alamku, dunia mu duniaku, roh mu rohku, satukanlah alam kita"
Tidak lama setelah aku membaca mantra itu tiba-tiba ada angin yang sangat dingin berhembus entah dari mana semakin lama semakin kencang, lampu kamar yang saat itu menyala dengan sangat terang tiba-tiba redup dan mati, terdengar seperti suara pintu yang terbuka saat aku lihat tidak ada orang yang membuka pintu itu lalu pintu itu tertutup kembali dengan sendirinya, setelah beberapa menit lampu pun menyala dan angin tak lagi berhembus.
"Tadi itu kenapa bu?" ucapku.
"Tidak apa-apa Lan itu hanya pertanda saja" sahut ibunya Dewi.
"Akhirnya ritual kita sudah selesai Lan, bawa kain ini simpan lah di tempat yang aman, dan kalau malam ini kamu bermimpi aneh jangan pernah takut" ucap ibunya Dewi dengan meyakinkan aku.
"Ia bu" sahutku dengan ragu.
__ADS_1
Akhirnya aku pun keluar dari kamar itu dan berpamitan dengan mereka. Malam sudah mulai larut jam sudah menunjukan pukul 21.00, aku takut mbah khawatir denganku,
jadi aku harus cepat-cepat pulang.