
Semenjak kejadian Kak Dhea itu sudah selesai, aku melalui hari-hari seperti biasa aku juga sudah mempunyai dua teman Dion dan dari bangsa jin Islam dan juga Sanjaya dari bangsa siluman kami sekarang sudah mulai bersahabat dengan akrab.
Sudah hampir 1 bulan aku bersahabat dengan Sanjaya dia selalu melakukan hal-hal yang menurut ku aneh, suatu ketika setiap malam Jumat rumah ku selalu tercium aroma yang tidak sedap baunya seperti bangkai binatang aku pun bertanya kepadanya apa yang sebenarnya terjadi dengan rumahku, awalnya dia tidak mau menjawab tapi lama kelamaan Sanjaya akhirnya jujur kepadaku dan memberi tahu ku kenapa di setiap malam jumat rumahku selalu tercium bau bangkai, dan ternyata bau itu berasal dari makanan Sanjaya dia selalu membawa makanannya ke rumah ku setiap malam jumat. Karena baunya lumayan menyengat dan aku takut nanti mbah curiga jadi aku memutuskan untuk meminta kepada Sanjaya agar tidak membawa makanannya kerumah dia pun menurutinya, semenjak saat itu Sanjaya tidak pernah membawa makanannya lagi ke rumah ku dan tidak ada lagi tercium bau-bau yang tidak sedap.
Waktu terus berlalu bertahun–tahun berjalan normal seperti biasanya tanpa ada gangguan-ganguan seperti saat aku Bersama kak Dhea dulu, sekarang aku sudah duduk di kelas 2 SMA karena sudah akhir semester dan pembagian Rapor aku memutuskan liburan akhir semester ini utuk berlibur di rumah om Andi dan tante Laras, om Andi adalah adik dari ibu ku dan tante Laras adalah istri dari om Andi. Aku pun berbicara kepada ibu aku ingin minta izin untuk berlibur di rumah om Andi.
“Bu, liburan ini Lan mau nginep di rumah om Andi boleh gak bu?” ucapku.
“Iya boleh aja, kapan kamu mau kesana nanti ibu antr saja ya soalnya kan kamu baru pertama kali kesana.”
“Besok gimana bu? Ibu sibuk gak?”
“Besok bisa, ibu libur kerja juga jadi bisa antar kamu kesana Lan. Ya sudah kamu siap-siapkan dulu barang-barang mu yang mau di bawa jadi besok tinggal berangkat.”
“Iya bu, Wulan mau siap-siap dulu ya bu.”
“Iya.. habis itu langsung tidur ya udah malam.”
“Iyaa bu” ucap ku sambil memasukan. barang-barang ku kedalam tas ransel ku.
Aku mulai mengemasi barang-barang ku seperti baju ganti, handuk, peralatan mandi dan lain-lain, usai berkemas aku langsung menuju kamar dan tidur.
Keesokan harinya pukul 08.00 pagi aku dan ibu bersiap untuk pergi, aku tidak lupa untuk berpamitan dengan mbah.
“Mbah Wulan berangkat dulu ya mbah.”
“Iya nduk, jangan ngerepotin om mu ya nduk.”
“Iya mbah” ucap ku sambil mencium tangan mbah dan berpamitan.
Aku dan ibu pun berangkat dengan menggunakan motor, jarak rumah om Andi cukup jauh jika menggunakan motor perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 setengah jam.
sepanjang perjalanan ibu bercerita tentang om Andi dan tante Laras mereka berdua sangat baik kepada ibu ku sering membantu ibu ku saat sedang kesusahan, om Andi adalah seorang pedagang buah, mereka sudah menikah sejak 5 tahun yang lalu tapi mereka belum memiliki anak jadi saat ini mereka hanya tinggal berdua.
Tidak terasa aku dan ibu sudah sampai di depan komplek perumahan om Andi, tiba-tiba saja ada sebuah truk melaju dari belakang kami, ibu ku kaget dan terhenti seketika, saat truk itu melaju terdengar suara keras.
"Brakkkkkkk!!"
Ternyata truk itu menabrak seorang pengendara motor dari arah belakang seketika orang itu terpental sampai-sampai helm pengendara itu terlepas dan kepalanya membentur trotoar jalan dengan keras, darah segar berwarna merah dan bercampur dengan warna putih mengalir di aspal jalan, aku tidak tau yang berwarna putih itu apa tapi yang jelas tabrakan tersebut membuat aku dan ibuku sangat syok, ku lihat pengendara motor itu badannya kejang beberapa detik hingga akhirnya dia berhenti bergerak, tidak sampai di situ saja motornya pun terlindas oleh truk tersebut.
warga yang saat itu sedang bersantai di depan komplek pun berhamburan dan panik
aku melihat dengan jelas tabrakan tersebut.
beberapa orang akhirnya mendatangi si pengendara motor tersebut untuk mengetahui keadaannya, tidak lama orang-orang itu mengambil daun pisang yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan serta ada yang membawa kertas koran, mereka menutupi si pengendara motor itu dengan daun pisang dan kertas koran yang mereka bawa tadi, dari situ sudah bisa disimpulkan bahwa korban tersebut telah meninggal dunia.
Aku dan ibu tidak berani mendekat, ibu memacu motornya dan memutuskan untuk masuk ke dalam komplek dan melanjutkan perjalanan kerumah om Andi.
Akhirnya kami sampai di rumah om Andi, di sana om Andi dan Tante Laras sudah menunggu kami dan mempersilahkan kami masuk.
__ADS_1
"Ayo Lan sini masuk" ucap Tante Laras.
"Iyaa Tante" ucapku.
"sini mba duduk" ucap om Andi kepada ibuku.
Kami pun duduk di ruang tamu bersama, ku lihat rumah om Andi cukup besar dan luas, diruang tamunya terdapat TV yang besar dan berbagai macam pajangan, Tante Laras menyuguhkan teh untuk aku dan ibu kami pun berbincang di ruang tamu.
"Gimana mba kabar mbah, kami belum sempat main kesana" ucap om Andi.
"Mbah sehat, tapi kadang suka sakit pinggang karena kebanyakan mijetin orang."
"Mbah rame berarti yaa" ucap tante Laras.
"iya Alhamdulillah, Ras."
"Gimana perjalanan kesini tadi lancar kan mba"
"Alhamdulillah lancar, tapi tadi di depan komplek ada kecelakaan, orangnya meninggal di tempat."
"innalilahi wa innailaihi rojiun, baru aja mba kejadiannya?"
"Iya tadi pas mau masuk komplek, Laras mba pamit pulang ya mba nitip Wulan."
"lho sudahh mau balik mba?" ucap om Andi.
"iya kasian mbah sendirian di rumah."
"iyaa gak bakalan kok bu."
"kamu rencananya berapa hari disini Lan?"
"Tiga hari aja Bu nanti Lan telepon kalau Lan mau pulang ya."
"Iya jangan nakal ya kamu disini."
"Iya Bu Nggak kok" sahut ku sambil. mengatarkan ibu keluar.
"ibu hati-hati ya" ucap ku.
"iyaa.. ibu pulang dulu ya."
"iya bu."
ibu ku pun menjalankan motornya dan beranjak pergi, om Andi pun menyuruhku untuk masuk kedalam.
"Ayo Lan masuk, barang-barang mu taruh dikamar aja, kamarnya sudah om siapin semoga betah di sini ya Lan."
"Iya Om Insyaallah betah."
__ADS_1
"Wulan abis naruh barang-barang mu kita makan dulu Lan tante sudah masakin buat kamu nih."
"Iya tan, maaf ya tan jadi repot-repot masakin Wulan."
"Enggak apa-apa Lan sekali-sekali Wulan kan baru pertama kali ke sini."
Tiba-tiba ada ada seseorang yang mengetuk pintu.
Tokk..tok tok....
Om Andi pun ke depan dan melihat siapa yang mengetuk pintu, dan ternyata itu adalah tetangga om Andi, om Andi bergegas masuk kamar dan mengambil pecinya.
"Kenapa mas?" tanya tante Laras.
"ada tetangga yang meninggal, katanya ketabrak truk di depan komplek."
"Oh itu yang di ceritakan ibu mu tadi Lan."
"Iya mungkin Tan" ucapku.
"Ya udah kamu sama Wulan di rumah aja, mas kerumahnya dulu."
"Oya mas, hati-hati ya."
"Wulan jadi takut kalo ingat tabrakan itu tan, kejadiannya di depan mata Wulan."
"Ya sudah enggak usah diingat-ingat lagi kita makan aja yuk" ucap tante Laras yang. mengajakku.
Selesai makan aku disuruh tante untuk beristirahat di kamar yang sudah mereka sediakan, aku pun beristirahat di kamar yang sudah disediakan oleh tante Laras.
Malam mulai menjelang untuk pertama kalinya aku tidur sendiri tidak ditemani oleh Ibu aku pun mulai tidur, saat beberapa jam aku terlelap aku tiba-tiba bermimpi aneh lagi tidak di rumah tidak di tempat om Andi, aku selalu bermimpi aneh, aku bermimpi di tempat kecelakaan tadi dalam mimpiku aku tidak melihat kecelakaan itu tapi aku berada sana aku melihat seorang laki-laki badannya tinggi kulit sawo matang postur tubuhnya seperti sudah berumur, orang itu sedang di pinggir jalan sedang mencari sesuatu entah itu apa aku pun mendekati pria itu dan bertanya.
"Bapak lagi apa?"
"Ini neng lagi cari benda bapak yang hilang, bisa bantu bapak carikan neng?"
"Iya pak benda apa ya bentuknya seperti apa?"
"Bentuknya seperti bola mata."
Aku agak bingung tapi aku tidak curiga dan merasa takut jadi aku tetap membantunya .
"Ya sudah Wulan Coba bantu bapak cari ya."
"Iya neng minta tolong banget ya neng cariin, nggak tenang kalau belum ketemu."
"Iya pak kalau Lan bisa bantu bakalan Lan bantu, sebenarnya apa sih yang Bapak cari?" tanyaku.
"Mata bapak hilang satu Neng minta tolong cariin ya"
__ADS_1
Aku pun kaget mendengarnya Setelah itu bapak itu menoleh ke arah ku dengan muka yang sangat mengerikan penuh darah, sebagian muka dan kepalanya hancur dari kepalanya mengalir darah segar, aku lihat matanya cuma ada satu, di bagian wajahnya yang hancur itu tidak ada matanya.
Aku pun kaget dan bangun dari tidurku, Aku tidak berani untuk melanjutkan tidur lagi karena takut bermimpi itu kembali.