
"Sekarang kita harus menghadapi secara bersama-sama kak" ucapku kepada kak Dhea.
"Iya Lan makasih ya semangatnya oh ya kalau Dion ikut sama aku apa kamu nggak kenapa-kenapa Lan?"
"Udah kak tenang aja Insya Allah Wulan bisa kok menghadapi mereka."
Bel pun berbunyi aku pun harus kembali ke kelas.
"Wulan ke kelas dulu ya Kak."
"Iya Lan" jawab Kak Dea.
Setelah kembali ke kelas aku merasa ada yang aneh dengan penglihatan ku, aku merasa berada di dua alam diantara Alam ku dan alam mereka aku sampai tidak bisa membedakan antara manusia dan mereka tapi setelah didekati baru aku tahu itu bukan manusia aku merasa penglihatan ku terbuka sepenuhnya.
Aku mulai merasa takut dengan semua yang kulihat, sampai aku tidak bisa fokus untuk belajar Dion juga tidak bersamaku lagi saat ini terkadang aku berpikir coba saja kemarin tidak ku lakukan hal seperti ini pasti aku dan kak Dhea tidak seperti ini Tapi semua sudah terlambat aku harus menyelesaikan ini semua.
Hingga akhirnya jam pulang sekolah pun tiba sepanjang jalan pulang aku melihat mereka di mana-mana ada yang berpapasan denganku ada yang di dalam rumah warga, ada yang di depan pintu dan masih banyak yang lainnya.
Hingga aku sampai ke rumah aku melihat sosok makhluk tinggi besar di ruang tamu di kamar aku juga ada sosok bayangan hitam aku mulai panik aku pun langsung mencari mbah, tapi saat ku buka pintu dapur ternyata mbah ada disana, aku takut ke dapur saat membuka pintu dapur itu saja sangat banyak yang kulihat, aku pun memutuskan untuk di kamar saja walaupun ada bayangan hitam di kamar ku, aku berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Disaat ku mulai panik takut tiba-tiba ada makhluk yang menghampiriku awalnya dia berwujud seperti ular tapi lama-kelamaan dia mulai berubah menjadi setengah manusia dan setengah badannya lagi ular aku pun mencoba memberanikan diri bertanya kepadanya.
"Kamu Siapa?" tanya aku.
"Aku siluman ular namaku Pangeran Sanjaya."
"Kenapa kamu kesini?"
"Boleh aku berteman dengan kamu?" ucapnya.
Aku pun kaget mendengar ucapannya memang parasnya tidak mengerikan seperti makhluk-makhluk lain yang kulihat dia seperti manusia tapi setengah badannya ular matanya seperti ular lidahnya pun seperti ular tapi Matanya agak sipit hidungnya mancung kulitnya putih dan dia tidak memakai baju tubuhnya sangat proposional dan sixpack di kepalanya terdapat sebuah mahkota aku pun melanjutkan pertanyaan ku.
__ADS_1
"Apa yang membuat kamu ingin berteman denganku."
"Entah kenapa aku ingin berteman denganmu dan membantumu, aku juga tidak tau alasannya kenapa tiba-tiba saja muncul perasaan seperti ini" ucapnya.
"Kamu tidak ingin mencelakakan aku Kan?" tanyaku
"Iya aku tidak akan mencelakakan mu, aku hanya ingin berteman dan membantu mu saja."
"Oh ya Pangeran Sanjaya kalau itu niatmu boleh saja tapi aku tidak bisa memberimu makan dan lain-lain."
"Iya aku mengerti Lan aku bisa mencari makanan ku sendiri."
Setelah cukup lama aku dan Pangeran Sanjaya berbincang Pangeran Sanjaya pun memberikan ku sesuatu bentuknya seperti bola kristal yang bening besarnya seperti kelereng dia memberikan ku dua buah benda itu untuk kupakai.
"Ini untuk apa?" tanyaku.
"Pakai ini di kedua bola matamu Lan."
"Pakai di mataku? untuk apa?"
"Apa tidak apa-apa aku memakai ini?"
"Tidak apa-apa, percaya kepadaku aku akan membantumu."
Aku sedikit ragu tapi aku berharap apa yang dibilang oleh Sanjaya itu benar aku pun mulai memakainya ternyata benar aku kembali seperti semula tapi ini tidak pengaruh dengan Dion dan Sanjaya biar aku menutup aku tetap bisa melihat mereka.
Setidaknya aku bisa mengendalikan penglihatan ku tapi disini aku tidak memperkenalkan Sanjaya kepada Kak Dhea karena aku takut Kak Dhea nanti takut kepada ku jadi Sanjaya aku suruh menghilang kalau aku sedang bertemu dengan Kak Dhea lama-lama aku mulai berangsur-angsur membaik tapi tidak dengan Kak Dhea dia masih tetap seperti itu sampai bertahun-tahun Kak Dea masih seperti itu sampai aku sudah lulus SMP dan Kak Dea juga sudah kelas 3 SMA. Masalah ini tidak terselesaikan sampai aku benar-benar lelah dengan semua ini Kak Dhea mulai ketergantungan terhadap ku disaat aku ada dia mulai tenang tapi disaat aku tidak ada Kak dia kembali lagi ketakutan.
Hingga Pada suatu hari aku tidak tahan lagi dengan sikap nya aku pun marah kepada Kak Dhea, dia meminta ku agar ke rumahnya disitu aku mulai bicara kepadanya.
"Wulan capek kayak gini terus Kakak nggak sembuh-sembuh, Wulan menyuruh kakak untuk melawan mereka tapi kakak tidak mau mendengarkan Wulan, Wulan suruh kakak untuk tidak usah memperdulikan mereka, tapi kakak tetap saja seperti ini, Kakak punya kehidupan Wulan juga punya kehidupan nggak bisa selalu ada buat kakak kalau kakak mau ini berakhir kembali kayak dulu jangan hiraukan mereka kak, maafin Wulan Kak Wulan pengen Kak Dhea sembuh gak seperti ini lagi"
Kak Dhea pun terdiam mendengar ucapan ku dan meneteskan air mata.
__ADS_1
"Makasih ya Lan, sampai detik ini kamu nggak ninggalin Kakak, Dion juga selalu menjaga Kakak Makasih buat kamu dan Dion aku yang membuat kamu terpisah dengan Dion, kamu harus lalui ini sendiri" ucapnya dengan menangis.
"Maafin aku Lan, aku egois bertahun-tahun aku tidak bisa melawan mereka aku ingin semua ini juga berakhir Lan maafin aku tolong ajak Dion kembali bersama mu bawa dia kembali bersama mu Lan"
"Tapi Kakak nanti gimana?" ucapku
"Ucapan mu telah menyadarkan aku, dan aku harus bisa melawan ini semua Lan."
Setelah kejadian itu Kak Dhea dan aku tidak pernah bertemu dengan kak Dhea lagi, aku dengar kabar kalau dia ikut dengan pamannya dan setelah 3 bulan aku mendapat pesan dari kak Dhea ternyata dia sudah menikah dan dalam pesan itu dia mengucapkan terima kasih kepada ku.
"Makasih ya Wulan, tolong beri tahu Dion walau pun singkat bertemu dan mengenalnya tapi ini sangat berkesan, masa-masa bersamanya mengenalnya tidak akan pernah ku lupakan.
Dion pun kembali kepada ku dan aku berusaha untuk menenangkannya.
"Udah lah Dion, ikhlasin Kak Dhea doakan dia agar dia bisa hidup bahagia layaknya manusia normal pada umumnya"
"Iya Lan, aku ikhlaskan dia semoga seseorang itu bisa menyayanginya dengan tulus dan menjaganya" amin
Note :
setelah sekian lama bertahun-tahun aku berfikir kenapa kak Dhea gak bisa melihat Dion, saat aku menulis novel ini aku baru sadar.
Dion bukan Jin biasa, saat aku pertama bertemu dengan Dion itu karena aku rajin beribadah dan memfokuskan diri ke yang Maha Kuasa.
cara yang ku pakai adalah salah karena seharusnya aku menyuruh mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa dan Tirakat bukannya memakai cara yang seperti ini.
semua nama disini sudah aku ganti kalau ada kesamaan cerita hidup atau apa pun mohon di maklumi karena ini semua pengalaman ku.
*********************************************
Nantikan episode selanjutnya yaa 😊😊😊😊
Terima kasih untuk para pembaca setia ku
__ADS_1
jangan lupa like yaa 😘
atau ingin memberi masukan dan saran bisa komen komen 👍👍