
Aku dan Dimas mulai perjalan ke rumah horor bersama pak supir yang pernah mengantar ku ke villa markus. Keberadaan rumah horor itu sendiri di sebuah perkampungan konon katanya informasi yang aku dapat dari rekan-rekan ku di kantor rumah itu tidak ada satu orang yang betah menempati dari di jual sampai sekrang di kontrakin belum ada yang bertahan lama tinggal di sana.
"Ini mau kemana mba?" tanya pak sopir.
"Ini pak ke jalan kenanga gang melati rumah no.33," melihat kertas alamat yang di berikan oleh Dita
"Siap mba," sahut pak sopir.
"Lan serius ini kita kesana, nama alamatnya aja udah horor kaya nama kembang 7 rupa apa lagi tempatnya," tutur Dimas yang bernyali kecil.
"Udah lah mas, abis mau gimana lagi pak teguh suruh kita nulis cerita horor tentang rumah itu."
"Rasa menyesal aku menjadi penulis horor kalau nulisnya harus survey-survey ketempat yang horor gini,"
"Aku cape ma kamu kebanyakan ngeluh Dimas, kok bisa yah kamu jadi anak indigo dan penulis horor kamu aja penakut kaya gini!"
"Udah jangan bawa-bawa itu, namanya takut yah tetap aja takut,"
Sepanjang jalan kami selalu beradu argumen dia seperti itu aku seperti ini, belum lagi sifat anehnya muncul di kala ia berubah menjadi kirana.
"Mas Arya kirana kangen," ucap di mas sambil mengandeng tanganku,"
"Arrgghhhhh......mulai lagi nih anak, minta di siram air lagi rupanya," ucapku dengan nada sesal.
"itu kenapa temannya mba?" tanya pak sopir.
"Oh ia pak, teman saya kena sindrom aneh pak dari lahir jadi suka kumat-kumatan." sahutku yang berbohong.
"Ohhh gitu yah mba kasian cakep-cakep kaya gitu,!
Aku berusaha menyadarkan Dimas karena malu dengan pak sopir yang melihat dimas menjadi aneh, mengambil botol aku membukanya menaruh airnya ke tanganku lalu aku usapkan kemukanya hari ini aku tidak terlalu sadis menyadarkannya.
"Sadar Dimas.... sadar..." memukul-mukul pipinya.
"Apaan sih Lan kok muka ku basah," tanya dimas yang binggung.
__ADS_1
"Biasa kamu mulai aneh lagi,"
Tiba-tiba mobil berhenti.
"Mba Ulan ini sudah sampai,"
"Ya pak terimakasih" ucap kami.
Aku dan Dimas beranjak keluar dari mobil bertanya-tanya ke pada penduduk sekitar siapa pemilik rumah itu dan ingin mengontaknya.
Penduduk desa mengantarkan kami ke pemilik rumah itu, kami di sambut hangat dan di tanya-tanya untung saja Dimas bisa di andalkan saat itu.
"Maaf mba, bapak mau tanya ini suaminya" menunjuk Dimas.
"Bukan pak," sepontan aku menjawab.
"Kita kakak ade pak" sahut Dimas yah kita berdua punya kemiripan sama-sama bermata sipit.
"Oooohhh kalau kakak ade yah enggak masalah tinggal dalam satu rumah, maaf yah mba takutnya ada apa-apa jadi bapak tanya dulu."
"Ia pak enggak papa kami di sini mau liburan, jadi ngontrak nya hanya sebulan," kataku.
"Oh ia pak terimakasih,"
Kami berdua di antar oleh pemilik rumah itu, memang suasananya benar-benar horor, baru masuk rumah itu bulu kudukku berdiri apa lagi dimas yang dari tadi hanya di belakangku sambil memegang bajuku.
"Mba,,,mas bapak tinggal dulu yah,"
"Oh iya pa terimakasih,"
Kami berdua sudah berada di dalam rumah, untung saja di rumah ini sudah ada fasilitasnya dari tempat tidur, kompor kulkas tv sofa dan lain-lain.
"Lan kita pulang aja yuk, aku takut,"
"Aduh dimas dah terlanjur sampai di sini masa mau pulang sih,"
__ADS_1
"Aku tidur sama kamu yah malam ini,"
"Ohhh.... tidak bisa bukan muhrim lagian kamar kan ada dua Dimmaass!"
"Aku takut Lan"
Rasanya aku mulai lelah bersamanya sifat penakutnya yang teramat sangat menonjol membuat aku lelah.
Hingga aku putuskan untuk masuk ke kamar mengunci kamarku agar tidak di gangu oleh dimas.
Siang mulai di gantikan oleh malam, aku mulai keluar kamar karena aku merasa aneh begitu senyap tidak ada suara dimas, aku keluar dan menuju ruang tamu aku melihat dimas tidur di sofa memakai headset dan kacamata hitam aku pun menghampirinya karena tingkah lakunya makin lama makin aneh,
"Eh Dimas....Dimas" mengerakkan badannya.
Dimas membuka kacamatanya,
"Eh ulan!"
"Ngapain kamu pake kacamata malam-malam, kacamata hitam lagi kaya orang buta aja," sambil menahan tawa melihat tingkah laku Dimas yang aneh.
"Ohhh ini, sengaja aku pakai biar aku enggak ngelihat hantu Lan, jadi aku pake kacamata item ini kalau malam,"
"Hahahahaha.....hahahah....Dimas.... dimas sakit perutku ngelihat tingkah laku kamu!"
"Apaan sih Lan enggak lucu tau enggak."
Tiba-tiba lampu mati, Dimas yang terlihat santai tiba-tiba menarik bajuku dan menyembunyikan wajahnya di belakang pundak ku.
"Apaan sih Dimas aku mau cari lilin nih,"
yang mulai risih dengannya.
"Lan aku ikut jangan tinggalin aku," sambil bersembunyi di belakangku,
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote yah
Terimakasih 🥰😘😘😘